Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story of Hansell Episode : 65] Mencari keberadaan Airyn.


__ADS_3

Sedari tadi Hansell sudah memeriksa semua tempat, bahkan ia sudah memastikan ruang kelas sebanyak 3 kali, membuat pria itu tidak mengerti kemana lagi Airyn pergi, apakah memang ada pekerjaan yang mendesak hingga ia pergi tanpa meninggalkan pesan, atau gadis itu menangis dan bersembunyi sendirian.


“Ahh, ruang rahasia” ungkap Hansell ketika sedang menerka, membuat diriya tidak akan menghabiskan waktu lagi untuk berlalu kearah belakang, setidaknya ia perlu melintasi taman dan mencampai ruangan terbangkalai tersebut, dan berharap Airyn berada disana.


“Airyn…apa kau di dalam?” teriak Hansell ketika memastikan keadaan sekitar, bahkan ia tidak mendengar suara apapun selain hening tanpa kehidupan. “Airyn, apa kau mendengarkan aku” terusnya lagi sembari mengedor-gedur pintu bangunan, bahkan Hansell berdecak kesal penuh cemas atas apa yang saat ini terjadi pada Airyn.


Semoga Airyn tidak berada pada kemungkinan terburuk.


“Kemana dia pergi, apakah dia sedang menangis” kesal Hansell dengan jengkel bahkan rasanya ia begitu marah lantaran baru mengetahui hal ini, bagaimana bisa Airyn mematikan ponselnya, bahkan para gadis yang tadi membicarakan Airyn, mengatakan jika kejadian ini terjadi disaat pelajaran pertama di mulai, berarti Airyn sudah menghilang sejak istirahat pertama, bahkan sekarang sudah istirahat kedua, dan Hansell tidak mengerti kemana lagi harus mencari dirinya.


*


Setelah pelajaran selesai, Airyn keluar dari kelas, ia berlalu ke ruang rahasia untuk menenangkan dirinya, gadis itu melakukan beberapa pekerjaan dan mulai mempelajari kawasan yang sedang ia ambil alih dari tuan Shimura, tak hanya itu saja, Airyn mempelajari beberapa proyek besar dalam bidang farmasi yang Tuan Zat tawarkan, meskipun ini berbeda sekali dengan minat Nona Petrov, namun Airyn benar-benar ingin mencoba sesuatu yang baru dan mencoba mengeksplorasi dirinya lebih jauh lagi, namun suara beberapa orang menganggu ketenangan gadis itu, bahkan jeritan dari sumber suara membuat telinganya jengah, tentu Airyn mengerutkan dahir dengan jengkel untuk keluar dari ruang rahasianya, agar memastikan sesuatu.


“Apa yang mereka lakukan, apakah masih zaman perundungan di sekolah ini” dengus Airyn dengan tidak percaya, bahkan ia terlihat jengkel atas penindasan yang di lakukan oleh anak-anak berseragam sekolah.


Namun mata Airyn dibuat terpana, ketika 3 orang pria memukuli salah satu temanya hingga pria itu terkapar di permukaan tanah, bahkan Airyn tidak percaya jika ia menyaksikan dengan kedua matanya sendiri, jika perundungan dan kekerasan dilakukan dalam kawasan sekolah, apakah anak-anak itu tidak takut sedikitpun, sehingga dengan bahagianya memukuli kaum lemah.


Bagaimana bisa anak-anak seperti mereka melakukan kekerasan, apakah mereka tidak memikirkan jangka panjang, bahkan memukul dan menganiaya seseroang itu sudah kelewatan, di tambah menyeretnya ke dalam hutan membuat Airyn semakin tidak menyangka.


“Aku harus menghubungi Merry untuk meminta pertolongan” terus Nona Petrov dengan gusarnya, bahkan ia mencoba mengeluarkan ponsel yang ada di kantong seragamnya, namun Airyn tidak menemukan benda itu.


“Astaga, aku meninggalkanya di kelas, apa yang harus aku lakukan” panik Nona Petrov ketika melihat tidak ada apa-pun di kawasan ini, bahkan Airyn meminta pihak sekolah untuk mematikan cctv khusus di kawasan yang tidak terpakai, sebab hal itu juga tidak ada gunanya, tapi sekarang ada kejahatan yang terjadi tepat di depan matanya, dan tak ada salah satu alat bukti yang bisa Airyn gunakan, gadis itu tidak memiliki alat perekam, ia juga memerintahkan pihak sekolah mencabut cctv. "Apa yabg harus aku lakukan, jika terjadi sesuatu padanya, tentu aku merasa cukup bersalah” panik Airyn dengan tidak habis fikir, rasanya ia begitu bingung harus bersikap seperti apa, tapi Airyn tidak bisa membiarkan kejahatan dan penindasan ini terjadi. “ku harus mengikuti mereka” batin nona Petrov dengan penuh keyakinan, bahkan ia melangkah dari jarak tertentu untuk mengamati apa yang mereka lakukan, gadis itu bersikap seperti mata-mata profesional yang siap melakukan apapun untuk mencari informasi agar bisa membantu korban.


*


Renda adalah tim basket sekolah yang berada di pemain cadangan, ia berasal dari latar belakang yang cukup mengagumkan dan terlahir sebagai ahli waris kekayaan orang tuanya, tapi sayangnya, Rendra tidak memiliki bakat apapun dalam basket, ia selalu menjadi pemain cadangan dan terintimidasi oleh bakat Leon, pria itu berada dibawah dirinya namun sangat pintar dan berbakat, hingga suatu hati, Leon mendapati Rendra menyuap guru olahraga, bahkan Leon mencoba menghentikanya namun ia tidak bisa, akibat perseteruan diantara keduanya masih terjadi perang dingin, namun emosi Rendra memuncak betapa menyedihkanya dirinya yang di tampar oleh ayahnya akibay payah, bahkan sialnya Leon melihat hal itu, jadi apa yang sudah terjadi pada Rendra, ia ingin menghabisi Leon, setidaknya mematahkan tanganya agar tidak bisa menjadi kapten basket lagi.


“Cepat tarik dia” perintah Rendra yang memegang kendali di kelompok itu, bahkan pria yang mereka seret dengan tidak manusiasi begitu memohon untuk di lepaskan, tapi Rendra tidak peduli, harga dirinya lebih dilukai ketimbang apa yang terjadi pada pria itu. "Kau fikir aku akan memaafkan dirimu setelah melihat kejadiaan barusan” bentaknya saat menendang keras tubuh pria itu, bahkan Airyn menutup kedua mulutnya agar tidak bersuara, meskipun matanya membulat secara sempurna, disusul oleh jantungnya yang berdegub kencang hingga ingin copot dari temptnya, tak membuat gadis itu gentar, sebab Airyn perlu melihat sejauh apa mereka melakukan penyiksaan sebelum bantuan datang.


"Apa kau fikir membunuhku akan mengubah fakta tentangmu" paksa Leon saat bicara. "Pada akirnya sampah sepertimu tetap akan menjadi sambah"


"Sialan" teriak Rendra yang begitu murkanya, bahkan darah segar mencucur di permukaan tanganya akibat menahan tendangan mereka. "Gelandangan sepertimu cukup bernyali. Kau fikir dirimu pantas memandangku seperti itu, aku bahkan tidak akan membiarkanmu hidup untuk melihatku dengan tatapan menjengkelkan, bahkan aku berencana menguburmu hidup-hidup di hutan ini, tanpa ada yang menyadarinya" ancam Rendra dengan tatapan mengerikan yang penuh keinginan buas, membuat tubuh Leon bergindik ngeri atas kegilaan Rendra.


"Apa yang mereka lakukan, apakah mereka sedang syuting film" batin Airyn dengan takutnya, bahkan gadis itu merengsek mundur kebalik pohon besar, agar melihat kejadiaan itu sejelas mungkin, namun suara ranting rapuh mengacaukan semuanya.


“Siapa disana” teriak mereka dengan waspada, bahkan Airyn menahan nafasnya dengan begitu sesak seolah tidak menyangka akan berada diposisi ini.


“Bos, Apa ada yang melihat kita?” tanya anak buah Rendra dengan curiga.


“Tidak mungkin, sekalipun ada yang melihat, mereka tidak akan peduli dengan masalah kita” saut Rendra dengan yakin nya.


“Apa kau yakin Bos, kenapa aku curiga jika menang ada yang melihat" bantahnya dengan kilau mata menajam, sebab melihat dedaun yang ada di dekat sumber suara mulai bergoyang padahal angin tidak sedang berhembus kencang.

__ADS_1


"Yasudah, lihatlah, pastikan siapa yang ada disana” terus Renda dengan perintah, membuat anak buahnya melangkah mendekati pohon besar yang berada pada pengamatan mereka.


Leon yang terpaku atas percakapan orang yang menyiksa dirinya, memandangi langit nan mulai mendung, bahkan suasana hutam menjadi sedikit gelap, sedangkan Airyn yang berada dibalik sana, dengan segala perkataan yang di dengarnya, berusaha menahan nafas dengan susah payah, sebab tubuhnya membeku ketakutan.


“Dasar sampah!” berontak Leon yang sedari tadi ditindas, bahkan membuat Rendra menarik tatapan matanya kearah pria itu, sedangkan anak buahnya mengurungkan langkah mereka, ketiganya berlalu secepat mungkin meninggalkan tujuan untuk memberikan Leon pelajaran, pukulan demi pukulan di terima, bahkan mereka melakukan perundungan secara bersamaan hingga darah segar mencucur dengan deras dari sudut kulitnya, tentu hal ini membuat Airyn terpana diam, betapa bodohnya Airyn melangkah kearah dalam tanpa membawa apapun, bagaimanapun yang sedang ia ikuti sekelompok pria gila yang tidak berotak, bahkan membuat Airyn tidak bisa menahan dirinya terlalu lama, ia perlu melakukan sesuatu.


“Seret dia, berani sekali kau memukulku, apa kau ingin mati” bentak Rendra kearah pria yang tengah ia hancurkan dengan pukulan.


“Ya……a-aku merasa puas melihatmu menjadi pecundang, apa kau fikir membayar guru olahraga untuk masuk ke tim basket menjadikanmu pemain yang hebat, kau….tidak lebih dari sampah yang menyedihkan, bahkan aku melihat kau di pukuli ayahmu hanya karna bodoh, membuatku cukup kasihan! Kenapa tidak kau terima saja kekalahan mu, sampai kapan kau akan menyuap guru olahraga! Dasar brengsek”


“Aishh sialan, kau fikir kau pantas mengatakan itu padaku ha!” bentak Rendra ketika menendang permukaan perut pria itu, bahkan jeritan kesakitan akibat luka ngilu pasti semakin menyiksa, membuat Airyn merasakan betapa pedihnya itu, tapi tubuh Airyn terlanjur mati rasa, bahkan ia tidak berani bergerak dan tidak berani bangkit, Airyn sama takutnya dengan pria itu, sekalipun ia mengerikan dan penuh otoritas tinggi, itu semua karna Airyn memiliki penjagaan, tapi sekarang, ia benar-benar tidak membawa apapun, membuat Airyn sangat menyesal pada pria yang tengah terluka tersebut.


“Kau memang pecundang bahkan sampai ahkirpun kau tak akan pernah menang” hina pria itu diantara rasa sakitnya yang begitu menyembilu, bahkan ia masih berani memprovokasi, membuat Airyn tidak mempunyai pilihan, untuk melawan rasa takut dan juga nafas sesak yang dialami, bahkan Airyn mengeluarkan kepalanya seraya mengintip sekecil mungkin, hingga pria yang sudah babak belur dengan mata yang membengkak akibat pukulan mereka, terpaku diam melihat kehadirah Nona Petrov yang ada dibalik pohon besar didepan mereka, bahkan Airyn memberikan tanda untuk pria itu diam, setidaknya ia mengerti gadis yang ada di balik pohon sedang membantunya.


“Lalu kenapa jika aku pecundang, sekalipun aku tidak akan bisa menang, tetap saja aku berhasil mencuri tempatmu, bukankah ini sama saja menjadi pemenang” teriak Rendra dengan murka seraya menarik kasar rambut pria itu, bahkan laki-laki gila yang terus menyiksa temanya tak henti memberikan pukulan yang membuat dadanya dilanda sesak. “Matilah!!” teriaknya dengan hantaman dahsyat, membuat pria itu mengaung kesakitan sembari menahan luka fisik yang tiada henti. “Matilah! Matilah! Matilah kau!!” hingga tendangan itu terhenti tepat ketika ia menyadari kemana mata si bodoh itu memandang.


“Kenapa kau melihat kebalik pohon itu, apakah ada seseorang disana?” tanyanya dengan segera, bahkan membuat mata Airyn terpana diam, tentu pria yang kesakitan dengan luka dimana-mana mengerjapkan mata dengan tidak percaya, ia tidak boleh membiarkan iblis itu menemukan gadis tersebut, sebab jika gadis itu ketahuan, bisa saja dia terluka karna kegilaan Rendra membuat Leon yang setengah sehat itu menahan kaki Rendra yang terus menganiaya tubuhnya, setidaknya Leon perlu mencegat pria itu agar tidak menemukan Airyn, sekalipun mereka menghajarnya.


“Periksa” titih Rendra pada dua rekan yang tengah ada dihadapanya, membuat Airyn begitu tidak percaya akirnya dirinya terlibat hal gila. “Kau!” teriak mereka ketika melihat seorang wanita berdiri dengan penuh gemetar. “Apa yang kau lakukan disini! Apa kau menolong pria itu!” tanya mereka, bahkan membuat kedua pria itu menarik paksa tubuh Airyn untuk keluar dari persembunyianya, bahkan Nona Petrov nampak cemas dan ketakutan, hinggw Leon tidak percaya jika mereka memperlakukan wanita dengan kasar.


"Apa yang kalian lakukan brengsek!" teriak Leon dengan tidak terima. "Lepaskan gadis itu, ia tidak salah apa-apa"


"Tidak salah apa-apa, selagi dia melihat kejadian ini berarti dia terlibat" saut Rendra dengan bahagianya.


"Apa kau kenal gadis ini, nampaknya ia sangat cantik. Apakah kekasih gelapmu" ledek Rendra.


Tentu Airyn yang berusaha melepaskan diri, dilanda rasa takut dan cemas yang berkepanjangan, bahkan ia amat kasihan pada pria yang disiksa tanpa adanya kemanusiaan.


“Astaga……lihat siapa ini........" lirih Rendra dengan penuh pujian atas paras cantiknya. "Tapi kenapa aku merasa mengenalimu, apa kita pernah bertemu sebelumnya gadis? ” tanya Rendra yang tengah mendudukan tubuh Leon, bahkan sikap keterlaluan dari Rendra membuat Airyn menajamkan sorot matanya dengan mengerikan, hingga membuat semua orang menatap jengkel atas sikap keras kepalanya.


“Bukankah dia…” lirih Leon dengan tidak percayanya, setidkanya ia mengenali gadis itu adalah Airyn Petrov yang disukai oleh Hansell, bahkan Hansell tidak pernah mengikuti lantihan basket semenjak ia bersama Airyn, dan Leon pernah melihatnya beberapa kali bersama dengan Hansell.


“Apa kau kenal dia” ejek Rendra dengan tawa yang diiringin dua temanya.


“Tentu saja……bukankah dia…Airyn Petrov”


“Apa! Nona petrov” terus kedua orang yang saat ini menangkap tangan Airyn.


Bahkan secara implusif mereka melepaskanya dengan begitu cepat hingga ketiga pria gila itu terpana diam diantara ketakutan yang mulai menghantui.


“Apa yang kalian lakukan, tahan wanita itu” teriak Rendra dengan penuh amarah.


“Ren-dra……apa kau gila, bagaimana bisa kita melakukan hal ini pada Nona Petrov, setidaknya…..”

__ADS_1


“Lalu, apa kau akan melepaskanya dan meminta guru datang kesini dan melihat tindakanmu, bahkan orang tuanmu akan menghancurkan kalian berdua jika sudah terlibat denganya”


“Lalu, apa yang ingin kau lakukan?” tanya mereka dengan frustasinya, sebab mereka mengenal jelas siapa Nona Petrov, bahkan Airyn yang tadinya begitu takut mulai mendapatkan kepercayaan dirinya, nampaknya nama Airyn dan apa yang ia miliki bisa menyelamatkan pria itu.


“Aku akan melupakan apa yang aku lihat, tapi berhenti memukulnya, dan biarkan kami berdua pergi” seru Nona Petrov dengan penuh yakin.


“Melepaskanya…..apa kau fikir aku sudi. Bahkan kau yang harus memohon untuk dilepaskan” lirih Rendra dengan kalimat ancaman, bahkan ia berlari secepat kilat menahan tubuh Airyn dan meminta gadis itu bertekuk lutut dengan patuh.


“Apa yang kalian lakukan, apa kalian mau mati. Jika kalian melakukan itu Hansell benar-benar membunuh kalian" teriak pria yang saat itu tengah babak belur.


“Hansell? Apa hubunganya dengan Hansell” tanya Rendra dengan segera.


“Apa kau bodoh. Hansell menyukai Nona Petrov, gadis itu kekasihnya” teriak Leon dengan penuh kekuatan.


Bahkan tulangnya terasa patah sehingga sulit sekali untuk bangun, melihat sikap pria yang begitu kesusahan itu, membuat Airyn dilanda cemas ketika tubuhnya di tanah kuat oleh pria yang bernama Rendra.


“Apakah aku tengah dikirimkan hadiah oleh Tuhan, sehingga bisa melihat ketakutan diwajah Nona Petrov” terus Rendra dengan berpuas diria, bahkan ia menatap Airyn dengan sorot mata nakal, hingga gadis itu berdecak kesal.


“Cepat pegang gadis ini, aku ingin membuat sesuatu yang luar biasa”


“Rendra, kau sadarlah, jangan memperlakukan Nona Petrov seperti ini, aku mohon” terus anak buahnya.


"Apa yang kau takutkan? Apakah kau takut dia akan mengancam ayahmu dan membuat mereka bangkrut? Kau tenang saja, tahan dia dengan begitu kuat, maka aku akan membuat sebuah film yang bagus untuk menghancurkan nama baik Nona Petrov, setidaknya jika dia berani mencelakai kita, ingatkan saja tentang film terbaik sepanjang masa ini”


“Apa maksudmu dengan film?" Saut keduanya.


“Gambar tidak senonoh dari Nona Petrov. Aku mengetahui sesuatu terkait Nona Petrov, jika dia bukan orang sembarangan yang tidak bisa di publikasikan, bahkan semua fotonya tidak pernah berada di internet, untuk itulah, bagaimana jika kita memiliki koleksi foto indah tubuhnya dan menjadi senjata untuk kita semua saling tutup mulut, setidaknya sebagai senjata kita jaga-jaga”


"Rendra!" bentak Leon dengan tidak terimanya, namun hanya membuat pria itu tertawa renyah penuh kemenangan.


“Bajingan gila” umpat Airyn penuh penghinaan, ia tidak pernah melihat perundungan yang begitu kejam seperti ini, bahkan mereka melakukan tindak kekerasan dan kali ini ingin melakukan pelecehan seksual, bahkan ia berniat merusak harga diri Airyn dan menghancurkan dirinya, apakah ia fikir dirinya pantas.


“Buka bajunya” perintah Rendra pada kedua temanya, membuat Airyn berteriak sekencang mungkin untuk menolak.


"Rendra kau jagan gila, setidaknya dia seorang gadis, bagaimana bisa kau memperlakukanya seperti itu"


"Tutup mulutmu!" bentak Rendra kearah Leon


Hingga......


“Rendra!!!!!” bentak Hanselll dengan begitu mengelegar, bahkan menghentikan niatan anak buah Rendra yang baru saja melepaskan satu pengait dibaju Airyn.


Bahkan mereka menjauhkan diri dari Nona Petrov, disaat amarah yang begitu besar dari Hansell melemahkan pertahanan dirinya, suara yang mencengangkan semua orang, hingga rasa jijik dan muak yang Hansell tampilkan, semakin merajai kewarasanya, bahkan pancaran tajam dari manik mata itu, menampilkan aura membunuh yang paling mengerikan.

__ADS_1


“Han-sell….tidak! Hansell jangan!" jerit Airyn ketika pria itu berhasil menerkam Rendra dan memukuli tubuhnya, bahkan dua anak buah Rendra terkapar takut dan gemetaran hingga membuat Airyn tidak percaya dengan gelora amarah yang luar biasa dahsyatnya.


__ADS_2