
Matanya menciut menatap langit, tangannya gemeteran beberapa menit kemudian hilang tanpa meninggalkan bekas ketakutan mendalam.
Pergerakan emosional mengejutkannya, dan tiba-tiba Bai Tianzhi memberikan respon terhadap kesembuhannya. Dokter langsung begegas untuk mengecek kondisinya, ia tercengang karena semuanya sudah membaik tidak seperti sebelumnya.
"Qi— Qin Chen ... " Itu menyebut namanya, Qin Chen lalu mengedipkan matanya dan begegas mendekati Bai Tianzhi.
"Syukurlah kamu membaik." Mencium tangannya dengan bahagia, ia membuat orang-orang sangat iri. "Jangan memikirkan apapun, aku akan di sisimu dan tidak akan membuatmu bersedih, aku janji akan melakukan apapun yang kamu mau."
"Hmm ... Bagaimana dengan keadaan Chloe?"
Qin Chen menoleh kebelakang, ia melihat Chloe yang baik-baik saja dan tengah baring mendapatkan perawatan lanjut untuk menstabilkan dirinya.
"Dia baik-baik saja." Balas Qin Chen, ia menoleh kembali ke tempatnya.
"Surat itu—" Bai Tianzhi mengingat Qin Chen tentang surat perceraian yang ia berikan satu bulan yang lalu.
Qin Chen membeku dan mengeluarkan surat tersebut, ia masih ragu-ragu dan tidak ingin melepaskan Bai Tianzhi ataupun Jiang Haozi. Keluarga mereka berdua bingung melihat surat yang berada di tangan Qin Chen, itu memberikan pertanyaan.
"Sobek surat itu—"
Qin Chen membeku dengan bingung mempertanyakan mengapa, ia melihat mata Bai Tianzhi berkedip menerima Qin Chen kembali untuk bersama melupakan masa lalu yang begitu pahit di hatinya.
Untuk pertama kalinya bagi orang lain ataupun Qin Chen, ia meneteskan air matanya mengejutkan semua orang.
Bai Tianzhi tidak tahu kalau orang seperti Qin Chen bisa meneteskan air matanya untuk dirinya di depan banyak orang, ia dengan bahagia merobek-robek surat tersebut.
Lalu memeluknya dengan hangat mengucapkan terimakasih berulang-ulang kepadanya.
Keadaan Bai Tianzhi membaik dan dia bisa berbicara dengan tenang, karena kondisinya sekarang sudah dapat kembali kekediaman kalau dia mau.
"Bagaimana dengan nama untuk kedua putri kita dan putri Chloe?" Tanya Bai Tianzhi.
"Hmm ... Aku sudah memikirkannya berbulan-bulan yang lalu." Balas Qin Chen.
"Apa namanya cantik?"
"Seperti ibunya."
Paman Jiang dan Paman Bai batuk-batuk mendengar pembicaraan keduanya benar-benar menggoda wanita begitu mudah!
Suster di sampingnya memberikan kedua putrinya di gendongannya, ia melihat putrinya sangat manis dan cantik seperti ibunya, Bai Tianzhi.
"Putri pertama, Qin Xing Fu, mempunyai arti sebuah kebahagiaan yang datang. Sementara Putri kedua, Qin Fanhui, mempunyai arti kembali. Keduanya adalah takdir yang bersatu kembali karena kebahagiaan." Ucap Qin Chen.
__ADS_1
Seluruh orang membeku mendengarnya, meskipun puitis kalimatnya kurang tepat namun mereka merasakan sebuah permasalahan besar yang mengartikan keluarga yang hancur kembali bahagia bersama.
Bai Tianzhi menutup mulutnya, ia tidak dapat menahan tangisannya hingga membuatnya memalingkan wajah untuk mengelapnya kembali.
Lalu ia melihat Qin Chen begitu bahagia mengendong anaknya.
Bai Tianzhi lalu memangku keduanya, dan Qin Chen mengendong putrinya yang ketiga dari istrinya yang ketiga di tangannya. Qin Chen mendekati Chloe karena ia tidak akan memprioritaskan satu orang, ia bersikap adil kepada istrinya.
Chloe hanya diam karena semuanya ada di keputusan Qin Chen, Qin Chen menyentuh keningnya dan mengusap-usapnya dengan lembut.
"Terimakasih Chloe."
"Sama-sama tuan." Balas Chloe yang sampai sekarang masih memangilnya dengan sebutan tuan meskipun hanya berdua ataupun di tempat yang ramai.
"Aku akan mengambil nama keluargaku sebagai nama keluarga, Qin. Qin Xingye, Xingye mengambil nama keluargamu, Xingye mempunyai arti malam berbintang. Karena kehadirannya membuat malam yang gelap mempunyai warna baru." Kata Qin Chen.
Chloe mengangguk berterimakasih, ia tidak dapat mengatakan apapun selain berterimakasih kepadanya. Bahkan ia ingin menangis namun ia tahan dengan sikap profesionalnya.
Mencium keningnya sama seperti Bai Tianzhi, Qin Chen mengusap-usap keningnya.
"Suami," Jiang Haozi mendekati Qin Chen dan mengangkat tangannya, ia hendak memberikan perban di telapak tangannya.
Sewaktu Jiang Haozi ingin membalut lukanya, ia tidak menemukan luka di tangannya. Semua orang tertegun melihat hal tersebut, karena mereka dengan mata sendiri melihat bagaimana tangannya terluka lalu memasukkan darahnya kedalam bibir Bai Tianzhi.
"Ada apa?"
"Tidak apa-apa, aku mungkin berhalusinasi memikirkan keadaan Bai Tianzhi." Balas Jiang Haozi.
Buru-buru ia menyimpan kain di tangannya, dan mundur kebelakang. Setelah itu, mereka mengobrol dengan tenang di dalam ruangan sembari menunggu kesehatan Bai Tianzhi membaik untuk di bawa pulang ke rumah.
Satu-persatu keluarga dan teman-temannya mengucapkan selamat kepada Qin Chen.
Qin Chen tersenyum bahagia mengendong ketiga anaknya di pangkuannya, dua di tangannya dan satunya berada di pelukannya membuat ia bingung mau bagaimana mengurusnya sendirian.
Ia lalu memberikan Qin Xing Fu dan Qin Fanhui kepada ayah dan ibu Bai Tianzhi karena mereka menginginkan cucu dari dulu dan sekarang mendapatkannya dari anak perempuannya yang tidak mau menikah sejak dulu.
"Uluh ... Uluh cucu nenek yang manis." Ucapnya sembari menyentuh pipinya yang kenyal seperti Bai Tianzhi sewaktu kecil bahkan sekarang masih terasa kenyal.
Qin Chen memangku putrinya dari Chloe di tangannya, Qin Xingye begitu nurut dan ia tidak menangis, malahan ia tertidur pulas di gendongannya.
Jiang Haozi di sampingnya, ia ingin mengendong putrinya namun masih satu bulan menunggu sebelum kelahiran putrinya dengan Qin Chen.
Qin Chen mengusap-usap kepalanya. "Jangan khawatir, kamu akan mendapatkan yang kamu inginkan Haozi. Aku akan menunggunya, karena itu adalah hadiah yang indah bagiku dari apapun itu."
__ADS_1
"Hmm ... "
Tanpa menolaknya, Jiang Haozi menurut kepadanya.
Keluarga Jiang tertawa kecil melihat putri mereka iri dengan yang lain karena mendapatkan anak kecil yang bisa membuat Qin Chen menyayanginya.
Setelah bermalam di rumah sakit, paginya Qin Chen mengambil surat keluar dari rumah sakit dan memberikan perawatan mandiri kepada istrinya di rumah.
Didalam ruangan itu, Qin Chen menurunkan ketiga putrinya ke atas sopa lembut dengan di batasi guling akan tidak melorot ke bawah.
Setelah itu, ia duduk di tengah-tengah ketiganya yang tengah bahagia.
"Apa yang ingin kamu makan malam ini Tianzhi, Haozi, dan Chloe?" Tanya Qin Chen.
"Apapun itu."
Keduanya membalas dan Chloe mengangguk menerimanya, Qin Chen tersenyum lalu mencubit pipi masing-masing. Kembali ke dapur melihat bahan-bahan makanan sudah habis dan ia belum membelinya kemarin karena sibuk mengurus istrinya.
"Bahan-bahan di dapur habis, aku akan ke mini market terdekat untuk membelinya, kalian tunggu di sini." Ucap Qin Chen.
"Jangan lama-lama."
Mengangguk pergi ia meninggalkan Vila menggunakan kendaraannya menuju minimarket yang berada dekat dengan kompleks Vila.
Sesampainya di depan minimarket, ia menemukan pria yang mencoba membunuhnya.
"Tuan Qin?" Katanya.
"Kau ... Ah! Maaf karena lupa denganmu, bagaimana kabarmu sekarang?"
"Seperti yang Tuan Qin lihat sekarang, saya bahagia dengan hidup saya sekarang. Terimakasih banyak atas bantuan yang tuan berikan pada istri saya." Balas pria itu dengan membungkukkan tubuhnya.
"Sama-sama, aku hanya menepati apa yang aku katakan."
"Walaupun begitu, saya benar-benar berterimakasih karena tuan membuat istri saya bisa hidup dengan nyaman tanpa kehadiran saya di sisinya. Ngomong-ngomong tuan, apa anda hendak belanja?"
"Benar, ketiga istriku ingin makan malam dan bahan-bahan di rumah habis, aku datang untuk membeli bahan-bahan makanan." Balas Qin Chen.
Pria itu mengangguk dan membuka pintunya untuk Qin Chen, ia mengucapkan perpisahan karena akan melanjutkan pekerjaan malamnya sebagai pengantar makanan online yang sekarang tengah heboh.
....
*Bersambung ...
__ADS_1