Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story of Hansell Chapter : 24] Untuk sehari saja.


__ADS_3

Suara gemericik dari arah tempat tidur mengalihkan pandangan dua pasang manusia itu, mereka menolehkan kepala diantara pelukan menenangkan yang paling sendu, Airyn memandangi sebuah ponsel yang tergeletak diatas ranjang atas alaram yang sudah di setel.


Airyn melepaskan tubuhnya dari Hansell, menjauhkan diri sesegera mungkin seraya menyelipkan rambutnya ke bagian telinga, bahkan ia baru sadar jika dirinya menangis tak berdaya didada pria itu, memasrahkan hati untuk pertama kalinya atas kepedihan yang di pendam cukup lama.


"Apakah itu alaram di ponsel mu?" tanya Hansell ketika memecah keheningan yang terbentang, membuat Airyn memalingkan sedikit wajah lalu mengambil fokus lebih lanjut kearah ponselnya.


"Iya. Aku sengaja membuat alaram jam 2 pagi" balasnya dengan sedikit gugup, membuat Hansell memandangi Airyn yang sibuk sekali dengan ponselnya, setelah benda itu menarik perhatian mereka.


Saat ini Hansell sudah berdiri dari sisi ranjang, ia hanya memandangi Airyn untuk menunggunya mengetik sesuatu, namun Hansell sangat penasaran, kenapa Airyn menyetel alaram jam 2 pagi, apakah untuk hari ini saja, atau jangan-jangan di lakukanya setiap hari.


"Airyn, apa aku boleh bertanya?" tukas Hansell diantara celah hening yang terbentang, membuat Airyn menatap kearahnya, seraya meletakan ponsel diatas meja.


"Apa? katakanlah" ujar gadis itu.


"Kenapa kau membuat alaram jam 2 pagi?" tanya Hansell dengan bingung, bahkan sangat aneh mendegar seseorang sudah menyetel alaram sedini ini, disaat jam rawan itu sangat sering di gunakan orang untuk terlelap, apa yang di lakukanya jika sudah bangun jam segini.


"Karna biasanya aku sudah bekerja sedari jam 2 pagi, setelah itu aku selesaikan sampai jam 6 pagi, sebelum akirnya melanjutkan tidur beberapa jam sebelum berangkat sekolah"


Sungguh jawaban itu membuat Hansell sedikit tidak senang, bagaimana bisa ia bekerja disaat orang sedang terlelap tidur, bukankah ini sangat kelewatan bagi anak usia 20 tahun bekerja sekeras itu.


"Meskipun begitu. Aku selalu menjaga kesehatanku" timpal Airyn saat menyadari bahwa Hansell ingin memprotes dirinya, tentu saja ia sangat mengerti jika sangat aneh untuk orang lain mendengar hal seperti ini, bahkan nampak sekali bagaimana tidak sukanya Hansell atas hal itu, namun kenapa ia harus peduli?

__ADS_1


"Baiklah, aku percaya kau mejaga kesehatanmu dengan sangat baik. Tapi untuk bekerja sedini ini apakah itu tidak terlalu kelewatan?" kesal pria itu, sembari melangkahkan kaki untuk mendekati Airyn.


"Menurutku tidak, bukankan apa yang aku miliki adalah harga yang setimpal atas kerja keras ku. Jadi ini sangat seimbang bagiku. Biasanya aku akan bangun jam 4 pagi, tapi karna setahun kedepan aku menghabiskan waktu untuk sekolah, karna itulah aku mempercepat jadwal tidur agar bisa bangun pagi-pagi sekali. Dan saat ini aku lupa, jika sekarang hampir dini hari" cerocos Airyn dengan sedikit terkekeh, bahkan ia sedang memandang kearah pria yang tidak mengikuti tawanya, wajah datar itu membalas dengan bungkam seolah ia tidak senang mendegar Airyn bercanda seperti tadi.


"Itu tidak lucu. Bahkan di sekolahpun kau juga terus bekerja. Hingga rasanya hari-hari mu selalu untuk kerja. Bukankah ini sangat kelewatan untuk anak usia 20 tahun memprioritaskan diri pada tangung jawab"


Kesalnya ketika memandar jengkel saat Airyn masih mampu tertawa atas apa yang sedang di jelaskanya.


"Aku tidak menganggap ini kelewatan Hansell, karna ini adalah kehidupan ku, selain itu ini juga termasuk pekerjaan dan karir masa depan. Sedari awal ini pilihan yang sudah aku berikan tangung jawab penuh, karna itulah, tidak ada kata kelewatan atas jam kerja yang aku lakukan" balasnya seraya mendekati Hansell, ia mencoba melihat bekas pukulan yang sudah membiru disana, bahkan Airyn mengamati dengan seksama tatkala ingin menjangkau pingiran bibir Hansell yang sedikit luka.


Namum dengan segera pria itu menahan tangan nya, ia menatap dengan sunguh-sunguh seolah mengiginkan Airyn untuk memberikan kelongaran pada dirinya sendiri.


"Aku mengerti soal tangung jawabmu, namun jika kau terlalu memaksakan diri dan terus bekerja keras melebihi batas. Ini sama saja dengan penyiksaan, aku bahkan tidak melihat kau sedang bertangung jawab Airyn, aku malah melihat kau tengah menghukum dirimu sendiri untuk terus bekerja dan bekerja, sebanarnya untuk apa kau bekerja keras seperti ini? Kau bahkan sudah mendapatkan segalanya, kau tidak perlu membuktikan apa-apa pada siapapun, dan bahkan orang-orang mu sangat bisa mengerjakan beberapa pekerjaan yang tidak memerlukan pertimbanganmu, namun kenapa kau memadatkam jadwal mu untuk pekerjaan seperti ini"


"Di bagian mana aku kelewatan?" tantang pria itu.


"Kau baru mengenal ku beberapa hari, tapi kau sudah bertingkah seolah-olah kau paling mengerti, seharusnya kau tidak perlu mengomentari apapun tentang pribadiku, karna aku lebih mengerti siapa diriku dari pada dirimu"


"Aku memang baru mengenal mu. Tapi aku bisa merasakan tentang hati mu" sontak perkataan pria itu membuat Airyn terpaku. "Aku mengerti kau selalu menyendiri tanpa mendekatkan diri pada siapapun, karna kau tidak ingin memiliki apapun agar tidak kehilangan lagi. Kau menjauhi mereka yang suka memuji dirimu, namun merasa nyaman dengan mereka yang membenci mu, karna itulah kau bisa menerima kehadiran ku, sebab kau mengerti betapa tulusnya aku membenci mu. Kau selalu ingin menyiksa diri untuk merasa bertangung jawab atas segala hal, hingga kau lupa, dirimu hanyalah manusia, bukankah kita baru saja membicarakan hal ini. Kenapa kau masih belum paham juga" kesal pria itu seraya memancarkan pandangan tajam kearah Airyn, berharap gadis itu mau menerimanya.


Hansell bahkan tidak tahu kenapa ia harus repot-repot untuk memperingati Airyn, tapi melihat gadis itu bekerja dan menjalani hidup seperti ini, Hansell benar-benar tidak menyukainya, jiwanya seperti tergugah untuk bicara atas kepedulian yang semakin merabat.

__ADS_1


Membuat gadis itu berdecak kagum atas gelar perkara yang paling lengkap untuk di ucapkan Hansell, sejauh mana pria itu mengenali Airyn, bukankah ini sedikit lancang hingga Airyn sendiri tidak bisa berkata-kata untuk membalasnya. "Kau--" sungguh Airyn tidak mampu membalas apapun selain menatap dengan pancaran jengkel kearahnya.


"Kenapa? Apa aku benar?" terus pria itu ketika menyungingkan senyum percaya diri, membuat gadis di depan matanya mengepalkan tangan dengan penuh geram ketika seseorang bisa memahami dirinya tanpa Airyn repot-repot menjelaskan tentang itu.


Kenapa Hansell bisa mengerti tentang dirinya, pria itu bisa memahaminya tanpa Airyn menjelaskan, bahkan baru pertama kalinya ada orang yang bersikap seperti ini, seolah-olah kehidupan yang Airyn jalani sudah di lucuti.


"Aku mau tidur, kau keluarlah. Aku rasa lukamu sudah aku obati dengan benar" ketus Airyn untuk mengakiri perbincangan mereka.


"Airyn......." baru saja tangan gadis itu menapak untuk mengusirnya, Hansell dengan segera mempertahankan tegaknya tanpa mau diusir sebelum mendapatkan persetujuan yang sudah ia ajukan. "Aku hanya tidak suka kau bekerja seperti ini, aku juga sama lelah dengan mu. Apakah tidak bisa untuk kita merasakan sehari saja terbebas dari segalanya, untuk satu kali ini kau memberi dirimu waktu tanpa memikirkan pekerjaan atau tangung jawab besar, apakah kau benar-benar menolak ajakan ku barusan? Sungguh aku ingin pergi menikmati dunia luar dengan mu" Ucap Hansell dengan penuh harap.


Membuat bibir gadis itu di katupkan dengan enggan, ia ingin menyetujuinya tapi Airyn terlanjur kesal saat Hansell bisa menebak kehidupan paling menyedihkan itu, bahkan ia tidak mengerti apakah menyetujui ajakan Hansell, adalah keputusan yang benar untuk ia ambil, apakah orang sepertinya masih berhak mendapatkan hal menyenangkan untuk diri sendiri, setelah apa yang terjadi dan ia lakukan?


"Kau tidak boleh seperti ini Ryn....." seru Hansell sekali lagi, ketika menundukan pandaganya pada wanita mungil yang sedang memberikan pertimbangan.


"Aku akan memikirkanya, kau keluarlah" usir Airyn seraya mendorong paksa tubuh Hansell untuk beranjak dari kamar.


"Apa kau mau berjanji padaku?" heboh pria itu ketika membalikan badan memandangi Airyn.


"Aku tidak bisa berjanji, karna aku memiliki pekejerjaan besok hari. Aku akan memikirkanya besok, sekarang keluarlah" tegas gadis itu, hingga wajah Hansell berubah murung setelah mendapatkan ketidakpastian dari Airyn.


Hansell berjalan kearah pintu kamar untuk keluar dari kamar itu, ia tentu terlihat murung dan merasa sudah di tolak lebih awal, padahal Hansell berharap sekali bisa mengajak Airyn kencan di kota ini, ia sudah jauh-jauh datang ke Tiongkok untuk menemuinya, tapi tetap saja Airyn masih membuat dinding dengan dirinya.

__ADS_1


Setelah pria itu keluar, Airyn menutup pintu kamar, ia bahkan membalikan badan seraya bersandar kearah kayu kokoh dengan ukiran mewah, Airyn menghela nafas dengan berat ketika memikirkan ajakan Hansell, sungguh ia ingin sekali pergi bersama pria itu, tapi Airyn merasa dirinya tidak pantas atas apa yang sudah di lakukanya pada Tuan Hamillton.


__ADS_2