
Hansell di sambut oleh Manager Hotel yang menanti dirinya, pria itu adalah orang kepercayaan Hansell untuk mengelola hotel yang berada di Negara ini.
"Selamat datang Tuan Hansell" sambut pria dewasa itu sembari membungkukan padangan khas orang Tiongkok pada umumnya.
"Terima kasih Tuan Luo-Luo, apakah tamu penting kita sudah datang?" serunya tanpa mampu bersabar lagi.
"Sebentar lagi Nona Petrov akan sampai, apakah anda datang kemari untuk menemui beliau"
"Tidak!" saut Hansell dengan gurat panik, bagaimana jadinya jika Airyn mengetahui hal ini, bisa saja Hansell akan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Airyn. "Saya hanya ingin berkunjung untuk memeriksa keadaan hotel, hanya itu saja" kerasnya dengan pandangan mata tak menentu sebab terlanjur salah tingkah.
Membuat Tuan Luo-luo, tertawa cangung seraya mengacungkan tanganya kearah depan. "Silahkan masuk Tuan" ucapnya kehapadan Hansell.
Tentu saja dengan segera Hansell memasuki lift khusus yang hanya di peruntukan oleh President Hamillton, bahkan pria itu berlalu pergi meningalkan Tuan Luo-luo seraya menghilang di balik pintu lift.
Hansell nampak sangat bahagia ketika melangkah keluar dari bilik lift, ia tertawa cukup puas saat Airyn akan ada di hotel yang sama denganya, bahkan ia tidak menyangka gadis itu akan memilih hotel ini sebagai tempat penginapan, apakah ini memang takdir mereka atau Hansell saja yang memaksakan diri untuk bersamanya?
*
__ADS_1
Airyn melangkahkan kaki menuruni mobil yang membawanya ke penginapan, gadis itu menangalkan kaca mata hitam yang bertenger di kedua matanya, manik tajam itu memancar kearah depan, sembari mengamati tempat yang katanya sebagai Hotel terbaik di Tiongkok, dilengkapi fasilitas ungulan dengan harga fantastis, bahkan keamanan Hotel saja terjaga ketat, membuat beberapa orang pembisnis memilih tempat ini untuk di tempati, sebab masalah bisnis membutuhkan privasi terjaga untuk mereka.
"Silahkan masuk Nona" putus seorang wanita yang ada sampingnya, tentu saja Airyn berjalan angkuh kearah dalam, seraya memasuki Hotel yang akan menjadi tempat peristirahatanya dalam beberapa hari ini.
Hansell mengulas senyum di sudut bibirnya, sambil menyeruput kopi hangat yang baru saja ia teguk, bahkan pria itu tidak menyangka kopi sepahit ini bisa menjadi manis saat memandangi Airyn dari jendela kamar, gadis itu terus saja bersikap angkuh dan bertingkah mengerikan, tapi hal ini malah membuatnya semakin menarik perhatian.
Di tambah malam itu, Airyn seperti gadis malang yang sangat tersiksa pasrah, memohon Hansell menyentuh untuk menenangkan gejolak tubuh, seraya memeluk dirinya dengan sangat erat, bahkan hingga detik ini, bayangan Airyn malam itu masih belum pudar sedikitpun.
*
Untuk makan malam, Hansell memilih keluar dari kamarnya, pria itu berlalu ke Restoran Hotel yang ada di bawah, baru saja ia ingin memesan sesuatu, Hansell malah terpaku pada gadis yang cukup di kenalinya.
Hansell masih belum mampu melenyapkan pandangan itu, ia tertuntun untuk berjalan menghampiri Airyn, Hansell dapat melihat jika saat ini ada sesuatu yang ingin di lakukanya, apakah ia ingin menikmati suasana malam seperti anak pada umumnya, namun Hansell yakin disisinya tidak ada siapapun yang Airyn kenali, gadia menyebalkan itu seperti sendirian tanpa memiliki teman yang dekat denganya, seolah dunia Airyn di buat sesunyi mungkin agar tidak kehilangan siapapun lagi.
Apakah hal ini karna meninggalnya Tuan Petrov? Sampai menjadi luka dalam yang tidak ingin ia obati, tapi kenapa Airyn harus seperti ini, apakah ia tidak percaya jika di dunia ini ada takdir di kehidupan setiap manusia.
"Kau!" bentak Airyn saat menyadari Hansell meloncong kearah dirinya, membuat mata itu kembali menajam untuk membuat pertahanan diri kokoh atas serang yang mungkin menghadang.
__ADS_1
"Kenapa kau sendirian saja, apa kau mau keluar?" tanya pria itu sembari menduduki kursi kosong di hadapan Airyn, bahkan saat ini Hansell dapat merasakan jika orang-orang Airyn tengah waspada untuk mengamati dirinya, seperti manusia buatan yang hanya bertugas untuk menangkis musuh yang mendekat kearah Nona Petrov.
"Apa kau mau keluar bersamaku, aku ingin sekali menikmati waktu seperti mereka yang ada di luar sana, tapi aku tidak memiliki teman" ucap pria itu, bahkan ia memiliki banyak relasi yang sangat akrab, salah satunya Xiumin, hanya saja Hansell ingin terlihat sama seperti Airyn, agar gadis itu sedikit tergoda oleh ajakan dirinya.
Namum siapa yang menduga jika Airyn malah menolaknya, membalas ajakan baik Hansell dengan penuh sikap ketus dan penolakan tajam, mencerca Hansell untuk tau diri bahwa ia bukan gadis sembarangan yang bisa di dekati, hingga rasanya Airyn memang tidak bisa di bujuk dengan cara apapun.
"Pergilah..." usir gadis itu, namun Hansell masih tak bergeming dari sana, padahal orang-orang Airyn sudah bergerak dari sisi manapun, sampai akirnya gadis itu bisa menahan mereka.
"Kenapa dia menghentikan mereka" batin Hansell ketika memandangi wajah indah nan di ciptakan dengan sempurna, sungguh Hansell sangat tertarik sekali dengan Airyn, ia ingin mengencani gadis mengerikan ini serta mengenali dirinya untuk lebih lama lagi, tapi kenapa sesulit itu, jujur saja kejadian malam itu seperti kenangan indah yang terus mengerakan hatinya untuk berhenti membenci Airyn, bahkan membuat Hansell sadar, rasa penasaran itu lambat laun berubah menjadi rasa kagum yang berkesan.
"Aku sudah selesai, pergilah jika kau mau keluar, jangan menganggu ku, aku tidak punya waktu untuk bermain-main" terusnya ketika bangkit dari hadapan Hansell, hingga pria itu membulatkan mata dengan sempurna ketika menyaksikan Airyn meningalkan meja makan mereka.
"Airyn-" cegat Hansell tatkala meraih tanganya untuk menghentikan langkah gadis angkuh itu, bahkan belum sempat Hansell bicara Airyn menajamkan mata dengan sempurna seraya menepiskan tangan Hansell dengan kasar, di ikuti oleh hantaman kasar dari orang-orang yang sedari tadi mengamati mereka, membuat pria itu tersungkur kearah lantai dalam hitungan detik saja.
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Airyn saat menjangkau tubuh Hansell dengan badanya yang mungil, bahkan gadis itu memeluk sebagian diri Hansell untuk melindunginya dari amukan para anak buah yang setia mengikuti Nona Petrov. "Apa kalian gila memukulnya!" terus gadis itu saat naik pitam atas apa yang terjadi pada Hansell, bahkan Airyn tidak menyangka tangan anak buahnya melukai pria yang sudah membantunya waktu itu, dan pria itu ialah Hansell Hamillton yang sangat berarti atas budinya.
"Maaf Nona, kami fikir dia membahayakan anda" terus pria berwajah garang itu.
__ADS_1
Bahkan saat ini ia sudah menghentikan gejolak emosi yang mendidih sstelah berhasil memukuli Hansell, membuar Airyn sungguh marah besar tanpa mampu di hentikan olehnya, rasanya jantung pria itu sedang berdebar kencang untuk pertama kalinya atas Airyn yang sangat berbeda, memperlihatkan gurat khawatir yang nyata hingga Hansell tidak percaya ia berada di dunua nyata.
Apakah dia mengkhawatirkan diriku? fikir pria itu. Kenapa Airyn bisa bersikap seperti ini, padahal selama ini mereka terus bertentangan.