Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story of Hansell Chapter : 10] Pemakaman Tuan Besar Hamillton.


__ADS_3

Rumah sakit swasta yang saat ini di datangi oleh Hansell sebagai tempat ayahnya di tangani, adalah rumah sakit terbesar yang bernaung di bawah Grup HS, fasilitas dan juga layanan medisnya sangat terkenal hingga membuat beberapa masyarakat mempercayai rumah sakit itu sebagai fasilitas kesehatan terbaik di Negara ini, selain itu keluarga Hamillton memiliki fasilitas pribadi yang akan di tangani oleh Dokter ahli, bahkan sudah lebih 4 jam namun tak ada yang keluar dari ruang emergency dan membuat pihak keluarga semakin kecemasan.


Angel dan Hellena tengah duduk sembari bercerita beberapa hal terkait ayahnya, sedangkan Dikra duduk tenang untuk menunggu Tuan Besar Hamillton, sedangkan Hansell tak kalah cemas dari siapapun dan bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya lantaran di penuhi rasa bersalah.


Bagaimanapun Hansell tidak siap mendengar kabar buruk apapun terkait beliau, bagaimanapun caranya papanya harus kembali pulih seperti sedia kala, jika nanti papanya pulih, maka Hansell akan melakukan apapun yang ia minta sekalipun melanggaar prinsipnya.


Cklek...


Suara pintu kamar itu membuat tubuh mereka menegang, Hansell berdiri dengan gugup ketika melihat seorang pria berjas putih keluar dari pintu yang sedari tadi di tatap oleh matanya, sang Dokter yang berdiri di hadapan mereka melirik kearah 4 orang anak muda yang penuh panik dan bersiap-siap menagih jawaban dan penjelasan darinya.


“Siapa yang bernama Hansell disini?" tanya dokter itu kehadapan semuanya.


Nampaknya ia Dokter yang sedang bicara di depan Hansell merupakan dokter baru di rumah sakit ini sebab ia tidak mengenali yang mana Hansell Hamillton.


“Saya Dokter” balas Hansell dengan segera.


“Tuan Hansell, keadaan Tuan Besar Hamillton sangat kritis, bahkan kami sudah berupaya sebisa mungkin namun tetap saja Tuan Hamillton tidak menunjukan perkembanganya”


“Kenapa bisa begitu, bukankah papa sudah mendapatkan transplantasi jantung terbaik beberapa bulan lalu, apa lagi yang kurang” geram Hansell dengan sedikit membentak.


“Benar tuan, meskipun kita sudah melakukan transplantasi jantung pada beliau hanya saja ada reaksi penolakan terhadap jantung baru karna sistem kekebalan tubuh Tuan Hamillton mendeteksi organ tersebut sebagai benda asing yang di anggap berbahaya, untuk itulah beliau mengkonsumsi obat Imunosepresan untuk meminimalisir penolakan yang terjadi. Tapi kami sudah menegaskan kepada Tuan Besar Hamillton jika beliau masih pasien rawat jalan, dan beberapa bulan ini ketika tim medis ingin memberikan perawatan yang intensif tapi beliau menolak dengan alasan memiliki pekerjaan mendesar. Hal itu membuat efek yang begitu fatal saat ini, bahkan kami tidak menyangka kondisi Tuan Besar akan separah ini akibat serangan jantung yang beliau terima, kami semua sudah berupaya sebisa mungkin tapi semakin kesini kondisinya semakin mengkhawatirkan. Saya sungguh menyesal, tapi jika anda ingin tahu lebih lanjut anda masuk saja, saya akan menjelaskanya di dalam”


Sontak Hansell berlalu memasuki ruagan ini, ia melihat kondisi ayahnya yang di penuhi oleh alat bantu yang melilit seluruh tubuhnya, bahkan Hansell tidak menyangka jika akan terjadi separah ini, tim Dokter tengah membuka alat yang saat itu menghambatnya untuk bicara, bahkan ketika mata itu menatap nanar ia melirik Hansell untuk menjangkau putranya sesegra mungkin, rasanya pria itu sudah bertahan dengan penuh kekuatan dan mengiginkan Hansell mendengarkan satu perkataanya.


“H-Hansell” ucap beliau dengan kalimat tertatih, bahkan suaranya amat pelan padahal sudah di usahakan sekeras mungkin.


“Papa, jangan bicara dulu, bagaimanapun keadaan papa masih belum membaik” ucap Hansell ketika mengenggam tangan papanya, namun pria paruh baya itu mengedipkan mata dengan keras sambil menangis melihat putranya.

__ADS_1


“Nak, maafkan papa. Tapi papa minta jangan menyerah atas perusahaan kita, jangan biarkan Nona Petrov menjatuhkanya” terusnya dengan begitu payah, bahkan Hansell mengelengkan kepala dengan segera seolah ia tidak menyangka jika ayahnya masih memikirkan hal itu ketika kondisinya separah ini.


"Hansell janji akan mengembalikan perusahaan kita seperti semula, tapi papa harus kembali pulih, biar papa bisa melihat semuanya” ucap Hansell degan meminta, membuat tim Dokter saling memandang hingga menekuk wajah dengan rasa bersalah.


Dengan bibir yang gemetar Tuan Hamillton menjawab anaknya. “Tidak nak, aku tidak akan bisa bertahan. Karna aku sudah melihat wajah ibumu” balas pria itu dengan tersenyum bahagia, membuat air mata Hansell mecucur dengan penuh luka, atas sikap papanya.


Apa maksud dari kata-kata ini, apa yang sebenarnya di inginkan papanya, jangan katakan dia akan, “Aku ingin menemui ibumu” sungguh dada Hansell bergemuruh ketika kata perpisahan di ucapkan papanya dengan bahagia, untuk kali pertama dadanya di rengut dengan sakit, dan sesak itu melanda tanpa etika.


“Apa papa tidak kasihan pada Angel, apa papa tidak sayang padaku” kesal Hansell saat merintih sakit menatap tubuh ayahnya yang sudah kedinginan dan pucaat paci.


"Papa sayang, Papa cinta pada kalian, dan papa bangga kau bisa menajdi kakak terbaik untuk adikmu. Karna itulah pilihkan laki-laki baik untuk Angel yang menyayangi dirinya seperti kita menyayangi Angeline, terkait dirimu papa yakin akan ada wanita yang akan mencintaimu seperti kau mencintainya, ingat Hansell, jangan gunakan otakmu ketika jatuh cinta, tapi tanyakan hati mu, apa maunya sebenarnya”


“Papa, apa yang kau katakan” geram Hansell dengan cucuran air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya. Namun Tuan besar Hamillton itu hanya tersenyum manis seraya mengkerutkan kening setelah rasa sakit mulai terasa di kepalanya.


“Pa-pa menyayagi kalian” terusnya dengan nafas yang tersengal seperti terputus dengan kata-kata sayang yang di lontarkan, untaian kata yang membuat dada Hansell membeku dan matanya terpaku, tidak bisa di sembunyikan dari rasa takut akan kehilangan, membuat Hansell meneriaki papanya hingga pria itu tidak mampu mempercayai kenyataan ini.


Ketiganya mendapati Hansell yang sudah menangisi papanya dengan linagan air mata yang tak henti tanpa terkira, tangis sesungukan menjadi tanda betapa perihnya Hansell dan betapa sakitnya hati pria itu.


“Kakak, apa yang terjadi!” bentak Angel yang sedari tadi mengamati kakaknya.


Sedangkan pria itu memilih diam dan bahkan tidak sekuat itu membalas perkataan adiknya. “Tidak...ti-tidak mungkin kan" terusnya dengan bibir gemetar, hingga Dikra meraih pundak Angel, namun Angeline menepisnya dengan marah. "Papa” teriak Angel dengan penuh sakit, pasti terjadi yang tidak-tidak pada papanya sebab kakaknya yang dingin itu bisa sehancur itu, Angel tidak mampu berdiri hingga ia terkapar di lantai "Kenapa papa diam saja" teriaknya sekali lagi hingga membuat Hansell berlari memeluk adiknya dengan penuh sakit dan penderitaan akan di tinggalkan, bahkan Angel habis kekuatan dan rasanya begitu kesakitan akan luka batin yang luar biasa mengaga, Hansell memeluknya dengan erat hingga membuat gadis itu mampu menangis di pundaknya.


“Bagaimana bisa papa....” tengisnya dengan penuh sakit.


"Angel, kakak masih ada. Jangan seperti ini sayang” pinta Hansell dengan penuh pilu, hingga Dikra membalikan badan sambil menepis air matanya, baginya Tuan Hamillton adalah ayah kedua setelah ayahnya sendiri, dan penderitaan kedua adik kakak itu tentu mamu di rasakanya dengan terpati, sedangkan Hellena juga menangis sedih atas apa yang menimpa Hansell dan Angeline, sebab Hellena sadar jika ia hampir sama degan mereka.


“Bagaimana bisa papa meninggalkan kita seperti ini, ini tidak mungkinkan kak, katakan ini tidak mungkin!” bantah Angel ketika menepis kenyataan, rasanya baru kemarin malam bercanda dan membawakan kopi untuk papanya, sekarang pria yang sudah membimbing tanganya itu telah tiada, bagaimana bisa Angeline mempercayai apa yang terjadi ini.

__ADS_1


“Sayang, maafkan kakak” lirih Hansell dengan mata yang sudah mengecil, bahkan rasanya tak ada yang bisa ia katakan lagi selain memeluk dan mengenggam tangan adiknya dengan erat.


Tangisan begitu pilu terdengar oleh para tamu, bahkan saat ini banyak sekali yang menghadiri rumah duka dan memberikan belasungkawa kepada anggota keluarga, Angeline tidak tau siapa-siapa saja yang menjabat tanganya sedangkan Hansell begitu sibuk menjamu semua orang yang memberikan doa untuk papanya, sekalipun pria itu sudah terhenti dari tangisanya namun di dalam hatinya ada remuk yang tidak memiliki obat, bahkan ia tidak memiliki penopang atau sandaran lagi, kecuali dialah yang akan menjadi penopang dan sandaran untuk Angeline.


Pemakaman ayahnya sudah di selesaikan, tepat tadi sore semua orang sudah sepi dan Hansell kembali ke rumah utama Hamillton, ia membawa adiknya ke kamar untuk membiarkan Angel megistirahatkan diri, setelah itu Hansell juga pergi ke kamarnya untuk mengurung diri di dalam sana, sekalipun badan lelah dan hati penat rasanya tidak ada artinya selain rasa sakit dan lelah menjalani hidup ini.


Ayahnya mengatakan untuk mempertahankan perusahaan HS, tapi bagaimana cara Hansell untuk mempertahankanya sedangkan saat ini tidak ada cara untuk dirinya berpijak, bahkan saat ini tidak ada cara untuk Hansell mengambil sekutu lantaran Nona Petrov pasti sudah memblock seluruh orang yang sudah terlibat atas ini.


Apakah ia harus menerima tahta sebagai pengurus utama kerajaan bawah tanah? Tapi tidak mungkin kan, lantaran Hansell mengerti alasan ibunya tiada bukan karna kecelakaan semata, melainkan ada sangkut pautnya dengan markas utama. Untuk itulah ayahnya menegaskan Hansell tidak boleh bekerjasama dan terlibat di markas utama, meskipun secara turun-temurun markas itu di bawah jajaran keluarganya.


“Papa, apa yang akan aku lakukan? Apakah aku harus mengambil kepemimpinan itu?” ucap Hansell ketika menekuk kepalanya diantara lutut yang ia tekuk, Hansell menengelamkan wajahnya disana seraya menangis sejadi-jadinya.


Rasanya Hansell ingin pergi dan menjauh dari dunia ini, tapi kakinya terikat oleh Angeline yang masih muda dan memiliki masa depan lebih indah dari hari ini, pesan terakir ayahnya membuat Hansell seperti tidak mampu menyerah, ia bahkan mengingatkan Jansell untuk memilihkan laki-laki terbaik untuk Angeline, mencintai Angeline, menyayanginya, dan senang tiasa menjaga dirinya, dengan semua yang ayahnya tinggalkan apakah Hansell harus menyerah.


“Tuan Hansell..” teriak Darrel dari arah luar, bahkan membuat Hansell terdiam ketika terikan itu semakin kencang, namun Hansell tidak ingin melakukan apapun dan mendengar apapun dari siapapun. “Tuan Hansell” ucap Darrel dengan wajah panik saat berhasil menerobos pintu kamar, ia menatap kearah pria yang terkapar diatas lantai dengan penuh sedih dan keterpurukan. “Tuan Hansell, perusahaan APV Petrov sudah bergerak, mereka sudah berhasil merebut wilayah Tiongkok dan saat ini kita merugi besar dalam bursa efek” jelas pria itu, namun Hansell memilih diam tanpa mengangkat kepalanya untuk menangapi Darrel. “Tuan Hansell, jika anda tidak mengurus ini sesegera mungkin, bisa saja perusahaan jatuh ketangan Direksi, hingga besar kemungkinan jika kita akan gulung tikar setelahnya”


Sontak Hansell mengangkat kepala untuk mendogak kearah Darrel, pria itu menatap dengan sendu seraya melirik penuh jengkel pada pria itu, bahkan sebelum Darrel menjejerkan seluruh perkataanya, Hansell terlebih dahulu mengerti dan sudah paham situasi ini, tapi apa yang bisa Hansell lakukan, apakah harus Hansell bekerjasama dengan APV Petrov yang memiliki keterkaitan dengan markas utama, dan bahkan ia merupakan VVIP di markas itu, jika saja Hansell menyetujuinya tentu ia harus berurusan lagi dengan markas utama, dan pada akirnya mereka semua akan mengejar dan mengancam keluarganya lagi, bahkan saat ini tidak ada yang Hansell miliki selain dirinya sendiri, dan bahkan ia harus melindungi adiknya.


“Kau keluarlah, aku ingin sendiri” ucap pria itu saat menahan emosinya, membuat Darrel menatap diam kearah Hansell sebab jika pria itu tidak bertindak, Darrel menjamin perusahaan akan mengalami penurunan yang tajam.


“Tapi, Tuan-“


"Keluar!!” timpab Hansell dengan teriakan yang begitu membentak, hingga membuat Darrel terkesiap, mau tak mau ia keluar dari kamar Hansell untuk memberikan pria itu ruang sendirian, selama ini sangat tidak pernah Darrel melihat Hansell mengeluarkan emosinya, namun semenjak beberapa hari ini pria itu tampak mengerikan dari yang Darrel bayangkan.


“Apa yang harus aku lakukan” gerutu Darrel ketika berputar-putar kecil di depan pintu kamar Hansell, rasanya Darrel tidak bisa membiarkan pria itu menyerah dan lemah, ia ingin sekali mengetuk pintu namun terurungkan, bahkan ada cemas tan takut yang melingkup hingga akirnya membuat Darrel tidak sanggup lagi, sekalipun ia akan dimaki dan di banting oleh benda apapun, ia harus meyakinkan Hansell jika saat ini bukan waktunya untuk terpuruk.


Baru saja Darrel ingin mengetuk pintu kamar, dari arah dalam seseorang membukanya, membuat Darrel terpana saat Hansell berdiri tegap di depan matanya dengan kepribadian yang berbeda jauh dari dirinya yang terpuruk barusan, bahkan dalam sekejap ia mampu bangkit dan mengelola emosi dengan baik, sungguh membuat Darrel tidak percaya jika di situasi ini jiwa tenang dan sikap damai penuh perhitungan masih terpancar dari pesona Hansell Hamillton.

__ADS_1


“Siapkan segalanya, aku akan memulai dari APV Petrov” balas pria itu sambil lalu, ia mengkancingkan kedua jas hitam yang baru saja ia ganti untuk berlalu pergi dari arah kamar, sekalipun ruangan itu menjadi tempat ternyaman untuk Hansell meringkuk, dan bersembuyi dari kenyataan, namun dunia tengah memaksanya berperang, mempertahankan perusahaan yang sudah gonjang ganjing akibat APV Petrov.


__ADS_2