
"Akk ahh sakit!" Ethan menggigit bibir bawahnya menahan nyeri dari bekukan tangan Sachi.
"Berani kamu menghalangi jalan ku hah!" Geram Sachi saat mengucap, tatapan tajam penuh kebencian tertuju pada tengkuk laki-laki itu.
"Aakk!" Ethan semakin meringis saat Sachi lebih menekan bekukan tangan miliknya "Sakit sayang, dari pada berseteru, gimana kalo kita pacaran dulu, satu hari saja, setelah itu kau boleh putus kan untuk menerima lamaran ku atau tidak!" Masih sempat Ethan bernegosiasi.
"Pacaran katamu? Pikir mu kau siapa?" Berang Sachi melotot.
"Aku calon pewaris kerajaan Jack group, kau harus tahu Nona, ayah ku punya konsorsium dengan beberapa penguasa di negara ini, dengan menikahi ku, kamu tidak perlu mencopet lagi bukan?" Sambung Ethan.
Tak tahu saja dia, rupanya Sachi istri dari Abang penguasanya.
"Aku bukan pencopet!" Teriak Sachi.
Di dorong nya punggung Ethan hingga terhuyung ke depan, segera Ia berlari ke arah kiri di sana sudah ada Jho yang menunggu dirinya.
"Nona, jangan lari lagi!" Ethan masih sempat mengejar namun.....
Slup!
Jho menarik lengan Sachi untuk kemudian di bawa lari ke arah kiri. Sepatu heels milik Sachi lumayan menghambat tapi masih bisa sedikit di tolerir.
Segera mereka memasuki lift yang kebetulan terbuka, rupanya keberuntungan selalu berpihak pada mereka.
"Kita langsung pulang!" Suara yang terdengar dari earphone di telinga Jho memberi aba-aba.
"Bos di mana?" Jawab Jho dan Sachi hanya menatap wajah asisten personal suaminya dari samping.
"Aku menuju parkiran basemen, bawa Nona mu ke sana, pastikan dia aman, tanpa kau menyentuh nya sedikitpun!" Jho melepas tangan Sachi setelah mendapat perintah itu.
Suara Nathan terdengar memekik hingga sedikit memberi rasa pengang pada gendang telinganya.
"Baik lah!"
Tak berapa lama....
Jho menoleh dan memandang wajah Sachi yang saat ini menatap layar LED di atas pintu lift. Tak ada gurat ketakutan yang tertampil di wajah cantik Sachi. Sepertinya Sachi sudah terbiasa berurusan dengan Ethan.
"Kenapa Nona Sachi bisa kenal dengan Tuan muda I-then?" Tanya Jho.
"Tentu saja kenal, bukanya dia itu adik ipar ku?" Sachi menjawab dengan nada santai bahkan tanpa menoleh.
Jho mendengus "Percuma bertanya sama anak kecil! Jawabannya pasti tidak masuk di otak orang dewasa!" Batinnya.
Setelah beberapa menit. Keduanya keluar dari lift, mereka turun di lantai LG (lower ground), di mana parkiran basemen terletak.
__ADS_1
Parkiran yang lumayan ramai, karena hari ini hari Minggu. Pengunjung setia mall dari yang lokal hingga yang turis tampak berbaris di pintu masuk untuk kemudian menerima cek body dari para scurity.
Jho mengarahkan tangan ke depan, memberikan petunjuk pada sang Nyonya muda ke dua nya "Silahkan Nona!" Panggilannya masih Nona karena Sachi masih terlihat sangat muda.
Sachi memasuki mobil putih mengkilap yang sudah bersiap membawa sosoknya, dia duduk dengan tenang sebelum kemudian mengedarkan pandangannya ke segala arah "Daddy mana?" Tanyanya.
Terlihat Jho baru saja duduk di kursi penumpang bagian depan di sampingnya juga ada sopir yang duduk di kursi kemudi.
"Sebentar lagi, Nona bersabar lah." Kata Jho.
Selang beberapa menit, Nathan juga keluar dari lift, pria tinggi itu berjalan dengan langkah cepat yang terlihat gagah dan sangat berwibawa.
Mobil putih mengkilap menyambut kedatangannya, Nathan masuk dan duduk di jok penumpang belakang bersama isteri keduanya. Segera mobil putih Nathan bergerak dan berlalu dari bangunan megah menjulang itu.
"Mobil Daddy kemana? Kok kita pake mobil ini?" Sachi masih belum hapal kalau dirinya menjadi istri sang penguasa yang antek-anteknya ada di mana-mana.
Titah A titah B Nathan teriakan melalui earphone yang dia sambung kan ke seluruh jaringannya. Demi kepentingan pribadi Nathan selalu mengkoordinir orang-orangnya dengan kata pamungkas SEGERA!
"Ada orang-orang yang mengambilnya, Baby tenang saja." Jawab Nathan lalu mengecup kening wanita itu.
Pelukan posesif Nathan berikan pada tubuh mungil Sachi yang tampak nyaman dalam dekapannya "Kamu hanya milik ku, Baby!" Ucapnya lirih.
Jho melirik ke arah spion mobil, mengamati raut ketakutan dari wajah tampan sang Tuan. Mungkin Sachi tak mengerti betapa besar cinta Nathan padanya, hingga rasanya sulit sekali bernapas ketika melihat wanita itu di goda adik tampannya.
"Daddy, mau sampai kapan kita seperti ini? Aku mulai lelah, kau bilang dengan menonton bioskop aku tidak akan merasa lelah, tapi aku malah semakin lelah." Dalam dekapan hangat suaminya Sachi mengutarakan perasaannya, begitulah sifat Sachi yang terbuka.
Sachi terdiam.
Jho dan pak sopir menjadi saksi betapa takutnya laki-laki penguasa itu kehilangan seorang wanita yang hanya wanita biasa.
Tiba di rumah rahasianya, Nathan dan Sachi turun dari mobil kemudian berjalan beriringan memasuki bangunan yang di kelilingi pagar tinggi.
Sebelumnya, Sachi memeriksa keadaan ibunya, syukurlah Mariam sudah lebih baik, mungkin karena perawatan dan juga hati yang tenang setelah melihat Sachi di per_istri laki-laki kaya raya.
Setidaknya, saat sang maut menjemput, Mariam sudah merasa lebih tenang, dia meninggalkan putrinya bersama laki-laki yang bertanggung jawab seperti Nathan.
Setelah memastikan ibunya baik-baik saja, Sachi kembali ke kamar miliknya yang terletak di lantai atas, rupanya Nathan baru saja akan keluar dari ruangan tersebut "Loh Daddy mau kemana?" Tanyanya seraya menutup pintu dengan sebelah tangan.
"Daddy sudah harus pulang sayang, dari pagi tadi mertuamu terus menelepon, mungkin mereka, ..."
"Iya Sachi tahu kok!" Sachi memotong ucapan sang suami "Tapi sebelumnya mandiin Sachi dulu yah, mau kan?" Pintanya.
Sachi melangkah semakin mendekati suaminya, lalu meraba dada bidang pria itu dengan tatapan menggoda.
Nathan tersenyum "Bukanya mandi, kita nanti malah melakukan yang lain! Terus kapan Daddy pulang nya hmm?" Katanya.
__ADS_1
Sachi mendengus seraya melucuti pakaiannya hingga tak bersisa, sepertinya Nathan menolak, ya sudah lah Sachi tak mau ambil pusing.
"Pulang lah kalo begitu!" Sachi berjalan dengan tubuh polosnya menuju kamar mandi.
Meskipun sudah seringkali melihatnya, Nathan masih selalu di buat terpana oleh kemolekan raga mungil nan sintal isterinya.
Nathan menggeleng menatap punggung isterinya, sebelum kemudian melangkah dua derap dan meringkus tubuh itu dengan tiba-tiba.
Ia berjalan memasuki kamar mandi dengan pandangan yang lurus ke depan.
"Kenapa? Tadi katanya mau pulang!" Ucap Sachi menyindir, tangannya mengalungi leher Nathan dan matanya menatap lekat wajah tampan laki-laki itu.
"Pulang, tapi setelah mendapat asupan gizi buat syi dedek! Kasian dia, mungkin puasanya satu Minggu lagi kan." Sambung Nathan menyengir.
"Kalo aku kangen gimana?" Sela Sachi.
Nathan menurunkan tubuh Sachi pada bathtub besar yang belum terisi air kemudian dengan gerakan cepat dia menanggalkan seluruh pakaiannya sembari menatap lekat kemolekan yang sudah membangunkan pusaka nya.
Nathan duduk di sisi isterinya dan bersandar nyaman pada tepian bathtub, bukanya mengisi air Sachi justru melangkah ke pangkuan suaminya dan berusaha menyatukan kedua tubuh inti mereka.
"Emmh!" Sachi mengernyit saat selongsong miliknya menenggelamkan pusaka sang suami "Jadi gimana kalo aku kangen? Jawab dulu!"
Perlahan Sachi mulai menaik-turunkan pinggulnya sambil menanti jawaban sang Tuan penguasa, bibir bawahnya ia gigit dan itu terlihat sangat menggoda.
Pelajaran dari film biru yang Sachi tonton lumayan menjadikan Sachi wanita yang dewasa meskipun tidak dengan sikapnya.
"Kita masih bisa telfonan, main mandiri kan bisa, Daddy janji, akan datang setiap minggunya untuk mu." Nathan berucap dengan bibir yang terbuka seperti ikan dehidrasi.
Desah Nathan bahkan terlepas saat Sachi mempercepat temponya "Aku bukan wanita mu, aku tetap akan menemui mu di kantor kalo aku sudah merasa rindu padamu!" Katanya penuh dominasi.
"Kenapa begitu? Bagaimana dengan pernikahan kita? Bisa saja pernikahan kita terancam berpisah sayang, Daddy tidak mau itu terjadi." Nathan menyingkap rambut isterinya lalu mendaratkan ciuman sesekali pada bibir protes itu.
Deru napas kacau mereka saling bersahutan.
"Lalu mau sampai kapan aku, kamu jadikan simpanan?" Sachi yang kesal semakin menghentakan pinggulnya.
Nathan berdesah "Kita sudah sering membahas ini kan Baby? Kenapa masih tidak bisa mengerti juga?" Di peraduan tubuh mereka, keduanya justru berdebat.
"Ahh!" Sachi berdesah saat sang junior mentok sampai ke pangkal "Kalo begitu jangan salah kan aku, kalo sampai aku meninggalkan mu!" Tersenggal-senggal Sachi mengucapkan ancaman itu.
"Jangan pergi, semuanya butuh proses sayang, bersabar lah, mungkin secepatnya kita akan punya baby mungil hasil kerja keras kita ini, jangan sampai baby kita menjadi korban dari perpisahan kita, aku sangat mencintaimu, PERCAYALAH." Nathan mengerang di ujung kalimat saat tak tahan dengan sempitnya ruang surga dunia milik isterinya yang meremas tongkat pusaka nya.
Dalam sengal-sengal napasnya Sachi terdiam pilu, kenikmatan itu apakah harus rela dia sudahi sampai di sini? Lalu apa kabarnya jika dia benar-benar hamil?
Pergi sulit bertahan sakit, mungkin itu judul lagu yang cocok untuk menemani lukanya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung... Mungkin up lagi dan lagi hari ini, kemarin Ayu nya enggak enak badan jadi cuma up sekali, buat dukungan nya, Ayu ucap kan terimakasih.🥰