
Airyn menekukan kepala selama perjalanan mereka menuju penginapan, ternyata kamar Hansell tepat di sebelah kamarnya, pantas saja saat itu Hansell keluar dari bilik lift khusus yang ada di ujung lorong mereka.
Ternyata Hansell adalah sipelaku yang membuatnya parno setengah mati, bagaimana tidak, anak buah sudah Airyn kirim kembali tanpa terkecuali selain mereka yang waspada diarea bawah, tentu yang tertingal hanyalah bagian dari organisasi di Tiongkok.
Namun seseorang keluar dari balik lift pribadi Airyn yang sangat jelas merupakan wilayah privasi yang terkendali. Namun pria itu dengan sengaja berada dekat disamping kamarnya tanpa Airyn sadari.
"Apa yang kau fikirkan, masuklah" putus Hansell saat memecah diam yang sedang Airyn bentang, bahkan langkah gadis itu terjeda beberapa saat sebelum akirnya ia membalas perkataanya.
"Tidak ada"
"Apa kau yakin, tidak ada masalah lain? Apa perutmu sakit?" tanya pria itu dengan penuh peduli, membuat Airyn memalingkan wajah seolah ia tidak sangup memperlihatkan bahwa dirinya tersipu malu atas perhatian itu.
"Tidak. Aku baik-baik saja, aku sangat mengantuk. Aku akan masuk ke kamarku, kau masuklah" balasnya dengan segera, membuat Hansell sedikit enggan untuk menyetujui hal itu.
"Tunggu" cegat Hansell ketika tangan Airyn sudah mencapai Handle pintu, bahkan tatapan keduanya saling menyatu seraya menunggu Hansell mengutarakan apa yang akan disampaikan.
“Airyn.....apa kau tidak mau aku temani untuk tidur?” tanya Hansell penuh gugup, bahkan ia sedikit takut untuk mengatakan hal ini sebab bertentangan sekali dengan prinsipnya.
Tapi perasaanya tidak senang ketika meningalkan Airyn sendirian di dalam kamar itu, di tambah Hansell sadar bagaimaan lahapnya Airyn menghabiskan beberapa Ice Cream tanpa kendali.
Hingga tatapan bingung dari mata Airyn terpancarkan dengan tegas saat menatap kearah pria itu, "Aku akan tidur disofa, aku janji tidak akan melakukan apapun padamu, tenang saja" sambung Hansell tanpa sadar, ia seperti memberikan pembelaan diri, atas kalimat yang mungkin sangat aneh untuk diucapkan.
“Apa kepalamu terbentur?” ejek Airyn dengan gurat bercanda yang ia lemparkan dengan terang-terangan. “Pergilah kekamarmu, kau fikir aku wanita seperti apa, yang bisa menerima pria untuk sekamar denganku. Hanya perkara kau baik padaku hari ini, bukan berarti kau bebas berbuat semaumu” tegasnya, hingga pintu kamar itu terbuka dengan lebar.
“Bukan begitu maksudku, aku takut terjadi sesuatu denganmu, kau mengkonsumsi Ice Cream terlalu banyak, ditambah udara malam sangat tidak sehat, mungkin bisa mengangu kesehatanmu, jika kita sekamar, mungkin bisa memastikan sampai pagi, jika kau baik-baik saja” ujar Hansell untuk memperlurus niatanya, tentu saja ia sadar jika dirinya sudah melampaui prioritas yang ia terapkan, tapi demi gadis itu, Hansell benar-benar tidak bisa mengontrol diri.
“Aku tidak selemah itu, pergilah! Aku benar-benar mengantuk” Airyn bersikokoh mengusir Hansell hinga mendorong pria itu menuju kamarnya.
Atas penolakan dan rasa tidak terima yang Airyn berikan, dengan terpaksa Hansell menerima semuanya, ia membalikan badan seraya memandangi Airyn yang sangat geram.
Rasanya Hansell tidak lagi takut sekalipun wajah Airyn tertampil ganas. "Baiklah, aku akan tidur, selamat malam. Semoga kau baik-baik saja agar kita bisa berjumpa besok hari" harap pria itu untuk mengusap kepala Airyn penuh sayang.
__ADS_1
Hansell memaksakan senyumnya saat gadis yang ia sukai berlalu meningalkan, rasa khawatir bercampir cemas dapat terlihat, lantaran Airyn tidak memakan apapun selain ice cream ketika mereka kencan, bahkan gadis itu tidak mau dipaksa makan meskipun hanya sedikit, tapi atas apa yang Airyn percayai jika ia baik-baik saja, semoga saja terjadi.
Dengan langkah malas yang sudah memastikan pujaan hatinya masuk kamar, Hansell berlalu memasuki kamar yang berada tepat di samping Airyn.
Pria itu membersihkan diri untuk menyegarkan fikiran, bagaimanapun mandi air panas didini hari sangatlah menyegarkan, namun sesegar apapun tubuh itu ia bilas, tetap saja fikiranya berkalut mengigat Airyn.
Hanya saja, ia tidak bisa berbuat apapun selain mendoakan yang terbaik untuknya, Hanselll membaringkan tubuh diatas ranjang tidur dengan nyaman, namun entah kenapa ia sulit sekali memejamkan mata, apa yang sebanarnya menganggu Hansell, apakah rindu?
“Tapi kenapa aku mencemaskan anak itu” kesalnya ketika memejamkan mata dengan kasar.
Hansell membalikan badan kesisi berlawanan ketika meringkuh diri dengan posisi paling nyaman, pria itu menutup mata dengan paksa, agar bisa masuk kealam bawah sadar perihal mengistirahatkan ragawi yang sepanjang hari sudah terjaga.
Namun diantara mata yang terpejam ingatanya tak kunjung padam, tawa Airyn, senyumnya, tangisanya, rangkulan tubuh mungil itu, hingga suara tangisnya terdengar nyaring dan malah mengitari ruang kepala Hansell.
“Aku tidak bisa begini, ini terlalu menganggu”
Decak Hansell penuh kesal, ia bangkit sesegra mungkin seraya menghempas seluruh perangkat tidur yang di gunakan, Hansell keluar dari kamar hanya untuk memastikan keadaan Airyn sekali lagi, setidaknya jika Hansell sadar Airyn baik-baik saja, setidaknya ia bisa tidur nyenyak setelahnya.
Langkah itu terhenti tepat di kamar yang ada disamping kamarnya, Hansell mencoba menekan bell kamar Airyn berkali-kali, sekalipun ia sadar, tingkahnya pasti akan membuat gadis itu murka, namun Hansell tak gentar untuk mencoba.
Hingga rasa jenuh melanda, sedari tadi tak ada balasan hanya untuk sekedar kalimat usiran, Hansell yang terus mencoba menekan bell dilorong yang sepi itu, terus saja dibuat lelah untuk mencoba lagi.
Sampai-sampai ia benar-benar kehabisan kesabaran untuk membangunkan Airyn yang tidak memberikan respon apa-apa, Hansell berlalu pergi dari tempat tersebut dengan hasil yang tidak memuaskan, mungkin saja Airyn memang sudah tertidur.
*
Tangan gemetar yang cukup kebas akibat kedinginan, menapak kepermukaan nakas yang berada tepat disamping ranjang, bahkan gelas bening yang disediakan tak sengaja terdorong hingga pecah ke lantai kamar.
Airyn mencoba berdiri dari ranjangnya, namun tenaga gadis itu terlalu habis untuk menangkis rasa sakit, Airyn terkulai lemah dengan keringat yang sudah membanjiri sekujur tubuh, dengan pandangan yang semakin berkabut hingga tak bertenaga.
Di penghujung kesadaran Airyn menatap nanar langit kamar hotel dengan putus asa, tak ada orang yang mampu menolongnya, apakah saat ini Airyn akan berakir sendirian tanpa ada yang mengetahui kepergianya?
__ADS_1
Membuat senyum kecut ia ulas dengan ikhlas, atas kehidupan yang telah di jalaninya selama ini, kenapa tubuhnya tak berdaya seolah Airyn tidak memiliki harapan apapaun lagi? Apakah ia akan bertemu dengan kedua orang tuanya untuk meningalkan kehidupan dunia.
Jika memang ini akan berakir setelah Hansell berhasil memberikan alasan kedua untuknya berhatan hidup, sungguh Airyn sangat bahagia, bahkan ia menyesal tidak mengucapkan terimakasih dengan wajar padahal bayangan Hansell sangat jelas ada di penghujung kesadaranya, hingga mata itu semakin menutup secara perlahan, memudarkan wajah bahagia Hansell yang tersenyum manis padanya.
*
Langkah kaki Hansell terurungkan tatkala meraih handle pintu yang ingin ia buka, matanya memejam penuh kalut saat ketenagan terus saja belum dikuasi.
Kenapa Hansell sulit sekali melepaskan banyangan Airyn, apakah terjadi sesuatu pada gadis itu, bahkan Airyn tidak menyahut satu katapun padahal Hansell bersusah payah menunggu setengah jam diluar kamarnya.
Hingga tangan yang hampir berhasil membuka pintu kamar, ia tutup dengan segera ketika berlari menuju lift yang sedikit jauh dari kamarnya.
Hansell mungkin akan terlihat seperti orang gila, tapi ia begitu yakin sudah terjadi sesuatu pada gadis itu, sebab Airyn selalu memberikan waktu pagi-pagi sekali untuk terjaga, sekalipun ia tidur pukul 2 dini hari, setidaknya jam 05.00 ini sudah waktu yang paling tepat untuk Airyn bekerja, tapi Hansell tidak mendapatkan balasan apapun darinya, hal ini menjadi tanda jika Airyn tidak baik-baik saja, bahkan hatinya di penuhi cemas yang terus melanda, hingga akirnya menjadi pertanda bahwa dirinya tidak boleh mengabaikan fakta.
"Pasti sudah terjadi sesuatu padanya, aku yakin!" gerutu Hansell di tengah kecemasan yang mampu terlihat.
Nafas yang tersengal dengan wajah pucat membuat beberapa orang yang ada di hadapan Hansell memperhatikan geraknya, pria itu menarik nafas dengan berat sebelum berucap akan apa yang ingin ia sampaikan.
"Berikan aku kunci kamar di president suit atas nama, Airyn Petrov!" pinta Hansell dengan segera, membuat pegawai resepsionis itu menatap bingung dengan gurat tidak suka yang bisa Hansell terima.
"Maaf Tuan, tapi Nona Airyn bukan tamu sembarangan, saya tidak bisa memberikan kunci kamar terkait dirinya" bantah gadis itu, berharap agar Hansell dapat mengerti.
Tentu ia sangat mengerti jika kariyawanya sangat pantas seperti ini, bahkan akibat ketakutan Hansell membuatnya lupa bersikap tenang, pria itu membentak dan memaki saat ia tidak mendapatkan kunci yang di inginkan, sungguh Hansell lupa diri ketika emosi merajai, hingga seorang Manager hotel dengan tegesa menghampiri.
Menjelaskan siapa Hansell dan memberikan kunci kamar padanya, beberapa pegawai menyiapkan kendaraan, hingga wajah Hansell dibuat tegang tak terkendali, ketika melihat sesuatu di depan matanya, pria itu sangat gemetar setelah hilang kontrol atas hal yang tidak ia inginkan malah terjadi.
Sungguh tangan itu bergetar melihat Airyn tergeletak dilantai, tubuhnya yang hampir membatu dipaksa cair agar bisa menjangkau Airyn yang ada dilantai kamar, Hansell meneriaki namanya berulang kali namun Airyn sudah terlanjur hilang kesadaran.
Airyn berada dalam pangkuan Hansell untuk ia bawa ke lobby hotel yang sudah menanti dengan kendaraan menunu rumah sakit, bahkan apa yang terjadi pada Airyn menjadi titik salah dimana Hansell menyalahkan dirinya sendiri.
Cemas, takut, bersalah, melingkup dirinya keruang paling hampa yang tidak pernah Hansell bayangkan, untuk pertama kalinya ia merasa kehilangan atas seseorang yang tidak ada hubungan apa-apa denganya, selama ini Hansell terlalu mencintai dirinya sendiri, ia paling memcenci wanita karna Hansell sadar siapapun yang hadir pasti akan membuat luka, salah satunya rasa kehilangan, untuk itulah ia bertahan untuk tidak menganggap siapapun penting kecuali keluarganya, kehilangan mamanya disusul papanya sudah membuat pria yang sangat Self love melupakan prinsipnya, tentu atas apa yang ia pegang teguh itu Hansell tidak ingin kehilangan siapapun, apalagi orang lain, tapi gadis yang terkulai lemah penuh ketidak berdayaan yang saat ini ada di pangkuanya, meruntuhkan semua itu.
__ADS_1
Untuk pertamakalinya Hansell takut, taku jika nanti Airyn hilang, Airyn terluka, Airyn pergi darinya dan Airyn tidak kembali kesisinya, Hansell setakut ini untuk kehadiran seseorang yang pernah ia benci, hingga tanpa sadar tangan itu merapatkan tubuh Airyn kesebagian tubuhnya, memeluknya, mentrasfer getaran dada yang berdebar, hingga nafasnya yang tersengal dirasakan kepermukaam wajah Airyn, Hansell menangkup pipi itu penuh sayang sambil menutup kedua matanya dengan harapan.
"Tuhan......gadis ini adalah hadiah terbaik atas ketidakberdayaan hatiku, mengajariku cara keluar dari zona nyaman dan melihat cara mendapatkan cinta dari orang lain, aku mohon......jangan memberikanya luka, biarkan aku membahagiakanya" hingga sebuah ciuman yang Hansell daratkan dipucuk kepala Airyn secara diam-diam, tertandas dengan lembut diatas sana, menjadi bukti bahwasanya Hansell mengakui rasanya. "Airyn, kau harus baik-baik saja" batin Hansell dengan doa paling akbar yang pernah ia rasakan.