Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story of Hansell Chapter : 31] Airyn bukanlah orang jahat.


__ADS_3

"Maaf Airyn" ucap Hansell. "Aku tidak sengaja menyentuhmu, karna pengendara ugal-ugalan itu" terusnya.


"Kenapa kau minta maaf, seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Jika kau tidak menyelamatkanku, mungkin aku akan terluka sekarang" kejar Airyn untuk membantah.


"Meskipun begitu, tetap saja aku salah, sudah bersikap keterlaluan padamu" imbuhnya dengan segera.


Hansell memaksakan senyum kecutnya atas ketidaksadaran diri, ia terlalu bersemangat malam ini, sampai lupa siapa dirinya bagi Airyn.


Melihat hal itu, Airyn hanya mampu diam untuk membalas Hansell, rasanya ia tidak bisa menjelaskan apapun setelah membuat suasana mereka terasa begitu asing.


"Ayo jalan, di depan sana ada minuman enak yang mungkin akan kau sukai" ajaknya, bahkan rasa cangung mulai mengental tanpa mampu di cairkan seperti semula, meskipun begitu, tidak ada yang bisa Airyn lakukan, karna ia tidak bisa membujuk seseorang.


Hansell membelikan ice cream rasa Red Velvet yang sangat lumer di indra perasa Airyn, sedangkan di tangan satunya lagi ada rasa tarro yang tengah menunggu giliran untuk dieksekusi, sedari tadi lidah itu tak henti menjilati objek makanan yang menjadi mangsanya, Airyn terus saja berjalan dengan dua ice cream di tanganya tanpa mempedulikan bagaimana blepotan Ice Cream itu di permukaan mulut.


Dengan telaten Hansell menyapu bersih sisa-sisa, memberikan sentuhan lembut agar pandangan gemasnya menghilang, sebab Airyn tidak terlihat jelek meskipun polesan Ice cream memenuhi permukaan bibir, malahan ia sangat lucu hingga Hansell ingin sekali mencubit dengan penuh gemas.


Airyn menepis berulang ulang tangan itu, sambil memancarkan mata dengan tajam, seperti seekor rubah betina yang ingin menyerang jika lawanya mencoba macam-macam, tentu saja Hansell tidak menyerah semudah itu, ia malah ingin mengoda dan terus membantu Nona Petrov menyingkirkan noda di mulutnya.


"Apakah seenak itu" tanya Hansell ketika senyum samar ia tarik di sudut bibirnya.


"Tentu saja, bahkan sudah lama aku tidak merasakanya"


"Kenapa? Bahkan jika kau ingin, mungkin kau bisa membeli dengan gerobaknya" tanya Hansell.


"Apa kau bodoh, aku hanya seorang diri, untuk apa membeli ice cream sebanyak itu, lagian ice cream tidak nikmat jika di rasakan sendirian apalagi di tempat sepi, hanya di tempat ramai seperti inilah rasa Ice cream akan menjadi sangat manis"


Sungguh mata Hansell terpaku diam, tatkala pandangan Airyn memancar dengan rasa berbeda, memangnya seperti apa kehidupan nona Petrov selama ini?


Kenapa Airyn seperti menyiksa dirinya sendiri, membatasi diri dari lingkugan dan menjauh dari rasa manis serta kebahagiaan.


Airyn yang seperti itu, sungguh menyakiti Hansell, ia ingin menjadi seseorang atas kesedihan nona petrov, menjadi sosok yang ada di balik pintu yang ia bangun sangat kokoh, menjadi orang satu-satunya untuk Airyn memeluk kegelapan, Hansell ingin hadir menjadi sosok penting baginya, memberikan galak tawa, kebahagiaan yang sempurna, serta cahaya untuknya.


Apakah Hansell bisa? Tidak-tidak....apakah Airyn menerima**nya?


Mereka melangkah dengan cukup lamban, Hansell masih terpaku diam sedangkan Airyn memandang pedagang jalanan yang sedang memamerkan barang-barang jualan, gadis itu membisu diam ketika orang-orang mampu bekerja di cuaca dingin yang bisa-bisa menembus tulang, bahkan suhu malam semakin mencengkram, jika hanya duduk saja di lapak dagangan.


"Apa kau mau itu?" tawar Hansell ketika mata Airyn terpaku melihat seorang pria parubaya yang sedang duduk di samping meja aksesoris yang ia pajang.

__ADS_1


"Tidak-"


Namun, Hansell menarik paksa tangan Airyn, untuk menepi dari kerumunan pejalan kaki, mata Airyn lumpuh melihat sikap Hansell, yang terlihat sangat bersemangat mengajaknya.


"Salamat malam Tuan, wanitamu cantik sekali" sapa seorang pria dengan penuh ramah, bahkan membuat Airyn dan Hansell sedikit kelu untuk bersikap.


"Apa kalian pacaran?"


"Tidak" saut Airyn dengan segera, namun Hansell hanya diam saja.


Sungguh Airyn menjadi sangat asing setelah membantah pertanyaan itu, ia tidak mengerti kenapa dirinya menjadi kaku sekali, hingga perasaan tidak enak hati, terus dirasakanya pada Hansell.


"Apa kau mau sesuatu?" tawar Hansell Hamilltom dengan segera, seolah ia tidak terluka atas apa yang Airyn lakukan barusan.


Membuat gadis itu memandangi aksesoris jalanan yang ada di depan matanya. Apa yang harus Airyn pilih, bahkan ia tidak pernah membeli barang seperti ini, biasanya perhiasan atau apapun selalu di belikan Merry dan di kirim langsung ke alamatnya dengan sampul luar yang paling elegan.


Tapi kali ini ia membeli sesuatu yang tidak terlihat mewah, bahkan barangnya hanya kwalitas rendah, namun nampaknya sangat hangat untuk menjadi kenang-kenangan.


"Entahlah..." balasnya dengan penuh bingung, membuat tatapan Hansell menatap rindang ketika wajah teduh itu sunguh meluluhkan.


"Apakah ada sesuatu yang cantik untuk di kenakanya?" terus Hansell atas pertanyaan yang ia layangkan ke pedagang itu, bahkan pria parubaya yang tak lepas memperhatikan Airyn, seketika di buat buyar atas pertanyaan Hansell.


“Ini...." imbuhnya, ketika menunjukan sebuah gelang kaki kehadapan Hansell. "Pakailah gelang kaki ini untuk wanitamu, biasanya orang sangat jarang menggunakan gelang kaki, namun untuk wanita secantik kekasihmu, berikanlah gelang kaki yang aku miliki, tentu saja gelang ini sangat berguna untuk melengkapi keindahan di sekitar mata kaki wanita, makanya aku memilihkan gelang kaki yang indah untuk gadis yang indah malam ini” terusnya sembari menyodorkan dua pasang gelang kaki kehadapan Hansell, bahkan ada kotak perhiasan yang mungkin dengan harga rendah untuk pelengkapnya.


Airyn sungguh malu mendenagar percakapan dua orang itu, bahkan ia tidak mengerti kenapa Hansell bersikap seperti ini padanya, seolah-olah menjelaskan jika mereka berdua adalah pasangan kekasih saja.


Baru saja Hansell menyetujuinya, ia langsung mengambil beberapa uang kertas untuk membayar pria yang sedang berjualan itu, Hansell merasa sangat senang atas ucapan yang di berikannya, meskipun perkataan itu tak lebih dari sekedar gimick menarik Pelanggan, namun pujianya pada Airyn mewakili apa yang Hansell rasakan.


"Tuan ini terlalu banyak, kembalianya..."


"Tidak perlu" bantah Hansell dengan segera, membuat Pria itu tersenyum manis sambil mengucapkan terimakasih.


Sesaat Hansell menundukan diri untuk berlutut di hadapan Airyn, pria itu menyentuh kaki gadis yang sangat ia sukai, bahkan Hansell membuka sepatu yang di kenakan Nona Petrov tanpa sungkan.


"Hansell apa yang kau lakukan" tolak Airyn dengan tidak enak hati, bagaimana mungkin Hansell Hamillton berlutut di hadapanya dan menyentuh kakinya, tentu ini akan terkesan tidak sopan.


"Airyn, tenanglah. Aku akan mengenakanya untukmu" bantah Hansell penuh paksaan, bahkan saat Airyn ingin menarik kakinya, pria itu dengan segera menahan agar Airyn tidak boleh bergerak.

__ADS_1


Sungguh Airyn, tidak memiliki pilihan lagi, selain mengizinkam Hansell berlutut untuk memasangkan aksesoris di kaki Airyn, pria itu melakukanya dengan penuh lembut, rasanya hal seperti ini tidak meruntuhkam harga dirinya, bakah ia merasa sangat bangga bisa memperlakukan Airyn penuh harga diri di hadapan semua orang.


Hansell melingkari gelang kaki di mata kaki Airyn, membuat gadis itu tertegun diam atas perlakuan yang di berikan padanya, matanya melumpuh tatkala pria yang penuh akan harga diri dan kesopanan itu malah bersikap di luar prinsipnya, ada apa dengan Hansell, kenapa ia selalu berbeda sampai Airyn kebingungan dengan sikapnya.


Sungguh, rasa asing menghantam dadanya dengan keras, dentuman itu bergemuruh ricuh hingga tak terbendung, ketulusan Hansell mampu di lihat oleh tatapan naifnya, bahkan seluruh pejalan kaki disana terjeda untuk sekedar singgah, memperhatikan dua pasangan yang cukup mengundang iri dan mengandung kagum.


"Gadis itu beruntung sekali" itulah kata yang terdengar di telinga Airyn dengan penuh sopan.


“Hansell apa yang kau lakukan, kau membuat aku malu, cepatlah berdiri” seru Airyn hingga membuyarkan keterpakuanya barusan.


Namun Hansell masih sibuk mengunakan gelang kaki itu dengan sangat sempurna, meletakan di tempat yang indah hingga ukuranya saja memang tercipta khusus untuk gadis yang Hansell sukai.


“Sebentar......” ucap pria itu sambil mengikat kembali tali sepatu Airyn yang di lepaskannya.


Hansell berdiri setelah berhasil mengunakanya, mata itu memandangi gadis yang sangat menyebalkan namun terus membuatnya berdebar, Hansell sadar Airyn tidak nyaman menjadi obyek pandangan mereka, namun Hansell ingin menunjukan pada dunia, jika hatinya tengah mengejar wanita mengerikan ini.


Sungguh Airyn berdebar, ketika kedua mata mereka sedang bertatapan penuh sendu.


Sungguh....... tatapan yang sangat jarang di tampilkan Airyn selama ini kepada pria lain, malam ini ia pancarkan dengan hangat kehadapan Hansell.


Airyn membalas tatapannya, apakah Hansell boleh mengartikan jika Airyn sedang membalas perasaanya juga?


Karna gadis berbahaya itu, biasanya hanya memancarkan sinar kemurkaan dan kemarahan pada siapapun yang berani menganggunya, namun kali ini berbeda, Airyn membuat suatu gejolak merambat masuk ke relungnya, memberikan kehangatan atas pandangan yang sedang terbalas, gadis itu sungguh melelehkan kebencian yang selama ini terus Hansell rasakan, hingga berubah menjadi cinta yang seutuhnya.


“Ayo kita pergi”


Tanpa fikir panjang, Hansell menarik tangan Airyn untuk berlalu penuh bangga, ia yag tadi enggan untuk menyentuh raga itu, kali ini mengandengan Airyn dengan percaya diri.


Sungguh, wanita yang dulunya sangat di benci olehnya, wanita yang sama sekali tidak mungkin menjadi pilihan hidupnya, hingga wanita yang paling mengerikan di belahan bumi ini, ternyata meluluh lantahkan hatinya, wanita itu adalah Airyn Petrov sang Nona Petrov yang mengerikan.


Sifat yang bertolak belakang tentu saja alasan utama atas ketidak mungkinan yang terjadi, namun kali ini semua orang bisa melihat bagaimana Hansell melihat Airyn dari versinya yang paling berbeda.


Airyn benar-benar merubah seluruh pandangannya tentang wanita, Airyn merubah segala hal yang tidak mungkin menjadi mungkin, kebencianya berpasangan kali ini berubah menjadi sudi yang sempurna.


Hansell mengerti, Airyn memang bukan orang baik namun Airyn bukanlah orang jahat.


Gadis itu sama sepertinya, memiliki luka yang mengiris, duka yang paling bengis, masa lalu yang tak manis, serta penyesalan yang tak pupus, bahkan saat ini, ia sedang melaksanakan penghukuman, atas takdir alam yang seharusnya bukan tangung jawabnya.

__ADS_1


Tapi kenapa raga Hansell dengan kurang ajar pernah merongseng dirinya, seolah-olah Airyn paling keji sedangkan dirinya sang mulia yang bersembunyi di balik topeng kelayakan. Astaga......Hansell ternyata inkonsisten.


__ADS_2