
Dalam buta nya pagi, Sachi tergesa-gesa memasuki kamar miliknya, beberapa saat yang lalu dia terbangun dan muntah-muntah di kamar mandi.
Kemudian setelah itu, Sachi iseng menilik ke lantai bawah, di mana kamar sang ibunda tercinta terletak.
Oh, alangkah terkejut dirinya, mendapati sebuah kenyataan ini, "Di mana Ibu ku?" Tanyanya pada satu pelayan beberapa waktu yang lalu.
"Maaf Nona, tapi Nyonya Mariam di bawa orang-orang Tuan besar, maaf kan kelalaian kami." Jawab satu pelayan itu padanya. Lemas, sesak tak keruan hatinya ketika mendengar jawaban dari wanita itu.
Sachi duduk di sisi ranjang menghadap suaminya yang masih setia dengan alam mimpinya. Semalaman Nathan tak tidur saking seringnya Sachi berpindah posisi karena tak nyaman dan sering mual muntah.
Memasuki trimester kedua membuat Sachi lebih susah tertidur oleh sebab gangguan ini itu. Maka tiga hari ini Nathan berusaha menjadi suami siaga bagi isterinya.
Tak perduli dengan penolakan dan juteknya sikap Sachi, laki-laki itu pantang menyerah menjadi suami yang baik untuk Sachi.
Kesalahan di masa lalu yang membuat renggang hubungan keduanya, ingin segera Nathan perbaiki agar tidak terus menerus berlarut-larut.
Lagi pun Nathan mengerti, Sachi berbuat seperti itu kendati dirinya sedang hamil, mungkin emosinya ikut naik-turun tidak stabil.
Meski tertatih, Nathan tetap mencoba sesabar mungkin meluluhkan hati istri kesayangannya.
Aral melintang biarkanlah berlalu, kini Nathan ingin menyongsong masa depan dengan merekonstruksi hidupnya, tapi tunggu dulu, belum apa-apa sudah ada ujian yang baru.
"Daddy! Bangun!" Sachi menggoyangkan tubuh suaminya, kemudian dengan sigapnya Nathan membuka mata bahkan duduk dengan gerakan terkejut "Ada apa? Baby kenapa hmm?" Tanyanya seraya mengusap mata.
Wajah cemas panik Sachi membuat jantung laki-laki itu semakin berdenyut kencang "Ada apa hmm?" Ulang nya sambil beralih mengusap lembut pipi isterinya.
"Ibu, Ibu gak ada di kamar, Mbak bilang orang-orang Daddy mertua membawanya, hiks!" Sachi mengakhiri kalimatnya dengan isak tangis yang tak mampu dia bendung.
"Ssuutt," Nathan mendekap erat tubuh mungil isterinya dan Sachi sempat mendengar debar jantung Nathan yang masih kencang.
"Tenang dulu, kalo pun iya Daddy mertua mu yang membawa Ibu, tidak mungkin terjadi sesuatu pada Ibu, Daddy Dylan memang dingin, tapi dia bukan orang yang akan menyakiti wanita lemah. Percayalah." Tuturnya, tangannya mengusap lembut puncak kepala wanita itu.
"Apa maksudnya ini? Sudah pasti Daddy mertua mau mengancam ku lagi kan? Menawarkan sesuatu lagi kan? Aku lelah berurusan dengan keluarga mu Daddy! Tolong lepaskan aku, hiks!" Isak tangis tak lupa pula Sachi sematkan di akhir perkataan pilu nya.
"Sssuutttt, jangan terus berpikir buruk, Baby tunggu di sini, biar Daddy yang mengurus," Kata Nathan sembari melerai tautan tubuh mereka.
Sachi menggeleng "Gamau, Sachi ikut, Sachi ikut please!" Rengek nya menghiba.
"Baiklah." Nathan menuruti kemauan Sachi seperti biasanya, tapi sebelumnya ada permintaan yang Nathan ajukan.
Sachi harus bersabar menunggu Nathan menggantikan pakaian juga menyuapi sarapan terlebih dahulu, meskipun panik setidaknya Baby yang sedang berkembang dalam perut Sachi tidak terabaikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tiga jam kemudian,
Di rumah kediaman keluarga besar Dylan Jackson, Nathan turun dari mobil lalu disusul oleh isteri kesayangannya.
Nathan dan Sachi mengedarkan pandangan ke segala arah, di mana semua orang terlihat ripuh dengan pekerjaan masing-masing.
__ADS_1
Ada yang mendekorasi tenda, ada pula yang merangkai bunga-bunga, di sudut tempat juga ada beberapa orang-orang yang menyiapkan wadah-wadah ala meja prasmanan.
Ada apa ini? Pesta? Siapa yang membuat acara pesta ini? Di lihat dari dekorasinya, sepertinya acara pesta ini mirip dengan pesta pernikahan.
Nathan menggandeng tangan isterinya menuju taman halaman belakang, menyisir seluruh tempat yang di dekorasi itu.
Rupanya di halaman belakang dekat kolam renang yang berdampingan dengan bibir pantai, sebuah pelaminan elegan sudah menyambut kedatangan mereka.
"Daddy, siapa yang mau nikah? Siapa hah? Apa Daddy mertua memaksa mu menikah lagi?" Celetuk Sachi, rupanya wanita hamil itu tahan untuk segera menanyakan hal tersebut.
"Mungkin, ini acara I-then, atau Om Gerald, bisa saja kan? Jangan berprasangka buruk dulu." Sahut Nathan.
Keduanya di sambut oleh beberapa orang-orang Dylan lalu di iring menuju paviliun yang juga sudah di dekorasi dengan sangat indah, warna putih yang di hiasi dedaunan hijau menjadikan hunian tepi pantai itu terlihat lebih estetika. Angin pantai sepoi-sepoi, mengiringi detak jantung Sachi yang tak keruan pasalnya.
Tiba di dalam paviliun, Nathan dan Sachi mengernyit, melihat Dylan, Jelita, Mariam, duduk bersanding dengan satu laki-laki berpakaian rapi seperti petugas KUA (Kantor Urusan Agama).
Gamang hati tak membuat Sachi menghentikan langkahnya, wanita hamil itu tetap melanjutkan perjalanan menuju sosok ibunda tercinta.
Mariam duduk di sebelah kiri Jelita dengan mengenakan pakaian kebaya yang sangat cantik lagi mewah. Rambutnya disanggul, senyumnya mengembang begitu impresif.
Sachi meraih tangan Mariam lalu duduk tepat di sisi kiri wanita berwajah pucat itu "Ibu kenapa di sini?" Tanyanya "Siapa yang mendadani Ibu hah?" Lirihnya pilu.
Melihat kecantikan Mariam setelah di make up lumayan membuat Sachi terharu, seandainya saja Mariam secantik ini selalu dan tidak sakit-sakitan lagi seumur hidupnya.
"Ibu cantik kan?" Tanya Mariam tersenyum dan semua orang menatap ke arah kedua perempuan cantik yang sedang berkonfrontasi itu.
Sachi mengangguk "Cantik, sangat cantik, Ibu kenapa di sini? Apa Daddy mertua ku, mengancam Ibu hmm?" Tanyanya kemudian.
Sachi menoleh pada Dylan begitu pula dengan Nathan "Sebenarnya ada apa ini Tuan? Kalo Tuan mau menikah kan putra Anda lagi, kenapa harus mengundang Ibu ku ke sini? Apa Tuan sedang menunjukkan kekuasaan Anda!" Tuduh Sachi. Di matanya, Dylan adalah penguasa dingin yang kejam lagi picik.
"Hei anak mantu, jaga bicaramu, sekarang, ikuti saja aturan ku, jangan memulai peperangan di sini!" Sergah Dylan.
Nathan, Jelita, Mariam dan semua orang mengernyit heran menyimak perdebatan antara mertua dan menantu rupawan itu.
"Masih sudi Tuan menyebut ku mantu, tapi membuat resepsi pernikahan suami ku di depan Ibu ku!" Tukas Sachi ketus. Entah hilang kemana sopan santun wanita hamil itu, mungkin sudah di makan unta.
Nathan mendekati telinga Sachi "Baby, bisa lebih sopan sedikit tidak hmm? Daddy Dylan mertua mu!" Bisiknya.
"Mertua macam apa yang menikah kan putranya di depan mantunya?" Sachi mewek seketika itu juga.
Astaga, sebenarnya ini cerita sedih, romantis, action, komedi atau cerita azab? Kenapa ubsurt sekali!
Dylan menjentikkan jarinya, lalu beberapa orang memaksa Nathan dan Sachi untuk duduk di kursi yang berhadapan dengan sang penghulu nikah.
Tegang, suasananya, sepertinya Dylan akan memaksa putranya mengikrarkan talak pada menantunya. Yah, setidaknya begitulah yang melintas dalam benak Nathan dan Sachi.
Dua pasang netra milik sejoli rupawan ini membulat saat dua buku nikah, di sodorkan padanya.
"Karena kalian sudah menikah secara siri, maka tidak perlu berikrar lagi, kalian cukup menandatangani buku nikah saja. Dan saya mencatat pernikahan kalian ke dalam catatan pemerintah, setelah itu pernikahan kalian resmi di legalkan secara negara." Jelas penghulu.
__ADS_1
Nathan dan Sachi terkesiap "Legal? Pernikahan kami?" Pekiknya bersamaan.
Penghulu mengangguk "Kenapa kalian terkejut? Bukan kah seharusnya senang?" Tanyanya.
Tawa renyah semua orang terdengar mengolok-olok sepasang suami istri itu. Padahal mereka datang dengan ketegangan seperti ingin di paksa bercerai tapi rupanya justru dipersatukan dengan kekuatan hukum negara.
Beberapa waktu yang lalu Dylan sengaja menawarkan satu koper uang juga surat tanah untuk menguji bagaimana sikap, sifat, juga watak menantunya.
Dylan tak berekspektasi banyak dari menantunya, cukup dengan menjawab tidak ingin di madu saja, Dylan akan memilih nya menjadi menantu, tapi rupanya, jawaban Sachi yang terlampau tegas menyentuh hati laki-laki dingin itu.
Dylan sengaja mengetes apakah Sachi mau menjadi yang kedua lagi dan menjadi simpanan selamanya. Ternyata Sachi tidak mau berkontribusi dalam cinta segitiga.
Sachi justru rela di pandang mata duitan dari pada harus menjadi yang ke dua. Padahal, di lihat dari kata-kata Sachi, Dylan tahu benar bahwa Sachi sangat mencintai putranya.
Jelas, Sachi bukan lah wanita yang suka dengan pengkhianatan, sama seperti pribadinya yang sangat membenci sebuah pengkhianatan.
Di dunia ini, Mariam lah yang selalu Sachi penting kan terlebih dahulu. Dylan standing applause untuk semua orang yang menyayangi ibunya.
Sejujurnya. Tidak ada perjodohan lagi yang Dylan siapkan, selain dari pada peresmian pernikahan Nathan dan Sachi saja yang akan di meriahkan malam ini juga.
Melihat Sachi terbungkam.
Mariam meraih tangan mulus putrinya sedang bibirnya tersenyum tipis "Tanda tangani saja, buku nikah nya, Ibu tahu, kamu masih mencintai suami mu, di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna, maafkan kesalahan Nathan, lalu buka hidup baru bersama suami mu kembali." Ujarnya lembut.
Sachi menggeleng "Tapi Buk, Daddy mertua sama Daddy suami sama-sama menyebalkan, mereka sama-sama pernah menyakiti hati ku, gimana bisa Sachi hidup sama kedua Daddy menyebalkan ini? Daddy mertua seperti Tuan Takur di film India kan!" Wanita hamil itu mewek kembali bahkan matanya dia kucek seperti batita.
Nathan dan Dylan memutar bola matanya.
"Astaga! Padahal sudah mau punya Baby, tapi kelakuan masih kayak anak kecil!"
"Tuan Takur? Yang benar saja! Kalo bukan mantu, sudah ku asing kan ni anak!" Kedua anak dan bapak ini saling membatin merutuki wanita hamil itu.
"Sachi, Daddy mertua mu, hanya ingin mengetahui sifat mu saja, bukan sengaja menyakiti mu. Sebenarnya sebelumnya, Mammi mertua mu sudah sering menelepon Ibu, untuk merencanakan resepsi pernikahan ini. Maafkan mereka, lalu tanda tangani buku nikah nya, Ibu tidak merestui perceraian kalian." Tutur Mariam "Setidaknya Ibu bisa pergi dengan tenang, setelah menitipkan mu pada wanita baik seperti Nyonya Jelita." Sisi batinnya.
"Iya Sachi, maaf kan Daddy Dylan, juga putra sulung Mammi." Timpal Jelita mengimbuhi "Tanda tangani buku nikahnya yah Nak." Titahnya memohon.
Membujuk wanita hamil yang tersakiti memang tidak mudah, makanya Jelita bersekongkol dengan besannya untuk mempersatukan putra-putri nya.
Sachi terdiam sejenak sembari memutarkan ide-ide liciknya seperti biasa "Gimana kalo aku, kerjain dulu Daddy mertua, sama Daddy suami." Batinnya.
Sachi beralih pada Jelita "Tapi sepertinya, Baby dalam perut Sachi sedang dalam mode ngambek, jadi dia butuh di bujuk dulu Mamm!" Pintanya bersiasat.
Nathan mengernyit "Apa lagi ini? Wanita menyebalkan ini pasti merencanakan sesuatu lagi!" Batinnya.
"Bagaimana cara membujuk nya?" Tanya Jelita.
"Nah kan, Mammi pake nanya lagi! Sudah pasti rencana Baby tidak main-main kali ini." Rutuk Nathan dalam batin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bersambung....... Masih banyak episode yang akan tampil tapi apalah daya tangan tak sampai, see you next episode 🤗