
Seminggu kemudian, hubungan Airyn dan Hansell semakin membaik, mereka selalu menghabiskan jam istirahat di perpustakaan, sebab sangat sesuai dengan karakter masing-masing.
Selain itu Hansell sudah mendapatkan nomor ponsel Airyn secara penuh, rasanya gadis yang ia sukai semakin mudah di dapati, tapi itu hanya ilusi yang sedang Hansell ciptakan untuk hatinya, sebab kenyataanya, Airyn sangat sulit dimengerti.
Gadis itu mungkin terlihat dekat dan selalu ada disisinya, tapi setiap kali ia mendapatkan pesan dari orangnya, fokus gadis itu tidak lagi soal dunia sekolah dan Hansell, baginya pekerjaan dan kehidupan dirinya dikalangan atas sudah menjadi prioritas utama, bahkan seperti saat ini.
"Hansell, maaf. Aku harus pulang hari ini" imbuhnya dengan penuh sesal setelah mereka melakukan janji akan berkencan sepulang sekolah.
Hansell yang berdiri dihadapan Airyn dengan wajah pengertian, memandangi tiap inci indah diwajah itu, sepertinya ada tanggung jawab yang sudah membelengu kaki Airyn, tentu hal ini membuatnya menempatkan prioritas tinggi dalam ranah pribadi.
"Apakah mendesak sekali?" tanya Hansell untuk menawar kembali.
"Tentu saja. Jika besok jadwalku tidak padat, aku janji akan menemanimu ke toko buku, hari ini aku memiliki masalah pribadi yang sedikit mendesak, aku minta maaf sekali" sambutnya dengan tergesa sembari mengamati jam yang melingkar di pergelangan tanganya.
"Baiklah, sampai jumpa besok pagi Airyn, pulanglah, hati-hati dijalan" balas Hansell dengan ramah, seolah ia perlu bebesar hati membiarkan gadis itu kembali, karna baginya tidak ada masalah pribadi yang melebihi pekerjaan dan juga kewajibanya sebagai pemimpin.
Sayang sekali, Hansell tidak masuk dalam prioritas gadis itu. Airyn memberikan lambaian tangan saat meningakan Hansell di gerbang sekolah, ia memasuki mobil yang sudah menanti di depan pagar itu, bahkan satu kalipun gadis itu tidak memalingkan wajah untuk melihat kearah belakang, nampaknya pekerjaan saat ini terlalu menarik perhatianya.
"Hansell" putus Dikra ketika menghampiri temanya, bahkan pria itu berjalan bersama Hellena di sampingnya.
"Kemana Airyn? Bukankah kalian akan ketoko buku, kenapa dia malah pergi?"
"Airyn memiliki pekerjaan mendesak" balas Hansell dengan gurat malas, membuat Dikra membulatkan mulut seolah mengerti.
Sedangkan Hellena melirik kepergian Airyn, nampaknya gadis itu melakukan pekerjaan paruh waktu sepulang sekolah, sehingga ia tidak bisa bermain seperti anak pada umunya, tapi ini menjadi nilai bonus tersendiri untuk Hellena, terlepas dari Hansell yang mengejar Airyn mati-matian, Hellena memiliki tingat unggul soal materi, apalagi terkait paras, tentu Hellena tak jauh beda, baru saja ia masuk beberapa hari kesekolah bergengsi ini, sudah banyak laki-laki yang terpaksa ia tolak, sayangnya hal itu masih belum membuat Hansell bereaksi, apakah pria itu benar-benar tidak melihat Hellena sebagai seorang wanita.
"Hellena, apa kau mau pulang?" tanya Hansell hingga membuyarkan lamunan gadis di depannya.
"Tidak kak, Hellena ada janji untuk pergi dengan Angel hari ini"
"Ooh.. kalau begitu bagaimana kalau kau ikut kakak untuk pulang, Angel pasti sudah menunggumu" ajak Hansell dengan kalimat tenang, membuat Hellena tersenyum manis sembari mengikuti langkah mereka.
Sepanjang perjalanan Hellena tak henti berfikir, kenapa Hansell sebegitu perhatian dan menaruh tatapan hangat pada Airyn, apa kelebihan gadis itu yang tidak ada pada Hellena, sebenarnya gadis seperti apa dia, hingga tatapan matanya saja mampu membuat Hellena tidak bisa berkutik, padahal gadis itu hanyalah seorang wanita rendahan.
"Hellena, apa yang kau fikirkan, kita sudah sampai" putus Hansell ketika memalingkan kepala menatap Hellena yang duduk dikabin penumpang.
"Oh, iya. B-Baik kak, terimakasih atas tumpanganya" sambung Hellena dengan kalimat gugup, ia keluar dari mobil yang di tumpangi sembari melihat Angeline yang sudah menyambar sebagian tubuhnya dengan pelukan.
"Hellena, aku rindu sekali" ungkap Angel ketika memejamkan matanya memeluk Hellena, membuat gadis itu tersenyum manis sembari mengusap kepala Angel.
"Hei, kenapa kau berlebihan sekali" ejek Hellena seraya mencubit pipi Angeline dengan gemas.
"Aku sungguh-sungguh merindukanmu"
"Aku juga" sautnya dengan nada rendah. "Ngomong-ngomong, apa kau masih diganggu oleh mereka?" terus gadis itu, sebab setelah ia pindah dari sekolahnya, Hellena meminta teman-temanya berhenti merundung Angeline, jadi pasti gadis itu sudah baik-baik saja sekarang.
"Tidak Hellena, semuanya sudah baik-baik saja" suat Angeline dengan nada enggan, padahal beberapa orang disekolah selalu memandangnya penuh kejijikan, bahkan mereka membicarakan Angeline sepanjang jalan, dan orang-orang yang menyebabkan Hellena pindah, masih tetap sama, namunbAngeline tidak bisa menceritakan ini pada Hellena, sebab kalau bukan karna dirinya, Hellena tidak dikeluarkan dari sekolah, untuk itulah, menyimpan semuanya sendirian menghilangkan rasa bersalahnya pada Hellena.
"Ayo masuk" terus Angeline ketika meraih tangan Hellena untuk memasuki rumahnya.
__ADS_1
Melihat hal itu Dikra dan Hansell juga pergi ke tempat biasa, bahkan mereka sedari tadi hanya diam tanpa banyak bicara, Dikra yang hanya mengamati jalanan, sedangkan Hansell yang fokus mengendarai mobil tidak seperti mereka biasanya.
"Hansell" lirih Dikra hingga memecah keheningan di mobil itu.
"Iya ada apa?" tanya Hansell sambil membelokan mobil kearah barat setelah melewati lampu merah.
"Bagaimana kalau Angel dipindahkan ke sekolah kita saja"
"Tidak!" bantah pria itu dengan segera.
"Kenapa? Bukankah lebih bagus jika Angel sekolah dengan kita dan bisa kita pantau setiap hari"
"Tentu hal itu sangat bagus. Tapi kenapa Angel harus pindah, sedangkah dia disekolah sangat baik disana" alasannya dengan sedikit cemas, bagaimana tidak, jika Angel mengetahui akan Airyn, bisa-bisa ia tidak akan menyukai calon kakak iparnya dengan karakter yang seperti itu, jadi untuk menarik perhatian Angel, Hansell perlu mendapatkan Airyn.
"Kenapa kau tidak mau memindahkan Angel ke sekolah kita! Apa kau tidak bisa lihat beberapa hari ini dia sangat pendiam, apalagi temanya sudah pindah sekolah, jadi lebih baik dipindahkan saja"
"Tidak Dikra!" bentak pria itu dengan yakin. "Dari pada memikirkan kemana Angel perlu di pindahkan, lebih baik kau beri aku alasan kenapa kau memintaku memindahkan Angel dari sekolahnya? " ancam pria itu saat menghentikan mobil yang ia kendarai, sebab Dikra tidak seperti biasanya pada Angeline, nampaknya fokus pria itu selalu saja pad Angel, memangnya ada apa dengan adiknya hingga Dikra secemas ini.
"I-Itu... "
"Dikra, apa yang kau ketahui, jangan menyimpan sesuatu dariku" garangnya penuh murka saat menghentikan mobil ditepian jalan, Hansell benar-benar ingin tahu kenapa Angel perlu dipindahkan, karna ia lebih peduli tentang penyebab suatu masalah dari pada mencari jalan keluarnya.
"Aku mencari informasi terkait Angel dari beberapa wanita yang aku kencani di sekolahanya. Mereka bilang, Angel selalu disalahkan beberapa siswi akibat Hellena dikeluarkan, bahkan mereka masih merundung Angeline mengunakan verbal" sungguh Dikra tidak menyangka akan mengatakan hal ini pada Hansell padahal ia sudah berjanji pada Angeline untuk tidak memberitahu Hansell, tapi Dikra tidak bisa berbuat apapun selain mengikar janjinya sendiri. "Untuk itulah Hansell, pindahkan saja Angeline ke sekolah kita, setidaknya dengan begini kita bisa memantau dan menjaganya dalam pandangan yang dekat" terus Dikra penuh yakin, ia memalingkan kepala kearah Hansell namun dirinya di todong oleh aura mengerikan yang Hansell keluarkan.
Pria yang diam seribu bahasa namun sudah memiliki keputusan dikepalanya, bahkan Dikra dapat merasakan betapa mengerikanya Hansell atas cerita barusan, tentu saja hal ini akan membuatnya murka bahkan Dikra saja sudah menganggap mereka saudara hampir sama dengan Hansell.
"H-Hansell, apa kau baik-baik saja?"
Ia mengotak atik layar ponsel lipat itu sembari menghubungi seseorang, bahkan beberapa saat ponsel Hansell terhubung pada si penerima, membuatnya meremukan stir mobil penuh kekesalan.
"Darrel, selidiki tentang kasus pembullyan di sekolah Angeline, cari mereka hingga keakarnya dan keluarkan orang tuanya dari pekerjaan, buat eksekusi untuk semuanya hingga jera karna aku tidak bisa menoleransi lagi"
Ponsel itu ia hempaskan ke stir mobil setelah menjatuhkan putusan, membuat Dikra terpana diam memandagi gurat emosi yang Hansell paparkan.
"Han-Hansell.. "
"Kenapa kau baru memberitahuku hari ini, apa kau gila menyembunyikan hal ini dariku, jika terjadi sesuatu pada Angel bagaimana"
"Aku baru saja mengetahuinya tadi malam, kenapa kau membentak ku"
"Astaga, apa Angel gila mendiamkan hal sebesar ini. Kenapa anak itu tidak memberitahuku apapun"
"Bagaimana ia bisa memberitahumu, jika singa besar sudah menerkam dirinya" gumam Dikra dengan penuh kesal saat memikirkan Hellena.
*
Senyum sunging yang Airyn ulas di wajahnya membuat beberapa anak buahnya menundukan diri dengan hormat, gadis itu melirik kearah depan dengan tatapan mengerikan yang mungkin ia pertontonkan, baju sekolah yang masih melekat ia tambal degan jaket hangat untuk membalutnya.
"Kalian tunggulah diluar"
__ADS_1
"Tapi Nona"
Seketika pandangan Airyn memancar, ia benar-benar mengerikan sebab Nona Petrov tidak ingin dibantah. Melihat hal itu, tentu anak buahnya membiarkan Airyn masuk kedalam gedung tua di depan mereka, rasanya bangunan terbangkalai ini tidak mungkin bisa di tempati oleh seorang wanita, untuk itulah Airyn ingin melihat wanita seperti apa yang sangat pemberani itu.
Gadis itu menekan panggilan cepat yang sudah disetel di ponselnya, ia mengangkat benda itu untuk diarahkan kedaun telinga, Airyn merasuki pangilan menghubungkan yang akirnya menyambung pada ponsel seseorang.
"Hallo Nona Petrov" itulah sapaan pertamanya dengan suara wanita yang tidak disamarkan seperti biasa.
"Kemana aku harus pergi?" kejar Airyn tanpa basa basi
"Aku tidak menyangkan pada akirnya Nona Petrov seantusias ini, hal apa yang membaut anda berubah fikiran Nona?"
"Apakah itu penting bagimu, sekarang beritahu aku dimana kau berada"
"Sebebarnya, aku sangat kaget melihat anda seberani ini, apakah anda tidak takut jika sewaktu-waktu aku akan membunuhmu" ucapnya dengan nada mengerikan seraya mengangkat kaki kepermukaan meja.
"Aku masih percaya, anjing yang memohon untuk aku adopsi, akan mematuhi tuan-nya. Selagi aku menyediakan tempat untuk kau hidup, apa kau yakin aku bisa kau habisi" balas Nona Petrov dengan nada mengerikan.
Membuat hentakan pulpen yang ia mainkan dipermukaan meja dihentikan, wanita yang menelfon Airyn barusan baru mengerti sekarang, jika Nona Petrov memang selangkah lebih maju dari siapapun, ia bahkan bisa menebak niatan orang yang sedang berjalan keperangkapnya, seolah tidak menyiapkan waktu untuk seseorang menyerang, jika begini, Nona Petrov tidak bisa disepelekan.
"Baiklah, kau lihat dinding yang ada di depanmu, apa kau melihat sesuatu disana?"
"Ya aku melihat, jam rongsokan"
"Kau bisa memutar jam itu sesuai dengan jarum jam sekitar 60 derajat"
Seketika langkah Airyn menapak untuk mendekat, ia tidak sengaja memijaki sebuah atap rumah yang sudah rapuh dikakinya hingga membuat suara gaduh yang menarik perhatian.
Merasakan sedikit kaget tentu ada rasa khawatir yang menguasai, namun Airyn tetap berpegang teguh pada keberanian, gadis itu mengikuti perintah tanpa meragu untuk menemui orang yang terus meneror dirinya.
"Apa ini?" tanya Airyn dengan sedikit gugup, ketika jam yang ia putar itu membuka sebagian tembok yang menunjukan lorong bawah tanah yang sangat curam.
"Masuklah Nona Petrov" terusnya dengan kalimat perintah, membuat Airyn merasakan getirnya rasa ketakutan namun perlu menguatkan pertahanan.
Ia memasuki ruangan itu dengan rasa cemas, seraya mendengarkan senandung mengerikan dari si penelfon, sungguh dada Airyn dibuat bergemuruh, saat ia berujung diambang pintu, namun ada kebingungan yang melanda dirinya.
"Sandinya, ulang tahunmu" terus wanita yang ada dibalik ponsel itu, membuat dada Airyn bergemuruh hebat ketika data pribadinya mampu diakses oleh orang sembarangan.
"Kenapa tidak bisa!" bentak Airyn dengan murka, saat ia memasukan kata sandi yang di inginkan.
Membuat gelak tawa langsung terdengar nyaring dari balik ponsel itu. "Bukan angka yang ada diatas kertas, tapi angka kelahiranmu yang sebenarnya!"
"Siapa kau sebenarnya!! Bagaimana kau bisa mengetahui sebanyak itu" bentak Airyn dengab murka, bahkan ia sangat kesal pada seseorang yang berani sekali mengusik dirinya.
"Anda tenang saja Nona Petrov, hal ini hanya untuk membuktikan jika aku tidak main-main soal kemampuanku, tapi seperti apapun kehebatanku. Aku tidak akan berani bermain-main dengan Nona Petrov yang mengerikan" sambarnya dengan kalimat damai, hingga meredakan emosi yang bergejolak dibatin Airyn. "Sekarang masuklah, aku sudah menantimu"
Dengan segera Airyn menekan "1505" di sebagian tombol yang ada didekat pintu, hingga pintu besi yang kokoh itu benar-benar terbuka, bagaimana kagetnya Airyn jika seseorang sudah mendapatkan identitasnya sesempurna ini, bukankah ini terlalu remeh jika diabaikan.
Panggilan itu terputus, mata Airyn menyipit tajam memandangi seluruh ruangan yang di penuhi komputer, bahkan setiap sudut kota ada didalam pantauanya, tentu Airyn tidak menyangka jika seorang wanitalah yang mengendalikan hal ini dibalik kehebatan jarinya.
__ADS_1
"Selamat datang Nona Petrov, perkenalkan namaku Frada" katanya dengan penuh bangga, membuat Airyn terpana melihat gadis itu.
Ternyata benar dia seorang wanita yang seusia dengan Airyn, gadis itu tidaklah orang sembarangan, sebab bisa memaksa Airyn untuk berjalan kesangkarnya.