
Dylan dan Brandon menyidak satu persatu seluruh ruangan yang ada di dalam kediaman keluarga Jackson kecuali kamar Gerald, Nathan dan Jelita yang terkunci karena masih ada penghuninya.
Seluruh pekerja menjadi saksi betapa nyalang wajah bengis kedua penguasa tampan ini, langkah kaki besar yang menghentak terdengar sangat cepat hingga pada akhirnya.
Kaki-kaki itu berhenti tepat di depan pintu yang terkunci, Brandon mengutak-atik handel dengan arogan "Kenapa yang ini terkunci?" Tanyanya menoleh pada Dylan.
"Buka pintu nya!" Dylan memerintah satu orang pria di sebelahnya, kemudian di jawab dengan anggukan kepala pria itu "Baik Tuan!"
Brandon pun mundur. Di bukanya pintu tersebut oleh Reno lalu setelah itu Reno mundur beberapa langkah membiarkan kedua laki-laki penguasa ini membukanya sendiri.
Brandon mendorong handel pintu dan dua sosok rupawan berlawanan jenis yang tidur saling memeluk di atas sofa empuk menyambut hangat retina nya.
Dylan terkesiap hingga melangkah maju kakinya tanpa sadar menerobos masuk dengan mengusung rahang yang tegas "I-then!" Teriaknya melotot.
Sejak kapan mereka berdua berada di dalam sini? Apakah ini trik yang Brandon buat untuk membuat kesepakatan? Pantas saja Brandon yakin Juhie masih ada di rumahnya, mungkin Brandon sengaja mengutus putrinya untuk menghancurkan reputasinya. Dylan yang licik langsung terpikirkan hal demikian.
Tersentak kaget mendengar teriakkan Dylan, sepasang insan rupawan itu membuka mata dengan gestur tubuh yang tak keruan. Keduanya tergagap memandang kedua pria bengis ini.
"Apa-apaan kalian!" Timpal Brandon yang juga berteriak, langkahnya maju menuju Juhie yang kini beranjak dari duduknya, ia layangkan tangannya ke udara seperti ingin mendaratkan tamparan pada pipi mulus gadis itu lalu dengan sigap Ethan menangkis pergelangan tangan laki-laki ini "Om yang apa-apaan? Jangan main tangan! Kami bahkan belum menjelaskan apapun!" Katanya lantang.
Melihat wanita di sakiti secara fisik tak pernah mampu Ethan cita-cita kan. Pemandangan sadis itu tak ingin Ethan nikmati. Hari masih pagi, jangan buka dengan kekacauan ini.
Juhie meraih sebelah tangan ayahnya "Maaf Pi, semalam Gerald mengunci ruangan ini, Juhie sama I-then ngga bisa keluar. Terpaksa kami tidur di sini, kami tidak melakukan apa-apa selain tidur saja." Ujarnya dengan tatapan sayup.
"Papi kecewa, Papi tau kamu, ..." Brandon menghentikan ucapannya, yah, dia tahu betul bahwa sampai detik ini putrinya masih hanya menyukai Ethan saja, dan itulah alasan Juhie selalu menolak lamaran laki-laki lain. Tapi tidak dengan cara rendahan seperti ini.
Mau tidak mau semalam Brandon telah mengutarakan maksud hatinya pada Jelita. Tak masalah jika memang Ethan yang harus menikahi gadis itu daripada tidak sama sekali, terlepas dari status bujang beranak satu, sudah jelas bibit bebet bobot Ethan, baginya status tak menjadi halangan. Toh tiada manusia yang sempurna di dunia ini termasuk juga dirinya.
"Papi percaya kan? Juhie tidak akan pernah melakukan hal yang membuat Papi malu, Juhie, ..." Belum selesai ucapan Juhie, Brandon sudah lebih dulu menimpali "Papi percaya padamu, tapi tidak dengan I-then!" Tohok nya.
"Brandon! Jaga bicaramu!" Pekik Dylan melotot tak terima, oh Tuhan, laki-laki tukang selingkuh ini sembarangan saja bicara pikirnya.
Padahal jika dipikir lagi, hanya sekali saja Brandon berselingkuh itupun karena dilema memilih antara cinta pertama dengan jodoh dari ayahnya yaitu Jelita.
Brandon menoleh ke arah Dylan "Yah, Dylan, aku percaya putri ku, tapi tidak dengan putramu, sama seperti dulu aku percaya pada Jelita tapi tidak percaya dengan mu!" Tukasnya.
Dendam cinta mereka pada akhirnya terungkit kembali, "Jangan bahas masa lalu, atau kau sendiri yang malu, Brandon!" Cetus Dylan.
Juhie memutar bola matanya "Cukup Pi, Juhie capek! Drama macam apa ini?" Perempuan itu melangkah pergi melewati tubuh tinggi Dylan dan ayahnya.
Menyaksikan perdebatan sengit mereka, Ethan mendengus lalu mengikuti langkah kaki Juhie.
"Juhie!" Di ambang pintu sana ada Gerald yang terlihat membawa tas clutch milik Juhie, dia berniat mengembalikan tapi Juhie tak mengindahkan pemuda itu.
"Biar aku yang mengembalikan!" Ethan rebut tas milik Juhie dari tangan Gerald kemudian membawanya menuruni anak tangga.
__ADS_1
Tak tahulah, pertengkaran apa lagi yang akan Dylan dan Brandon lakukan, Ethan tak perduli, yang dia tahu adalah Juhie pasti bersedih.
Hei, ada apa ini? Kenapa pemuda tampan ini perduli pada perempuan dingin dan kaku itu? Apakah karena rasa iba? Atau rasa yang lainnya? Ethan pikir, ini hanya sebuah perhatian dari seorang teman saja kok, tidak lebih.
Langkahnya terus mengikuti kemana kaki-kaki jenjang milik Juhie berayun. Tiba di halaman parkir Juhie meraih handel pintu mobil miliknya yang terkunci, dia lupa kunci mobilnya berada di dalam tas miliknya "Astaga, sial sekali, kemana tas ku?" Gumamnya berdecak.
Quiiiik-quiiiik!
Juhie menoleh pada pemuda yang membawa tas clutch miliknya, dilihatnya Ethan masuk ke dalam mobil mewah tersebut, dia duduk di kursi penumpang sebelah kiri kursi kemudi.
Juhie mendengus sambil memutar bola matanya "Drama apa lagi ini? Ayolah! Aku bosan!" Gumamnya lagi seraya masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi bagian kemudi.
"Tas mu!" Ethan meletakkan kunci mobil dan tas clutch milik Juhie pada paha mulus gadis itu.
"Terimakasih, sekarang turun lah." Usir Juhie datar.
"Aku ikut kemampuan kamu pergi, aku bosan mendapat hukuman dari Daddy." Ucap Ethan sambil membetulkan posisi duduknya senyaman mungkin "Hooaamm sebenarnya aku masih mengantuk." Ujarnya seraya memejamkan mata kembali.
"Itu urusan mu, apa hubungannya dengan ku hah?" Kedua retina ber_iris hitam itu membulat sempurna akan tetapi keningnya mengerut.
Ethan menoleh lalu tersenyum manis "Gimana kalo kita menikah?" Ajaknya mengusul.
"Cih!" Juhie berdecih kesamping seolah menertawakan laki-laki itu "Turun sekarang juga, psikopat gila!" Ketusnya "Pikir mu, kau siapa? Mengajak ku menikah?" Tampik nya.
Ethan menghela "Bukankah setelah pernikahan kita akan sama-sama untung? Kau tidak di cap sebagai perawan tua lagi, aku tidak lagi mendapat hukuman dari Daddy!" Katanya.
Tak di pungkiri Juhie memang sangat menyukai Ethan tapi bukan dengan cara mendadak seperti ini. Apalagi tanpa di dasari rasa cinta "Usulan gila macam apa ini? Tidak waras!" Umpat nya.
Ethan memutar bola matanya "Astaga, gadis membosankan ini, kenapa tidak mengerti juga? Anggap saja ini hanya kesepakatan kita, kau boleh melakukan apapun setelah menikah, kau bahkan boleh berpacaran dengan laki-laki lain mungkin, boleh-boleh saja, aku tidak akan melarang mu, kita menikah hanya status saja, biarkan orang tua kita berdamai, perusahaan kita saling di untungkan, aku tidak di hukum mencari rumput dan menggembala sapi lagi, kau juga tidak perlu takut di atur-atur suamimu, kau masih boleh mengurus perusahaan mu, gimana? Nyaman bukan menjadi istri ku?"
"Kau pikir aku ini apa hah? Menikah hanya karena kesepakatan? Turun dari mobil ku I-then!" Juhie pukuli berkali-kali lengan keras pemuda itu dengan tas miliknya "Pergi, turun kataku!" Pekiknya.
Ethan mendengus "Baiklah- baiklah, aku turun!" Teriaknya lalu membuka pintu dan keluar dari mobil.
"Astaga, playboy psikopat gila!" Sebelum benar-benar keluar Ethan sempat mendengar suara gumaman gadis cantik itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain. Di atas ranjang berukuran super king bersprei putih yang di kelilingi taburan kelopak bunga mawar merah di setiap lantainya, sepasang suami istri masih asyik dengan pergulatan bibir.
Nathan dan Sachi tak mendengar kekacauan yang tercipta di balik pintu kamarnya.
Apa sih? Masalah Keenan dan Baby Valery? Mereka anggap hanya kerikil kecil yang tak mampu lagi menggoyahkan kereta pedati cintanya.
Secepatnya, Sachi dan Nathan akan mengurus semuanya. Hidup tenang bersama tanpa bayang-bayang masa lalu, adalah visi misi hidup keduanya. Semua orang memiliki masa lalu, kini mereka yakin bisa memulai hidup baru.
__ADS_1
Ranting-ranting birahi yang sempat meranggas di tembus kemarau penantian belaian mesra, kini menuntut sesuatu. Daun-daun hasrat yang pernah layu menunggu usapan jari kasih, saat ini tengah meraup kehangatan.
Kelopak bunga yang suah menguncup kini telah mekar menampakkan keindahannya setelah sang hujan menyiramkan air penghidupan. Putik cinta yang merindu masih terasa dahaga akan tetesan embun dari bibir keduanya.
Nathan melukis seluruh tubuh Sachi dengan sapuan kuas kasih, menulis puisi indah dengan lidah apinya, sulur asmara kembali menggelinjang, membelit dengan tambang asmaranya, melarung segala gulana jiwa bersama-sama mencapai puncak surga dunia.
"Pelan-pelan ada Baby kecil." Di sela desah yang tak bertepi Sachi mengingatkan suaminya.
"Maaf, seharusnya kita tidak melakukan ini kan? Kita sudahi saja yah?" Ujar Nathan meredup, entah di mulai dari kapan, pastinya adalah keduanya tak menepis hasrat membara yang melintasi inginnya.
"Teruskan saja, sampai selesai Daddy." Sachi menggeleng "Aku baik-baik saja, hanya saja, lebih pelan sedikit." Pintanya seraya mengerang nikmat saat sang tongkat menghentakkan ujungnya.
Nathan tersenyum manis "Tapi, bersabar, ini akan lama, beginilah suamimu." Katanya sombong.
Sachi mengangguk, desah dan lenguh merayap hingga membuat meremang si pemilik tongkat "Ah, teruskan, lagi, Daddy, but slowly." Ujarnya bersuara serak.
Lama sudah tak mampu merasakan kenikmatan seperti ini secara bersama, kini keduanya di buat gila. Oh Tuhan, sungguh indah rasanya nikmat ini.
Lihatlah tilam yang berdencit kecil, rambut hitam panjang yang menggelar di atas bantal, peluh sauna yang berjatuhan dari dada bidang pria itu menetes ke permukaan dua buah kenyal nan besar yang bergoyang bak agar-agar.
Nathan mengucap syukur atas nikmat yang luar biasa ini, setelah lama dia terpontang- panting tanpa Sachi pada akhirnya mereka di persatukan kembali tiada pihak ketiga yang menjadi penghalang.
Cukup lama keduanya saling berbagi kehangatan di bawah silir udara dingin yang berhembus dari gawai persegi panjang yang teronggok di sisi dinding kamar.
"Cium aku!" Sachi meraih tengkuk suaminya lalu menempelkan kedua bibir yang haus belitan. Nathan memang tak bersuara, tapi gerakannya mendominasi permainan bibirnya.
"Aw!" Keluh nya saat gigi nakal Sachi mengigit bibir bawahnya "Sakit sayang, jangan curang!" Katanya protes.
"Apa tidak bosan dengan posisinya?" Terengah-engah napas Sachi saat menanyakan hal itu.
Nathan menggeleng "Tidak, apa pun gayanya, asal bersama mu, tidak akan pernah bosan, kita main aman saja, kasihan Baby nya." Suara serak berat yang tersenggal-senggal memancing telaga hangat milik Sachi meleleh menyergap menyelimuti pusaka miliknya.
Lenguhan panjang Sachi membuat Nathan peka terhadap perubahan liang yang menjadi pasang bak genangan air parigi.
"Wah, wah, Baby curang lagi." Sachi tersenyum sambil mengigit bibir bawahnya "Sudah, ku mohon, kasihan Baby kita." Alasannya beralibi.
Nathan tahu itu hanya alasan, Meski demikian pria itu tetap menambah tempo permainan untuk segera menyudahi penyatuan dua inti penghidupan mereka, meskipun gairah masih menggebu-gebu namun, sesuai permintaan sang ratu, Nathan rela mengakhirinya.
Nathan merebahkan diri tepat di sebelah kanan isterinya sembari mengatur napas setelah menyirami pot bunga dengan air hangat nan kentalnya "Aku mencintai mu Baby!" Ucapnya dengan tatapan yang melekat pada langit-langit kamar.
Sachi melingkarkan tangan pada perut sixpack suaminya dan Nathan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh keduanya.
Satu kecupan berlabuh pada puncak kepala wanita itu "Terimakasih, sudah mengembalikan istri manja ku." Ungkapnya.
"Aku ingin pergi, tapi hati ini yang tak mengizinkan ku meninggalkan mu." Kata Sachi lirih.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung.... Like dan komen masih di tunggu kerjasama nya dengan baik, supaya novel ini tidak terdepak dari novel toon ☹️ Terimakasih sebelum dan sesudahnya 😚 Terimakasih doanya semua, semoga kalian juga sehat selalu, jasmani, rohani terutama ekonomi nya 😎