
"Tuan, apakah ingin saya bantu?" tawar sang sopir yang kala itu baru menghentikan mobilnya di lobby rumah sakit.
"Tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri" Hansell turun dari kendaraan yang mengantarkanya dengan sangat cepat.
Pria itu menurunkan diri seraya menarik tangan Airyn untuk melingkar dilehernya, membawa tubuh gadis itu agar merayap di pungung Hansell yang lebar, hingga mencapai posisi aman untuk ia gendong.
Di sepanjang jalan rumah sakit, Hansell berlarih penuh cemas menuju IGD (instalasi gawat darurat) dengan langkah lemas namun terus di paksakan sekuat tenaga, bahkan kehadiran Hansell yang membaea seorang gadis dengan terburu-buru, menarik perhatian semua orang sambil mengendong wanita di pungung yang sedikit ia condongkan, pemandangan ini benar-benar terlihat seperti seorang pria yang sangat takut kehilangan wanitanya.
"Tolong periksa dia" teriaknya ketika beberapa dokter dan perawat yang sangat sibuk sekali mengobati orang dipagi ini, bahkan tak ada satupun yang mengindahkan perkatan Hansell, hingga dadanya bergemuruh sesak melihat hal itu.
"Apa kalian buta!!! Ada seseoang yang sudah hilang kesadaran, dan kalian semua hanya diam saja" bentaknya dengan tidak terima.
Seraya menghelaan nafas yang menderas memenuhi rongga dada, bahkan bagian dada Hansell kembang kempis dengan gurat marah yang mampu memperlihatkan kekesalan dan khawatir yang besar.
"Permisi, tapi anda tidak boleh membuat keributan disini" cegat perawat wanita ketika melihat bagaimana rusuhnya Hansell. "Bahkan banyak sekali orang yang menunggu giliran mereka untuk diperiksa, untuk itulah saya mohon anda sedikit sabar menunggu, dokter akan bekerja sebaik mungkin" terusnya.
Sambil menolehkan wajah kearah perawat yang baru saja mendorong korban kecelakaan lalu lintas dengan darah yang bercucur dimana-mana, bahkan ada pria tua yang sesak nafas harus menunggu giliran pemeriksaan, anak kecil, nenek-nenek berusia lanjut, bahkan anak bayi yang ricuh disudut sana, membuat mata Hansell terpaku diam menatapnya, jiwa baik bak malaikat mulai muncul hingga menghilangkan keegoisan barusan, sedangkan Airyn yang hilang kesadaran di gendonganya tidak tahu sedang berada di lembah mana.
Membuat pria itu mengepalkan tangan ketika prinsipnya sendiri bertolak belakang dengan rasa egoisnya sebagai manusia. "Aku ingin kau memeriksanya, setidaknya pastikan ia baik-baik saja, maka aku akan tenang" balas Hansell yang bersiteguh mempertahankan keinginan hati, membuat perawat itu menolak dengan kasar sebab ia tidak bisa membantu.
"Aku tidak bisa, aku harus membantu kakek itu, dia sudah menunggu selama satu jam, bahkan penyakit Paru obstuktif kronisnya sangat berbahaya sebab beliau memiliki penyakit jantung, aku mohon kau mengertilah" hingga perawat yang sudah membawa obat-obatan itu berlalu untuk membatu dokter yang sedari tadi berkecimpung dengan pasien.
Sungguh, Hansell terpana diam untuk mencerna ulang apa yang terjadi, Hansell mengerti semua yang ada disini adalah situasi untuk pasien yang gawat darurat, tapi Airyn juga sama seperti mereka, ia hilang kesadaran hingga tubuhnya mendingin, bahkan wajah pucat pasi itu membuat dada Hansell bergemuruh takut atas rasa kehilangan, jantungnya bergema dengan besar seolah ingin berteriak pada semua yang ada diruangan itu.
Hansell menurunkan Airyn dari gendonganya, ia mendudukan gadis itu dengan hati-hati disudut dinding untuk sementara waktu, tubuhnya semakin bergindik penuh ngilu jika terjadi sesuatu pada Airyn, sudah pasti dia akan menyalahkan dirinya sendiri, untuk itulah, meskipun kemanusiaan yang selama ini Hansell bangakan dengan sikap pengertian dan menyamaratakan dirinya dengan manusia lain, tetap saja untuk beberapa hal Hansell tidak bisa menempatkan hal itu dikondisi yang sama.
__ADS_1
Hansell mungkin tidak mau bertingkah seperti pembisnis lainya yang gila glamor, hormat dan kekuasaan, ia tidak mau menaiki pesawat pribadi, memiliki dokter pribadi, dan menakuti kaum lemah dibawahnya, serta mengakusisi hanya karna politik ekonomi, tapi sekarang Hansell mengerti, tidak selamanya kehidupan yang ia anggap sudah baik ternyata tidak baik, seperti hari ini, beberapa hal selalu menjadi halangan dan bahkan rintangan untuknya, dari kariyawan yang tidak mengenali siapa dirinya hingga menghabat menyelamatkan Airyn, dari dirinya yang selalu menolak dokter pribadi malah menyusahkan diri sendiri, untuk mengobati Airyn yang harus bersaing dengan beberapa orang yang seharusnya bukan saingan Hansell.
Padahal jika Hansell mau, ia bisa melakukan segala sifat otoritas dan mendominasi bak petinggi-petinggi, tapi Hanselll berfikir hal-hal seperti itu hanya akan membuat dirinya angkuh penuh sikap arogan, tanpa bisa menghargai bawahan, tanpa bisa memanusiakan manusia lain, tanpa bisa mengerti penderitaan orang lain.
Yapi lihatlah hari ini, Hansell marah, kecewa, membenci semua manusia yang rendahan ini hanya karna tidak mementingkan Airyn, sedari awal Hansell memang membungkus diri dengan keelokan sikap tanpa ia sadari, jika didunia ini seseorang perlu bersikap sesui dengan tempatnya.
"Cepat selamatkan gadis itu" bentak Hansell ketika meraih pundak seorang dokter pria yang sibuk menangani anak kecil yang terlihat sulit bernafas.
"Apa kau gila" teriaknya dengan tidak terima, saat seseorang bertingkah keterlaluan hingga pandangan semua orang menatap mereka.
"Apa kau tidak bisa melihat jika gadis itu hilang kesadaran, tubuhnya semakin dingin hingga wajahnya pucat pasi, dan kalian disini malah memaksaku menunggu, apa kalian gila" tunjuk Hansell dengan murka kearah Airyn.
Membuat Dokter itu memalingkan wajah untuk melihat pasien yang dimaksudnya.
"Astaga, ada apa denganmu, apa kau tidak bisa melihat jika bukan dia saja pasien gawat darurat yang kami tangani, disini banyak orang yang lebih parah darinya, tapi mereka menangung rasa sakit untuk menanti giliran, apakah kau tidak bisa menunggu sebentar saja"
"Apa yang membuat orang arogan sepertimu seberani ini, Ha" kesalnya saat menahan tubuh Hansell penuh geram, namun pria itu terus mencoba menerkan untuk menarik paksa dirinya.
"Aku bahkan tidak mengerti kenapa ada dokter yang tidak beretikan sepertimu dirumah sakit ini, kau bertanya kenapa aku arogan, karna aku bisa saja melenyapkan karir dan hidupmu!!"
"Jika kau memiliki kekuasaan sebesar itu, kenapa kau datang ke ruang ICU yang dipenuhi oleh orang rendahan, kenapa kau tidak berada pada tempatmu, kau bisa mengumpulkan para dokter hebat yang ada diatas sana jika kau mau, kenapa kau harus mengantri dibagian yang seharusnya bukan tempatmu! Dasar berengsek, apa kau gila atay bodoh" kesal dokter itu saat cengkraman tangan Hansell mulai merengang untuk sesegera mungkin ia lepaskan.
Dokter pria yang berusia cukup dewasa itu menghenpas jauh tubuh Hansell untuk beranjak dari dirinya, laki-laki itu terpental jauh dengan bibir kelu yang tidak ada bantahan atas argumen yang dilontarkan Dokter Jojo, hingga.
"Hansell" bentak seorang pria dari arah pintu, yang mampu mengalihkan mata semua orang, bahkan perawat dan beberapa dokter memberikan sikap sopan atas kedatanganya.
__ADS_1
"Dokter Fu...." lirih Hansell dengan tatapan nanar atas keributan yang sedang ia lakukan.
"Apa yang kau lakukan disini, apa kau gila bertengkar di rumah sakit" hina pria itu dengan tidak percaya atas sikap anak dari sahabatnya.
Membuat mata Dokter Jojo terbelalak tatkala sikap akrab diberikan pimpinan rumah sakit ini pada pria arogan yang baru saja ia hina, jika begini berarti pria itu bukan orang sembarangan. "Astaga, apakah karirku akan hancur" batinnya penuh takut.
"Tolong selamatkan seorang wanita, aku mohon" lirih Hansell dengan kalimat pasrah hingga membuat semua orang yang tadi menatap penuh jengkel kali ini berubah menjadi peduli.
Hansell melangkah kearah Airyn yang ia letakan disudut dinding, pria itu mengangkat tubuh Airyn dengan penuh lembut, untuk diperlihatkan pada semua orang, membuat Dokter Fu menghela nafas dengan berat seolah ia mengerti akan kecemasan pria itu, tapi siapa gadis ini hingga Hansell yang dia kenal sangat baik bisa menjadi hilang ******, apakah gadis ini pacarnya.
"Baringkan dia ranjang itu" terus Dokter Fu sambil menyingsingkan lengan baju untuk memeriksa keadaan Airyn, tentu Hansell sudah tenang penuh diam ketika Airyn ditangani dengan sangat baik.
"Dia baik-baik saja, kau tidak perlu cemas, ia hanya pingsan akibat dehidrasi dan keram perut" ucap beliau dengan pengertian, seraya memberikan perintah pada beberapa orang untuk menangani lebih lanjut.
Dokter Fu menepuk pundak Hansell yang sedang menekuk wajah dengan rasa bersalah, beliau meminta Hansell meminta maaf atas keributan yang ia lakukan dirumah sakit, selian itu Dokter Fu memperkenalkan jika Hansell sudah seperti anaknya sendiri, untuk itulah ia meminta maaf atas kejadian yang tidak mengenakan ini, sedangkan para perawat dan beberapa dokter disana sungguh menyesal tidak memperlakukanya dengan baik, bahkan Jojo yang sempat bertengkar dengan Hansell hanya mampu diam, seraya menekuk wajah dengam pasrah.
"Maafkan aku" ucap pria itu ketika menjulurkan tangan kearah Jojo, bahkan pandangan yang tertekuk lesu itu ia angkat dengan sempurna dengan gurat kaget melihat Hansell meminta maaf padanya.
"Ti-Tidak masalah Tuan, aku yang harusnya minta maaf" sambut Jojo dengan cangung.
"Tidak, aku yang salah, maaf" bantah Hansell. "Maafkan aku Dokter jojo dan terimakasih atas saranmu," terusnya seraya membaca label nama di pin dokter yang dikenakan pria itu. "Untuk kedepanya aku akan bertingkah pada tempatku, maaf sudah merepotkan dan membuatmu terlibat masalah. Terkait apa yang aku lakukan hari ini, pengobatan semua orang masukan saja dalam ketagihanku"
Hingga senyum beberapa pasien dan keluarganya mengambang indah, bahkan mereka tidak menyangka pria itu sangat murah hati. Tentu Dokter Fu menarik senyum dengan malu-malu yang nyaris tak terlihat.
"Maafkan aku" sambung pria itu saat membungkukan badan 90 derat dihadapan pasien yang sudah ia rugikan secara mental, bahkan setelah Airyn baik-baik saja Hansell baru sadar bagaimana memalukan dirinya.
__ADS_1
Membuat Jojo menatap berbeda atas pria itu, tadinya Jojo fikiri ia adalah pria arogan yang hanya bisa berlindung di balik kekuasaan, mengunakan jabatan untuk menjatuhkan orang, tapi ia hanya bertingkah seperti itu karna seorang wanita, dan setelahnya ia sangat pandai meminta maaf. Dengan semua ketulusan itu, bagaimana bisa Jojo membencinya, rasanya ia ingin sekali mengenali pria arogan yang bernama Hansell.