
Terbit nya sang mentari pagi mulai menerjang masuk ke dalam ruangan VVIP.
Di sudut tempat seorang wanita menggeliatkan tubuhnya seraya membuka sayup mata yang mulai jernih kembali.
Di sapunya netra sebening embun pagi itu sambil mengumpulkan seluruh tenaga yang menjadi tumpuan kekuatannya selama ini.
"Heh! Aku masih di sini ternyata!" Sachi mengedarkan pandangan dan tak melihat sesosok nyawa pun di sekitarnya.
Alis Sachi naik sebelah "Heh, bukankah ini waktunya pergi dari sini! Dasar Tuan muda naif, pikirnya bisa semudah itu aku memberikan kesempatan lagi?" Katanya remeh.
Sachi duduk lalu melepas dengan pelan kabel infus yang masih melekat di sebelah tangannya. Satu plester dia balut kan pada bekas suntikan nya, kebetulan di atas laci nakas ada beberapa kotak obat dan langsung di manfaatkan oleh wanita hamil itu.
Sachi turun dari ranjang empuknya, lalu berjalan mengendap-endap keluar bilik bersekat ornamen modern tersebut.
Rupanya di balik ornamen penyekat ada beberapa orang yang bersiaga menjaga pintu keluar utama kamar luas itu.
Sachi tak perduli, dia terus berjalan hingga ke pintu namun sayangnya dua pria itu menghalangi jalannya "Maaf Nona, Tuan muda tidak mengizinkan Nona untuk keluar kamar." Katanya tegas.
Sachi mengernyit "Hey, siapa kamu, beraninya mengatur ku? Aku Nona mu, aku yang seharusnya memerintah mu bukan?" Berang nya.
"T-tapi, ..."
"Aku harus keluar mencari suamiku, atau aku suruh suami ku memecat mu, kau tau kan, Tuan muda mu itu sangat menurut padaku." Sela Sachi memangkas ucapan dua laki-laki itu tampa rasa takut.
"I-iya juga Nona, tapi, ..."
"Buka pintu nya, atau aku suruh suami ku memecat mu!" Celetuk Sachi lagi ketus.
"B-baik Nona, tapi biarkan kami mengantar Nona ke mana pun Nona pergi." Sang penjaga bernegosiasi.
Sachi memainkan jari telunjuk nya tepat di depan wajah kedua pria itu "Kalian mendingan siapin air hangat untuk ku, ini perintah dari calon pewaris tahta yang ada di perut ku, jadi lakukanlah sekarang, sebelum calon bayi ku ileran gara-gara kalian, awas ajah kalo sampe bayi ku ileran, kalian berdua yang akan aku pecat!" Ancam nya.
"Tapi Nona."
Sachi tergelak renyah "Apa kau takut aku kabur hah? Apa menurutmu aku sebodoh itu melepaskan laki-laki kaya raya dan tampan seperti Om Daddy naif Nathan?" Tanyanya.
"T-tidak juga sih." Kedua pria itu sempat saling menatap, sedikit aneh dengan sebutan yang Sachi katakan "Om Daddy naif?" Batin mereka bersamaan.
"Kalo begitu tunggu apa lagi? Lakukan yang aku suruh, siap kan air hangat untuk mandi ku. Setelah aku pulang lagi kalian harus sudah selesai." Titah Sachi mendominasi.
"Baik Nona!" Kedua pria itu mengangguk bersamaan.
"Kartu nya mana? Aku mau menyusul suami ku!" Sachi memainkan jemarinya meminta kunci pintu kamar VVIP tersebut.
"Ini Nona." Sodor pria itu.
"Hmm pergilah!" Sachi mengibas-ngibas kan tangannya lalu berjalan keluar dari kamar menggunakan kartu yang sang penjaga berikan.
Sachi menyeringai "Semudah itu aku bisa kabur kan? Sachi, di lawan, aku takkan mungkin terkalahkan!" Ujub nya seraya tergelak iblis.
Sachi celingukan sambil menuju sebuah lift lalu menunggu angkutan transportasi vertikal tersebut dengan sabarnya.
Beberapa orang yang tak sengaja lewat menatap kagum pada tubuh molek yang hanya terbungkus oleh busana tidur kimono tipis berwarna hitam berenda juga menerawang.
Sachi yang menyadari itu, menjadi rajin membetulkan kimono tipis miliknya "Kenapa juga Om Daddy naif mengganti pakaian tidur ku!" Gumamnya menggerutu.
Ting!
Pintu lift pun terbuka, gegas Sachi memasuki ruangan kecil yang kosong itu, dia tekan lantai lobby.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, Nathan dan Jho menatap layar ponsel yang sama yaitu milik Jho, di mana Sachi terlihat keluar dari kamar hotel dan memasuki sebuah lift. Sepertinya kali ini Sachi lupa, suaminya bisa melakukan apa saja untuk mengawasi dirinya.
__ADS_1
Nathan dan Jho berjalan tergesa-gesa menuju sebuah lift hendak menyusul wanita yang kabur itu "Blokir jalan keluar! Jangan sampai Nona Sachi kalian bisa keluar dari gedung ini!" Teriaknya pada seluruh jaringan yang dia koordinir lewat earphone.
Jho menoleh "Bagaimana bisa Nona kabur setelah menyuruh mu memasak ikan bakar Bos? Apa perbuatannya semalam itu hanya taktik untuk mengerjai mu?" Ujarnya.
"Sudah pasti! Wanita menyebalkan itu benar-benar mencari masalah dengan ku!" Nathan mengeraskan rahangnya dengan tangan yang mengepal erat.
Di tinggalkan Sachi bukan sesuatu hal yang ingin dia rasakan kembali, maka kali ini dia benar-benar memperketat penjagaan. Puluhan orang-orangnya sudah menyebar di setiap penjuru gedung megah ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di dalam lift.
Sachi sudah bisa tersenyum dan merasa menang setelah berhasil lepas dari tawanan cinta suaminya, Sachi berdiri dengan pandangan yang mengarah pada layar LED di bagian atas pintu lift, tapi sebelum sampai ke lantai yang dia tuju, pintu lift terbuka tepat di lantai sepuluh.
Sachi sedikit terkejut saat melihat sosok tampan yang beberapa hari terakhir mengganggu dirinya memasuki lift yang sama dengannya.
"Tuan rese ini lagi! Kenapa dunia ini sempit sekali!" Batin Sachi.
Pria bernama Dyrga itu menyengir sambil memandang seluruh liukan risa milik Sachi yang terlihat sangat seksi.
Tubuh Sachi memang lebih berisi dari sebelumnya tapi bukannya ilfil Dyrga justru semakin tertarik pada raga sintal yang menggemaskan ini.
Melihat tatapan Dyrga yang tak biasa, Sachi lebih memilih keluar dari lift sebelum pintunya benar-benar tertutup lagi.
BRAK!
Di halanginya pintu hingga lebar kembali. Tergesa-gesa Sachi keluar dan berjalan menuju tangga darurat tapi rupanya laki-laki itu pun mengikuti langkah kakinya berayun.
"Mau kemana hmm?" Dyrga mencekal lengan milik Sachi hingga wanita itu tak mampu lagi melanjutkan langkahnya.
Sachi menoleh tajam pada tangan yang mencekal lengan miliknya "Beraninya kamu menyentuh ku!" Tepis nya lalu keduanya saling menatap.
Dyrga menggeleng "Bukan menyentuh, aku cuma mau menyapa mu saja." Kilah nya.
"Dari mana dan mau kemana? Kenapa pakaian mu seperti ini hmm? Aku takut nanti ada pria nakal yang mengganggu mu." Tanya Dyrga.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri! Jadi tolong jangan ganggu aku! Pergilah!" Sachi mempercepat langkahnya menuju serampangan arah.
"Aku tidak akan pergi! Aku mau menjaga mu!" Dyrga meraih kembali lengan Sachi namun kali ini Sachi meronta karena cekalan tangan Dyrga begitu erat "Lepas!" Tepisnya.
"Aku antar kamu pulang saja, gimana?" Dyrga melepaskan jaket jeans miliknya lalu Sachi kembali berlari setelah bisa terlepas.
"Nona!" Dyrga mengejar dan meraih kembali Sachi, ia lantas memberikan jaket miliknya pada tubuh yang menggoda imannya.
"Pake ini, lalu aku antar kamu pulang, percayalah, aku tidak akan macam-macam padamu!" Bujuk Dyrga.
"Tidak perlu, aku tidak butuh bantuan mu! Berhenti menyentuh ku!" Sachi mendorong dada bidang pria itu sekuat tenaga.
Sayangnya Dyrga masih tak mau melepasnya, "Aku tidak akan macam-macam, aku hanya khawatir padamu Nona!"
Beberapa derap langkah kaki besar terdengar bersamaan dengan suara berat seseorang "Baby!" Sebut nya.
Sachi dan Dyrga menoleh secara bersamaan, oh tidak, rupanya Nathan dan Jho berdiri tegak menatap mereka tajam bahkan rahangnya mengeras.
Sachi melepaskan diri dari tangan Dyrga yang tak sengaja merenggang karena terpaku melihat kehadiran Nathan.
Sachi lantas melengos pergi lagi dan kali ini tangan Nathan yang meraih kerah belakang baju kimono nya sudah seperti memperlakukan kucing saja "Sudah ku bilang jangan pergi lagi!"
Sachi memejamkan mata "Kenapa harus bertemu lagi sama dua orang pria Om- Om yang haus sugar Baby ini?" Batinnya.
Tanpa aba-aba, Nathan meringkus sosok Sachi dengan ringannya lalu berjalan menuju lift.
Sachi sedikit meronta "Lepas! Aku mau pulang Om Daddy naif!" Di pukul nya tulang selangka Nathan dengan kepalan tangan kecilnya yang tak lagi berpengaruh apa-apa.
__ADS_1
Segera Dyrga mencegat jalan Nathan "Mau Anda apakan gadis cantik ini Bung!" Celetuknya bertanya.
Dyrga tahu sekali kebiasaan para pengusaha sukses yang sering bermain dengan para gadis cantik seperti Sachi.
"Bukan urusan mu!" Sahut Nathan dingin.
Sachi terkesiap "Astoge! Kenapa Tuhan kasih aku kharisma yang mampu menjerat para pria tajir penguasa? Aku lelah jadi cewek cantik!" Batinnya songong.
Dyrga melangkah maju "Lepaskan dia Tuan, jangan main-main, ..." Belum rampung ucapan laki-laki itu Nathan menyergah kata-kata nya.
"Katakan padanya, siapa aku, Baby!" Nathan menatap tajam ke arah Dyrga tapi ucapannya mengarah pada Sachi.
Sachi menelan saliva, "Apa Om Daddy naif marah?" Batinnya lagi.
"Siapa aku, katakan!" Nathan mengerling wajah isterinya yang tersentak dalam gendongannya "Katakan siapa aku di hidup mu hmm?" Kali ini Nathan benar-benar sudah terlepas dari mode aman.
"Mantan suami!" Nathan melotot lalu kemudian Sachi meralat ucapannya "Suami. Om Nathan suami ku!" Lirihnya.
Dyrga mengernyit "Suami? Sejak kapan?" Direktur keuangan itu masih tak percaya karena sebelumnya Dyrga menghadiri pesta pernikahan Nathan bersama Keenan "Bukannya istri mu itu, ..."
"Kau sudah tahu hubungan kami bukan? Jadi minggir lah!" Sela Nathan ketus. Jika tidak mengingat kerjasama yang paman Dyrga tawarkan sangat menarik mungkin Nathan sudah bertindak lain pada laki-laki itu.
"Tapi..." Belum selesai ucapan Dyrga Nathan sudah lebih dulu melangkah masuk ke dalam lift saat pintu angkutan transportasi vertikal itu terbuka.
Dyrga bergeming menatap nanar tertutupnya pintu lift "Suami? Mereka menikah? Jadi aku menyukai istri orang?" Gumamnya lirih.
Laki-laki itu seperti tak mau menerima kenyataan bahwa Sachi sudah menjadi istri seseorang, di lihat dari wajahnya, Sachi masih terlihat muda, bukan kah seharusnya Sachi belum menikah? Dyrga mencoba menepis jauh-jauh kenyataan ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di lift.
Sachi terdiam dalam gendongan laki-laki yang berahang keras ini. Di lantai dua belas pintu lift terbuka kembali, Nathan melangkah panjang keluar dari lift. Beberapa antek-antek setia Nathan termasuk Jho juga ikut mengiringi perjalanan menuju kamar VVIP milik Nathan.
"Lepas, sekarang aku harus menemui Ibu, Om!" Setelah sekian lama bergeming dengan ketakutan Sachi baru meronta kembali.
Nathan tak mengindahkan nya.
Menerima perlakuan dingin Nathan Sachi menggigit dada bidang laki-laki itu dengan harapan Nathan melepaskan dirinya "Aw!" Tanpa menghentikan langkahnya Nathan mengerling sinis ke arah Sachi.
"Berhenti bersikap seperti ini, sudah ku bilang jangan pergi lagi, kau hanya milikku, Baby!" Sentak nya yang membuat Sachi dan beberapa antek-antek di belakang tubuh Nathan terkejut.
Nathan mempercepat langkah agar cepat pula dirinya sampai pada ranjang empuk berukuran super king itu.
Di rebahkan nya tubuh Sachi secara pelan lalu kemudian Nathan berdiri di sisi ranjang sambil membuka kepala gesper miliknya.
Sachi melotot "Mau apa Om Daddy hah?" Tanyanya berang.
Sachi trauma dengan kejadian tiga bulan yang lalu di kamar hotel yang lainnya saat Nathan menghukumnya dengan kasar setelah Nathan cemburu pada Ethan.
"Kenapa Om Daddy selalu bertindak seperti ini padaku!" Sachi pilu dengan sikap Nathan yang selalu menjadikan dirinya pemuas kebutuhan seksual.
Setelah membuka ikat pinggangnya, Nathan menyelimuti tubuh Sachi bersamaan dengan sosok bidangnya, pada saat itu lah Sachi menyadari bahwa laki-laki ini tidak sedang ingin memakannya. Mungkin alasan Nathan melepas gesper karena tidak ingin menyakiti baby dalam perutnya.
"Istirahat di sini, sebentar lagi pelayan membawa sarapan pagi untuk baby kita." Ucap Nathan lirih.
Bibir Nathan bertautan dengan kening wanita cantik itu sementara sebelah tangannya merengkuh posesif tubuh Sachi.
"Kau hanya milikku, dan aku hanya milikmu, jadi jangan pernah berpikir untuk pergi lagi dari sisi ku! Pinta apa saja, asal jangan meminta aku mencerai kan mu! Sebut apa pun asal jangan pergi dari ku!" Ujar Nathan.
Sachi terdiam dalam dekapan hangat laki-laki itu, sejatinya, pikirannya masih belum bisa dia raba sendiri, apakah ingin putus atau terus? Sachi masih dilema.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bersambung..... Sudah ku tulis untuk lanjutannya jadi tetap stay tune di sini....😘