
Sabar sekali Nathan menyuapi isterinya sarapan, lalu setelah itu memberikan air putih hangat pada wanita ini.
"Baby mandi dulu, setelah itu kita langsung ke Jakarta, kita ketemu Daddy juga Mammi mertua mu, sudah dari malam tadi, Jho mengurus perpindahan Ibu, jadi Baby tenang saja, Ibu akan lebih baik jika mendapatkan perawatan dari rumah sakit juga dokter terbaik. Percayalah, aku sangat menyayangi kalian." Di usap nya lembut pipi Sachi dengan ulasan senyum tipis.
Sachi terdiam dan tak mau menatap wajah tampan suaminya barang secuil. Rupanya, sia-sia saja dia kabur selama tiga bulan ini, setelah menemukan keberadaan Sachi dengan mudahnya Nathan melacak persembunyian Mariam.
"Aku hanya milik mu, percayalah! Tetap lah di sisi ku seperti ini. Karena hanya ada kamu yang menjadi istri ku. Kamu tidak perlu lagi berbagi suami dengan yang lain." Kata Nathan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi pun berlalu begitu saja, hingga siang tiba menjelang, lalu bersamaan dengan itu pula Nathan memboyong istri dan ibu mertuanya kembali ke Jakarta dengan menggunakan pesawat jet pribadi.
Sampai sejauh ini, Sachi masih belum mengatakan apa-apa pada suaminya, sejatinya Sachi tak ingin kembali ke Jakarta tapi Nathan selalu dominan dalam segala hal.
Mariam terbaring lemah di atas ranjang fasilitas pesawat jet pribadi itu di dampingi beberapa perawat juga dokter sementaranya.
Nathan dan Sachi duduk bersanding di ruangan lain, yaitu ruangan yang hanya ada kursi nyaman penumpang saja.
Interior gawai besar yang mampu membawa manusia terbang ini sangat menakjubkan, bahkan mengalahkan disain interior apartemen elit. Awak kapal terbaik menemani perjalanan singkat mereka.
Nathan memangkas jarak lalu mengusap lembut pipi isterinya "Jangan melamun, setelah ini kita minta restu ke Mammi dan Daddy mertua mu, jangan terus diam dan berpikir mencari cara untuk pergi dariku lagi!" Katanya dan Sachi hanya diam saja dengan wajah yang berpaling ke arah lain.
Entah kenapa rasanya sulit sekali menerima bahwa dirinya masih terjerat cinta sang penguasa itu, seberapa pun dia menepis tetap saja Sachi nyaman bersama dengan suaminya.
Akan tetapi, perlakuan tak adil Nathan masih membekas sampai detik ini. Dahulu Sachi tak sakit hati menerima perlakuan toxic Edric karena Sachi merasa harus bertanggung jawab atas kesalahannya, lagi pun dia tidak mencintai suami pertamanya.
Lain halnya dengan Nathan yang sudah merebut hatinya bahkan sebelum bercerai dari suami pertamanya. Mungkin itu yang membuat Sachi tak bisa memaafkan. Rayuan gombal Nathan terkesan hanya omong kosong belaka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya,
Nathan melangkah gontai memasuki sebuah ruangan, ruang yang di penuhi dengan berbagai macam jenis gaun juga cermin berhiaskan bohlam lampu di tepiannya.
Mulai sekarang Sachi dan Mariam akan tinggal di rumah ini lagi. Meskipun nantinya hubungan mereka direstui pun, Nathan akan tetap mengajak Sachi tinggal di rumah ini karena masih harus merawat Mariam.
Terlihat di depan cermin besar itu, Sachi sudah rapi lagi cantik dengan gaun malam berwarna hitam dan cepol rambut yang membuat tengkuk mulusnya terekspos secara sempurna. Dua rambut poni yang menjuntai sedikit ikal berada di sisi kiri dan kanan pelipisnya.
Nathan peluk dari belakang, tubuh mungil yang sedikit berisi milik Sachi seraya menenggelamkan wajahnya pada leher mulus itu.
"Wangi damai yang sama, wangi ini wangi yang menentramkan jiwa, wangi yang khas dari tubuh mu, dan tak pernah bisa aku lupakan." Kata Nathan mesra.
Ia hirup aroma damai itu sedalam mungkin, aroma ini aroma yang sudah menjadi candu baginya. Sesekali tangannya mengusap lembut perut berisi isterinya.
"I love you, dua Baby kesayangan ku." Ungkapnya lalu memberikan kecupan pada pipi wanita itu.
Sampai saat ini, Sachi masih belum bisa tersenyum ataupun sekedar membalas ucapan cinta suaminya.
__ADS_1
Nathan tak perduli meskipun seumur hidup Sachi tak lagi meresponnya, asal bisa hidup satu rumah, satu kamar bersama Sachi, Nathan sudah cukup merasa bahagia.
Mencintai Sachi sebelah tangan pun tak menjadi masalah baginya. Egois nya menginginkan untuk terus membuat Sachi hidup dalam pernikahan ini.
"Sekarang kita jalan, malam ini Daddy Mammi pasti memuji mu lagi, tapi kali ini memujimu sebagai menantu Syah mereka. Setelah mereka merestui hubungan kita, kita langsung legalkan saja pernikahan kita secara negara, Baby setuju kan?" Tanya Nathan.
Sachi masih hanya setia dengan geming hening senyap sepi nya saja.
Nathan meraih syal untuk membungkus pundak mulus isterinya lalu menggandeng tangan wanita hamil itu keluar dari ruangan.
Tinggi Sachi semakin tenggelam karena sekarang Nathan melarangnya memakai sepatu hak.
Sebelumnya, keduanya izin terlebih dahulu pada Mariam dan wanita lemah itu hanya memberikan senyuman restu saja.
Setelah mendapat izin Mariam, Nathan dan Sachi pun melanjutkan langkah keluar dari rumah.
Tiba di halaman satu mobil menyambut kedatangan mereka. Segera keduanya masuk kedalam mobil dan berlalu dari pekarangan rumah berpagar tinggi itu.
Di sepanjang perjalanan, Sachi masih setia dengan geming nya, perkenalan ini, apakah akan di terima? Bukankah dahulu dia sempat menjadi buronan Tuan besar Dylan yang terhormat itu? Sachi masih ragu bahwa Dylan akan benar-benar menerima dirinya yang lahir dari kalangan rakyat biasa.
Mungkin sekitar dua jam mobil mereka tiba di pekarangan rumah bergaya minimalis modern yang terletak di tepi pantai itu.
Nathan turun terlebih dahulu lalu kemudian meraih tangan Sachi agar tidak terjatuh saat turun dari mobil. Dia rangkul tubuh Sachi kemudian menuntunnya masuk ke dalam rumah besar milik ayahnya.
Di dalam Sachi mengedarkan pandangan ke segala penjuru sudut tempat, di mana rumah minimalis modern itu benar-benar megah dengan semua perabot mahalnya.
"Itu lampu kristal berapa harganya tuh? Kalo di jual pasti bisa buat beli perumahan sederhana." Batin Sachi. Masih sempat-sempatnya memikirkan hal itu.
Tempat yang biasanya menjadi tempat favorit bagi Dylan saat menumpahkan cat akrilik nya dalam ranah imajinasi.
Rupanya, di sofa yang terdapat pada sisi kanan kolam renang panjang itu, Jelita dan Dylan sudah menunggu kedatangan mereka.
Jelita berdiri tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya menyambut hangat kehadiran putra sulung bersama menantunya.
"Selamat yah sayang, akhirnya Sachi ditemukan." Ucapnya saat memeluk sang putra.
Jelita beralih memeluk menantunya "Selamat datang sayang, semoga betah dan tidak lagi marah sama Mammi. Maaf kan kesalahan putra Mammi." Ucapnya.
Sachi tersenyum tipis tanpa membalas ucapan mertuanya, hadirnya ke sini apakah benar-benar di sambut? Sedangkan saat melihat ekspresi wajah Dylan sepertinya laki-laki seniman itu tidak bersahabat padanya.
"Duduk lah!" Dylan menyuruh Nathan dan Sachi duduk. Kemudian Jelita, Nathan dan Sachi duduk melingkar di sofa putih itu menatap ke arah Dylan.
Nathan menggenggam tangan isterinya "Daddy, kedatangan kami ke sini mau meminta restu dari Daddy." Laki-laki itu mulai membuka obrolan.
Dylan justru fokus menatap wajah menantunya tanpa menghiraukan ucapan putra sulungnya.
"Apa benar kau sedang hamil anak putra ku?" Tanya Dylan.
__ADS_1
Kening Sachi mengerut "Hayyyss, apa-apaan ini? Jadi Tuan berjambang ini meragukan ku?" Batin Sachi "Ch!" Sachi melepas decihan kecilnya tanpa rasa canggung mungkin ketakutannya sudah hilang bersamaan dengan rasa kecewanya.
"Sebenarnya apa yang sedang Anda tanyakan padaku Tuan besar?" Tanya wanita itu seakan menantang.
"Sudah jelas bukan? Aku sedang menanyakan keaslian berita yang ku dengar dari putra ku." Sanggah Dylan enteng.
"Aku tidak tahu ada apa sebenarnya dengan ku, tapi, aku merasa barusan Anda meragukan kesucian ku. Jujur saja, aku tidak menyukainya." Kata Sachi.
Nathan dan Jelita terkesiap melihat tatapan tajam dari ayah mertua dan anak menantu yang terkesan tidak berdamai ini.
Jelita menengahi "Daddy, susah pasti Sachi hamil anak Nathan dong, Daddy suka bercanda deh." Ujarnya tersenyum.
"Jangan ada yang menyela pembicaraan ku dengan calon menantu ku! Aku ingin tahu bagaimana watak perempuan yang membuat putra ku tergila- gila sampai di buat bodoh." Sela Dylan tanpa menoleh.
Dylan masih tajam menatap wajah Sachi yang juga menceku "Jawab saja pertanyaan ku, apa benar kau hamil anak putra ku atau tidak, selesai pertanyaan ku, lalu kita lanjut ke sesi pertanyaan lainnya."
Sachi menarik ujung bibirnya "Jadi apakah setelah ini masih banyak pertanyaan yang lebih menyakitkan lagi kah? Anda pikir aku mau merengek agar Anda menyetujui pernikahan kami, begitu?" Tanyanya mencibir "Tapi baiklah saya akan menjawab pertanyaan Anda." Lanjutnya mengangguk.
"Saya memang hamil calon cucu Anda, saya yakin saya hanya berhubungan dengan putra Anda saja, saya lah yang menyembuhkan luka hati putra Anda saat putra Anda dalam keadaan kesakitan Tuan besar Dylan!" Sachi menekan nama pelukis terkenal itu.
"Saya lah yang menjadi tumbal keserakahan putra sulung Anda, dia datang padaku jika merasa bosan dengan kehidupan fatamorgana nya, tapi jika di pikir lagi tidak ada korban di sini, karena saya juga menikmati uang yang putra Anda berikan pada saya! Hubungan kami saling menguntungkan, simbiosis mutualisme. Begitu lebih tepatnya." Lanjutnya lantang.
Dylan terkesiap, baru kali ini ada wanita dari kalangan biasa yang seberani itu padanya.
Di tempatnya, Nathan sudah ingin protes tapi tangan Dylan memberi aba-aba untuk diam saja. Ini urusannya bersama menantunya.
Mendengar jawaban Sachi Dylan menyodorkan satu buah koper ala kantor tepat di meja wanita itu "Aku siap kan uang untuk mu, di dalamnya juga ada beberapa surat tanah untuk mu, kau bisa membuka usaha dengan uang-uang itu, tapi kau harus memilih, membawa uang itu, atau terus menjadi istri simpanan putra ku?" Tawarnya dingin.
Sachi mengernyit "Apa maksud Anda Tuan?" Tanyanya, Jelita dan Nathan pun tak kalah terperanjat nya.
"Nathan, akan aku jodohkan kembali dengan wanita pilihan ku, maka jika kau masih ingin bersama putra ku, berarti kau akan terus menjadi simpanan nya. Tapi kau boleh pergi meninggalkan putra ku dengan membawa uang yang ku tawar kan pada mu." Sambung Dylan.
Sachi melepas smirk "Hei Tuan Dylan Jackson yang terhormat, tanpa mengurangi rasa hormat ku. Tapi maaf, saya ke sini di paksa putra Anda Tuan besar! Jika saya tidak kau ingin kan, ini akan aku anggap menjadi keuntungan besar bagi ku! Tentu saja aku lebih memilih pergi dengan uang yang kau tawarkan!" Ungkapnya lantang.
Dylan tersenyum cibir "Kalau begitu, berarti benar dugaan ku, kau hanya menginginkan uang saja, tidak benar-benar mencintai putra ku!"
"Cinta itu terlalu suci Tuan besar, jadi jangan libatkan hal suci itu dengan hubungan antara aku dan putra Anda. Apa lagi jika kau hanya menawarkan ku menjadi menantu simpanan saja. Jika aku tidak bisa memiliki putra Anda seutuhnya kenapa aku harus menolak rezeki? Asal anda tahu Tuan besar Dylan, saya tidak pernah menolak rezeki, karena masih ada Ibu saya yang membutuhkan perawatan medis, dari pada seumur hidup saya menjadi istri simpanan, dan harus berbagi cinta dengan wanita lain aku lebih memilih mundur dengan teratur." Jawab Sachi tegas. Tatapan tajamnya tak pernah meleset dari wajah dingin mertuanya.
"Lihatlah!" Sachi menunjuk tubuh Nathan "Putra Anda menceraikan istri pertamanya bukan karena mencintai ku, melainkan karena kau yang menyuruhnya bukan? Asal kau tahu saja. Aku tidak mau hidup bersama laki-laki yang tidak tegas seperti putra Anda, beralasan ini itu demi kesenangan batinnya sendiri, aku yakin bisa hidup lebih tenang tanpa putra naif Anda! Aku akan menganggap uang dari mu ini, sebagai kompensasi karena saya harus melahirkan setelah putra Anda menghamili saya. Jadi sekarang juga, saya permisi." Sachi meraih koper besar itu lalu mendekapnya.
"Baby!" Nathan yang sedari tadi geram pada akhirnya berteriak pula. Di raihnya koper itu dari dada isterinya lalu membuangnya serampangan.
"Kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Kau tahu tindakan mu ini sangat salah!" Berang Nathan, benarkah se_dangkal itu cinta Sachi pada Nathan? Bukannya berjuang bersama Sachi justru memilih pergi memilih uang yang di tawarkan.
"Sadar, tentu saja sadar, aku tidak akan pernah mengemis pada orang yang merendahkan ku, jika aku tidak bisa memiliki mu seutuhnya, maka aku akan membawa uang ini, setidaknya untuk modal usaha ku, bekal untuk menghidupi Ibu dan anakku! Tiga bulan ini aku lari dari mu karena tidak ingin terus menjadi simpanan mu, sekarang Daddy mertua ku menawarkan posisi yang sama lagi padaku? Wanita simpanan mu? Cih!" Sachi berdecih.
"Jika aku menolak, lalu di mana letak salahnya?" Timpal Sachi yang tak kalah berang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Eh gaiss, jangan bilang dikit amat yah, per episode aku tulis lebih dari 1700 kata loh🥺 Ini juga udah hampir 2000 kata kok. Jari ku sampai keriting ini gaiss🥺 Ku tulis kelanjutannya lagi yah, sabar, jadi mending Like komen hadiah nya dulu deh biar semangat ☺️