Simpanan Sugar Daddy Posesif

Simpanan Sugar Daddy Posesif
Dompet gue!


__ADS_3

"Maaf, yang ini juga tidak bisa, semua kartu Anda tidak bisa di gunakan Tuan, silahkan cek kembali kartu-kartu Anda dengan pihak yang bersangkutan."


Gerald dan Ethan melongo mendengar ucapan seorang kasir setelah menggesek semua kartu yang mereka sodorkan satu persatu.


Dari yang kartu kredit gold, platinum, titanium, bahkan spesial, kemudian charge card hingga debit card pun tak ada yang di terima untuk melakukan transaksi pembayaran.


Mereka sudah menikmati jamuan makan siang juga kopi mahal yang harganya ratusan ribu rupiah per_cangkir, belum lagi makan siang yang mereka lahap di bandrol dengan harga 2,5 juta IDR per_paketnya.


Total tagihan keduanya sebesar, lima juta lima ratus ribu rupiah. Lalu harus dengan cara apa mereka membayar tagihan makan siang mereka sementara mereka tak memiliki uang cash?


"Apa Daddy mu benar-benar membekukan semua fasilitas kita hah?" Gerald menggeleng sembari menatap Ethan yang kini berdiri di sisinya menghadap meja kasir.


"Ini bukanya sudah enam bulan? Waktu yang dia tentukan sudah selesai, tamat lah riwayat kita Then! Jadi gelandangan kita setelah ini!" Ujarnya.


Ethan berdecak "Parah Daddy, main bekukan ajah! Gimana cara kita bayar? Cuma gara-gara kita belum mengenalkan calon istri, dia tega bikin kita malu begini!" Sahutnya.


Di sela kecemasan, Ethan masih sempat teringat abangnya, tentu saja, Nathan penyayang juga pengasih meskipun tidak maha seperti Tuhan pencipta Adam dan Hawa.


Nathan takkan mungkin membiarkan adiknya di usir secara tidak hormat oleh scurity restoran mewah.


"Gue coba telepon bang Nathan dulu, semoga dia mau selesai kan pembayaran ini." Gumamnya lirih tapi Gerald mendengar.


Ethan sibuk dengan gawai tipisnya, ia mencoba beberapa kali menghubungi Nathan tapi tidak ada jawaban yang dia dapat.


Lirikan semua orang sudah mulai sinis pada kedua pemuda tampan itu, apa lagi kasir yang terus menatapnya seakan mencibir.


"Angkat dong Bang, I_then butuh bantuan mu!" Kata Ethan sembari menggigiti ujung kuku di jari telunjuk. Cemas, panik, malu, sudah pemuda itu rasakan.


Gerald menggeleng "Tidak bisa kan? Atau mereka sekongkol?" Ucapnya, tatapan keduanya saling memelas "Habis lah, sudah!" Lanjutnya frustasi.


"Jadi gimana Tuan? Tagihan Anda apakah sudah bisa di bayar?" Kasir wanita itu seolah tak sabaran hingga menyergah keheningan dengan suara sumbang nya.


Gerald menoleh "Tentu saja, kita lagi menghubungi keluarga kami, makanya sabar! Cuma lima juta saja repot bener, gatau apa saya cucu pemilik rumah sakit terkenal di kota ini, juga adik dari, ..."


"Ssuutt!" Ethan membungkam mulut Gerald sambil mengembangkan senyum palsu pada para staf restoran mewah tersebut "Sudah diam! Kita tidak bisa menghubungi Bang Nathan, Mami Daddy apa lagi, mereka pasti sibuk di jam makan siang kan!" Bisiknya penuh penekanan.


"Jadi gimana, bisa bayar tidak?" Desak satu perempuan berseragam itu pada kedua pemuda ini.


Tampang oke, tapi membayar tagihan makan siang saja tidak mampu. Belum bisa nyari duit sudah gaya-gaya an makan di tempat mewah, anak jaman sekarang memang tidak tahu diri.


"Biar saya yang bayar!" Satu perempuan cantik dengan pakaian kasual, celana jeans biru, kaos tipis putih menerawang yang mencetak warna merah isi dalamnya, anting-anting aloha besar tergantung pada ujung telinga gadis itu.


Sepatu heels boot dan tas punggung kecil berwarna hitam juga menjadi pelengkap yang hampir menyempurnakan penampilan gadis itu.

__ADS_1


Kacamata hitam berhiaskan bunga di sisi bingkainya, sudah mirip pelantun lagu JANGAN MEMILIH AKU.


"Kedua pemuda miskin ini kacung saya, jadi sudah wajar saya yang bayar." Kata sombong wanita itu sambil menyodorkan kartu hitam yang sepertinya bertuliskan American express.


Ethan membulatkan matanya seolah tak terima "Heh! Hati-hati lu kalo ngomong! Betina eek!" Katanya ketus.


Gadis itu menoleh dengan gerakan perlahan sembari melepas kacamatanya.


"Juhie??" Gerald dan Ethan menyumbang kan suaranya lantang serta terperangah.


"Yah gue! Kenapa?" Gadis itu mencuatkan wajahnya seakan mencibir remeh keduanya.


"Ngapain lu bayarin makanan kita hah? Lu pikir kita butuh bantuan lu apa?" Berang Ethan.


Sontak Gerald membungkam mulut keponakannya sedang bibirnya tersenyum pada Juhie "Terimakasih Juhie manis, kami sangat berterimakasih pada mu! Sering-sering ajah begini, nanti kapan-kapan Abang yang gantian traktir kamu." Katanya menyengir.


"Sama-sama." Hanya sedikit kata dingin saja yang gadis itu sahut kan, kesimpulannya adalah Juhie sangat irit bicara.


Ethan mengepalkan tangan menatap tajam kearah gadis yang sudah sedari kecil dia benci.


Juhie mengambil kartunya kembali kemudian meninggalkan kedua pemuda tampan ini tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.


"Hassial! Perempuan congkak, arogan, stress!" Umpat Ethan sembari menatap berlalunya punggung lentik gadis itu, bahkan kakinya terayun serampangan saking kesalnya.


Gerald menggeleng "Sudah, masih untung ada yang bayarin makanan kita, sekarang kita balik." Ajak nya.


"Pokok nya kita harus segera cari tuh cewek perampok, Om! Atau selamanya kita benar-benar jadi gelandangan!" Sambung Ethan.


"Yah, gue lebih milih gelandangan, dari pada jadi dokter!" Kata Gerald.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari pun silih berganti seperti aturan sang pecinta alam semesta, siang ini matahari begitu terik, cuaca yang sama seperti siang kemarin, bedanya siang ini Gerald dan Ethan harus rela makan siang di tempat yang tidak ber_AC, yah, hanya kipas angin baling-baling yang memberinya sumilir kesejukan dari atap sana.


Rumah Makan Padang, di sana lah kedua pemuda tampan itu duduk berhadap-hadapan, Dylan sudah resmi mencabut fasilitas mereka.


Pagi tadi Jelita hanya memberinya bekal uang makan siang masing-masing lima puluh ribu, cukup tidak cukup mereka harus terima setidaknya hukuman ini akan terus berlanjut sampai mereka bisa mengenalkan calon istri pada Dylan.


Otoriter, yah begitulah sifat Dylan Jackson.


Kebetulan di area perkantoran memang banyak tempat makan, dari yang warteg, nasi Padang, hingga restoran elit seperti yang biasanya Ethan dan Gerald datangi.


"Masa cuma makan sama perkedel doang sih Then, dari mana sempurna nya? Mencapai sehat ajah enggak ni makanan!" Gerutu Gerald manyun.

__ADS_1


"Udah terima ajah, perkedel juga enak!" Sahut Ethan lirih.


Seluruh karyawan menatap ke arah nya sambil mengecumik kan bibir, membicarakan tentang nasib malang mereka yang jauh sekali dengan nasib baik Nathan sang pemimpin.


Tak lama kemudian sepasang kekasih baru saja menginjakkan kaki di tempat yang lumayan ramai itu.


"Sini Laila, kita makan siang di sini, Abang yang bayar, Abang banyak duit, liat nih, Abang duitnya merah semua kan?" Pria muda berwajah girang itu menunjukkan isi dompet pada gadisnya.


Menuju ke arah dompet yang pria itu tunjukkan, Gerald melotot sambil menepuk-nepuk punggung tangan milik Ethan "Then, itu bukanya dompet lu hah?" Tanyanya.


Ethan tak perlu waktu lama untuk menoleh dan memindai dompet yang Gerald maksudkan "Heh! Iya Om! Itu dompet limited edition punya gue!" Celetuknya.


Ethan meraih es teh manis miliknya lalu meneguknya untuk menghilangkan rasa dahaga setelah memakan perkedel kentang yang banyak minyaknya.


"Eh, sini lu!" Tanpa ba-bi-bu lagi Ethan meraih lengan pria pemegang dompet dan menggiringnya ke suatu tempat tak perduli gadis yang di panggil Laila itu kebingungan.


Di belakang Gerald membuntuti keponakannya. Habis sudah mungkin setelah ini, pria yang di giring justru meronta karena tak pernah mengenal wajah Ethan dan Gerald sebelumnya, maklum, mereka memang tidak seterkenal Nathan yang sering di liput wartawan.


Buughh!


Ethan menyudutkan pria pemegang dompet itu pada permukaan dinding.


"Apa-apaan kalian hah?" Berang laki-laki bengis yang tidak lain dan tidak bukan adalah Edric.


"Dapet dari mana lu dompet gue? Ini dompet gue!" Ethan merebut kembali dompet hitam miliknya dari tangan Edric.


Edric melotot "Enak saja, itu dompet gue! Biar gini-gini duit gue banyak!" Katanya songong, setelah mendapat dua koper uang hasil menjual Istrinya sekarang Edric sudah bisa menjamin Laila ke rumah makan Padang yang berkelas di sekitaran kantor pusat Jack group.


"Tapi ini punya gue! Liat ni, Ethan Erland Jackson, nama gue tertulis di dalam nya, karena ini gue beli custom, pesan langsung dari designer nya!" Sergah Ethan lugas. Dia yakin sekali bahwa dompet itu miliknya.


Di tunjukkan nya nama Ethan Erland Jackson yang terukir pada bagian dalam dompet itu.


"Udah lapor polisi ajah Then, biar masuk penjara ni orang!" Gerald menyeletuk dari belakang tubuhnya. Tatapan remeh ia usung seolah menghina Edric.


Edric kalang kabut "T-tapi, gue gak nyuri, ini gue dapet beli dari seseorang!" Kilahnya.


"Seseorang siapa? Cewek kan hah?" Ada gurat harapan yang tertampil di wajah tampan Ethan sekarang.


"Gue bisa ajah laporin lu ke polisi, atas tuduhan pembelian barang branded gelap, tapi, gue cuma mau tanya ke mana cewek cantik yang menjual ini ke elu? Dia, dia yang mengambil nya dari gue! Cewek cantik itu, pencopet cantik itu, kasih tau ke gue sekarang!" Desaknya hingga tak sengaja menekan dada laki-laki itu.


Edric mengernyit "Cewek? Apa yang dia maksud Sachi?" Batinnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Bersambung... Jatahnya hari ini hanya dua bab yah gais, masih banyak pekerjaan yang lain, terimakasih yang masih setia menemani ku merintis cerita ini 🙏


__ADS_2