
“Aku ingin menemui papa” tegas Hansell ketika bicara sambil lalu, ia bahkan meremukan berkas yang di dapati dengan sangat menjengkelkan itu.
“Baik Tuan” balas Darrel saat mengikuti langkah tuanya, sungguh banyak penyesalan yang mendera ketika apa yang sudah di upayakan ternyata tidak di terima oleh Hansell Hamillton, sebagai penanggung jawab atas hal ini, tentu saja Darrel akan menembus kesalahanya.
Malam itu kekesalan memuncaki seluruh ruangan di hati pria itu, ia tidak henti membentak siapapun yang dirasa sangat meresahkan, bahkan banyak kata yang Hansell tusukan dengan tajam hingga membuat Darrel begitu kalah talak berkali-kali, jika tau semua yang terjadi akan separah ini, sungguh Darrel tidak akan mau melanggar otoritas Hansell Hamillton, sebab pria ini sangat luar bias lembut dan pengertian, namun ketika marah amatlah menyeramkan, hingga sekarang saja tubuh Darrel masih bergindik ngeri setiap lontaran kata yang di ucapkan sungguh menyayat hati.
Baru saja mobil yang di tumpanginya terhenti di depan pintu rumah, Hansell keluar dari kabin penumpang seraya melongarkan kancing jas yang di kenakan, pria itu membuang jauh jas yang melekaat dengan sempurna untuk megatur kesesakan yang memenuhi rongga dada, Hansell mendobrak pintu kerja papanya dengan penuh kekesalan dan emosi, ia bahkan melemparkan laporan yang tidak utuh itu untuk diminta penjelasan dari beliau.
“Apa maksud semua ini?” tanya Hansell tanpa tawar menawar lagi.
"Apa maksud sikap mu ini”
“Papa lebih tahu maksud diriku, apa papa tidak berfikir sebelum melakukan hal ini” tegas pria itu dengan penuh geram.
“Kenapa memangnya?"
“Bukankah sudah aku katakan berulang-ulang, jangan coba-coba menyentuh sesuatu yang bukan ranah kita, tidakan kau sadar bagaimana besarnya koneksi gadis itu, apa kau tidak sadar siapa Nona Petrov itu sebenarnya” kesal Hansell dengan penuh geram.
“Lalu kenapa? Bukankah sudah aku katakan sebelum lawanmu menerkam kau harus bersiap-siap menyerang. Dan saat ini Nona Petrov hampir menguasai sebagaian Asia dan kau hanya berdiam diri saja, kau seharusnya sadar Hansell jika terus mengalah tanpa melakukan apapun, kau akan sampai di posisi bawah, aku melakukan sejauh ini hanya untuk mu”
__ADS_1
“Untuk ku? Apa yang kau lakukan untuk ku, kau hanya akan membuat perusahaan kita hancur. Apa kau tidak tahu siapa yang saat ini ada di tangan Nona Petrov, gadis itu mengantongi anggota kerajaan dan merupakan orang terpercaya dalam sektor ekonomi, bukan hanya Asia yang ia kuasai, melainkan ia sudah menguasai Eropa hingga keseluruh bidang, bahkan dari segala bentuk bisnis ada di tanganya, dengan ancaman ini sangat mudah untuk pihak APV bangkit, karna ia tidak akan kehabisan peputaran modal sekalipun mengalami keanjlokan fatal, sebab seluruh Bank di Eropa berada di bawah genggaman tanganya, dan kau melakukan segala hal ini tanpa perhitungan, tidakah kau sadar jika saat ini kita bukan untuk menyerang, melainkan mengelitik lawan” jelas Hansell dengan penuh tegas, membuat Tuan Besar Hamillton terpana atas perkataan anaknya.
“K-Kau, kenapa kau diam saja jika tahu semua itu”
“Bukankah sudah aku peringati berulang-ulang untuk tidak menyentuh APV Petrov, bukankah sudah aku peringatkan untuk mundur dan membiarkan mereka, bahkan aku sangat jelas menolak kerjasama itu karna kau tau apa yang aku temuai saat di Inggris. Nona Petrov membuat deligasi keseluruh bagian Eropa untuk memperkuatnya dirinya, bahkan ia membangun orang-orang hebat sebagai tamengnya dalam bertahan, dan yang paling terpenting. Dia anggota VVIP di markas utama yang di lindungi oleh organisasi itu”
Sontak jantung Hamillton berdesir sakit, ia tidak menyangka Airyn Petrov yang masih kecil itu sekarang menjadi sangat ganas dari bayanganya, pantas saja anaknya berulang kali untuk menolak dan tidak ingin berurusan dengan Airyn sebab Hansell mengetahui fakta luar biasa ini, tapi dari mana Hansell mengetahuinya, jangan katakan bahwa dia mengambil tahta sebagai pemimpin markas besar.
“Ka-Kau dari mana mengetahui hal ini?” bentak Hamillton pada putranya.
“Kau tenang saja Pa, aku tidak akan mau mengambil bagian dalam markas itu, tapi aku memiliki orang kepercayaan yang bisa memberikan informasi apapun yang aku butuhkan” sungguh dada pria tua itu sangat longar seketika, untung saja anaknya tidak mengambil bagian dalam organisasi tersebut, setelah bersusah payah keluar dari jajaran kepengurusan.
“Jika kau tidak berusaha sendirian, dan menutupi fakta ini semuanya tidak akan terjadi. Sampai kapan aku akan berdiam diri di posisi aman dan tidak membuat perubahan untuk kedepanya Hansell, apa kau fikir diusia ini kau bisa sukses jika terus begini. Aku melakukan semua ini untuk dirimu, untuk membuatmu belajar jika di dunia ini tidak ada yang namanya zona aman, tapi kau selalu kokoh dengan prinsipmu yang tidak mendasar itu, apa yang kau fikirkan, apa kau hanya bertahan untuk sekedar dapat makan saja, kau sadarlah siapa keluarga kita dan saat ini terkalahkan dengan APV petrov yang dulunya bukan siapa-siapa” geram Hamilton pada putranya.
“Bukan siapa-siapa? Sebanarnya ada masa lalu apa diantara keluarga kita dan APV petrov? Bahkan nampaknya kau tidak ingin mereka melebihi keluarga Hamillton”
“Tentu saja tidak!! Karna mereka memang tidak pantas untuk itu” tegas pria paruh baya itu pada putranya. “Kau akan tahu jawabanya nanti, dan semoga kau tidak akan terluka dengan apa yang kau ketahui itu”
“Apa maksud mu” kesal Haansell pada papanya, hingga Hamillton memegangi dada yang dirasa sangat sakit, bahkan rasanya ada yang meremukan dari arah dalam hingga pria paruh baya itu tumbang.
__ADS_1
“Pa-Papa!!” teriak Hansell dengan terpana, bahkan ia tidak percaya papanya akan seperti ini disaat tergenting, dengan siaga dan penuh cemas Hansell meraih tubuh ayahnya untuk meneriaki Darrel agar membantu, bagaimana kagetnya pria itu mendapatkan Tuan Hamillton yang sangat kesulitan dalam bernafas, hingga beberapa iring-iringan mobil membuka jalan untuk membawa ayah Hansell menuju rumah sakit.
Sudah lebih dari dua jam Hansell menunggu di luar ruangan, bahkan saat ini ada Angeline yang menangis sedari tadi bersama dengan Dikra disisi adiknya, bahkan Hansell tidak menyangkaa jika papanya akan menjadi separah ini karna perdebatan mereka, bahkan Hansell tidak percaya jika beliau tengah terbaring di rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri.
Beberapa saat setelah itu, seorang gadis berjalan menghampiri mereka, gadis itu ialah Hellena yang menuju kearah Hansell, gurat cemas penuh rasa empati tinggi mampu Hansell kenali di wajahnya, mungkin dengan kehadiran Hellena bisa menenangkan adiknya yang sedari tadi tak henti-hentinya menagis.
Hellena memeluk Angel seraya menenangkanya, bahkan untuk pertamakalinya Hansell menaruh perhatian pada wanita itu, jika di ingat lagi hanya gadis itu yang bertahan dan selalu ada untuk adiknya, bahkan Hellena mampu memberikan dukugan emosional yang tidak bisa Hansell berikan pada Angeline.
“Kak hansell” lirih Hellena ketika menghampiri Hansell setelah berhasil menenangkan Angel, membuat pria itu membalikan badan seraya meliriknya. “Kakak harus tenang, dan doakan yang terbaik untuk paman” terus Hellena dengan penuh kasih seraya mengusap pundak Hansell sebagai sumber kekuatan.
“Terimakasih Hellena” balas pria itu dengan senyum getir yang ia paksakan, rasanya tak ada yang bisa di lakukan lagi selain menenangkan diri sendiri.
“Apa kakak sudah makan malam?” tanya gadis itu untuk sekedar basa basi.
“Aku sudah makan, tapi Angelinr belum makan sedari tadi” ucapnya saar melirik kearah Angeline, membuat Hellena memandangi Angel yang duduk di kursi panjang di sudut dinding, nampaknya dimata Hansell tidak pernah ada wanita manapun selain adiknya. “Jika boleh, kau ajak saja Angel untuk mengisi perutnya, aku takut terjadi sesuatu padanya jika terus banyak fikiran dengan perut kosong” terus pria itu dengan penuh harap, membuat Hellena menganggukan kepala dengan sedikit terpaksa.
Padahal ia kerumah sakit ini hanya untuk menemui Hansell dan memberikan perhatian lebih padanya, tapi kenapa setiap kali Jellena ingin mendekati Hansell selalu saja Angel menjadi orang yang mengagalkan rencana, dan sialnya gadis itu tidak pernah memiliki keinginan untuk menjodohkan Hellena dan kakaknya, bahkan rasanya tidak mungkin untuk Hellena yang memulai pembicaraan itu, bisa-bisa Angel akan menjauhinya, padahal ia sudah sejauh ini dan mungkin hanya tinggal selangkah lagi untuk mendapatkan Hansell.
Angel dan Hellena berlalu dari sana, sedangkan mata Dikra menatap kearah wajah kecewa yang di tampilkan Hellena, sebuah senyum penuh ejekan ia ulaskan dengan geram seraya menepuk pundak Jansell untuk mengajaknya duduk, bagaimanapun pria itu sudah sedari tadi berdiri dengan penuh cemas dan takut.
__ADS_1