Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story of Hansell Chapter : 08] Darah daging Merry.


__ADS_3

"Tenanglah Hansell" ucap Dikra saat memandang kearah sahabatnya.


"Aku tidak bisa tenang, bagaimana aku bisa tenang ketika papaku dalam kondisi kritis" ucapnya dengan frustasi. "Andai saja aku tidak meluapkan emosi padanya mungkin semua ini tidak akan terjadi, apa yang terjadi saat ini, semuanya karna diriku" terus Hansell saat megepalkan tangan untuk meninju kursi kosong di sampingnya, bahkan Dikra hanya memandang penuh prihatin atas kekacauan yang Hansell rasakan.


"Jangan menyalankan dirimu sendiri, apapun yang terjadi itu bukan salah mu, kadang hal-hal yang selalu kita salahkan hanya di jadikan alasan untuk menghadiri takdir, untuk itulah kau harus bisa menerima dan menyadari itu bukan salahmu, sebab diluar dirimu ada yang sudah berencana selain manusia"


"Tapi aku tidak bisa mengabaikan hal itu Dikra, aku melihat jelas bagaimana Papa kesakitan megenggam jantungnya karna aku terus mendebatnya, andai saja..."


"Sudahlah-" tukas Dikra ketika memutus perkataan pria itu, jika terus di biarkan Hansell hanya akan menyalahkan dirinya sendiri, bahkan rasanya Dikra tidak bisa melakukan apapun selain memberikan usapan hangat untuk membantu Hansell menenangkan diri.


"Semoa paman Hamillton kembali pulih" batin Dikra yang ia panjatkan seperti doa, rasanya Dikra sangat sedih atas nasib keluarga ini, bahkan Dikra tidak ingin membayangkan bagaimana jadinya jika Tuan Hamillton meninggalkan anaknya. "Astaga, apa yang aku fikirkan" sesal pria itu apda fikiranya sendiri.


*

__ADS_1


Kediaman petrov.


Airyn tengah uring-uringan diatas ranjang tidurnya, gadis itu sangat lelah setelah bekerja selama 3 hari lebih, rasanya Airyn ingin pergi ke pantai untuk menghabiskan waktu sendirian, menikmati senja di sore hari yang cerah, mendengarkan alunan pasir yang terhempas oleh air laut, hingga merasakan senyar angin yang merambat ke kulitnya, Airyn ingin sekali berjemur di tepi pantai mengunakan pakaian bikini yang elegan di padukan kaca mata klasik yang di milikinya, di tambah menyeruput es kelapa muda menjadi pelengkap atas tamasya yang mengembirakan.


Sayangnya kesibukan bekerja di padukan sekolah membuat Airyn tidak memiliki waktu emas untuk dirinya sendiri, meskipun ia punya segalanya dan bisa pergi kemanapun yang Airyn inginkan, semua itu hanya akan menjadi percuma saat seseorang tidak memiliki waktu, begitulah Airyn saat ini, tuntutan pekerjaan mengharuskan dirinya kehilangan moment untuk diri sendiri, kesibukan bekerja membuat Airyn sadar jika ia semakin jauh dari hubungan sesama manusia, bahkan berkencan dan berteman menjadi sangat sulit ketika seluruh waktunya di sita untuk mengejar dunia dan uang.


Tapi Airyn juga tidak berniat untuk menjalin hubungan yang di dasarkan pada hati dan nurani, karna semakin kita memiliki banyak orang, semakin kita memiliki peluang untuk kehilangan, bahkan saat ini Airyn sudah bersusah payah untuk bertahan dan memperbaiki hatinya, hingga menangisi kepergian Ayahnya saja Airyn masih belum bisa, lantaran rasa sakit kehilangan lebih pedih dari sekedar air mata.


“Nona Petrov” putus seorang wanita bernama Merry Laurent, wanita itu adalah orang kepercayaan Airyn dan bahkan sudah bersama Keluarga Petrov semenjak ia lahir, Airyn tidak pernah tahu kenapa orang sekelas Merry mau megabdi dan tinggal dengan dirinya, bahkan Airyn tidak mengerti hingga detik ini Merry yang menjadi wali atas dirinya, jika bukan karna wanita itu mungkin APV Petrov tidak akan berjaya, bagaimanapun tidak bisa Airyn pungkiri bahwasanya Merry Laurent adalah otak di balik kesuksesan Grup APV etrov, bahkan jika dia mau wanita itu bisa saja membuat perusahaan baru dan Airyn menjamin ia akan tergeser dengan kedudukanya, beruntung wanita itu bersekutu denganya, hingga APV petrov tidak memiliki saingan yang sulit teratasi.


“Apa anda yakin akan membiarkan Grup HS bangkrut Nona?” tanya Merry kehadapan gadis itu yang sebenarnya adalah seseorang yang berharga di hidupnya.


“Apakah itu salahku Merry? Apakah salahku jika nanti mereka bangkrut?”

__ADS_1


“Tidak nona, aku tidak bermaksud menyalahkan mu, sebenarnya-“


"Merry! Aku sudah malas membahas hal ini pada mu, sedari awal aku sudah bilang bukan, jika diriku tidak akan mau menyentuh siapapun yang tidak menyentuh diriku. Dan kali ini perusahaan HS sudah melampaui batasanya, apakah salahku jika saat ini mereka mengalami krisis, aku hanya membalas apa yang mereka lakukan saja, apakah aku berlebihan, bahkan anak kecil yang tergigit anjing saja bisa menangis apa bedanya dengan diriku”


“Aku mengerti, hanya saja Berto baru mengabari jika Tuan Besar Hamillton di larikan kerumah sakit tepat setelah anda mengubunginya”


Sungguh kening Airyn berkerut dalam, apa maksud wanita itu sebenarnya, apakah ia tengah mengatakan jika pria tua itu hilang kesadaran akibat dirinya, padahal Airyn hanya bicara dengan sopan dan penuh akan kata-kata tertata untuk memperingatinya, bahkan Airyn tidak membentak sebab ia sadar pria itu adalah orang tua dan dulu beliau pernah menjadi rekan ayahnya di masa lampau.


“Jadi?” tanya Airyn dengan penuh selisik ketika ingin mencari jawaban atas maksud dari apa yang Merry sampaikan.


“Nona Airyn.....” lirih wanita itu dengan helaan nafas pendek sembari melingkarkan kedua tanganya ke belakang, ia bicara tegas dan penuh akan wibawa, karna nampaknya bersikap lembut hanya akan membuat dirinya terintimidasi oleh Airyn. “Aku sangat bangga padamu, bahkan aku masih memaklumi bagaimana kau bekerja hingga saat ini, tapi jika hanya karna bisnis kau lupa cara menghargai orang lain, lebih baik kau cepat sadar diri untuk menenangkan diri sendiri. Bukankah pernah aku katakan, untuk mencapai posisi puncak yang di butuhkan buka cara bertahan hidup, melainkan cara berdamai dengan posisimu sendiri, jika kau tidak menerima dan menghargai orang lain dan hanya mementingkan kemenangan semata, percaya padaku dalam hitungan detik kau bisa di goyangkaan, meskipun dengan angin yang sangat ringan dan berhembus lambar, tapi jika kau bisa kuat di kakimu dan berdamai pada dirimu, kau akan bertahan meskipun sekencang dan selemah apapun masalah yang menerjang, kau tahu kenapa bisa seperti itu….” ucap Merry saat menanguhkan perkataanya, Airyn yang mendengarkan wanita itu hanya diam membisu untuk mencerna perkataanya, membuat Merry melangkah maju sembari menatap kedua bola mata anak kecil yang dulu pernah ia gendong dan ia besarkan. “Karna kau hanya mengunakan otak mu, bukan hatimu. Jika kau hanya mengunakan otak saja tanpa ada nurani, percayalah. Posisi ini akan sebentar kau pijaki” ucap Merry dengan nada penuh peringatan, bahkan ketika Merry bertutur tegas penuh akan maksud membuat Airyn terpaku memandangi dirinya.


*Apakah itu salahku? Hanya itu yang sedang Airyn perdebatkan dengan hati dan fikiranya, terkait kata-kata Merry barusan, apakah ia tengah mengatakan jika Airyn tidak memiliki nurani? Tapi rasanya Airyn memang sudah membuang jauh yang namanya perasaan dan juga hatinya, lalu untuk apa lagi Merry berkata dengan menyebalkan hingga Airyn ingin sekali menghancurkanya namun memiliki rasa yang sulit untuk Airyn terka.

__ADS_1


"Sialan!!!" teriak Airyn dengan geram, hingga membuat Merry mendengar perkataan gadis itu dari arah luar, bahkan Merry menyandarkan pungung di balik pintu kamar untuk menangisi sikap Airyn yang sebenarnya adalah darah daging Merry Laurent, dan merupakan anak biologis dari Merry*.


__ADS_2