
Gadis itu sama sepertinya, memiliki luka yang mengiris, duka yang paling bengis, masa lalu yang tak manis, serta penyesalan yang belum pupus, bahkan saat ini, ia sedang melaksanakan penghukuman, atas takdir alam yang seharusnya bukan tangung jawabnya.
Tapi kenapa raga Hansell dengan kurang ajar pernah merongseng dirinya, seolah-olah Airyn paling keji sedangkan dirinya sang mulia yang bersembunyi di balik topeng kelayakan.
Astaga......Hansell! Ternyata kau inkonsisten
Atas semua sikap yang sengaja ia ciptakan, Hansell sadar, bukan tempatnya untuk meminta balasan terkait rasa yang tumbuh sekian besar, saat ini bukan zona Hansell untuk menuntut balasan yang setimpal, atas rasa yang paling akbar.
Sebab, berada dekat dengan Airyn, antara jarak paling minim, sudah menjadi hal luar biasa untuk di berikan.
"Hansell aku ingin naik bianglala” seru gadis itu diantara keterpakuan Hansell padanya.
"Apa.."
"Aku ingin naik bianglala" ujar Airyn sekali lagi, dengan tatapan rawan.
“Bukankah itu ada di taman hiburan"
"Benar, disana....." terusnya dengan tingkah polos yang paling mengemaskan, jari telunjuk itu tertuju kearah depan, memperlihatkan sebuah tempat diujung pandangan.
"Tapi sekarang sudah malam, bagaimana bisa kau naik itu di tengah malam begini” tolak Hansell tanpa sadar.
Membuat senyum Airyn melengkung kearah bawah seolah ia sedikit kecewa atas penuturan Hansell.
"Astaga, apa dia kesal" batin pria itu penuh enggan.
Hansell memutar otak untuk berfikir ulang, apa yang harus di lakukan agar Airyn tidak kecewa, siapa yang bisa membantunya untuk membuka taman hiburan malam ini.
“Ooh......aku tau, Tuan Gong pemilik wilayah ini” cetus Hansell hingga gadis itu mengangkat kepala penuh harap.
Senyum keduanya mengambang seolah ada harapan untuk Airyn naik bianglala malam-malam, Hansell mengeluarkan ponsel genggam dengan segera, agar menghubungi Tuan Gong secepatnya, baru saja ponsel itu menghubungkan, binar diwajah Airyn terus mengulas dengan jernih, bahkan saking sayangnya Hansell mengusap lembut kepala Airyn seraya menunggu seseorang membalas telfonya
"Hallo......" saut Hansell dengan tergesa, ia melangkah sedikit jauh dari Airyn untuk bicara bersama Tuan Gong, bahkan pembicaraan mereka terlihat sangat akrab hingga salam perpisahan atas komunikasi singkat itu terdengar oleh Airyn.
"Bagaimana?" tanya gadis itu dengan terburu-buru, tatkala kaki Hansell melangkah maju kearahnya.
__ADS_1
Hansell mengangukan kepala seolah semuanya aman terkendaki, Airyn tertawa renyah seraya menyampaikan terimakasih penuh tulus di gurat bahagia itu.
Hingga beberapa waktu berlalu, seorang pegawai menghampiri mereka, ia memandangi Airyn dan Hansell secara bersamaan, seraya mempersilahkan masuk kedua pasangan itu ketaman hiburan.
Tentu saja suasana malam di kota ini akan semakin tenang jika seseorang berada di ketingian, bahkan lampu-lampu taman di nyalakan untuk menjadi pencerah tempat tersebut, taman hiburan yang luas dengan artistik yang paling terbaik, sungguh memanjakan mata Airyn, disepanjang jalan ada lampu taman yang bergelantungan di pepohonan yang sengaja ditempatkan, bahkan seluruh wahana permainan ada dan sangat lengkap untuk di gunakan sepuasnya.
Airyn bahkan tidak menyangka, pegawai datang berbondong-bondong menempati posisi mereka yang seharusnya, sungguh Airyn tidak mengerti cara apa yang Hansell gunakan hingga mampu mengumpulkan pegawai secepat mungkin, yang jelas usaha yang di kerahkan meskipun terlihat sederhana namun sangat bermakna bagi Airyn.
"Terimakasih......" batinnya, ketika memandangi Hansell diam-diam, meskipun ia nyaman ada disisi pria itu, tapi sifat angkuh dan pembawaan yang mengerikan di wataknya sunguh sulit meruntuhkan sifat gengsinya, untuk itulah, Airyn hanya mampu berucap diam-diam semoga Tuhan membalas semua yang Hansell lakukan.
Desiran angin merambat pelan-pelan, suara hewan malam terdengar sekalipun sayup-sayup redup hingga menghilang, meskipun begitu, Airyn tidak takut sama sekali, sebab ada seorang pria yang menemaninya.
Gadis itu melumpuhkan mata keseluruh sisi kota tanpa melewatkan satu incipun panorama alam, tentu saja langit yang terbentang luas diatas kepalanya, dengan bintang dan bulan sebagai pelengkap menjadi destinasi utama untuk Airyn mendongakan kepala.
Keindahan ini sungguh menakjubkan, Airyn terlalu terkesima akan hal sederhana yang dulu sulit ia dapatnya, namun mampu di peroleh dari Hansell Hamillton.
Sedangkan pria tampan dengan manik coklat yang terang, sungguh-sungguh terkesima akan kecantikan yang dimiliki Airyn, gadis itu menjadi panorama yang paling paripurna untuk meluluh lantahkan hatinya, melumpuhkan pandanganya, hingga membisukan sebagian tubuhnya.
Dulu Hansell pernah berfikir, jika kecantikan Airyn hanya karna polesan make up beserta gaun mahal yang dikenakan, namun kecantikan itu tidak datang dati paras saja, melainkan tatapan mata polos yang berbinar hangat, sikap lembut yang terbungkus jiwa mengerikan, serta luka dan duka yang terus saja menguatkan hatinya.
Membuat Hansell merasa sebagai pria paling beruntung yang menyaksikan senyuman indah dan tawa di malam yang menyenangkan untuk mereka.
“Airyn apa aku boleh bertanya?" putus Hansell diantara keterpakuan mereka, bahkan suara berat dari pria itu membuyarkan pandangan Airyn untuk di jatuhkan padanya.
“Apa?”
“Apa kau tidak pernah ketempat seperti ini sebelumnya?”
“Tentu saja pernah, hanya saja, saat aku kecil" balasnya dengan segera. "Tapi waktu aku berkunjung hanya di waktu siang bersama dengan ayah ibuku. Setelah ibu meninggal ayahku sangat jarang dirumah, beliau menjadi gila kerja hingga tidak memiliki waktu untuk kami berdua, saat itu aku hanya seperti gadis biasa pada umumnya, sekolah di waktu pagi dan pulang kerumah di sore harinya, malamnya di penuhi dengan les Matematika serta Manajemen dasar yang sudah aku pahami. Tapi setelah ayahku meninggal, akulah yang menjadi Workaholic (pecandu kerja), Aneh bukan......" ejek Airyn pada dirinya sendiri, sebelum melanjutkan penuturan yang belum selesai. "Tapi, disaat itulah aku mengerti. Apa yang dirasakan ayah atas kehilangan ibu, pasti ia kesepian terkait rasa kehilangan itu. Hingga takdir yang sama juga menimpa ayahku, beliau meninggal namun memberikan tangung jawab penuh padaku, membuat diriku berubah menjadi workaholic sepertinya. Aku benar-benar tidak memiliki teman dekat karna kesibukan yang sangat padat. Jadi karna hari ini kau yang mengajak ku, untunglah aku bisa menikmati waktu emas yang paling jarang aku dapatkan selama ini...terimakasih Hansell” tutupnya dengan senyum hangat yang ia ulas kehadapan Hansell, bahkan wajah polos penuh kesunguh-sunguhan itu mampu mendebarkan hatinya.
Untuk kesekian kalinya, Hansell merasa tertampar atas semua cerita itu, bagaimana bisa pandangannya seburuk ini akan gadis tak berdosa, dia bahkan tidak berfikir alasan lain dari sikap Airyn yang kejam penuh dengan keangkuhan, bahkan Hansell terus terhina oleh dirinya sendiri, dia selalu berfikir selama ini dia adalah manusia yang paling baik seutuhnya, namun tanpa disadari, dia yang terlalu tinggi menilai dirinya.
“Airyn apa kau baik-baik saja?” terus Hansell dengan nada rendah yang paling menyayat hati.
“Apa maksud mu” jawab Airyn ketika memandangi Hansell sepenuh hati, ada sedikit gugup hingga suaranya bergetar berta untuk berucap.
__ADS_1
Sebab selama ini, tidak pernah ada orang yang bertanya sehangat ini padanya, bahkan tatapan dalam yang Hansell pancarkan membuat Airyn menemukan makna lain atas dirinya bagi orang lain. Mungkin, pria yang sempat Airyn benci atas kenaifan sikap dan karakter elok itu, menjadi manusia pertama yang menyelisik masuk kehatinya.
“Maksud ku, kau bisa menjalani semuanya penderitaan itu diusia yang sebenarnya belum pantas untuk kau melakukanya, namun kau mampu bertahan selama ini dengan sangat baik, apa kau baik-baik saja akan itu?”
“Tentu saja” seru Airyn penuh angkuh.
Namun jawaban yang di lontarkan Airyn bersamaan dengan air mata yang mengalir tanpa ia harapkan, gadis itu merasa ada kehangatan disetiap kata-kata lirih yang diucapkan Hansell, meskipun ia sendiri tidak mengerti hal apa yang membuat air matanya berderai hebat seperti ini, dadanya memanas dengan hangat, nafasnya berhembur penuh berat, untuk kali pertamanya ia sadar jika seberat ini berbohong atas apa yang dirasakanya, bibirnya mungkin berkata jika ia baik-baik saja, tapi tidak dengan alam bawah sadarnya yang sudah hancur di bawah sana.
“Kenapa kau menanggis?” imbuh Hansell penuh sendu, pria itu mengusap air mata Airyn dengan tangannya yang lebar, diatas ketinggian malam, mereka berdua saling menguatkan satu sama lain, untuk sekedar mengatakan bahwa,
Tidak apa bicara jika "Aku tidak baik-baik saja" dari pada terus berbohong namun sebenarnya kita terluka.
“Kau ternyata cengeng sekali” ledek pria itu penuh lirih, sembari mengusap lembut kepala Airyn dengan sayang, jemari Hansell menepis tiap air mata yang terus saja menderas, ia mendekatkan sedikit tubuh untuk melihat dengan jelas seberapa sakit luka yang sedang Airyn keluarkan.
Tentu air mata yang ia saksikan malah terlihat seperti racun yang mengumpal, keluar dari balik kornea yang sudah menahan begitu lama, hingga isakan itu mengiris penuh sesak, ketika bibirnya bergetar hebat untuk merintih penuh pedih.
Hansell menyimpuhkan dirinya diatas besi kokoh yang menjadi penghalang di dalam bianglala yang mereka naiki, dari arah bawah kepalanya mendongak melirik Airyn, menangkup kedua pipi gadis itu sembari menatap penuh kasih sayang. "Sudah..." tuturnya penuh lembut, ketika hati amat ngilu mendegar tiap tangisan yang menyembilu.
“Apa kau tau, aku tidak pernah menangis saat ayahku meninggal......bahkan aku tidak menangis saat ayahku di makamkan, setelah aku kesepian aku masih belum mampu menangis! Aku tidak tau apa yang membuatku menahan rasa itu, tapi semua itu membuatku menderita selama ini, dan kau menghancurkan semuanya tanpa aku bisa menahan lagi” bentak Airyn dengan isakan tangis yang tersedu-sedu.
Membuat Hansell tidak percaya dengan apa yang dikatakan gadis di hadapannya, sesakit apa kehidupan yang di jalani Airyn hingga kepergian ayahnya tak mampu di tanggisi.
“Airyn.......” Hansell mendekap tubuh kecil itu kesebagian tubuhnya, memberikan sentuhan terlembut yang tidak pernah ia berikan pada siapapun, Hansell memperlakukan Airyn semahal barang berharga yang ada di dunia, hingga tanganya pria itu terus saja menenangkan Airyn dengan usapan yang tidak sudi ia hentikan. “husss......” bujuknya untuk mendamaikan.
Hingga berhasil membuat Airyn meredakan isakan, bahkan sekali lagi bibir itu berucap hal yang sama juga terulang, Airyn mampu menenangkan jiwanya atas tuntunan yang Hansell serukan.
“Apa kau tau dihidup ini semua manusia pantas bahagia. Baik dia buruk atau jahat dia tetap pantas bahagia, tanpan terkecuali, apalagi dirimu” lirih pria itu seraya menepuk lembut punggung Airyn.
“Kau tau aku sangat benci siang, padahal kita melakukan semua aktivitas di siang hari. Kita bisa melakukan apapun disaat matahari ada dan terlalap disaat matahari menghilang dibalik sana. Sebagian orang takut pada malam, tapi aku menyukainya. Karna hanya aku saja yang berada di dalam kegelapan, aku sendiri yang terbangun sedangkan orang lain terlelap. Dan kau tau kenapa aku suka malam? Meskipun dia terlihat menakutkan, tapi cahaya lampu dan rembulan mengindahkan, begitupun dirimu. Meskipun kau memiliki luka dan rasa sakit, keadaan yang membuatmu bahagia akan menjadi obat akan rasa sakitmu sendiri. Jadi mulai sekarang berbahagialah Airyn, kau sangat pantas mendapatkannya, jangan siksa dirimu sendiri atas sesuatu yang bukan tangung jawabmu, karna aku tidak akan membiarkan kau melakukan itu, aku berjanji akan menjadi orang yang tidak akan membiarkan kau menyakiti diri sendiri. Sebab, rasa sakit yang paling sakit, bukan saat orang lain menyakitimu, tapi saat kau yang menyiksa dirimu sendiri”
Airyn tertegun diam, sedangkan Hansell melepaskan kedua tubuh yang sedang berdekapan itu, ia menatap kedua mata Hansell hingga Airyn megeluarkan air mata dari sudut matanya, membuat Hansell sadar, kata-kata tidak akan bisa menenangkanya.
Ia membawa kepala Airyn kedada kekar yang sangat bidang, membiarkan bajunya di hujani air mata agar bisa menampung isakan Airyn yang tak kunjung reda, bahkan Hansell mendapatkan ketenagan dalam rangkulannya, namun menahan belati tajam yang terus saja menusuk jiwa.
Untuk kedua kalinya, dada bidang pria ini menampung derita Airyn, untuk kedua kali tubuhnya menjadi luapan air mata Airyn, membuat Hansell tak rela melepasan segalanya, entah itu Airyn, atau pelukan yang terus mendidih untuk sekedar merintih.
__ADS_1