
Tepatnya pukul 11 : 30 Sachi menghela napas panjang saat berdiri tepat di depan bangunan megah yang menjulang tinggi. Di sanalah tempat sugar Daddy nya memimpin perusahaan.
"Tarik napas, buang!" Sachi mencoba setenang mungkin untuk menemui suami orang "Aku terpaksa melakukan ini, aku tidak sedang menjadi pelakor!" Gumamnya membenarkan diri sendiri.
"Aaah, apa pun itu, aku pokoknya terpaksa! Aku melakukan ini karena! Aaah sudahlah! Salah kek enggak kek, bodo amat! Semua ini demi ibu!"
Sachi melangkah maju memasuki lobby kantor, dan seluruh mata menatap dirinya dengan seksama, untungnya hari ini Sachi memakai busana rancangan butik pemberian dari sugar Daddy nya.
"Cantik, mau ke mana?" Suara siulan nakal menggoda dirinya di sepanjang perjalanan.
Umumnya karyawan kantor berusia dua puluh lima sampai tiga puluh lima tahun, maka ketika melihat gadis cantik nan bening menggemaskan mereka sudah seperti mendapat angin segar di tengah lelahnya aktivitas.
Sachi acuh lalu mendekati satpam di lantai satu "Pak, kalo ruangan direktur utama, di mana ya?" Tanyanya.
"Sini, sini!" Seseorang meraih lengan gadis itu kemudian membawanya ke sudut tempat yang sedikit menjauh dari kerumunan orang, Sachi mengembangkan senyum saat melihat wajah Jho tertampil di hadapannya.
"Om!" Seru Sachi sumringah. Jho sudah akrab di matanya, meskipun baru malam tadi melihatnya.
"Ssuutt!" Jho menutup mulutnya dengan satu jari sambil menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
"Mau ngapain Nona ke sini?" Tanyanya.
"Aku harus bertemu dengan Om Bos mu! Ada sesuatu yang penting yang harus aku sampaikan padanya!" Jawab Sachi mendesak.
"Tapi ini kantor, berbahaya jika sampai ada orang yang tahu hubungan mu dengan Bos ku, kenapa Nona tidak tunggu saja di apartemen? Nona kan tahu sandi pintunya!" Tutur Jho.
"Tapi, ini mendesak!" Sambung Sachi.
"Biarkan gadis ku masuk! Aku tunggu di rooftop." Suara yang terdengar dari earphone memberi titah pada Jho. Tentunya Nathan tahu kedatangan gadisnya dari kamera CCTV di ruangannya.
Jho mengangguk "Baik lah, ikut aku!" Jho meraih tangan mulus gadis itu lalu menggandengnya menuju sebuah lift eksklusif.
"Jangan kesempatan menyentuh nya Jho!"
"Ck!" Jho berdecak sambil melepas tangan mulus Sachi "Iya, ya yah!" Katanya.
__ADS_1
Sachi menautkan alisnya "Om ini ngomong sama siapa?" Tanyanya dan Jho hanya diam saja.
Tiba di lantai paling atas Jho mempersilahkan Sachi keluar terlebih dahulu tanpa menyentuh sedikitpun gadis milik sang Tuan.
"Mari Nona, Bos sudah menunggu di luar sana, aku akan menunggu mu di sini." Ucap Jho.
Pria itu sedang memastikan tidak ada yang mengetahui pertemuan diam-diam ini.
Sachi mengangguk lalu melewati pintu yang ternyata membuat dirinya keluar bangunan, lebih tepatnya adalah di lantai atap bangunan tersebut.
Di sisi tempat Nathan sudah mencekal tangannya ke belakang sambil menatap ke arah lain "Om!" Sapa nya seraya mendekat.
Nathan menoleh padanya "Ada apa?" Tanyanya.
Sachi melebarkan senyum "Aku butuh bantuan Om, aku harus membayar."
"Berapa?" Belum lagi selesai penjelasan Sachi, Nathan sudah lebih dulu menimpali.
"Hah?" Sachi terperangah menatap wajah tampan laki-laki dewasa itu. Apakah Nathan tahu maksud tujuannya datang ke sana?
"Lima juta." Sachi menurunkan pandangan ke lantai karena merasa malu, baru semalam dia di berikan banyak uang lalu sekarang dia meminta lagi dengan jumlah yang lumayan banyak baginya "Aku membutuhkan uang itu cepat." Lanjutnya lirih.
"Apa ini berarti, kau setuju menjadi simpanan ku?" Tanya Nathan memastikan, wajahnya ia condongkan agar sejajar dengan wajah gadis itu.
Perlahan Sachi mengangguk "Iya."
Nathan meraih tangan mulus Sachi kemudian meletakkan kartu kredit pada telapak tangan gadis itu dan membuat Sachi menggenggamnya.
"Kamu bisa pakai kartu ini sesuka hati mu, tapi ingat, mulai sekarang kamu milikku." Ucapnya.
Sachi mendongak karena sedikit keberatan dengan perjanjian ini, sayangnya bibir pria itu justru mendarat dengan tiba-tiba pada setangkup bibir ranumnya.
Meskipun tak menolak tapi mata Sachi terbelalak karena baru pertama kalinya mendapati hal itu.
"Ini stempel, untuk kesepakatan kita!" Batin Nathan.
__ADS_1
Setelah beberapa pagutan Nathan berikan, dia kembali memandangi wajah cantik gadis itu, ada memar di pipi sebelah kiri Sachi yang mengganggu pemandangan.
Di sentuh nya pipi mulus gadis itu dengan tatapan yang melekat "Pipi mu kenapa? Ini lebam!" Tanyanya.
"Ahh!" Sachi meringis mendapati sentuhan Nathan "Aku jatuh." Kilahnya.
Tengkuk Sachi Nathan tarik dan kecupan lembut dia labuh kan pada bagian lebam milik Sachi sebelum kemudian mengelus puncak kepala gadis itu sambil tersenyum.
"Sekarang pulang lah, kompres pipi mu, lalu isi perut mu, jangan sampai sakit, sekarang sekujur tubuh mu adalah milik ku, jadi pastikan kamu menjaga kesehatan mu, jangan sampai ada luka atau pun goresan sedikitpun, Baby!" Katanya mendominasi.
Sachi melongo menatap dalam diam laki-laki itu "Apa aku resmi menjadi pelakor sekarang?" Batinnya.
"Pergi lah, jangan lupa, mulai sekarang kamu harus terbiasa makan di restoran, sekarang kau milik ku maka pastikan yang kamu makan bergizi!" Titah Nathan.
"Pakai kartu ini untuk membeli ponsel keluaran terbaru, lalu hubungi aku setelah itu, kamu harus selalu melaporkan sedang apa dan dimana, padaku!" Tambahnya.
Nathan lantas membalikkan tubuh gadis itu untuk kemudian dia dorong dan perlahan Sachi melangkah maju meninggalkan pria dewasa itu.
Sesekali menoleh kebelakang dan meyakinkan dirinya lagi bahwa Nathan benar-benar menjadi pemiliknya saat ini.
Kartu berwarna hitam yang dia pegang, adalah kartu kredit ekslusif, bagaimana bisa seseorang menjaminnya jika tidak di dasari embel-embel kepuasan?
Apakah nantinya dia harus berakhir merelakan keperawanan pada laki-laki penguasa itu? Siapa sih yang menolak? Di sayangi, di belai, di perhatikan dari pakaian hingga makanan oleh seseorang yang bicaranya lembut seperti seorang ayah?
Hanya saja figur ayah ini lebih terlihat muda, tampan, menyenangkan, perkasa, bahkan mungkin masih banyak lagi keunggulan lainnya.
Semua yang ada pada Nathan tidak sama sekali Edric miliki, apakah nantinya dia akan berakhir sebagai simpanan untuk selamanya? Lalu apakah akan ada masa depan baginya? Bukan kah seorang pelakor tidak berhak bahagia?
Itu yang sering dia baca dan dengar dari sosial media. Sachi memasuki bangunan itu kembali masih dengan pergulatan batinnya.
Tiba di dalam Jho sudah menyambut kedatangannya "Silahkan Nona!" Laki-laki itu mengantarkan Sachi menuruni lantai dengan lift eksklusif, Jho juga memberikan kartu nama sang Tuan pada Sachi agar bisa lebih mudah menghubungi.
Kemudian Jho mengucapkan hati-hati pada sang Nona setelah pintu lift terbuka dan Sachi keluar dari ruangan kecil itu, wajah Sachi masih sama yaitu sendu.
Entah karena serangan ciuman pertama atau karena keputusan sepihak yang Nathan ajukan membuat dirinya terpaksa mengikuti karena sebuah tuntutan hidup.
__ADS_1