
Waktu, 00.00—
Guncangan hebat menggetarkan tempatnya berada sekarang, Qin Chen membawa Bai Tianzhi berlindung ke tempat yang aman. Meskipun tidak membangunkan, karena Qin Chen mengangkatnya bersama dengan itu ia membawa barang-barang yang berharga baginya.
Tepat berada di bangunan besar di mana orang-orang yang ikut mengungsi ketempat tersebut dari bahaya gempa. Qin Chen tidak mengetahui apapun tentang gempa ini, seolah-olah bumi sudah tua karena banyak erupsi dimana-mana.
Ada ribuan orang yang mengungsi dengan membawa barang-barang seadanya, karena bangunan di tempat mereka sudah runtuh satu-persatu dan banyak korban dimana-mana berjatuhan.
Qin Chen yang tengah memeluk istrinya yang terselimuti kain, ia terduduk dengan posisi selonjoran.
Petugas keamanan atau polisi bergegas mengevakuasi korban yang berjatuhan dan mengarahkan mereka ketempat aman menghindari korban tambahan.
"Gempa bumi susulan ini memakan banyak korban, hujan deras yang mengguyur kota membuat petugas tidak dapat bertindak cepat karena situasi yang tidak terduga mungkin akan terjadi." Gumam Qin Chen, ia melihat keluar kaca hujan tengah mengguyur kota dengan deras.
Ia berada di sudut tiang bangunan tengah terduduk memangku istrinya yang tertidur pulas. Qin Chen sengaja tidak membangunkannya, bukan karena ingin menjadi pahlawan karena bisa saja dia menghambat proses pelariannya.
Dengan Bai Tianzhi tertidur, ia bisa bertindak cepat dengan kekuatan yang ia punya. Menerjang kaca, batu dan lain sebagainya untuk meloloskan diri.
Luka-luka yang ia dapatkan secara otomatis di alihkan ke tempat lain sehingga ia bisa beristirahat dengan tenang tanpa mengkhawatirkan luka.
Sementara orang lain, mereka mendapatkan banyak luka-luka yang mengerikan. Para perawat kesana-kesini merawat mereka satu-persatu, ada yang kehilangan keluarganya dan ada yang kehilangan seseorang yang berharga.
Untungnya, gempa tersebut hanya terjadi di daerah tempat Qin Chen dan Bai Tianzhi tempati. Meskipun luasnya mencapai puluhan kilometer dari tempatnya, itu tidak membahayakan keluarga Bai Tianzhi.
'Bagaimana keadaan di sana, sistem?'
[Seperti sebelumnya tuan, kerusakan yang disebabkan gempa bumi sangat besar. Walaupun hanya sebagian sudut kota di hancurkan, tapi sudah memakan banyak korban.]
'Begitu rupanya, untungnya hanya di sudut kota yang mengalami kehancuran. Sempat merambat ke kota, aku khawatir dengan keadaan mereka semua.'
[Seharusnya kota akan aman-aman saja sampai tahun depan. Tempat tuan sebelumnya masuk kedalam katagori wilayah yang berbahaya karena dekat dengan gunung aktif dan di sampingnya ada lautan luas.]
'Begitulah, lupakan masalah ini, terimakasih karena mengalihkan kerusakan tubuh yang aku dapatkan sebelumnya.'
__ADS_1
[Sama-sama tuan, itu adalah tugas sistem ada pada tuan.]
Qin Chen mengangguk, ia melihat Bai Tianzhi tertidur pulas dengan kecantikannya yang tidak pernah pudar meskipun dalam kondisi tengah tertidur, dia masih cantik seperti biasanya dengan bibir kecil penuh godaan.
Paginya, Qin Chen semalaman berjaga-jaga di sekitarnya sembari mengobrol panjang bersama sistem membicarakan banyak rencana kedepannya.
Sesaat kemudian Bai Tianzhi terbangun dari tidurnya, ia merasakan sesuatu yang tengah memeluknya dengan erat tidak melepaskannya meskipun hanya semenit.
Dengan pelan membuka mata, ia melihat Qin Chen tengah memangkunya memberikannya selimut untuk menghangatkan tubuhnya dari cuaca dingin di malam hari.
Menoleh kesamping, ia melihat banyak orang-orang yang bergeletakan dimana-mana. Mereka menangis histeris dan mengobrol dimana-mana membicarakan tentang gempa susulan semalam.
Sedangkan Qin Chen, ia tengah menutup matanya—
Sedikit ia bergerak, tangan Qin Chen menariknya dan merasakan respon terhadapnya. Ia terbangun melihat Bai Tianzhi sudah terbangun dari tidurnya yang panjang semalaman.
"Selamat pagi, istri muda." Katanya, ia menggoda Bai Tianzhi di situasi yang sekarang membingungkan baginya.
"Dimana kita? Kenapa ada banyak orang-orang yang membicarakan tentang gempa susulan. Apa mungkin, kamu membawaku tanpa membangunkanku sebelumnya?" Bai Tianzhi bertanya-tanya kepadanya untuk membalas setiap pertanyaan yang ia tanyakan.
"Kamu sudah aman sekarang, tidak perlu khawatir." Balas Qin Chen.
Bai Tianzhi beranjak untuk duduk, ia disampingnya sembari menyelimuti tubuhnya dengan selimut karena cuaca dinding di luar begitu luar biasa dengan hujan deras dari semalam tidak berhenti-henti.
Melihat pemandangan ini, ia menoleh ketempat Qin Chen melihat apa ada luka. Saat melihat pergelangan tangannya, ia melihat ada luka sayatan yang cukup dalam membuatnya khawatir.
Luka tersebut memang sengaja tidak disembuhkan karena akan mencurigakan kalau Qin Chen tidak terluka apapun di saat gedung apartemen miliknya runtuh karena gempa susulan.
Bai Tianzhi langsung merobek pakaiannya, ia membuat Qin Chen tertegun melihatnya begitu khawatir dengan lukanya. "Kenapa semalam kamu tidak membangunkanku kalau ada gempa susulan seperti semalam, apa karena aku tertidur pulas sampai-sampai kamu tidak ingin membangunkanku?"
Qin Chen terdiam— Karena ada banyak alasannya, sekarang ia tersenyum sembari mengusap-usap kepalanya. "Kamu tengah kelelahan sebelumnya, bagaimana bisa aku membiarkan istriku berlarian di tengah hujan di malam hari."
"Bukankah sama saja kamu membahayakan dirimu sendiri? Ayo ke apotek terdekat untuk membeli beberapa obat dan perban, kalau tidak mendapatkan pertolongan pertama lukamu akan infeksi." Balasnya, ia meminta Qin Chen untuk pergi ke apotek bersama-sama membeli obat dan perban mengeringkan lukanya.
__ADS_1
Sebelum itu, Qin Chen melepaskan pakaiannya dan memberikannya kepada Bai Tianzhi. "Gunakan pakaianku, bagaimana bisa kamu keluar dengan pakaian robek seperti itu. Sebagai suamimu, aku khawatir kamu bisa menggoda pria lain selain aku."
"Selama kamu mau menurut, aku akan melakukan apapun untukmu." Bai Tianzhi mengenakan pakaian Qin Chen, dengan begitu robekan pakaian di area perutnya di tutupi dengan pakaiannya.
Sedangkan Qin Chen, ia tidak mengenakan pakaian apapun. Bukan masalah baginya karena ia pria dengan tubuh sempurna, kemanapun tanpa pakaian ia tetap tenang selain kalau ia tidak menggunakan celana, ia akan panik setengah mati.
Walaupun begitu ada banyak luka di tubuhnya, mulai sayatan luas di punggung, sobekan di pinggangnya dan dua tikaman di perutnya membekas membuatnya seperti seorang prajurit.
"Seharusnya dekat dengan tempat ini ada apotek, ayo ke sana untuk membelinya." Bai Tianzhi mengandeng tangannya untuk pergi ke apotek.
Di tengah-tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan wanita cantik yang tidak lain adalah Fen Qingqing. Ia melihat Qin Chen yang tengah mengandeng wanita cantik di sampingnya.
"Qin Chen?" Katanya, ia membuat Bai Tianzhi berwaspada mengandeng Qin Chen dengan erat dengan reaksi nyata membuatnya tertawa.
"Yo, Qingqing. Apa kamu bertugas sekarang?" Tanya Qin Chen.
"Benar, setelah mendengar kabar ada gempa susulan di tempat ini petugas yang libur dan yang ada di berikan tugas untuk mengevakuasi korban di tempat ini. Ngomong-ngomong, kemana kau akan pergi tanpa pakaian seperti itu? Dan siapa wanita disampingmu?" Tanyanya penasaran karena reaksi Bai Tianzhi yang berwaspada kepadanya.
"Dia istriku, aku hendak ke apotek membeli obat untuk luka. Kamu dapat kembali melanjutkan tugas, ngomong-ngomong kalau ada bantuan katakan saja padaku langsung setelah pengobatan."
Qin Chen melambaikan tangannya, Fen Qingqing mengangguk memberikannya ruang untuk keluar. Bai Tianzhi masih memeluk tangannya dengan erat karena melihat wanita cantik sebelumnya.
"Kamu cemburu?"
"Tidak!"
"Begitu rupanya, kamu cemburu tapi tidak bisa mengatakannya. Baik-baik, aku tidak akan bertanya lebih kamu harus tahu kalau kamu satu-satunya istriku wanita yang menggoda dimataku tidak ada yang lain." Katanya, ia mencoba menenangkan Bai Tianzhi yang dibakar api cemburu setelah melihat wanita cantik dan sexy dibandingkan dirinya.
[...]
Sistem di benaknya tidak mengerti lagi, tuan-nya benar-benar mempunyai bibir yang manis saat bicara sampai-sampai membuat wanita luluh dengan sekali ucapannya. Termasuk Bai Tianzhi yang mengangguk kecil menanggapinya.
...
__ADS_1
*Bersambung ...