
"Aku—" Qin Chen tidak sanggup untuk membuka bibirnya lebih dari sekarang. Qin Chen mencoba mendekati mereka, tapi tangannya di tolak dengan tamparan pelan dari masing-masing istrinya.
"Jangan menyentuh kami sebelum kamu menjelaskan semuanya." Ucap Jiang Haozi, ia masih tegar dengan tetesan air mata membasahi wajahnya.
Dengan gemeteran bukan takut melainkan khawatir tentang kedua istrinya, ia mengatakan kenapa ia melakukan semua ini. Ada banyak amarah yang menimpanya, Bai Tianzhi menamparnya dengan keras karena marah tidak terkendali.
Qin Chen membiarkannya menamparnya karena memang sepantasnya ia mendapatkan tamparan itu. Mengkhianati cinta suci untuk saling menjaga dan menyayangi, tapi Qin Chen mengkhianatinya.
Bahkan Jiang Haozi tidak dapat menahan amarahnya dan ikut menamparnya, mereka berdua hendak pergi ke rumah keluarganya untuk tinggal di sana dan besoknya mengurus surat perceraian.
Qin Chen menahan mereka berdua dengan genggaman tangannya yang erat, ia memeluknya dengan erat memintanya untuk tidak meninggalnya sendirian.
"Apa kamu memikirkan perasaan kami berdua sewaktu kamu bercinta dengan Qian Chuntian di sana tanpa sepengetahuan kami? Jangan larang kami untuk pergi dari rumah ini kalau kamu masih mencintai kami, biarkan kami mendapatkan kebahagiaan kami."
"Tidak .... Kalian tidak boleh pergi."
Qin Chen tidak melepaskan pelukannya, ia tidak ingin semuanya hancur berkeping-keping.
Tapi keduanya sudah hancur, ia mendorong Qin Chen untuk melepaskan pelukannya. Jiang Haozi meninggalkan Qin Chen yang berada di depan pintu rumah menahan mereka sebelumnya.
Rumah yang bahagia!
Hancur berantakan, Jiang Haozi masuk kedalam mobil dengan tangisan air mata penuh kekecewaan.
Sementara itu, Bai Tianzhi menatap matanya dengan tangisan kecewa. "Aku sudah memberikanmu kesempatan untuk berubah, tapi kamu tidak menggunakannya dengan baik dan mengulangi hal yang sama mengkhianatiku."
"Mulai sekarang hingga seterusnya jangan menemuiku lagi Qin Chen, aku tidak ingin melihatmu lagi untuk selamanya."
Ia melangkah meninggalkan Qin Chen, tepat di tengah halaman rumah ia berhenti lalu ia tidak melanjutkannya dan masuk kedalam mobil Jiang Haozi.
"Tianzhi, Haozi ... Tidak, tunggu ... " Dengan langkah gemetaran ia mengejar mobilnya yang bergerak meninggalkan tempatnya.
"Bai Tianzhi! Jiang Haozi!"
Suaranya terdengar keras hingga gemuruh pecah di langit menurunkan hujan deras mengguyurnya.
Bai Tianzhi dan Jiang Haozi menangis sepanjang perjalanan pulang mendapatkan perasaan kecewa karena orang yang mereka percayai mengkhianatinya di belakang tanpa sepengetahuan keduanya.
__ADS_1
Hick! Hick! Hick!
Keduanya tidak dapat mengontrol emosi dan berhenti di pinggir jalan menunduk kepalanya tidak sanggup menahannya lagi. Genangan air mata mereka pecah dan membanjiri wajahnya dengan tangisan kecewa.
Suaranya terhapus angin dan gemuruh, Qin berteriak memanggil namanya di langit.
Teman-temannya Qin Chen berada dekat dengannya menggunakan payung hitam di bawah pohon melihat temannya terpuruk dalam luka.
"Jangan kesana, aku tidak dapat membantunya. Walaupun dia adalah saudara kita, kesalahan ini berasal darinya yang tidak dapat menahan godaan duniawi dan masuk kedalam kegelapan— Semua ini adalah cobaan yang kuasa berikan untuk membuatnya sadar akan pentingnya perasaan wanita begitu lembut seperti gula kapas yang mudah hancur dengan sentuhan lembut." Ucap Zhung Long.
"Bagaimana sekarang kita bersikap kepadanya? Aku sebenarnya sangat marah padanya, tapi mengingat dia saudara yang aku kenal dengan sikapnya yang polos mencintai seorang rubah hingga membuatnya hancur berkeping-keping."
"Zhung Long."
"Untuk sekarang biarkan dia sendirian untuk memahami kesalahannya, kita akan kembali ke asrama dan melanjutkan tugas kita sebagai mahasiswa dan mengawasi keselamatan Bai Tianzhi dan Jiang Haozi untuk membantunya agar tidak kepikiran."
"Kau benar, ayo kembali."
"Kalian dapat kembali duluan, aku hendak membeli rokok untuk menemani malam yang dingin ini."
Keduanya pergi duluan tanpa mengetahui kalau Zhung Long mendekati Qin Chen. Payung di tangannya, ia melepaskan untuk mengimbanginya.
Zhung Long dengan emosi mengangkatnya dan memukulnya dengan keras tanpa mengatakan apapun hingga Qin Chen terlempar berapa meter tersungkur ke tanah.
"Brengsek! Dasar brengsek! Apa yang kau lakukan selama ini, Qin Chen!" Teriaknya dengan keras tanpa membuat Qin Chen menoleh untuk melihatnya.
Zhung Long mendekatinya, ia mengangkat keras Qin Chen hingga berhadapan satu sama lainnya saling menatap. "Dasar bedebah! Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini, tapi kau benar-benar pria brengsek! Apa kau tidak sadar apa yang kau lakukan selama ini membuat perasaan Bai Tianzhi dan Jiang Haozi tersakiti?!"
"Qin Chen! Jawab aku!"
Qin Chen tidak dapat membalasnya, bahkan kalau dunia ini hancur ia tidak dapat mengatakan apapun.
Pukulan lain mendarat ke wajahnya dengan keras. "Sebagai saudara paling tua, aku mengajarimu untuk bersikap seperti pria sejati menanggung konsekuensi yang kau lakukan!"
Bagh! Bugh! Bagh!
Kedua temannya tidak sanggup melihat keduanya bertengkar, mereka melepaskan payungnya dan berlari menghentikan Zhung Long yang memukul Qin Chen.
__ADS_1
"Hentikan Zhung Long!"
"Jangan hentikan aku, aku akan memberikan pelajaran pada pria brengsek ini pelajaran karena menyakiti Bai Tianzhi dan Jiang Haozi!"
"Hentikan Zhung Long! Jangan buat semuanya semakin memburuk."
Keduanya mengigit bibirnya menahan amarahnya yang meluap-luap, Zhung Long mengertak dengan kesal merendahkan amarahnya.
Dibawah hujan yang deras mengguyur kota, Qin Chen terbaring dengan luka-luka. Tangannya bergerak hanya sesaat lalu berhenti, matanya tidak bergeming meskipun tetesan hujan memasuki matanya.
"Aku ... "
Qin Chen tidak dapat mengatakan apapun selain perasaan bersalahnya, ia tidak ingin semuanya berakhir seperti sekarang. Bahkan kalau langit dan bumi hancur, ia tidak ingin rumah tangganya hancur.
Apa yang ia perjuangkan selama ini, ia tidak ingin hancur.
Qin Chen menemukan hadiah yang ia siapkan untuk kedua istrinya berada di luar tengah kehujanan. Sebuah patung anak kecil yang dibentuk dari giok murni membuatnya sadar kesalahannya.
Mencoba meraih patung itu, teman-temannya bingung melihat Qin Chen.
Saat ia menyentuh patung tersebut, ia memeluknya dengan erat. "Aku tidak ingin semuanya hancur seperti sekarang." Gumamnya.
"Kalau kau tidak ingin semuanya hancur, pertahankan mereka berdua! Kalau kau memang pria sejati, jangan buat mereka merasakan rasa sakit! Dimana kau selama ini, Qin Chen! Kau mempunyai dua istri di rumah, tapi kau malah berselingkuh dengan wanita lain di belakang mereka!"
"Dan sekarang kau ingin semuanya tidak hancur? Kemana kau selama ini? Kau sudah menghancurkan keluarga bahagia yang selama ini kau mimpikan, bukan? Menghancurkan perasaan Bai Tianzhi yang percaya padamu, kau berselingkuh dengan sekertaris pribadimu sampai dia hamil lima bulan sama seperti Bai Tianzhi. Lalu kau berselingkuh dengan Qian Chuntian, saingan Jiang Haozi dalam kerajaan bisnis?"
"Sudah cukup dengan drama yang kau buat sekarang, Qin Chen! Jika kau ingin mempertahankan semua ini, apa kau bisa membujuk kedua hati yang sudah hancur berkeping-keping seperti kaca yang ingin kau susun kembali dengan perekat sementara?"
"Jangan bicara omong kosong, kau berjanji untuk hidup semati dengan mereka! Bersumpah di atas ikrar suci untuk menjaga dan tidak mengkhianati mereka, tapi nyatanya kau mengkhianati mereka!"
Sepanjang perkataan Zhung Long bicara sembari hujan-hujanan di depan halaman tempat tinggal Qin Chen.
Qin Chen tahu itu tidak mudah, tapi dia tidak ingin kehilangan mereka berdua!
....
*Bersambung ...
__ADS_1