Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Ungkapan


__ADS_3

Nathan menarik pergelangan tangan isterinya, mereka berjalan memasuki rumah besar itu, sementara Dylan dan Jelita masih terdiam menatap berlalunya punggung mereka.


Langkah kaki keduanya sama-sama berayun ke arah yang sama yaitu kamar serba merah muda milik Baby Valery.


Nathan mengajak isterinya masuk ke dalam kamar Baby Valery. Terlihat di sisi ranjang, Susi tengah berusaha menenangkan bayi mungil yang sedang menangis tantrum.


"Cup sayang." Senda Susi sambil menepuk punggung putri semata Ethan itu.


Kening Sachi mengerut, mendengar dan melihat secara langsung tangis bayi yang pilu, wajah dan tubuh Baby Valery bahkan memerah karena kaku. Getaran suara Baby Valery juga ikut menggetarkan jiwa ibu hamil ini.


"Apa bayi mungil ini anak I-then dan Keenan?" Celetuk Sachi bertanya tiba-tiba.


Nathan mengangguk "Hmmm, yah, dia Baby Valery, putri dari sepasang orang tua yang entah bagaimana status nya." Jelasnya.


"Kau tahu Baby? Siang malam dia selalu menangis mungkin karena jiwa polosnya masih bertautan dengan ke_piluan yang sedang Keenan rasakan saat ini." Sachi menoleh tajam pada suaminya, masih sempat-sempatnya Nathan menyebut nama Keenan.


"Orang bilang, firasat bayi masih terlalu kuat, mungkin sekarang Keenan terus menangisi Baby Valery, dan bayi mungil ini sedang merasakan kepedihan ibunya, seperti kau yang selalu sakit saat ibu sedang kesakitan." Timpal Nathan dan Sachi sedikit melirih kan tatapannya.


Ikatan batin ibu dan anak memang saling bertautan, Sachi paham betul dengan apa yang sedang Nathan sampaikan kali ini, sebab dirinya tahu sekali bagaimana kepedihan seorang anak saat sang ibu kesakitan.


"Lihat lah, Daddy bahkan mengusir I-then setelah tahu bahwa Baby Valery memang putrinya, Daddy mengambil paksa bayi tidak berdaya ini dari hak ASI nya, bahkan hak belaian kasih ibu kandungnya." Imbuh nya lagi.


Melihat percakapan mereka. Perlahan Susi berjalan keluar dari kamar untuk memberikan kesempatan pada sepasang suami istri ini menyelesaikan permasalahannya. Lagi pun, Baby Valery butuh ketenangan mungkin dengan menghirup udara alam bebas bayi menangis itu akan segera tenang.


"Menurut mu, sekarang apa status Baby Valery?" Tanya Nathan "Dari awal, aku menjadi orang yang paling tidak ingin skandal I-then dan Keenan terungkap!" Sachi terdiam menatap wajah tampan suaminya.


"Mungkin di mata kalian aku bodoh, naif, tidak tegas dan lain sebagainya." Nada Nathan sedikit naik kali ini.


"Karena hanya masa sekarang yang kalian lihat, cobalah melihat beberapa tahun kemudian, saat Baby Valery sedang tumbuh kembang, di sekolah nya nanti, mungkin saja Baby Valery menemukan kendala karena bully_an dari teman-teman nya perkara status orang tua yang tidak genah!" Perinci Nathan lagi yang sangat masuk di akal.


"Ibunya Valery menikah dengan Tuan Nathan, lalu memiliki anak dari adiknya Tuan Nathan. Valery anak pembawa sial dan lain sebagainya. Mungkin itu akan menjadi bully_an yang mempengaruhi tumbuh kembang Baby Valery nanti." Terang nya menimpali, sementara Sachi masih mencerna setiap perkataan laki-laki itu.


"Psikis berperan penting dalam tumbuh kembang seorang anak, apa lagi Valery perempuan yang hatinya mungkin lebih sensitif daripada laki-laki." Kata Nathan.


"Ini semua salah Keenan, tapi bukan salah bayi yang tidak berdosa ini, Baby!" Nathan menekan sebutan sayang isterinya "Itu maksud dan tujuan ku menutup aib yang menyakiti hati ku ini, Baby." Lanjutnya penuh penekanan.

__ADS_1


"Kau bilang apa barusan hmm? Aku menceraikan istri pertama ku bukan karena mencintai mu?" Nathan memandang remeh wajah cantik isterinya.


"Tau apa kamu tentang perasaan ku Baby? Kau tidak tahu betapa sulitnya aku melewati hari tanpa mendengar kabar mu? Tanpa melihat wajah mu. Kau sibuk memikirkan kesakitan mu sendiri!" Berang nya.


"Kamu bilang aku egois kan hmm? Egois itu definisi dari mementingkan diri sendiri, sekarang aku tanya, kapan aku mementingkan diri sendiri? Semua orang punya alasan kenapa mereka melakukan sesuatu. Di anggap sebagai laki-laki tidak tegas oleh mu tak menjadi masalah, tapi semua yang ku maksudkan adalah ingin semuanya bahagia, aku tidak egois Sachi kesayangan ku." Geram bibir Nathan saat mengucap hingga iris birunya berpendar karena kaca-kaca di matanya.


"Aku ingin Ibu sehat dengan menjalani perawatan medis yang bagus, aku ingin Baby Valery memiliki status yang tidak di pandang sebelah mata oleh orang lain, aku ingin I-then juga tidak memiliki status ubsurt, bujangan yang memiliki anak, aku ingin kamu bahagia di sisi ku dan menjadi satu-satunya istri ku, hanya saja aku meminta mu sedikit bersabar, sampai waktunya tiba aku akan menceraikan Keenan setidaknya setelah Keenan memberikan ASI nya pada bayi yang malang ini." Ungkapnya lagi dan lagi.


"Persetan dengan Keenan, aku tidak perduli tentang nya, yang ku pikirkan adalah, masa depan Valery. Ku pikir, setelah aku menceraikan Keenan secara baik-baik Baby Valery tetap berstatus sebagai putri Syah ku, dan bukan putri yang tak di inginkan." Tambahnya.


Sachi menelaah secara baik alasan Nathan dan itu sangat masuk di akal, ini lah sifat bijak yang tidak di iringi nap'su, semua yang Nathan lakukan sudah terencana hanya saja keadaan tidak mendukungnya.


"Kau pikir mudah, menjadi aku, Baby? Kau pikir aku tidak tersiksa tanpa mu, Baby? Kau asyik berargumen tentang ku, lalu menyepelekan keseriusan ku, kau bahkan lebih memilih uang daripada aku suami mu!"


"Setelah ini, jika sampai Daddy tidak merestui hubungan kita, aku sudah bertekad memilih mu, aku tidak akan pernah menerima tawaran ataupun perjodohan lagi, lalu sekarang apa, dengan bangganya kamu memilih pergi meninggalkan ku. Apa kau tidak memikirkan bagaimana nanti anak kita yang juga menjadi korban keegoisan mu, Baby?" Sungut nya.


"Aku mencintai mu, aku sangat menyayangi mu, aku sesak tanpa mu, aku rela kehilangan apa pun demi dirimu, sekarang kau menyepelekan perasaan tulus ku." Nathan tepuk beberapa kali dadanya berusaha mengurangi murka yang membuncah.


"Apa seperti ini yang harus ku dapatkan dari mu? Sudah dari awal kau tahu bahwa aku bukan laki-laki singgel! Tapi sekarang kau bersikap seperti korban satu-satunya!"


Cukup lama keduanya berdiam diri, tak lama kemudian, Nathan meraih tangan mulus isterinya kembali "Baik lah, sekarang aku antar Baby pulang, ini sudah malam." Ajaknya.


Laki-laki penguasa budak cinta itu menggandeng isterinya keluar dari kamar bahkan keluar dari rumah besar milik keluarga Dylan. Tak ada satu patah kata pun yang terucap dari bibir keduanya.


Nathan diam dengan kekecewaannya, dan Sachi bungkam dengan kegundahan hatinya. Keduanya masih setia menyandang gurat sendu, pilu, juga dilema dari cinta rumit mereka.


Tiba di pekarangan rumah, Nathan membuka satu pintu mobil bagian depan, kemudian Sachi masuk ke dalam, di susul oleh dirinya yang memutari gawai beroda empat itu sebelum akhirnya dia mengambil alih kemudi.


Semua orang-orang berseragam hitam yang bersiaga di sisi mobil hanya menatap adegan itu tanpa berani bertanya apa pun. Mereka hanya akan melakukan sesuatu jika ada perintah saja.


Di dalam mobil, Nathan memakaikan sabuk pengaman milik isterinya, lantas kembali meluruskan pandangan ke depan dan bergegas melajukan kendaraannya.


Jalanan Jakarta yang di padati cahaya kelap-kelip lampu perkotaan menemani perjalanan hening mereka menuju rumah di mana Mariam mungkin sudah terlelap tidur.


Tak ada percakapan, karena di sepanjang perjalanan mereka sibuk dengan pergulatan batinnya masing-masing, hingga sampai lah mobil hitam mengkilap itu memasuki halaman rumah yang Sachi tinggali.

__ADS_1


Nathan turun kemudian membukakan pintu untuk isterinya, Sachi turun lalu keduanya berjalan beriringan memasuki rumah miliknya.


Seperti biasa, Sachi memeriksa keadaan ibunya dahulu sebelum kemudian ia menaiki anak tangga dan memasuki kamar miliknya lalu duduk di sisi ranjang seraya menghempas tas clutch miliknya ke sembarang arah.


Sambil mendengus Sachi mengerling ke arah kiri, rupanya Nathan sedang mengobrak- abrik berangkas yang teronggok di sudut tempat, Nathan lantas menenteng beberapa surat penting yang di ambil dari dalam sana.


Nathan menjatuhkan beberapa dokumen itu di atas permukaan ranjang dan Sachi terdiam menatap gerak tubuh suaminya yang kini berdiri tepat di depan sosoknya.


"Itu sertifikat tanah beserta rumah ini, ada beberapa BBKP mobil yang terparkir di garasi rumah, semuanya sudah tertulis atas nama mu. Juga Cek yang boleh Baby tulis sendiri berapa pun nominal nya. Jika hidup bersama ku bukan bagian dari cita-cita mu, aku siap melepas mu."


Degub....


Entah kenapa, Sachi merasakan debaran jantung yang tak biasa mendengar kalimat suaminya barusan.


"Tadinya aku ingin kita berjuang bersama mendapatkan restu Daddy mertua mu, lalu setelah itu kita legalkan pernikahan kita secara negara. Tapi, setelah ku pikir lagi, seberapa pun aku berjuang, aku tidak akan terlihat baik di matamu, menurut mu, aku hanya sugar Daddy yang haus tubuh mu saja bukan?" Tohok Nathan.


Laki-laki itu mengangguk beberapa kali "Baik lah, anggap saja begitu." Ucapnya.


"Mulai sekarang. Kamu bebas melakukan apa pun yang kau mau, mungkin seperti ini lah akhir dari takdir kita, tapi biarkan malam ini Baby tahu seluruh isi hati ku yang mungkin kau anggap gombalan belaka."


"Jika aku hanya menginginkan kepuasan batin saja, kau pasti tahu Baby, suamimu ini adalah laki-laki penguasa yang cukup memiliki banyak modal untuk membeli kesenangan seperti itu." Terangnya.


"Tidak perlu memaksa mu, tidak perlu datang padamu, aku mampu membelinya hanya dengan satu kali jentikan jari saja. Tidak pernah aku memimpikan hal itu karena aku hanya candu padamu." Ungkapnya.


"Kau tahu Baby? Cinta dan nap'su itu berdampingan, beriringan, bahkan mereka kompak, di saat jauh merindu dan bila dekat ingin bercumbu. Karena seperti itu lah Tuhan menciptakan rasa cinta dan nap'su demi mempertahankan kelestarian hidup manusia, itu hukum alam yang sudah di garis kan sang maha kuasa." Imbuhnya.


Sachi membeku tak berkutik mendengar setiap kata-kata ketulusan yang berhamburan dari bibir Nathan berduyun-duyun masuk dan menyentak relung hatinya.


Berada jauh dari Nathan juga sulit Sachi lalui, bukan karena kurangnya uang akan tetapi hati yang merindu acap kali menyiksa kalbu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung..... Hei, reader, sumbang kan vote kalian untuk ku yang sedang mencari semangat ini, ☺️ Jangan lupa like komen dan hadiah nya 😘 See you next episode 🤗


Kasih komentar juga tentang bagaimana cara penulisan ku, apakah kalian bosen membacanya? atau kah penulisan ku ini ribet di pahami? Berkeluh langsung dengan penulis bisa memperbaiki kualitas penulis loh.. hehe..

__ADS_1


__ADS_2