
Kedua pasang manusia itu duduk ditepian bukit, mereka melihat hamparah hijau di sekitarnya, bahkan pergunungan ini sangatlah indah hingga membuat Airyn tidak akan mungkin melupakan kenangan itu, entah melupakan rupa sang alam yang begitu mempesona atau kehadiran ragawi yang sangat indah di sampingnya.
“Apa kau suka perkemahan musim panas ini?” tanya Hansell dengan ingin tahu.
“Tentu saja” balas Airyn penuh yakin, bahkan ia merasa sangat bahagia seolah tak ada rasa lelah dan frustasi yang menimpa, biasanya Airyn tidak akan bisa jauh dari yang namanya pekerjaan, namun untuk 4 hari kedepan ia akan berada diatas gunung tanpa akses internet, membuat Airyn benar-benar menikmati hidupnya semenjak ada Hansell.
“Kenapa kau tersenyum sendiri, apakah ada yang lucu?” terus pria itu saat mencondongkan tubuh kearah depan sambil menyelisik menatap wajag Airyn.
“Apakah aku tidak boleh tersenyum, kenapa kau selalu bertanya” dengkus gadis itu sambil mencebikan bibirnya.
“Apakah salah aku bertanya, bukankah kau ini aneh sekali, sedikit-sedikit marah” saut Hansell dengan tidak terima.
“Lalu kenapa kau masih berteman dengaku, jika aku sangat aneh. Bertemanlah dengan orang-orang yang yang normal, jika aku terlalu aneh untuk menjadi teman mu”
“Teman?” beo Hansell dengan jengkel, rasanya ada yang mengusik relung hatinya ketika Airyn mengakui hubungan ini sebatas teman semata, hingga tatapan Airyn terpaku diam kearahnya.
“Tentu saja, lalu apa lagi” saut Nona Petrov penuh kegugupan, bahkan ia terlalu cemas atas tatapan panjang dari Hansell Hamillton. “Kenapa dia menatapku seperti itu” gumam Airyn dengan penuh pertanyaan, hingga pria itu membalas.
“Apakah tidak bisa lebih dari teman” seketika Airyn terdiam, apa maksud dari pertanyaan pria itu, lagian apakah ia tidak bisa menjelaskan sesuatu sebelum melontarkan argumen, bahkan Airyn tidak mengerti harus menjawabnya dari mana, kelebihan seperti apa yang ia minta, apakah sahabat? Bagaimanapun sahabat dan teman dua makna yang berbeda, dan Airyn sangat menganggap Hansell cukup istimewa, sebab tidak mudah untuk menjadi sahabatnya, namun mengingat mereka berdua berbeda gendre, bisa saja Airyn melihat kelebihan ini dari segi berbeda, misalnya saja pasangan kekasih ataupun sebuah hubungan pacaran, tapi kenapa? Rasanya tidak mungkin Hansell meminta hal itu. Bagamanapun Hansell pasti tidak akan menyukainya, bahkan dengan latar belakang Airyn yang mengerikan hingga pengaruhnya yang mematikan, sampai akirnya Hansell sadar seberapa besarnya Airyn terlibat dalam permainan kotor, membuat Airyn meragukan dirinya sendiri untuk di jadikan kekasih oleh seseorang, apalagi sekelas pria baik-baik dari Hansell Hamillton.
“Airyn…….” putus Hansell di tengah analisis Airyn yang sedang bekerja, bahkan gadis itu membeku dengan diam, seolah Hansell mengamati ia sedang tidak baik-baik saja. “Bernafaslah........” terusnya penuh kecemasan, ketika gadis itu tidak menghentikan jalur oksigen yang ia kelola dengan baik akibat terlalu kaget, apakah secemas itu dirinya hingga terlihat mengkhawatirkan, nampaknya Hansell perlu berjuang lagi.
“Astaga……aku hampir lupa” teriak Airyn dengan tidak menyangka, apakah dia bodoh, sampai-sampai lupa bernafas atas ungkapan Hansell yang mendebarkan.
“Apa yang kau fikirkan, kenapa kau sangat kaget, apakah perkataanku membuatmu tertekan”
“Tidak, aku-“
“Jangan di fikirkan apa yang aku katakan, lupakan saja........ aku hanya bercanda” putus Hansell ketika menghentikan pembicaraan gadis itu. “Lagian aku hanya bercanda, bukankah kita teman, jadi apa lagi, selain itu aku akan terus menjagamu dengan baik, maaf jika kata-kataku barusan mengagetkan mu” terus Hansell dengan segera, membuat Airyn terpana atas apa yang dibicarakan pria itu.
“Teman ternyata” ungkapnya dengan nada rendah, bahkan Airyn hampir berdebar tak karuan ketika logikanya dengan bodoh mengharapkan hal yang lebih. “Astaga Airyn, kenapa kau memalukan sekali, untunglah kau tidak melakukan kebodohan apapun” batin gadis itu dengan penuh syukur ketika dirinya tidak bicara yang keterlaluan.
“Ayo kembali” putusnya dengan segera, saat mendapati warna langit hampir berubah menjadi merah, bahkan Airyn berdiri dari duduknya disusul oleh Hansell yang juga bangkit dari sana.
Airyn tersenyum manis ketika mengamati bagaimana bumi tengah menuju setengah gelap, hingga tatapan Hansell melumpuh teduh pada gadis yang tersenyum indah di depan kedua matanya, mereka bergandengan menuju kearah keramaian, bahkan langkah kaki keduanya menjadi saksi bisu ketika piringan matahari secara keseluruhan telah hilang dari cakrawala, sampai akirnya keduanya melebur dalam keramaian, ketika beberapa siswa dan guru berkumpul dititik tengah.
Hansell tersenyum manis kali ini, bahkan ia berdiri tepat di samping Airyn hingga pria itu tidak menyangka perkemahan musim panas semakin menyenangkan untuk masuk dalam liburan paling membahagiakan, bahkan tanpa sadar Hansell meraih tubuh Airyn untuk mendekat kearahnya ketika desakan orang ingin mengambil posisi kearah depan.
“Apa semuanya sudah berkumpul” teriak seorang pria dewasa yang memandu acara hari ini.
__ADS_1
“Sudah pak” sahut beberapa perwakilan kelompok yang tengah memastikan anggotanya, dan Hansell salah satu diantara mereka, membuat pria itu menganggukan kepala dengan begitu puas atas kerjasama tim yang sangat solid.
“Untuk mengawali malam ini, bapak akan memberikan perwakilan kelompoknya sebuah pin untuk menanda jika kalian adalah orang yang bertanggung jawab pada setiap kelompoknya, karna malam nanti kita akan mengadakan pesta api unggun yang akan dilaksanakan di tengah hutan, jadi bapak punya sesuatu yang cukup seru nanti malam" hingga tepukan tangan dari semuanya memeriahkan acara. "Dari kesepakatan guru dan tim pemadu acara bapak akan menjelaskan beberapa hal untuk menikmati perjalanan agar tidak membosankan, jadi ada 3 jalur yang sudah kami siapkan untuk kalian, dan setiap jalur memiliki tanda untuk menunjukan arah tujuan kalian, tugas kalian adalah menuntun anggota kelompok dan menjaga semuanya agar selamat, apakah ketua timnya mengerti”
“Mengerti pak” teriak semuanya, membuat Hansell menganggukan kepala sambil melirik kearah Airyn, ia sedang berfikir, apakah ini baik-baik saja untuk gadis itu, atau apakah Hansell perlu memberikan perhatian lebih pada gadis yang ia sukai, tapi Airyn tidak suka di perlakukan berlebihan, bahkan ia sangat risih ketika sikap Hansell seperti itu, sungguh Hansell sulit sekali memahaminya.
Beberapa siswa sibuk bercengkrama, bahkan tim pemandu acara sedang membagikan lotre untuk masing-masing siswa mencabutnya, sedangkan Airyn. endapati jalur pertama, bahkan tatapan Airyn tengah mengamati bagaimana wibawa Hansell sebagai seorang pemimpin, sungguh Airyn sulit menghentikan tatapan ini.
“No-Nona….ehh tidak Airyn” putus seorang gadis yang menghampiri Airyn, rasanya berbicara pada Nona Petrov membuat tubuhnya hampir membeku, namun gadis itu memberanikan diri bersama 3 gadis lainya, tentu Airyn tersenyum membalas sapaan itu, bagaimanapun mereka sudah mengerti jika Airyn tidak suka di hormati, apalagi dengan anak seusianya. “Apakah kau mau bergabung dengan kelompok kami, bagaimanapun harus ada 3 kelompok untuk pergi pada satu jalur, dan kami mendapatkan jalur pertama seperti kelompokmu, apakah tidak masalah kami bergabung dengamu Airyn?”
Hingga Airyn menarik senyum dengan kecut yang hampir saja tak terlihat, apakah sebegitu takutnya mereka pada Airyn, hingga meminta izin terlebih dahulu padahal keputusan sudah dibuat secara adil. “Tidak apa-apa, bahkan aku yang berterimakasih jika kalian mau menerimaku”
“Apa maksud anda, eh tidak….apa maksudmu Airyn, kami sangat senang bisa mengenalmu” ungkap mereka dengan segera, nampaknya kecangungan itu tidak mudah untuk diubah, bahkan membutuhkan waktu untuk mereka terbiasa.
Hingga percakapan para gadis itu membuat Airyn dan beberapa murid saling berbincang, bahkan mereka hampir terbiasa memanggil gadis itu dengan sebutan Nona Petrov, nampaknya Nona Petrov tidak semengerikan yang di bicarakan oleh orang tua mereka, bahkan Airyn terlihat sebegitu polos lantaran ia mengatakan ini kali pertama dirinya menghadiri perkemahan musim panas, bahkan membuat mereka sedikit suka berbincang denganya akibat ia sangat pandai menempatkan setiap katanya, sungguh gadis itu sangat sempurna.
“Ayo anak-anak, siapkan semua perlengkapan kalian dan berdiri sesuai kubu masing-masing” teriak seorang pembina, membuat semua murid bergabung kearah kerumunan yang sesuai dengan jalur yang mereka dapati, bahkan di dalam kelompok Airyn yang melintasi jalur pertama ada sekitar 20 kepala yang terdiri dari wanita dan pria, bahkan banyaknya diantara mereka adalah kaum wanita, hingga Hansell dan Dikra melirik Airyn yang kali ini seperti berbincang dengan teman yang baru ia kenali.
“Apakah gadis itu bisa berteman?” ledek Dikra kearah Hansell, tentu Hellena juga ada disamping mereka.
“Tentu saja, Airyn adalah gadis yang baik untuk berteman” tuturnya dengan bangga.
“Kau bahkan sudah seperti seorang ayah melihat perkembangan putrinya”
“Aku hanya bercanda” tutur Dikra dengan sedikit mengejek, bahkan pria itu memalingkah wajah kearah Hellena yang sedari tadi memasang wajah cemberut dan banyak diam, membuat Dikra mencondongkan tubuhnya untuk menyelisik menatap Hellena.
“Hellena? Apa kau baik-baik saja?” tanya Dikra dengan segera, membuat Hansell memalingkah pandangan kearah hellena yang sedari tadi sibuk memperhatikan Airyn.
“Aku baik-baik saja” ungkapnya dengan senyum tipis pada kedua pria itu.
“Apa kau yakin?” tanya Dikra dengan memaksa.
“Ya, aku yakin” balas Hellena dengan segera.
“Tapi aku melihat kau tidak baik-baik saja, bagaimana jika kita melaporkan keadaanmu tidak membaik Hellena, mungkin kita bisa pergi dengan rombongan para guru mengunakan kendaraan” ajak Dikra dengan kelicikan untuk memanfaatkan keadaan, nampaknya ia ingin sekali mengunakan momen ini agar tidak capek-capek menyelusuri hutan.
“Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja” bantah Hellena dengan jengkel.
“Tapi kau sudah memucat HEllena, lebih baik kau pergi saja dengan rombongan guru jika sakit” paksa Hansell ketika sadar akan pucat pasi di wajah hellena, sadar pria itu memberikan perhatian, membuat Hellena sedikit mempertimbangkanya, hingga kepala Hellena didera pusing, bahkan ia tidak mengetahui kenapa matanya berkunang-kungan dan pandanganya mulai hilang, sampai akirnya Hellena ambruk dan berhasil di tangkap oleh Hansell.
__ADS_1
Tentu semua orang ricuh, bahkan beberapa guru yang sedang berdiksusi di depan dibuat terkesiap ketika seorang siswi pingsang, sedangkah Airyn yang ada bersama teman-teman barunya menatap ke sumber keributan, membuat gadis itu menemukan Hansell tengah merangkul Hellena, bahkan kecemasan di wajah Hansell membuat Airyn sedikit cemburu.
Bahkan semua anak-anak memenuhi kerumunan, melihat situasi yang tidak kondusif, bahkan minimnya udara untuk Hellena, tentu saja Hansell perlu mengambil inisiatif, ia mengangkat tubuh Hellena ketika para guru saja sulit membubarkan para murid, hingga pria itu keluar dengan Hellena yang ada di gendonganya, bahkan mata Airyn memancar dengan penuh kecemburuan ketika hatinya berdesir melihat kenyataan.
Sadar Hansell membawa Hellena pergi, Dikra mengikuti keduanya, bahkan ia memperhatikan gurat sedih di wajah Airyn, hingga guru bisa mengambil alih podium dan menenangkan beberapa siswa dan siswa, sampai beberapa diantara mereka terpaksa keluar dari rombongan sebab merasa sedikit meriang, hal ini tentu sangat berpengaruh sebab mereka akan melintasi hutan dengan jalur yang cukup panjang, jika mereka menerima udara luar dengan waktu yang lama, mungkin akan menjadi hal yang fatal jika dibiarkan ikut rombongan.
Airyn hanya diam setelah apa yang ia lihat, rasanya mood Nona Petrov mulai hancur dan ia hanya mengikuti apa yang di instruksikan, bahkan Airyn dan beberapa orang temanya itu mulai berjalan sesuai protokol yang di berikan, hingga akirnya mereka memasuki gerbang pertama untuk melintasi hutan.
Beberapa anak saling bergenggaman tangan, bahkan mereka seperti ketakutan dan merangkul temannya masing-masing, meskipun Airyn baru saja berhubungan baik dengan beberapa orang, tetap saja tidak merubah fakta jika dirinya hanya sebatas teman luar, sebab saat seseorang di dalam kondisi ketakutan, pasti ia hanya merangkul orang-orang terdekatnta, begitulah dengan beberap teman baru yang Nona Petrov miliki.
Mungkin sikapnya yang terlihat cangung membuat Airyn sulit bergandengan dengan mereka, untuk itulah Nona Petrov memilih berjalan sendirian hingga memasuki kedua tanganya kesaku baju hangat yang di kenakan, meskipun Airyn terlihat mengerikan namun ia adalah gadis yang paling penakut, Airyn bahkan merindung hebat semenjak melintasi hutan, beberapa anak-anak melewati dirinya hingga beberapa dari mereka tidak sengaja menyenggol tubuh Airyn sampai mempengaruhi tegaknya, lantaran Airyn menghalangi jalan, selain itu mereka tidak ingin berada di barisan paling belakang, hingga akirnya gadis itu membeku saat dirinya berada seorang diri, bahkan air matanya hampir saja berlinang ketika tak ada yang mempedulikan dirinya, sungguh Airyn sangat takut sekali, tapi ia tidak mengenal siapapun, hingga gadis itu memberanikan diri melangkah saat kakinya hampir saja keram.
“Ah” decak Airyn ketika tubuhnya ambruk akibat gugup, bahkan kakinya sudah keram yang mengakibatkan Airyn sulit berjalan, bahkan suara teriakan Airyn barusan, membuat beberapa rombongan wanita berteriak hingga lari kocar-kacir dan meninggalkan gadis itu sendirian, sungguh Airyn tidak menyangka ia akan semenyedihkan ini, bahkan diantara mereka tak ada yang merasa kehilangan Airyn, hingga diantara mereka tak ada yang mempedulikanya, sungguh Airyn takut sekali, rasanya segala suara seperti masuk ke telinganya, hingga tubuhnya merinding hebat akibat aura sensitif yang di ciptakan oleh otaknya sendiri.
Airyn menutup matanya, bahkan ia menangis tersedu-sedu ketika mengharapkan Hansell ada, gadis itu tidak berani membuka mata sambil memangku tubuhnya bersama kesepian, ketakutan, dan juga rasa cemas yang melanda.
“Airyn......” putus Hansell dengan nafas terengah, bahkan ia berhenti tepat di hadapan Airyn hingga pria itu terpana melihat gadis itu menangis sendirian sambil menyembunyikan wajahnya, mendengar suara Hansell membuat Airyn memberanikan diri mengeluarkan kepala, ia membuka matanya diantara tangisan yang menderas, bahkan Hansell tidak menyangka Airyn akan menangis hanya karna takut.
“Hansell, aku takut” tangis gadis itu saat memeluk hansell sehangat mungkin, ia seperti mengadu pada seseorang betapa takutnya Airyn saat ini, membuat Hansell terpana diam hingga akirnya memeluk tubuh Airyn yang sudah merinding hebat, bahkan ia menangis sejadi-jadinya sampai Hansell tidak menyangka Airyn akan setakut itu.
Tangan Hansell mengusap permukaan rambutnya, memeluk tubuh kecil yang sudah bergemuruh hebat, bahkan jantung Hansell berdebar tak karuan, ketika gadis yang ia sukai merengek sepolos mungkin untuk memperlihatkan ketakutan, bakan Nona Petrov yang ia kenali begitu mengerikan dan ganas, kali ini bisa menangis hanya sebuah perasaan takut, membuat Hansell begitu berdosa tertawa diantara kesedihan yang menimpa gadis kesayanganya, tidakah Airyn sadar, menghadapi dirinya lebih menyeramkan dari menghadapi seorang hantu atai sejenisnya, namun ia malah takut dengan hal seremeh ini, sungguh Nona Petrov yang mengemaskan.
“Sudah tidak apa-apa, ada aku disini” ungkap pria itu dengan kalimat menenangkan, bahkan Hansell mencoba melepaskan tangan Airyn dari tubuhnya untuk ia lihat dengan kedua matanya, Hansell mengulas senyum manis ketika mengusap air mata itu dengan kedua ibu jarinya, memberikan rasa sayang sehangat mungkin diatas kesesakan dada Airyn yang sudah membelenggu hati.
“Maaf, aku datang terlambat”ucap pria itu dengan rasa bersalah, bahkan ia mengusap kepala Airyn penuh kasih sayang, sambil mengambilnya kembali kedalam pelukan, bahkan kali ini Airyn terpaku diam saat sikap Hansell membuatnya berdebar.
“Ke-kenapa kau minta maaf, itu bukan salahmu, aku yang bodoh, karna tidak bisa meminta tolong pada mereka, aku dengan bodohnya percaya bahwa aku bisa menjaga diriku dengan baik dan bersikap kasar untuk menolak perhatianmu, ternyata diantara semua orang, aku tidak mengenal siapapun dan hanya mengandalkan mu, aku sungguh menyesal” ungkap Airyn ketika mendongakan kepala kearah Hansell, bahkan ia tidak menyangka dirinya akan sebodoh ini.
Pipi Hansell memerah sempurna, bahkan matanya menatap mata Airyn dengan penuh ketulusan, bahkan tubuh mereka yang masih berpelukan diatas air mata Airyn yang bercucuran, membuat kedua orang itu lupa akan rasa takut, hingga akirnya Airyn yang sebegitu merinding kali ini benar-benar bersikap manja pada pria itu.
“Dasar bodoh” ejek Hansell sambil mencubit hidung Airyn.
“Ah, kenapa kau memukul kepalaku” teriak Airyn saat menyentuh jidatnya.
“Kau memang bodoh” terus Hansell dengan mengejek, hingga wajah Airyn berubah menjadi jengkel, bahkan ia membulatkan mata dengan tidak suka sambil mencebikan bibir kearah pria itu.
Sedangkan Hansell menjatuhkan ciuman dikening Airyn yang membuat gadis itu terpana manatap tingkahnya.
Begitupun Hansell yang baru sadar sikap implusifnya membuat kecangungan besar setelah ini, namun semuanya sudah terjadi, apa yang bisa Jansell lakukan selain mengakui perasaan ini.
__ADS_1
“Han-hansell, apa yang kau lakukan?” tanya Airyn dengan tatapan menuntut, bahkan membuat pria itu mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
“Aku menyukaimu” lirihnya dengan penuh kejujuran, bahkan ia mengeggam kedua tangan Airyn untuk memberani diri bersuara.