
"Karna aku bahagia setiap kali ada dirimu di dekatku" sungguh jantung Airyn bergemuruh hebat, dadanya disesakan atas makna yang tercerna, kenapa pria itu bicara sepenuh hati hingga tatapan yang menanjam seperti belati membuat Airyn sadar, ada seseorang yang berarti bagi dirinya.
"Apa kau mengodaku" ejek Airyn dengan tawa yang ia ulas dengan bercanda, membuat Hansell sadar jika saat ini ia tidak bisa terus terang tentang perasaanya.
"Tidak Ryn, aku serius. Tidakah kau tau jika sekarang hanya kita yang masih bersekolah disini, aku lelah berbincang dengan mereka para orang tua, jadi jika kau ada disisiku, aku lebih mudah mendapatkan teman yang satu frekuensi"
"Alasan saja" dengus wanita itu ketika menatap kearah Hansell, membuat pria yang menerima hinaan sederhana itu tersenyum getir sembari menghela nafas dengan lega.
"Oh iya, kenapa kau mengumpat, apakah ada orang yang menganggumu" tanya Hansell ketika ia sadar jika saat Airyn ada gadis itu sedang mengumpat kesal, bahkan ada aura marah diwajahnya sebelum akirnya mereka saling sapa.
"Oh.... itu. Ada sedikit rekan bisnisku yang menyebalkan" balasnya dengan sedikit berbohong, sungguh Airyn tidak mengerti harus mengatakan dari mana lagi, tapi ia sedang kesal pada Adward yang ada dipesta ini, bahkan perjanjian hubungan mereka yang tertera dikontrak saja sudah dibatalkan, namun pria itu malah hadir ditengah-tengah pesta ini, membuat mood Airyn benar-benar hancur, selain itu ia tidak bisa membuat hubungan yang buruk dengn Adward, bagaimanapun dialah yang sudah menjadi perisai krisis yang hampir melanda perusahaan Petrov ketika diserang oleh Tuan Hamillton.
"Apa kau yakin Airyn? Jika ada yang menganggumu, katakan saja"
"Tidak Hansell, tidak ada yang mengangguku" bantah Airyn dengan segera, bahkan ia tidak ingin Hansell mengetahui hubunganya dengan Adward, entah kenapa ada sedikit ketakutan dihatinya.
"Syukurlah jika tidak" balas Hansell dengan kalinat rendah seraya melihat kegugupan dimata Nona Petrov, apakah ada yang membuatnya tidak nyaman dipesta ini, sampai-sampai ia sekesal tadi. "Apa kau masih mau mengikuti pesta?"
"Tidak, aku mau pulang saja" balas Airyn dengan kalimat dingin, membuat Hansell tersenyum manis sembari meraih tanganya.
"Ayo ikut aku" ajaknya ketika menjalin kedua jari jemari mereka untuk melekat.
"Kau mau kemana? Aku ingin pulang"
__ADS_1
"Sebentar, ikutlah denganku, aku ingin menunjukan sesuatu padamu"
Hansell melangkah dengan penuh semangat, sambil memabawa gadia yang ia sukai digenggaman tanganya, pria itu bahkan tidak peduli bagaimana Airyn menatapnya, namun ia terlalu larut dalam imajinasi tentang Airyn yang akan menyukai malam ini.
"Silahkan" terus Hansell ketika langkah mereka terhenti tepat disebuah tangga yang mengarah kearah balkon atas, bahkan tempat itu ada dibelakang kapal pesiar yang nampaknya tidak terlihat dari arah depan, Airyn yang melirik tangga besi itu sedikit enggan untuk melangkah, namum Hansell tersenyum indah untuk malam ini, membuatnya tidak tega menolak ajakan pria itu.
"Baiklah"
Airyn menaiki satu persatu tangga besi untuk menuju balkon atas, tampaknya tempat itu memang dibuat untuk dua orang, bahkan Hansell yang terus mengenggam tangan gadis yang ia sukai benar-benar dibuat bersemangat tentang malam ini.
"Hati-hati" lirihnya penuh perhatian, membuat wajah gadis itu memerah saat mencapai puncak.
"Kenapa kita kesini?" tanya gadis itu, nampaknya mereka berada ditempat tertinggi di kapal pesiar ini, bahkan lantunan pesta tidak terdengar sama sekali, membuat Airyn menuntut penjelasan saat memandangi pria dihadapanya.
Tentu Nona Petrov yang masih belum memahami situasi mereka menglihkan pandangan kearah depan, ia hanya melihat hamparan laut yang luas dengan lampu-lampu ditepian yang bisa ia jangkau oleh pandangan, baru saja Airyn menegadahkan kepala kearah atas, sebuh kembang api meluncur indah mewarnai langit yang diterangi sang bintang dan bulan, baru beberapa detik fikiranya kosong kali ini terisi penuh oleh keindahan malam.
"Hansell lihat itu" teriak Nona Petrov dengan penuh semnagat, bahkan senyumnya melukis indah tanpa mampu ia sadari.
"Indah bukan?" tanya Hansell saat menatap lekat wajah cantik yang selalu mempesona, bahkan padangan Hansell berpusat pada wanita yang ingin sekali ia miliki namun perlu bersabar untuk mendapatkan.
"Tentu saja, ini idah sekali" terus Airyn dengan kebahagian, bahkan ada bulir haru yang bisa Hansell akses hingga kedua manik tajam itu terus saja mencengkram mengamati setiap sudut diwajah Airyn.
Senyuman indah yang mengalahkan rembulan ini benar-benar memancing gemuruh dahsyat direlung hati Hansell, ia tidak sadar jika rasa yang ia tumbuhkan dengan sangat dalam ternyta mekar tanpa terfikirkan, Airyn bukan lagi sekedar gadis yang mempesona, melainkan seperti sosok malaikat yang terus memikat, tawanya, senyumnya, air matanya, bahkan kebahagiaanya sudah mewarnai Hansell yang terus menarik diri dari wanita.
__ADS_1
"Cantik" ungkap pria itu tanpa sadar, bahkan Airyn tidak memalingkan satu wajahpun kearah Hansell, hingga membiarkan sang pemuja memandangi dan memuji kecantikan alaminya.
Jika saja waktu bisa dihentikan, Airyn ingin sekali menghentikn setip waktu untuk detik ini, ia ingin melihat keindahan sederhana namun bermakna, bahkan pria itu.......sontak, kedua tatapan mereka menyatu, bahkan pandangan hangat yang terus diberikan membuat mereka saling menyelami keinginan dibalik tatapan masing-masing.
Hansell adalah lelaki pertama yang membuat Airyn gugup saat bersamanya, ia lelaki pertama yang sulit dikenali mengunakan nalar, namun nurani sedari awal telah memikat hati.
Airyn, gadis pertama yang Hansell cintai begitu dalam, namun menyisihkan beberapa kebencian tentang sosoknya sebagai Nona Petrov, namun saat Hansell mengenali Nona Petrov, ia baru menyadari, membenci seseorang hanya akan membuat kita terus mencintainya tanpa berhenti.
Untuk malam ini saja, Hansell ingin egois sebagai manusia, tidak peduli bagaimana tembok yang Airyn kokohkan untuk melarang seseorang memeluknya, Hansell akan meruntuhkan itu semua.
Balkon kecil yang hanya menampung mereka berdua, membuat langkah sang pria mendekatinya, Hansell terhenti tepat didepan mata Airyn, ia menudukan pandangan pada sosok gadis yang membuatnya jatuh cinta, merasakan perasaan gugup yang tak kepalang diatas tuntutan egoisnya sebagai seorang pria.
Tangan yang masih bergantung ke trali pembatas diatas letusan kembang api yang menghiasi langit malam, membuat Airyn sadar dirinya dilanda gugup tak bertuan.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Hansell dengan kalimat rendah, bahkan mata itu terus saja melirik dengan penuh kelembutan dan sayang, bahkan Airyn sulit menjabab pertanyaan yang sedang diberikan, selain menganggukan kepala untuk membenarkan.
Hingga usapan lembut yang Hansell tandaskan disebagian pipi Airyn membuat tubuhnya memerah sempurna, seperti sosok penakut yang ada dibawah tatapan buas begitulah Airyn yang sedang tersipu malu, Hansell menarik tubuh itu untuk mendekat kearahnya, sembari menjalarkan jemari lebarnya hingga mencapai permukaan leher sang wanita.
Pria itu menarik Airyn untuk mendongak menatapnya seraya menjatuhkan kecupan hangat dipermukaan bibir mereka, hingga beberapa detik yang tidak berdeja itu dunia Airyn sepeeti ditarik paksa, kesadaranya dirinya seperti dimatikan dengan sempurna.
Pria ini menciumnya dengan kurang ajar, kenapa tubuhnya malam diam saja, bahkan tangan itu sudah mencapai pinggul tetap saja Airyn tidak melakukan apapun, ada apa dengan tubuhnya.
"Airyn, aku mencintaimu" batin Hansell diatas cinta yang tengah ia panjatkan.
__ADS_1