Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Detik² menuju ending part 9


__ADS_3

Setelah meninggalkan rapat koordinasi di hotel, Nathan bergegas mengurus sesuatu yang mendesak di kantornya.


Saat ini mungkin semua orang telah mendukung isterinya, dan sekarang hanya dia lah yang tak sedikitpun terlihat perduli pada isterinya.


Nathan masih harus menyelesaikan masalah bersama Sachi, akan tetapi beberapa tuntutan pekerjaan di kantor masih harus dia tuntaskan secara mandiri.


Wajar saja, sebab dua perusahaan raksasa dia tangani seorang diri, tanpa bantuan I-then dan Gerald yang seharusnya menjadi rekan tim yang baik.


Sekitar pukul 14:00 Nathan keluar dari kantor nya tapi malam hari buta Nathan baru bisa pulang ke rumah utama, kondisi macet dan urusan lain membuat Nathan telat sampai.


Kemeja miliknya sudah acak-acakan, Nathan turun dari mobil, terlihat anggota keluarga intinya duduk melingkar pada sofa gazebo kayu yang terletak di taman halaman depan.


Kebiasaan Dylan dan Jelita memang berkumpul mencicipi teh bersama jika suasana hati sedang tidak baik, mumpung ada waktu senggang mereka bergadang sambil menikmati panorama pantai sekitar yang lengkap dengan embusan angin kencang.


Kali ini Nathan sedikit dogol dengan ayahnya, apa lagi sikap Dylan yang tiba-tiba membebaskan Ethan seolah sengaja mengirim putra keduanya untuk membantu Sachi bagaikan super Hero di konferensi pers pagi tadi.


Nathan memberhentikan langkahnya tepat di depan sofa tempat di mana sang ayah duduk bersantai.


Ethan dan Jelita menatap bingung laki-laki itu, sementara Dylan asyik acuh membaca warta di aplikasi berita terkini "Ternyata hanya dalam sekejap, nama Dylan Jackson kembali bersih." Ujarnya bangga. Tentu saja semua itu usaha dari sang menantu kesayangan.


"Daddy!" Panggil Nathan sinis "Kenapa tanpa seizin ku Daddy mengizinkan istri ku keluar rumah? Daddy tahu itu berbahaya!" Tudingnya.


Tanpa basa-basi lagi Nathan mencerca ayahnya. Jika sudah berhubungan dengan Sachi entah kenapa laki-laki itu selalu posesif.


Tak ada pengindahan dari laki-laki bule itu, Dylan masih setia dengan ponselnya "Wah, mantu ku mendapat delapan puluh persen dukungan dari netizen!" Ujarnya lagi.


"Iya, I-then juga dapat enam puluh persen dukungan dari netizen Daddy!" Celetuk Ethan seperti sengaja tak mengindahkan ucapan Abang nya. Sementara Jelita hanya menyaksikan percakapan para jagoannya saja.


"Ya, ya ya, kalian hebat rupanya!" Sambung Dylan yang terdengar menyindir putra sulungnya.


"Aku bicara padamu Daddy!" Sela Nathan, berkerut kening dia menatap ayahnya "Apa Daddy sengaja membuat putra sulung mu buruk di mata mantu mu, lalu membuat I-then menjadi pahlawan begitu? Kenapa tidak sekalian saja Daddy nikahkan Sachi dengan I-then!" Sindirnya.


Bukanya tersindir Dylan justru mendongak menatap nyengir putra sulungnya "Ide yang bagus! Kalo kau sudah tidak membutuhkan Sachi, biar Sachi bersama I-then saja!" Katanya enteng.


Nathan melotot "Daddy!" Pekiknya tak terima, sandiwara macam apa ini?


Ethan menyengir "Sejak kapan Daddy mendukung ku? Jadi kapan Sachi ku nikahi?" Celetuknya.


"Tutup mulut mu!" Sanggah Dylan menampik kepala bungsunya. Ini hanya untuk menyindir Nathan saja, bukan sungguh-sungguh, Ethan kok malah baper.


"Kau lagi! Apa kau mau menjadi duri dalam daging? Di hubungan Abang mu hah!" Sergah Nathan menuding adiknya.


Ethan menaikan kedua bahu "Why not? Daddy bilang selama Sachi mau kenapa tidak? Iya kan Daddy?" Ujarnya enteng dan Dylan menyengir.


"Oh Tuhan, kenapa aku menjadi bagian dari keluarga pebinor ini!" Keluh Nathan lalu melengos pergi dari tempat itu "Daddy, I-then apa lagi Baby, semua orang membuat ku gila hari ini!" Tambahnya menggerutu.


Ethan menyengir kembali seraya merangkul ayahnya seperti seorang sahabat "Daddy ku yang baik, jadi sekarang I-then tidak lagi dikirim ke rumah pak Joko lagi kan?" Tanyanya merayu.


Dylan mendengus "Masih, besok kamu kembali ke sana, lanjut kan masa hukuman mu!" Sahutnya dingin.


Ethan melepas rangkulan kemudian menatap tajam ayahnya, bukankah seharusnya setelah drama panjang ini mereka sudah berdamai "Kenapa bisa begitu hah!" Protesnya.


"Sebelum kamu membawa kekasih yang baik dan memperkenalkannya padaku, kau masih akan terus melanjutkan masa hukuman mu sampai selesai!" Ucap Dylan.


Ethan mencebik tapi sekilas ia mengingat rencana bagus yang sudah acap kali ia pikirkan secara matang-matang, jika tidak menikahi Sachi maka dia berencana tidak akan jatuh cinta lagi.


"Sebenarnya, aku sudah punya kekasih baru yang bisa ku ajak serius, tapi apa Daddy merestui?" Tanya Ethan bersiasat, rumah tangga macam apa ini? Semua penduduknya penuh tipu muslihat.


Dylan penasaran hingga menoleh pada putra bungsunya "Siapa? Gyna?" Tanyanya serius.


Sontak Ethan mengernyit "Gyna?" Dia menggeleng "Bukan Gyna, ... Gyna memang cantik, tapi dia bukan tipe ku, ada wanita lain yang cocok untuk ku jadikan istri!" Jelasnya.


"Siapa?"


"Juhie, lamar kan Juhie untuk ku!"


Bagai mendengar gelegar petir di siang bolong melompong Dylan terperanjat "Juhie katamu hah? Yang benar saja!" Sanggah nya keras hingga tak sengaja menampik kepala Ethan kembali.


Ethan meringis mengelus kepalanya memelas "Dia cantik, kaya raya, apa lagi masalahnya?" Tanyanya. Jika bukan karena cinta setidaknya Ethan menikah kendati status sosial, yah Juhie sangat membanggakan untuk di jadikan seorang istri.


"Hentikan omong kosong mu! Masih banyak gadis cantik di luar sana, cari yang lain, seperti tidak ada wanita lain saja!" Sergah Dylan melotot.

__ADS_1


Menikah kan putranya dengan putri dari musuh terbesar nya? Tak pernah terbayangkan sedikitpun bagi Dylan.


"Siapa gadis lain nya? Gyna? Aku curiga, jangan-jangan hukuman I-then selama ini sengaja Daddy buat karena mau menjodohkan ku dengan nya?" Tukas Ethan menerka.


"Dia gadis keturunan baik-baik, kamu pasti bahagia bersama nya." Ucap Dylan.


"Tidak!" Ethan menggeleng "Tidak ada jaminan bahagia jika hidup satu kamar tanpa ada rasa cinta! Kalo Daddy tidak mau menuruti ku. Biar saja aku menjadi laki-laki yang tidak berstatus, duda bukan perjaka juga bukan, aku sudah punya Baby Valery, jadi buat apa lagi menikah? Toh Daddy tidak mau melamar kan Juhie untuk ku, usir saja aku dari sini, Daddy memang cuma sayang pada satu anak mu saja, aku bukan putra mu, mulai sekarang lupakan kau pernah memiliki putra setampan aku! Aku pergi!" Putusnya kemudian beranjak pergi.


Jelita yang sedari tadi hanya menyimak kini tak tahan untuk menyerukan suara "I-then, dengar dulu penjelasan Daddy mu nak, jangan pergi." Bujuknya memanggil.


Tanpa menoleh Ethan melambaikan tangan pada ibunya "Bye, Mammi siap-siap saja merindukan putra bungsu mu!" Katanya.


Jelita mengernyit lalu menoleh pada Dylan yang tampak santai "Oh Tuhan, Daddy, kenapa santai begini? Kenapa tidak kamu turuti saja kemauan putra mu. Lihatlah dia mau pergi dari rumah! Sekarang panggil dan cegah kepergian nya!" Bujuknya.


"Bagus lah, biar dia mandiri, kita lihat seberapa banyak perubahan dia setelah di tuntut dewasa di rumah Joko!" Sela Dylan enteng.


"Terserah!" Jelita yang muak ikut pergi meninggalkan suaminya "Ternyata semua laki-laki di rumah ini keras kepala!" Gerutunya.


Dylan mendengus menatap punggung isterinya "Gulung tikar saja setelah ini, sebenarnya ini rumah tangga atau ajang pencarian bakat, kenapa lama-lama tereliminasi semua orangnya!" Gumamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Nathan memasuki kamar miliknya tentunya setelah menilik ke kamar ibu mertuanya, sepertinya kondisi Mariam sedikit kesulitan kembali tapi beruntung dia mendapatkan perawatan sangat baik dari keluarga besar Dylan yang dermawan.


Tiba di kamar matanya di sambut hangat oleh tubuh seksi yang hanya di balut dengan busana tidur tipis berwarna hitam menerawang, ini benar-benar sambutan yang sangat Nathan inginkan ketika memiliki seorang istri.


Nathan baru melangkah dua derap tapi kemudian membatalkan langkahnya, kondisinya yang masih acak-acakan membuat ia lebih memilih untuk berjalan ke arah kamar mandi terlebih dahulu.


Sementara Sachi mengerling sedikit ke arah laki-laki yang kini sudah tenggelam di balik pintu bilik.


Sachi beralih memandangi gawai tipis miliknya, dimana ada berita yang memuat gambar suaminya bersama dengan Keenan sore tadi.


"Bahkan setelah aku mencoba mengembalikan semuanya seperti semula, kau masih perduli pada mantan istri mu!" Gumam Sachi. Sakit rasanya, sebab sedari awal Sachi memang belum begitu percaya pada kesetiaan suaminya.


Sekitar setengah jam Sachi berdiri di balik jendela besar memandangi lautan luas yang gelap, berharap gundahnya mampu terbawa arus gelombang ombak.


Lalu....


Sebuah tangan melingkar di perutnya begitu lembut dan menggelitik "Kenapa belum tidur?" Bisikan hangat menyentuh relung hati, embusan napas membuatnya meremang. Wangi parfum maskulin menyentuh kalbunya.


Sachi menggeleng "Hmmm!" Sahutnya.


"Maafkan Daddy, bukan tidak mendukung mu, hanya saja, Daddy benar-benar khawatir padamu Baby." Ucap Nathan.


"Di maafkan." Sachi merespon sedikit saja tanpa merubah ekspresi wajahnya.


"Taraaaam!" Bersuara lirih Nathan menyodorkan satu boneka babi berwarna merah muda berukuran sedang tepat di depan wajah isterinya.


"Untuk mu Baby, semoga secepatnya Baby memaafkan Daddy, kau tahu Baby, Daddy suamimu berjuang keras mendapatkan nya." Ujar Nathan. Namun, Sachi masih tidak mau menerima pemberian suaminya


"Kenapa tidak di ambil? Baby menolak nya hmm?" Tanya Nathan lirih sedikit kecewa.


"Terimakasih!" Sachi mengambil boneka dari tangan suaminya kemudian melepas pelukan hangat laki-laki itu "Sachi mengantuk, Daddy istirahat lah, Sachi mau cepat tidur." Pamit Sachi tanpa mau di cium saat laki-laki itu menginginkan dirinya.


Boneka merah muda itu Sachi lempar begitu saja ke atas sofa kamar seperti tidak menginginkan benda mungil cantik pemberian suaminya.


Nathan terdiam sendu menatap punggung isterinya "Mungkin tidak mudah mendapatkan hatimu, karena aku bukan laki-laki yang bisa membujuk perempuan! Jika bisa aku merayu wanita, tidak akan pernah aku di khianati Keenan, dan tidak akan pernah aku bertemu dengan mu, mungkin semua wanita hanya akan cepat mengeluh saat berhubungan dengan ku." Gumamnya lirih.


Dahulu Nathan pernah mempunyai pengalaman yang menyakitkan ketika Keenan tak mau tidur dalam satu selimut yang sama dengan dirinya, maka kali ini Nathan memutuskan untuk tidur di sofa saja.


Di lihat dari sisi manapun Sachi masih marah padanya, maka untuk kali ini dia membiarkan isterinya nyaman tanpa gangguan darinya.


Tak ada sentuhan ataupun percakapan sebelum tidur, mereka berdua masih memiliki jarak bahkan setelah urusan di luar rumah selesai.


Sederet berita telah membersihkan nama keluarga Jack & DJ group setelah tercuat nya pengakuan Sachi dan Ethan siang tadi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Embun telah hilang dari peraduannya, fajar pun menyingsing dan membangunkan tidur semua insan.


Sachi menggeliat lemah, beruntung semalam tidurnya nyenyak meskipun sedang banyak pikiran.

__ADS_1


Sambil menyapu mata Sachi mengedarkan pandangannya ke segala arah, di dalam kamar yang seluas itu, tak ada satupun penghuni selain dirinya saja.


Sepertinya Nathan sudah keluar dari kamar tanpa membangunkan dirinya "Dia bahkan tidak membangunkan ku, dia sudah tidak mau ku pasangkan dasi lagi seperti dulu saat aku masih menjadi simpanan nya!" Gumamnya lirih.


Tak ada yang spesial pagi ini, setelah terbangun Sachi membersihkan diri di kamar mandi kemudian setelah rapi ia menuruni anak tangga dan memeriksa sang ibunda di kamar lantai bawah.


"Sachi, sarapan yuk!" Jelita mengajaknya sarapan bersama setelah selesai memeriksa kondisi ibunya.


"Daddy suami kemana Mamm?" Tanya Sachi, di balik kemarahan yang belum usai Sachi masih penasaran pada suaminya.


"Dia bilang berangkat awal, karena sebelum ke kantor mau ada meeting penting sama rekan bisnis nya." Jelas Jelita.


Sachi pun mendengus seketika, rupanya memang benar dugaannya, Nathan sudah tidak di rumah lagi "Lihatlah, dia bahkan pergi ke kantor tanpa mencium ku!" Batinnya.


Seperti sebelum-sebelumnya, pagi hari Sachi menyelesaikan sarapan bersama keluarga suaminya juga ikut berjalan-jalan di taman sambil menghirup udara segar.


Bosan dengan pemandangan di lantai bawah, Sachi pada akhirnya menaiki anak tangga kembali memasuki kamar miliknya.


Klik' Satu pemberitahuan menghidupkan lampu layar ponsel yang teronggok di atas nakas. Sachi merasa tersambut, ia mengambil gawai persegi itu lalu membuka pesan video dari Shandra.


📩 "Sachi, lihatlah, Jho mengirimkan video suami mu padaku! Dia sangat konyol!" Shandra menambah emoticon tertawa juga di sana.


Sachi yang penasaran pada akhirnya membuka pesan video tersebut.


"Buat apa Bos? Ini sudah sore! Lebih baik kita lanjut saja perjalanan pulang, Nona Sachi pasti menunggu mu di rumah! Apa kau tidak takut dia salah paham hah? Sore tadi media memberitakan mu bertemu dengan Nyonya Keenan." Dalam video hanya wajah tampan Nathan yang terlihat tapi suara Jho di belakang layar yang terdengar.


"Istri ku bukan perempuan bodoh yang begitu saja percaya dengan berita di lebih-lebih kan Jho! Mumpung ada boneka kesukaan Baby, aku mau mengambilnya!" Tampik Nathan seraya mengambil satu kursi dan duduk tepat di depan mesin capit yang terletak di pinggir jalan, terlihat beberapa orang berlalu lalang memadati trotoar jalan.


Dalam video Nathan juga membeli koin sebanyak mungkin, dia tahu permainan ini tidak mudah, Nathan akan mempersembahkan boneka itu teruntuk isterinya.


Sekali, dua kali, tiga kali, Nathan tak berhasil juga, jas hitamnya dia lepas, lengan kemeja nya pun dia singsing sampai ke siku, dasi yang mencekik mulai dia longgar kan, ternyata mesin capit ini lebih letoy daripada yang dia temui di mall waktu itu.


"Ini sulit sekali. Aku heran, kenapa I-then bisa semudah itu mendapatkan nya?" Gerutunya di sela-sela perjuangan, sesekali mengelap keringat dengan lengannya.


Memang dasar orang kaya, Nathan bahkan tidak menyerah meskipun sudah habis empat juta untuk membeli koin saja.


"Kau bisa membelinya, kenapa harus repot-repot mengambil dari mesin pembual ini hah? Jangan samakan kau dengan I-then! Kalian berbeda, kau ahli dalam urusan bisnis sedang I-then ahlinya bermain-main, terima saja takdir mu sebagai seorang pebisnis!" Sergah Jho terdengar protes.


"Apa barusan kau mengatur ku Jho? Kalo keberatan pulang saja sana! Aku mau mengambilnya sendiri, kau tahu Jho, semuanya butuh perjuangan, dulu aku tidak bisa mengambilnya, tapi sekarang aku tidak akan pulang sebelum berhasil mengambil boneka itu untuk istri ku!" Sahut Nathan tanpa menoleh.


"Gimana kalo hujan? Ini sudah malam!" Tegur Jho "Hujan cuma air, kenapa kau takut sekali!" Sambung Nathan "Astaga, Tuan muda Bucin akut ini!" Sanggah Jho.


Betapa terkejutnya Sachi, rupanya video itu sengaja Jho ambil saat Nathan bermain mesin capit boneka di pinggir jalan.


Debu-debu beterbangan tak menjadi halangan, Nathan terus berusaha mengambil boneka berwarna merah muda kesukaannya dari dalam kotak transparan.


Konyol, empat juta hanya untuk membeli koin saja, jika dipikir lagi, kenapa tidak langsung membelinya di toko boneka? Kemarin Nathan tidak memberi tahu Sachi kalau ternyata boneka yang dia berikan adalah hasil dari kerja keras nya di mesin capit.


Jujur, Sachi cukup tersentuh melihat perjuangan itu.


Sachi pun menoleh ke arah sofa dimana dia melemparkan boneka pemberian suaminya begitu saja semalam tadi.


"Loh, kemana bonekanya?" Sachi menyidak semua bantal dan tak ada benda manis itu dimana pun, di balik sofa, di ranjang, di lemari nakas, bahkan di kolong- kolong nya.


Menyandang gurat cemas Sachi keluar dari kamar kemudian memanggil satu pelayan yang kebetulan lewat "Mbak!"


"Iya Nona."


"Mbak yang beresin kamar ku kan? Boneka babi merah muda yang ku letakkan di atas sofa kemana?" Tanya Sachi gusar.


"Oh boneka yang itu, tadi pagi-pagi sekali Tuan muda menyuruh saya membuangnya." Jawab wanita itu.


Sachi terkesiap "Di buang? Kenapa?" Tanyanya.


"Kata Tuan muda, Nona Sachi sudah tidak menyukainya lagi."


Sachi menghela "Ya Tuhan!" Keluhnya.


Sachi berjalan kembali ke kamar miliknya, mengambil keperluan untuk bepergian diantaranya dompet, ponsel, dan beberapa benda lainnya lalu membungkusnya dalam satu tas selempang.


"Mungkin Daddy suami marah padaku karena ini? Karena aku percaya berita sore tadi. Seharusnya aku mendengar penjelasannya dulu, kenapa dia bertemu dengan Keenan bukan?" Gumamnya lirih.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Wah dua bab lagi... bersambung lagi... Insya Allah secepatnya Up lagi .. Maaf kemarin sibuk sekali jadi enggak Up ☹️...


__ADS_2