
Langkah Dikra menapak dengan pasti, matanya memancar tajam atas mangsa yang ingin ia terkam di seberang pandangan, lelaki itu menepis satu persatu orang yang ingin menyapanya, hingga mereka mengurungkan niat atas gurat kesal penuh amarah yang Dikra kobarkan.
Bagaimana bisa Angel datang ke Club malam seperti ini, apakah Hansell gila, membiarkan Angeline lepas dari pengawasanya. Apa yang ia lakukan hingga gadis naif itu mampu melepaskan diri dari pantauan Hansell, sedari awal, Dikra tidak menyukai Hellena, ia bahkan membenci gadis itu karna Dikra mengetahui niatan Hellena berteman dengan Angel tidaklah baik.
Tapi melihat kelakuan dan tingkahnya dalam batas normal dan toleransi yang bisa Dikra pertimbangkan, tentu ia masih membiarkan saja untuk Angeline bergaul, tapi lihat kali ini, mengecewakan.
Tatapan para wanita yang ada di meja itu tertuju kearah Dikra, mereka terpaku diam memandangi pria tampan yang merupakan anak dari William mendekati meja, Angel yang duduk membelakangi langkah Dikra, menyaksikan wajah kagum serta kaget di permukaan wajah teman-teman Hellena, tak terkecuali Hellena sendiri.
Hingga, Angel berfikir "Apa yang mereka lihat, hingga sebegitu shocknya" sampai pada saatnya, tatapan itu dijatuhkan melihat kebelakang, bertemu dengan sosok Dikra yang berjalan pongah kearahnya, bahkan tatapan tajam membara penuh murkas, atas tampilan kesal yang terus terang ia pampang.
Jantung Angeline berdebar, ketika Dikra melangkah kearah meja yang Angel duduki, tubuhnya menegang penuh takut saat pancaran mereka menyatu tanpa bisa Angeline elakan.
Baru saja Dikra mencapai ambang tegak di hadapan Angel, dengan kasar ia menarik tagan gadis itu untuk mendekat kearahnya, mencengkram kasar atas kekecewaan dalam yang ia ulas, hingga Dikra tidak percaya bahwa Angeline bisa mencapai tempat terkutuk ini.
"Apa yang kau lakukan disini!!" teriak Dikra penuh murka hingga semua teman-teman Hellena terpaku diam, bahkan Hellena sendiri berdiri dari duduknya saat Dikra menemukan mereka.
Sialnya, kenapa bisa ada Dikra disini, padahal ini bukanlah Club malam tempat Dikra bermain, karna Hellena mengetahui, jika pria itu hanyansering ke Club yang dikembangkan Hansell, tapi kali ini ia malah ada di Club yang sangat jauh dari jarak rumahnya.
"Apa kau gila Angel!!" terusnya lagi pdengan suara mengelegar yang mampu mengerjapkan mata Angel penuh takut, musik yang ricuh mengiringi tarian manusia, beserta alkohol sebagai pelengkapnya, terhenti sudah.
Mata semua orang terpaku melirik Dirka yang terlihat sangat emosional, meskipun Dikra terkenal suka bermain wanita, tapi sikapnya yang lembut membuat mereka mengenal ia sebagai pribadi yang sulit marah, tapi lihat malam ini, semua orang yang kenal Dikra tanpa terkecuali, dibuat kaget setengah mati.
"Siapa wanita itu? Apakah pacarnya?"
"Bukankah gadis itu keluarga Hamillton, adik Hansell Hamillton"
"Astaga, kenapa Dikra semarah itu"
"Mengerikan sekali!"
Itulah kata yang terdengar dari mulut beberapa orang hingga Angel sendiri bergetar penuh takut, tanganya mendingin sudah, rasanya ia hampir menangis setelah di permalukan seperti ini oleh sahabat kakaknya.
"D-Dikra kau kenapa, lepaskan tanganku" lirih Angel sembari mendongakan kepala penuh ampun menatap mata Dikra.
__ADS_1
Membuat pandanganya melumpuh, namun emosi yang mengelora masih belum membuat gejolaknya reda.
"Melepaskan mu, untuk apa? Apa untuk membiarkanmu di pesta ini! Apa kau fikir aku gila membiarkanmu setelah aku tahu ini yang kau lakukan, astaga Angeline, apa kau gila hingga berani ada disini" geramnya penuh sadis atas penghinaan yang Dikra berikan secara terang-terangan.
"Dikra, kau keterlaluan!" timpal Hellena ketika angkat bicara atas sikap pria itu.
"Diam!!" teriaknya penuh geram sembari menusukan tatapan dendam kearah Hellena. "Apa kau fikir kau masih pantas bicara!! Jika Hansell mengetahui hal ini apa yang akan kau jelaskan, apa kau tidak berfikir sebelum mengajak Angel pergi ketempat tak beres ini. Jika terjadi sesuatu padanya, apa yang akan kau lakukan, akankah kau mau bertanggung jawab, bahkan seumur hidupkan, tidak akan cukup menebusnya"
Lelaki itu benar, tapi kenapa Hellena merasa tidak senang Angel diperlakukan seperti ini, padahal Hellena tidak menganggapnya sebagai teman yang penting.
"Aku akan bertanggung jawab, tapi haruskan kau kasar pada Angel"
"Kasar!! Sejak kapan ada kelembutan antara aku dan dia! Kau seharusnya sadar dengan batasanmu Hellena, sebelum aku mengacaukan rencanamu, lebih baik kau berhenti mengajarinya yang tidak-tidak" sontak Hellena bungkam, apa maksud Dikra sebenarnya.
"Aku tidak sebodoh mereka berdua, aku bisa mengetahui niat terselubung atas kedekatan kau dan Angel, tapi aku fikir hal ini wajar, tapi aku salah, kau hanya membawa pengaruh buruk padanya. Kau fikir Hansell akan diam saja jika ia tahu adiknya kau bawa ketempat seperti ini, Ha!"
Sekali lagi Hellena tediam, bahkan apa yang Dikra katakan memang benar.
"Lepaskan tanganku, apa hak mu seperti ini, jangan bicara sembarangan tentang Hellena, ini bukan salahnya, tapi salahku" bentak Angel dengan penuh pertentangan.
"Aku tidak bodoh!" teriak gadis naif itu. "Lagian kau tidak berhak memperlakukan aku seperti ini" terusnya saat melepaskan tangan itu dari cengkraman Dikra.
"Hak ku!! Apakah selama kita tumbuh bersama aku tak memiliki hak apapun!" geram Dirka penuh sesal, saat menarik paksa Angel untuk mengancamnya, membuat mata Angel menatap nanar atas kalimat yang Dikra lontarkan. "Aku percaya kau adalah gadis pintar, tapi aku tidak percaya demi seorang teman kau bisa kelewatan batasan Angel, dimana akal sehatmu, Ha! Siapa yang mengajarimu cara seperti ini, apakah dia?" tunjuk Dikra dengan kurang ajar kearah Hellena.
"Dikra kau keterlaluan" gadis itu mengelengkan kepala dengan tidak terima, bagaimana bisa Dikra seperti ini.
"Memang! Aku memang keterlaluan, tapi apa aku harus tingal diam saja, melihat kau di club malam, menghabiskan waktu sampai dini hari, dengan alkohol di atas mejamu, serta pakaian minim seperti ini. Angeline......." pria itu mencengkram pundak Angel. "Kau harus sadar, jika keberadaanmu selalu berada dalam ancaman" kejarnya penuh tegas, berharap Angel sadar dimana posisinya berpijak.
Pria itu menarik Angel sedikit lebih dekat, ia menjangkau telinga gadis itu, agar lelauasa bicara dengan nada pelan. "Kau harus menerima Angel, saat kau berdiri dipuncak, maka kau harus siap kesepian. Jadi atas semua yang kau sandang sebagai ahli waris kelurga Hamillton, kehidupan dunia malam, pertemanan yang membahagiakan, semua ini hanya akan menghancurkanmu, jika saja disini ada ancaman pembunuhan, apa yang akan kau katakan pada Hansell, jika disini terjadi sesuatu yang buruk, apa kau yakin tidak akan menyesalinya" sungguh ucapan Dikra menghentikan tangisan Angel.
Mata mereka memancar penuh petentangan, atas gurat benci dan kesal. "Kenapa aku berbeda"
"Karna kau memiliki kekuasaan, kau memiliki apa yang orang lain tidak miliki, sedari awal kau tahu apa gunanya penjagaan ini, kau tahu kenapa kakakmu melarangmu bergaul sembarangan, kenapa Hansell ingin kau sekolah di asrama wanita, dan kau harus sadar, kenapa Hansell membenci wanita" seketika bulir air mata yang masih berlinang itu mereda, matanya menatap takut, bahkan ia sangat terluka atas sikap Dirka, namun apa yang ia katakan adalah kebenaran.
__ADS_1
"Dikra, aku akan mengantarkan Angel pulang" timpal Hellena, saat menjangkau tangan Angel, namun direbut paksa dari Dirka.
Mata pria itu masih memancar tajam, saat tangan Angel terlepas darinya setelah di rebut Hellena, kedua wanita itu tengah berdiri menantang Dikra, namun Angel berbeda, ia menatap dinging atas kata yang Dikra lontarkan, apakah sedari awal memang tidak ada kesempatan untuk Angel, seperti Hellena dan teman-temanya.
"Aku mengerti aku salah, tapi kau tidak seharusnya sekasar ini pada Angel, dan terkait Hansell......kau tenang saja! Aku yang akan menjelaskan dan minta maaf padanya!"
"Tapi ini tidak akan selesai dengan maaf Hellena!" bantah pria itu. "Jika Hansell mengetahuinya, apa kau yakin dia akan mengizinkan adik kesayanganya bermain dengan mu, saat kau melanggar batasan yang Hansell buat, jangan naif tentang Hansell, meskipun ia terlihat lembut dan pengertian, tetap saja tidak merubah kenyataan jika cara kerja yang melangar prinsip akan ia buang"
Sontak mata Hellena menatap nanar, apakah hal ini menjadi tanda jika nanti Hellena tidak bisa lagi mendekati Hansell atas semua kejadian malam ini, apa yang harus Hellena lakukan.
Tangan yang Hellena cengram dengan kuat seperti sang penolong atas kegundahan Angeline, kali ini ia lepaskan, membuat mata Angel menatap kesumber cengkraman yang berangsung lepas.
"Aku akan pulang bersama Dikra" terus Angel dengan kalimat dingin, setelah melihat ketakutan Hellena barusan.
Sedangkan mata tajam Dikra, ia pancarkan dengan geram atas hal yang menjengkelkan, sungguh kebereradaan Hellena yang seperti hama ini sangatlah menganggu Dikra, jika bisa ia tepiskan dengan mudah, ingin rasanya Dikra melakukan itu, tapi sayangnya Angel terlalu percaya pada Hellena, dasar gadis bodoh, dengan sikap naif yang dungu ini, bagaimana bisa ia berfikir kabur dari rumah.
"Ayo kita pulang" tarik Dikra untuk membawa Angel keluar dari sana.
Membuat beberapa orang yang mengerubungi jalanan memberikan ruang untuk Dikra berlalu, meninggalkan Hellena dan teman-temanya yang terdiam bisu melihat kepergian itu.
*
"Hellena, apa kau baik-baik saja?" tanya temanya.
"Aku baik-baik saja" balas Hellena sembari menduduki diri dikursi yang tadi ia tinggali.
"Astaga, kenapa Dikra William berlebihan sekali" kesal mereka. "Jika aku jadi dirimu. Aku akan marah besar, hanya karna Angeline kau di permalukan, ini tidak adil Helen! Kau tidak pantas di perlakukan seperti tadi"
Hellena diam saja, ia mengambil alkohol yang terhidang untuk di letakan ke gelas bening dihadapanya, meneguk minuman itu hingga tandas sebelum akhirnya menghela nafas dengan keras.
"Tapi Angeline, kenapa kau berlebihab sekali untuk mendapatkan Hansell, rasanya perjuanganmu tidak sebanding dengan timbal balik yang Angeline berikan, bahkan kau sebaik itu padanya, tapi Angeline tidak memiliki niatan mendekatimu pada kakaknya, ini keterlaluan"
Hellena menuangkan minuman itu sekali lagi, meneguk habis hingga tanda dengan beberapa detik, jalanya terhayung seraya bangkit mengambil tas jinjing mini, Hellena beranjak dari sana tanpa meninggalkan sepatah katapun, ia tidak ingin bicara apapun dan pada siapapun.
__ADS_1
Persetan dengan kegagalan apa yang ia dapatkan, Hellena sungguh lelah sekali. Apakah Hansell memang tidak memiliki hati, atau memiliki gadis lain yang ia sukai.
Jika sudah begini, Hellena tidak bisa tinggal diam, ia harus memastikan kendala apa yang membuat pria itu masih belum meliriknya? Apakah kesibukan semata atau jangan-jangan ada seornag wanita, di tambah pembicaraan singkat Angeline dan kakaknya di toilet barusan, bukankah itu alibi yang kuat untuk Hellena bertindak.