Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
BC Perdebatan


__ADS_3

...Haaaaay, kesayangan kooh, akhirnya aku kembali ke akun ini dengan hati yang sedikit berat. Tapi karena aku ingin berbagi sedikit kisah mereka, tokoh-tokoh yang sudah sangat aku rindukan, nggak tahu sih kalian rindu mereka enggak, para tokoh di novel ini, yang kalo di baca dari awal lagi bikin pengen ngakak....


...Tapi, ini anggap bonus chapter yah sayang, aku lagi fokus sama akun baru ku, dengan judul novel My Posesif Rich Man yang sebentar lagi tamat....


...Ada Second Wife juga yang udah tamat dan udah ada audio book nya sedang dalam proses pembuatan. Kalo kisah Gerald masih sekitar lima belas chapter lagi tamatnya tapi merangkai kata-kata nya lagi buntu banget, karena jujur aku enggak kolaborasi, jadi khusus aku yang mengetik jadi sulit kalo di paksa takut enggak maksimal....


...End then, kali ini aku mau kasih kalian sedikit kisah mereka sebelum Sachi melahirkan. Nanti kalo ada waktu luang aku crazy up deh. Bismillah....


...----------------...


Angin dari pantai berembus kencang dan suasana ini sudah menjadi kebiasaan bagi keluarga kaya raya yang tinggal di pesisir itu.


Halaman belakang yang luas, di lengkapi dengan kolam renang estetika. Asri karena semua sudut di hiasi dengan bunga-bunga mahal.


Rembulan malam yang membulat sempurna seolah tersenyum menyapa mata-mata yang menikmati terangnya.


"Daddy, ..." Sachi merengut di atas ayunan rotan miliknya. Sedari tadi suaminya sibuk dengan layar laptopnya.


Wanita hamil itu sudah tinggal menunggu waktu lahir saja, mungkin besok atau lusa, karena Sachi sudah sering merasakan kontraksi palsu. Dari kabar USG sih bayinya laki-laki.


"Kenapa sekarang ini Daddy suami sok sibuk sekali?" Rutuk Sachi dengan bibir mencebik.


"Jho di ambil Om Gerald, jadi mau nggak mau suami mu harus melakukannya sendiri sampai ada seseorang yang bisa handal seperti Jho lagi." Sahut Nathan dengan suara berat yang menenangkan.


"Kenapa memangnya? Om Jho nggak betah di sini? Dari bulan berapa Om Jho ikut Om Gerald, sampai sekarang masih betah ajah di sana."


"Dia di tolak Shandra makanya mau cari angin baru, siapa tahu ada gadis lain yang Jho taksir, jadi biar saja." Sambung Nathan.


"Gitu?" Sachi mengangguk pelan. "Oya. Ngomong ngomong Sachi boleh enggak pilih nama buat Baby kita nanti? Kan sebentar lagi Sachi lahiran."


"Tidak boleh." Suara yang terdengar dari mulut mertua nya membuat Sachi menoleh.


Seperti biasa, Sachi dan Dylan memang tidak pernah satu jalan. "Jangan memulai peperangan dengan ku lagi Daddy mertua!"


"Astaga, kalau ada Miss mantu durhaka, Sachi pasti juaranya." Dylan duduk bersandar pada sofa. Di ikuti Jelita yang tersenyum bersiap diri mendengar peperangan kata antara Sachi melawan suaminya.


"Kalau ada ajang pencarian bakat Mister Pebinor, wohoo, pasti Daddy mertua yang menang!" Sachi tak mau kalah.


"Hah?" Dylan terhenyak dan tersentil hingga kening pun mengerut.


"Emangnya Daddy pikir Sachi nggak tahu, kalo Daddy mertua dulu merebut Mammi mertua dari suami lamanya."


"Jangan bahas itu yah."


"Kenapa? Daddy mertua malu? Nggak papa, sepanjang masa orde milenium, Daddy mertua, akan Sachi nobatkan sebagai Pebinor tertampan dan terkaya di Dunia."

__ADS_1


"Hieleh!"


"Kalian ini kenapa sih? Kayak kucing dan tikus deh, omongannya nggak mau ada yang kalah." Sela Jelita menengahi. Meski demikian, Dylan dan Sachi saling menyayangi.


"Harusnya, aturannya, menantu yang ngalah, karena bagaimanapun orang tua tetap selalu benar." Kata Dylan.


"Rumus dari mana? Jangan bilang dari Om Pithecanthropus erectus!" Sela Sachi.


Nathan mendengus lalu memiringkan kepalanya memandangi Sachi dari balik laptopnya. "Itu manusia purba Sayang masa di panggil Om. Jadi kamu menyamakan aku dengan sejenis mereka?"


"Enggak, tapi kalo nyadar, ya maaf." Sergah Sachi.


"Nah. Sekarang lencana nya nambah menjadi istri durhaka!" Ledek Dylan terkikik.


"Please deh, Nathan lagi fokus menyalin data!" CEO tampan itu protes dengan perdebatan mereka yang tidak ada habisnya.


"Jangan kaku Bro." Dylan tergelak renyah meledek putranya.


"Nah Sachi setuju sama Daddy mertua sekarang, selama ini Daddy suami terlalu kaku. Nggak asyik." Cetus Sachi.


"Nggak asyik gimana sih?" Nathan mengernyit menatap Sachi kembali.


"Ya nggak asyik lah, kan cuma Mammi yang asyik." Dylan merangkul istrinya bahkan mencium pipi mulus wanita itu.


Sempat tidak ada bahan untuk di bicarakan, tapi kemudian Sachi teringat sesuatu. "Oya Daddy, semua orang kan sudah Daddy lukis, tinggal Sachi yang belum. Sachi juga mau di lukis Daddy mertua." Pintanya.


Dylan menggeleng. "Wajah mu terlalu abstrak."


Sachi mencebik. "Daddy mertua. Gini-gini Sachi menjadi rebutan kedua putra mu ingat itu."


"Itu lah, kenapa harus seperti itu, sepertinya ini karma ku harus punya menantu yang suka sekali melawan."


"Sachi nggak melawan Daddy, tadi kan Daddy yang mulai perang, Sachi cuma mau kasih nama buat Baby ku sendiri tapi Daddy mertua bilang nggak boleh." Rutuk Sachi merengut.


"Tapi memangnya Sachi mau kasih nama Baby nya siapa?" Sela Jelita lembut.


"Naruto!"


"Astaga, yang benar saja!" Dylan langsung mencondongkan tubuhnya menatap Sachi seksama.


"Itu lucu loh Daddy mertua, dia bahkan lebih terkenal dari seorang Dylan Jackson."


"Memberi nama itu harus ada makna nya Sachi Sayang." Sambar Nathan yang ikut geram. Naruto? Ada-ada saja!


Sachi beralih pada Nathan. "Ya itu juga ada maknanya Sayang kuuuuuu."

__ADS_1


"Apa?" Serah Dylan.


"Badai atau Guntur."


"Ya dari pada Naruto lebih baik langsung saja kasih nama Badai atau Guntur kan lebih bagus."


"Enggak estetika dong!" Protes Sachi kembali.


"Ya Tuhan, Sachi, apa di kata orang nanti kalo cucuku di beri nama Naruto? Yang ada mereka bilang kalau mantu ku rubah ekor sembilan!"


"Dan Daddy orang pertama yang akan di berikan Kage Bunshin, dan teknik Kuchiyose!" Sachi mengeluarkan jurus andalannya.


"Hayys." Dylan memutar bola matanya. Sementara Jelita masih hanya diam menyimak percekcokan receh kedua orang itu.


"Sayang,.." Nathan menyela pada akhirnya.


"Apa?" Toleh Sachi.


"Naruto kurang bagus."


"Bagus." Kekeuh Sachi.


"Memangnya kamu mau anak kita di panggil Narto? Kan lidah orang Indonesia suka salah sebut nama."


"Yuto bagus." Kata Sachi.


"No!" Dylan menyilang kedua tangan. Menolak dengan pasti.


Kembali Sachi beralih pada Dylan. "OMG, Daddy mertua kenapa ikutan tidak setuju sih? Kan yang buat cucu mu cuma Sachi sama Daddy suami."


"Sayang." Sela Nathan menggeleng. Kerjanya menjadi tidak fokus hanya karena perdebatan receh istri dan ayahnya.


"Iya." Bagaimana pun Sachi masih memiliki segan pada suaminya.


"Bradley Jackson sudah paling bener." Sambung Dylan lagi.


"Bradley Naruto Jackson." Kata Sachi.


"Sayang." Sekali lagi Nathan keberatan dengan permintaan Sachi.


Sachi merengut. "Terserah deh."


...----------------...


...Gimana? Nggak usah lanjut kah?...

__ADS_1


__ADS_2