
Udara dingin yang merasuk pada wajah tampan laki-laki itu membuatnya tergugah untuk membuka netra yang sudah menampilkan semburat kemerahan.
Sembab menjadi saksi betapa takut hatinya kehilangan seseorang, hanya beberapa jam saja dia mampu menggeluti alam mimpinya sebelum kemudian beranjak dari impian itu sendiri.
Tiga koper besar berjajar di sisi ranjang yang dia tiduri, dan Nathan terkesiap melihatnya.
"Baby!" Jantung laki-laki itu merenyut laksana jatuhnya sang meteor yang tiba-tiba mendapat gaya gravitasi cukup kuat hingga meluncur ke lapisan atmosfer.
Berdenyut kencang juga memanas.
Nathan duduk lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut tempat, di tangkap nya sosok indah yang kini berdiri bergelayut pada besi pagar pembatas balkon yang di kelilingi kaca transparan.
"Baby!" Nathan beranjak dari posisinya kemudian berjalan menuju seonggok tubuh indah wanita itu setelah meraih selimut tebalnya.
Dress satin mini berwarna putih yang Sachi kenakan mungkin membuatnya kedinginan setelah sang hujan terjun semalaman dan berganti menjadi embun pagi.
"Baby!" Nathan meraup tubuh mungil itu hingga keduanya tergulung selimut tebal secara bersamaan.
Udara basa menyambut kedatangan nya pagi ini "Aku mencintai mu, aku menyayangi mu, aku membutuhkan mu, aku candu padamu, aku, ...."
"Aku seperti embun pagi hari, dan kau daun tempatku singgah. Kita bertemu setiap pagi, lalu siang membuat kita berpisah. Begitulah kita semestinya, tidak akan pernah mendapat tempat untuk hidup bersama setiap waktu." Sachi memotong ungkapan cinta suaminya.
Setidaknya, dia sadar akan posisinya sebagai istri simpanan setelah mendapat penawaran laki-laki tampan itu.
Nathan menggeleng "Embun tidak memilih tempat di mana ia muncul. Walau sesaat, hadirnya menyegarkan." Sahutnya, pelukan posesif dia erat kan pada tubuh mungil Sachi yang semakin tenggelam dalam dekapannya.
"Malam berselimut embun, siang bertudung awan, di manapun kita berada, tidak boleh menyerah dengan keadaan. Tolong jangan pergi." Lanjutnya penuh harap.
Melihat koper yang berderet di kamar isteri keduanya membuat laki-laki itu semakin takut kehilangan.
"Daddy yang mengusir ku!" Meski kesakitan Sachi masih menyerukan sebutan sayangnya "Aku akan pergi setelah sudah merasa sangat lelah menjadi istri mu, tapi kali ini akan ku nikmati setiap waktu yang ku miliki bersama dengan mu." Katanya.
Bulir bening meleleh membasahi pipi mulusnya, rupanya tak cukup embun pagi ini menyejukkan udara, Sachi pun ikut menimpali dengan air mata kegalauan hatinya.
__ADS_1
"Aku sangat-sangat mencintai mu!" Ucap Nathan dan Sachi hanya diam, dirinya bukanlah anak kecil yang bisa tenang hanya karena untaian kata-kata.
Kecupan lembut Nathan berikan pada setiap inci ceruk leher mulus Sachi hingga membuat si pemilik meremang dan sedikit mengutarakan desah nya.
Sachi berganti mempertahankan selimut yang membungkus mereka saat tangan Nathan beralih pada tubuhnya.
Nathan remas seluruh liukan risa wanita itu dari bawah hingga ke atas, Sachi pasrah kali ini, setidaknya masih ada waktu bersama sebelum nantinya saling memutuskan akan seperti apa hubungan mereka kedepannya.
"Aahh!" Sachi memejamkan mata saat remasan tangan Nathan beralih pada gundukan padat di bagian dadanya. Tanda kepemilikan sudah terlukis pada setiap sisi leher putih mulus miliknya. Napas menderu begitu hebat akibat gesekan yang terjadi di bagian bawah sana.
"Kau candu ku!" Suara bisikan yang terdengar sangat mesra.
Nathan membuka kancing pengait celana jeans hitam miliknya dan menurunkannya hingga ke paha, malam tadi dirinya memang belum sempat mengganti pakaian tidur.
Dress mini milik Sachi Nathan sibak sedikit ke atas kemudian menurunkan CD tali kecil yang menghalangi jalan masuk juniornya.
Tak butuh pemanasan ini itu karena tubuh keduanya sudah memanas terbakar api asmara kerinduan.
Sachi bahkan membungkuk demi memberi kemudahan jalan masuknya sang junior. Rupanya wanita itu tak mampu menolak rasa nikmat yang luar biasa ini.
"Emmh Baby!" Bisikan Nathan yang serak begitu menyentuh kalbu.
Nathan jebol pintu surga dunia milik isterinya hingga tenggelam sudah sang junior ke dalam sana setelah melewati beberapa kesulitan karena bagian itu masih sangat sempit.
Nathan memulai hentakan pinggulnya dari gerakan perlahan hingga yang tercepat sekalipun, sedang tangannya berpegangan pada pinggul ramping milik Sachi.
Lenguhan Sachi menggema ke udara, untung saja rumah rahasia itu berada di tengah-tengah hamparan tanah kosong yang tak berpenghuni.
Maka sedikit sekali kemungkinan adanya orang yang melihat aktivitas cinta mereka meskipun melakukan kegiatan intim itu di luar ruangan.
Tubuh Sachi semakin melengkit saat rasa ngilu yang dia dapati semakin meregang "Ough! Daddy hhh!" Desah nya.
Di dalam selimut tebal berwarna putih itu keduanya bergumul, bekerja sama untuk saling memberikan kehangatan dan kenikmatan satu sama lain.
__ADS_1
Embun pagi menjadi saksi betapa hangatnya hasrat cinta mereka hingga buliran bening itu malu dan perlahan pergi meninggalkan dedaunan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 08:00 Sachi baru mulai memasak, dia dan suaminya tidak sempat sarapan karena pagi tadi sudah sarapan dengan hal yang lain.
Nathan sudah rapi dengan pakaian kasual nya, hari ini hari Minggu maka Nathan juga tidak pergi ke kantor.
Setidaknya hari ini Sachi tidak langsung di tinggal pergi seperti dua Minggu yang lalu "Sayang." Bisiknya ke telinga sang isteri yang masih bergulat dengan bahan mentah di dapur minimalis modern rumah itu.
Dari belakang Nathan peluk Sachi sedang matanya menatap lekat tangan-tangan lentik isterinya mengiris wortel untuk sup bening kesukaannya.
"Kamu membuat koki di rumah ini makan gaji buta, Baby?" Bisik Nathan.
"Ini aku buat spesial untuk mu, jadi baru hari ini aku masak sendiri! Lagian belum tentu Minggu depan Daddy ke sini lagi." Sahut Sachi.
Nathan tersenyum tipis dan hampir tak nampak lengkungannya "Tetap lah menunggu ku, akan ku berikan seluruh dunia padamu asal Baby tetap di sini menunggu ku." Ujarnya.
"Aku sudah banyak mendapat harta dari mu, aku tetap akan pergi setelah merasa lelah, selama aku masih sanggup, aku masih akan bertahan di sini. Mungkin begitulah akhir dari cerita ini nantinya. Tidak ada kejelasan." Sambung Sachi.
Mendengar itu, tatapan Nathan meredup hingga berubah menjadi nanar "Gimana kalo kita ke bioskop, mungkin dengan begitu Baby tidak akan merasa lelah." Ajaknya.
Sachi mengangguk "Boleh juga, tapi kita makan dulu di rumah, sekalian bareng Ibu, kasihan dia, selama menjadi mertua Daddy, Ibu belum punya kesempatan makan satu meja bersama mu." Pintanya.
Nathan mengangguk "Baik lah, ratu ku. Hari ini aku milik mu, perlakukan aku seperti budak cinta mu." Katanya.
Sachi melirik ke bawah saat dering ponsel dari saku celana jeans Nathan berbunyi, sudah dapat di pastikan itu panggilan dari keluarganya.
Nathan tak menggubris, dia takut membuat Sachi benar-benar meninggalkannya karena merasa muak dan lelah dengan hubungan poligami yang tak adil ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung..... Terimakasih dukungan Like komen Vote dan hadiah nya.....❤️
__ADS_1