
Shandra masih melanjutkan langkah, sementara di lantai atas, Ethan dan Juhie telah memasuki kamar ganti.
Tempat yang mirip seperti butik itu masih gelap gulita, Ethan kemudian meraih sakelar lampu untuk menerangi ruangan.
BRAK!!
Setelah terang, Ethan dan Juhie mengernyit seraya menoleh ke arah pintu. Keduanya pun berlari mengejar dan menggebrak- gebrak permukaan pintu secara bersamaan.
"Om! Jangan becanda Lu!" Teriak Ethan.
"Gerald, nggak lucu! Buka pintu nya Gerald!" Timpal Juhie berteriak.
Cukup lama keduanya berteriak sambil menggedor-gedor pintu, namun sepertinya, Gerald telah pergi meninggalkan tempat itu. Sudah tak ada sahutan dari balik pintu sana.
"Om! Buka!" Beberapa gedoran Ethan hentakan dengan cukup keras namun masih tak ada jawaban.
Lelah berteriak akhirnya Ethan dan Juhie mendengus bersamaan "Sial!" Umpat nya.
Juhie menoleh sinis pada Ethan "Ini semua pasti rencana mu kan hah? Kamu sekongkol sama Gerald, biar ngekonciin kita di sini?" Tukasnya.
Ethan memutar bola matanya "Percaya diri!" Ucapnya lalu membalikkan badannya. Terkunci dalam satu ruangan yang sama dengan wanita congkak seperti Juhie, bukanlah sesuatu hal yang dia harapkan
Ethan berjalan gontai menuju salah satu deretan lemari kaca transparan yang mengelilingi seluruh sisi ruangan. Segala jenis pakaian berjajar rapi di balik pintu-pintu transparan tersebut.
Menatap punggung Ethan Juhie mengernyit "Dasar batu!" Umpat nya sinis. Mereka memang tak pernah akur sejak kecil.
Meski demikian, Juhie tetap mengikuti langkah Ethan sambil membetulkan posisi jas hitam yang dia pakai. Ruangan ber-AC itu sangat dingin, gaun basah nya membuat Juhie lebih kedinginan lagi.
Ethan membuka satu pintu lemari transparan, kemudian membuka kemeja basahnya tanpa memperdulikan ada gadis di sampingnya.
"I-then, apa-apaan ini?" Juhie memalingkan pandangannya ke arah lain "Apa kau mau kurang ajar padaku?" Tanyanya ketus.
Ethan tetap melanjutkan aktivitasnya, bahkan sekarang Ethan membuka celananya hingga polos seluruh tubuhnya.
Juhie membalikkan badan "Dasar stress! Gila, ada aku di sini messum!" Umpatnya keras.
Ethan hanya tersenyum sekilas "Tenang saja, aku tidak akan macam-macam, aku masih waras, tidak akan aku memakan mu, tapi kalo kau mau menatap ku, boleh saja!" Katanya meledek.
"Keluarga psikopat Gila!" Batin Juhie mengumpat.
Ethan mengganti pakaian dan meletakkan pakaian basahnya pada tempat khusus baju kotor, lalu setelah itu ia berjalan menuju deretan lemari lainnya, dimana gaun-gaun cantik tersusun rapi di bilik sana.
"Pilih lah salah satu gaun ini, ini semua milik Mammi, kau harus mengganti pakaian mu sebelum mati kedinginan di sini!" Ujar Ethan.
Juhie menoleh sedikit memastikan bahwa Ethan sudah tidak bertelanjang "Aku, minta handuk dulu." Pintanya.
"Ya yah!" Ethan berjalan menuju lemari yang di penuhi dengan tumpukan selimut tebal juga handuk, dia ambil salah satu handuknya kemudian melemparkannya pada Juhie "Ambil lah! Sekarang ganti!" Titahnya.
Juhie mengedarkan pandangan, hanya ada satu ruangan luas itu dan Ethan "Di mana aku mengganti pakaian ku? Apa aku harus menggantinya di sini?" Tanyanya dengan suara bergetar karena menggigil.
__ADS_1
"Lalu dimana lagi? Ruang ini hanya khusus pakaian saja, tidak ada ruangan lainnya, cepat lah, kau sudah kedinginan!" Sergah Ethan.
Juhie menoleh tajam "Di depan mu begitu?" Ketusnya dan laki-laki itu mengangguk "Gila kamu hah?" Ketus Juhie. Anak waras ini benar-benar.
"Kenapa?" Wajah santai Ethan tak sedikitpun menunjukkan rasa bersalahnya.
"Kenapa katamu? Aku ini masih gadis, tubuh indah ku hanya akan aku perlihatkan kepada suamiku!" Sanggah Juhie.
"Aku tidak akan melihat mu, sekarang gantilah!" Ethan membalikkan tubuhnya seraya duduk pada sebuah sofa panjang yang terdapat di tengah-tengah ruangan.
"Dasar buaya messum!" Kata Juhie menggeleng seraya menarik ujung bibirnya
Tak berapa lama, Juhie meraih handuk, kemudian melepas satu persatu pakaian miliknya dengan sangat hati-hati, matanya terus mengawasi kepala Ethan, kalau- kalau laki-laki itu menoleh padanya.
Segenap jiwa raga yang bergetar Juhie mengganti pakaiannya hingga pada akhirnya selesai pula ketegangannya. Juhie masih takut Ethan menoleh saat dirinya masih mengganti pakaian. Ia bertekad hanya akan memberikan tubuhnya pada suaminya kelak.
"Sudah, sekarang telepon Gerald gih, aku harus segera pulang, Papi pasti mencari ku!" Ujar Juhie setelah rapi dengan pakaian barunya, sedang tangannya memungut pakaian basahnya.
"Hmm?" Ethan menoleh ke belakang "Aku tidak membawa HP, kau saja yang telepon!" Titahnya.
Juhie mengernyit "Mana aku bawa, tas ku saja ku tinggal saat aku menolong mu tadi!" Sanggah nya.
Ethan menghela "Ya sudah kita tunggu saja sampai Om Gerald membukanya." Katanya.
"Apa?" Cetus Juhie tersentak "Gimana kalo sampai pagi hah?" Tanyanya gusar, nada Juhie memang tak pernah santai.
"Itu berarti malam ini adalah malam keberuntungan mu, bisa bermalam dengan I-then, si pewaris kerajaan Jack group yang terkenal tampan." Ucap Ethan sambil melebarkan senyum getirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu di tempat lain, Nathan sudah mengganti pakaian isterinya dengan piyama tidur berlengan panjang. Di atas ranjang berukuran super king itu, Nathan berbaring miring mengusap pipi Sachi, sesekali kecupan lembut ia labuh kan pada kening wanita itu.
Sachi masih lemah namun sudah lebih baik. Untung saja, insiden ini tak di ketahui Mariam sebab Mariam sudah beristirahat di kamar nya sendiri.
Gebby sepupu Gerald yang dokter, telah memeriksa kondisi Sachi beserta janin dalam kandungannya dengan alat seadanya.
"Syukurlah, tidak ada sesuatu yang perlu di khawatir kan, Sachi wanita kuat, pasti bayinya juga kuat." Kata Gebby salut.
"Terimakasih Dok!" Sachi tersenyum pada dokter wanita itu "Sama-sama, besok aku ke sini lagi memantau perkembangan janin mu dengan bantuan alat, sekarang istirahat dulu saja." Ujar Gebby.
Nathan mengangguk "Terimakasih!" Ucapnya pada Gebby tersenyum.
Setelah selesai dengan urusannya, Gebby keluar dari kamar lalu tak lama kemudian Shandra bergantian masuk "Sachi, .." Panggil nya seraya berjalan mendekat.
Nathan dan Sachi menoleh tanpa bersuara, sejujurnya mereka masih belum tahu kejadian sebenarnya, Shandra yang mereka lihat adalah Shandra teman akrab Keenan, bisa saja berpotensi untuk mencelakakan dirinya.
"Kamu tidak apa-apa kan hmm?" Shandra duduk di sisi Sachi sambil memperlihatkan wajah cemas dan rasa bersalahnya.
"Tidak apa-apa kok Kak." Jawab Sachi tersenyum, hanya dengan membaca raut wajah wanita itu, kali ini Sachi yakin Shandra tidak sengaja.
__ADS_1
"Aku tidak sengaja, aku tahu ini terkesan alibi, tapi aku benar-benar tidak sengaja! Sebenarnya aku ingin menghentikan teman-teman ku, tapi justru aku yang mendorong mu, maafkan aku, aku tidak bisa meyakinkan teman-teman ku bahwa Keenan lah yang bersalah, mereka masih mendendam padamu Sachi." Ujar Shandra meyakinkan. Nathan dan Sachi terdiam mendengar baik-baik ucapan perancang busana itu.
"Tapi bukan tanpa alasan mereka lebih percaya pada Keenan, kenyataannya adalah keluarga Om Dylan memang sangat kuat, mereka berpikir, keluarga Jackson sengaja memutar balikkan keadaan, sementara kalian menang, Keenan masih sering menangisi Baby Valery." Tambah Shandra "Kalian percaya kan padaku? Aku tidak bermaksud untuk mencelakakan mu, Sachi." Timpal nya lagi.
"Aku percaya, sekarang keluar lah, Sachi harus istirahat sekarang juga." Sela Nathan yang terkesan mengusir.
Shandra tau Nathan pasti kecewa meski demikian dia pun akhirnya menganggukkan kepalanya "Baiklah, selamat beristirahat, semoga tidak terjadi apa-apa sama kandungan mu, juga kesehatan mu." Ucapnya menatap Sachi sembari tersenyum.
Segera Shandra keluar dari kamar setelah mendapat anggukan kepala sepasang mempelai itu, Nathan yang mengikuti langkah kakinya bergegas menutup pintu usai Shandra keluar.
Nathan kembali mendatangi ranjang miliknya, dimana sang istri masih terbaring di balik selimut tebal.
Di usapnya puncak kepala isterinya saat ia duduk di sisi ranjang "Baby istirahat lah." Titahnya.
Sachi lantas meraih tangan suaminya kemudian menggenggamnya erat dengan tatapan nanar "Tapi, kenapa Daddy mertua sejahat itu? Memisahkan Baby Valery dari ibunya? Keenan memang salah, tapi dia berhak atas putri yang dia kandung selama tujuh bulan, wajar saja kan kalo dia masih mendendam padaku." Ujarnya yang tiba-tiba berubah pikiran.
Dahulunya Sachi membenci wanita sombong itu, tapi melihat hukuman teramat kejam dari seorang Dylan, Sachi menjadi iba.
Sachi sekarang paham, mungkin selain cintanya pada Keenan dahulu, Nathan memang bermaksud ingin melindungi ibu dan anak itu dari kekejaman seorang Dylan Jackson.
Keenan di pisahkan dari bayi yang baru dilahirkan, tak mendapat hak untuk menyusui putrinya, terlepas dari kesalahannya itu terlalu kejam bagi Sachi.
Seorang ibu berhak atas putra putri yang lahir dari rahim nya, siapa pun orangnya tak pantas melakukan hal seperti ini. Sachi seorang wanita, ia tahu sekali bagaimana sakitnya Keenan saat ini.
"Sudahlah, urusan itu sudah ada yang mengaturnya, sekarang istirahat lah, jangan lagi memikirkan sesuatu yang tidak penting, ingat, ada Baby kita yang sedang berjuang untuk hidup di dalam perut mu." Ucap Nathan.
Sachi menggeleng "Sachi belum mengantuk, Sachi masih mau mengobrol, lama juga kan kita tidak mengobrol begini?" Katanya.
Cukup lama Nathan berdiam diri sebelum akhirnya laki-laki itupun mengangguk "Baiklah, sini sayang!" Dia masuk ke dalam selimut lalu memberikan dekapan hangat pada isterinya.
Sachi rebahkan kepalanya pada lengan kekar suaminya, sedang tangannya melingkar pada tubuh sixpack laki-laki itu. Sejenak mereka melupakan pesta kacau yang di tinggalkan setelah insiden terceburnya Sachi.
"Daddy."
"Hmm?"
"Kenapa tidak Daddy kembalikan saja Baby Valery sama ibunya, biarkan Keenan move on dari mu, juga tidak mendendam padaku, aku mau membuka lembaran baru bersama mu tanpa ada gangguan dari masa lalu." Pinta Sachi.
Nathan menelan sedikit saliva, bingung dengan apa yang harus dia lakukan, satu sisi ada ayahnya yang tak mungkin dia lawan, sisi lainnya dia setuju dengan permintaan Sachi.
Mungkin dengan mengembalikan Baby Valery kepada ibundanya, sedikit mengurangi dendam Keenan, meskipun dia tahu, dari awal Keenan yang memulai kekacauan ini.
Akan tetapi, Nathan juga bersyukur, kendati pengkhianatan Keenan lah, ia menemukan Sachi.
"Daddy, jawab aku." Sachi mendongakkan wajahnya menatap suaminya "Daddy setuju tidak?" Tanyanya lagi.
"Setuju, tapi, kita masih harus bicarakan baik-baik dengan Daddy mertua mu." Jawab Nathan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Bersambung..... maaf kemarin enggak Up, biasa, sibuk akooh nya, maaf kan akooh yah,🥰 untuk Komentar nya, aku ucapkan terima kasih 🥰 semoga kesehatan selalu menyertai kalian.