Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story of Hansell Chapter : 22] Moment Langka.


__ADS_3

"Aw....sakit sekali...." pekik Hansell dengan sedikit mendramatis luka di pingir bibirnya, ia sungguh ingin berlama-lama ada di dekat Airyn, untuk itulah Hansell berpura-pura menjadi korban yang paling menyedihkan, padahal yang di pukuli hanyalah wajahnya, hanya saja untuk bersama Airyn, ia rela berbohong tentang sekujur tubuh yang sudah kesakitan.


"Bagaimana bisa kena pukul sekali saja bisa membuatmu terluka parah, apa tubuhmu seperti wanita yang tidak tahan luka" kesal gadis itu tatkala mengotong tubuh Hansell yang tengah memberatkan dirinya.


"Apa kau gila!" paniknya saat di samakan dengan wanita. "Kau lihat sendiri bagaimana kuatnya anak buah mu itu, sedangkan aku hanyalah murid SMA, tentu aku tidak sekuat itu menahan pukulan mereka, apalagi ini di wajah, bukankah kau tahu sendiri, wajahku ini sangat berarti" celoteh Hansell sambil lalu, ketika Airyn membantu dirinya menelusuri lorong di hotel besar itu. "Lagian aku ke sini untuk bekerja, bagaimana bisa aku bertemu Klien dengan wajah memar, ini akan terihat memalukan" terusnya untuk mengajukan protes, agar Airyn mau bertangung jawab.


Membuat gadis itu semakin bersalah atas apa yang terjadi, bahkan Airyn tidak menyangka kekacauan yang di lakukan anak buahnya, akan menjadikan brtangung jawab atas Hansell. "Masuklah.." ucap Airyn ketika berada di depan pintu kamarnya.


"Masuk kemana?"


"Ke kamar ku..." terusnya seraya membuka pintu kamar mewah tersebut


"Apa kau gila, bagaimana bisa kau membawa pria ke kamar mu begitu saja" kesal Hansell dengan penuh tegang, sebab selama ini sangat aneh untuk Hansell ke kamar wanita, dan iti hanya berduaan saja, di tambah Airyn adalah gadis yang terus membuatnya gugup, tentu Hansell harus berfikir sebelum melangkahkan kaki memasuki ruangan.


"Jadi...." kejar Airyn sembari menjauhkan tanganya dari Hansell, Airyn mengulas senyum ter-ramah, seolah tidak perlu lagi bertangung jawab atas luka Hansell. "Karna tak mungkin untuk kita berada di satu kamar yang sama, lebih baik obati sendiri luka mu, aku sungguh minta maaf atas apa yang di lakukan oleh anak buah ku, nanti akan aku berikan kompensasi finansialnya" tutupnya sata menjangkau pintu kamar sesegera mungkin.


Membuat pria itu membulatkan mata untuk menahan pintu kamar yang sudah hampir rapat, dengan gurat panik hingga sederet kalut berselimut tebal, bahkan Airyn membesarkan kedua pupil matanya saat Hansell mampu berdiri tegas tanpa melemah seperti barusan. "Kau bisa berdiri dengan baik, kenapa aku malah mengotong tubuhmu, bahkan kau memberatkan seluruh tumpuan tenaga pada ku" ketus gadis itu ketila pancaran kesalnya tertampil jelas.


Membuat Hansell tertegun diam setelah gadis itu mulai menyelisik tajam menatap dirinya, tentu Hansell harus mencari alasan untuk membuatnya percaya, jika tidak, Airyn benar-benar akan membunuhnya, kalau megetahui bahwa Hansell sedang berpura-pura.


"Ah......sebenarnya masih sakit, tapi aku memaksakan diri untuk menahan pintu ini. Karna tidak mungkin aku mengobati luka seorang diri....." alasan pria itu dengan wajah memelas yang paling pasrah, berharap Airyn memberikan belas kasih padanya.


"Aku minta maaf karna anak buahku....sekarang pergilah ke kamar mu....." terus Airyn dengan sungguh-sungguh, membuat Hansell terpana diam atas reaksi gadis itu, jika tahu akan begini, Hansell sungguh menyesal telah bersikap seperti tadi.


Hansell menekukan wajah untuk sejenak berfikir, mencari cara agar gadis itu mau mengobati luka yang tak seberapa ini. " Tidak bisakah kau yang mengobati luka ku" pintanya dengan penekanan rendah, Hansell seperti mengugah hati nurani seseorang untuk bersimpati pada keadaan lemah ini, hingga akirnya rencana pria itu berhasil.


"Aku--" Airyn berseru dengan enggan, hingga membuat Hansell sadar jika gadis itu belum masuk perangkapnya dengan sempurna.


"Anggap saja ini sebagai balasan untuk 2 tahun lalu, saat aku membantu mu" sontak Airyn terpana diam, matanya menatap nanar, seolah Hansell menghidupkan luka yang sudah diabaikan. Airyn menguatkan pegangan tanganya ke pintu yang sedang terbuka sengang, berharap ia mampu tenang untuk menguasai diri.

__ADS_1


Hansell mendongakan sedikit wajah sembari melihat Airyn, namun disaat yang sama ia di buat terdiam, kenapa Airyn malah tertekan, apakah Hansell sudah kelewatan meminta hutang budi pada seseorang, tapi itu bukan sunguh-sunguh ia inginkan, Hansell hanya ingin sedikit lebih lama bersama Airyn. "A-Airyn, apakah aku sudah menyingung mu, aku...aku tidak bermaksud untuk memaksa mu membalas budi, hanya saja aku ingin--"


"Masuklah.." tukas gadis itu saat membukakan sedikit pintu untuk Hansell.


"Tidak perlu, aku bisa mengobati luka ku sendiri" tolaknya sebab tidak enak hati setelah ucapan yang mungkin keterlaluan.


"Masuklah....." Airyn menarik paksa tangan Hansell, membawanya masuk ke kamar hotel itu, sembari mendudukan korban di tepi tempat tidur, menyingsingkan sweter hangat yang menegelamkan tangan mungilnya, seraya mengikat rambut di hadapan Hansell, bahkan pria itu hanya mampu terpana atas pesona luar biasa yang membuatnya tak mampu bersuara, rambut-rambut kecil di pingiran leher dan bagian telinga itu sungguh membuat Airyn mengeluarkan kecantikan paripurna.


"Jantungku...." panik pria itu, ketika memalingkan wajah untuk menghibdari Airyn.


"Ada apa? Kenapa wajah mu memerah?" terusnya seraya memandangi Hansell yang telah berubah seperti udang rebus, apakah pukulan itu bisa membuat seseorang mengalamai demam mendadak, tapi Airyn merasa iti tidak mungkin.


Hingga tanpa sadar permukaan tangan kecil itu, menangkup pipi Hansell dengan hangat, memberikan sentuhan terlembut yang mampu melelehkan hati pria batu berpuluh-puluh tahun.


Sekali lagi, kedua netra mata Hansell menyelisik kepedulian di belahan manik Airyn, menemukan dimana dirinya berada atas perasaan gadis mengerikan itu, hingga Hansell melihat jika kepedulian yang ia pancarkan adalah sumber tulus yang tidak ada wujud imitasi.


Untuk pertama kalinya seorang wanita merebut hatinya, meruntuhkan pertahanan diri yang sekian lama di bangun oleh Hansell, seolah dirinya ingin memiliki satu gadis di dunia, yaitu Airyn.


"Apa kau yakin baik-baik saja, apa kita perlu memangilkan dokter untuk memeriksa keadaan mu?" tawarnya lagi.


"Tidak perlu, cukup ada kau saja"


"Maksudmu?" dengan pertautan Alis yang tajam akibat kebingungan.


"Cukup kau saja yang mengobati lukanya, maka aku akam baik-baik saja" terus Hansell dengan kalimat rendah, membuat Airyn tergugu diam sebelum menjawab pertanyaan Hansell.


Tok...tok...tok... suara pintu kamar mengalihkan pandangam mereka. Memecah keheningan yang membentang antara tatapan yang saut sautan, di ikuti dengan dentuman jantung yang berdebur kencang, seolah menjadi bukti bagaimana keduanya mampu merasakan sesuatu atas interaksi diam.


Airyn melangkahkan kaki untuk mengalihkan perhatian, ia masih berada pada akal normal yang terus di paksakan, setelah merasakan bagaimana Hansell memandangnya dengan penuh perasaan, apa maksud dari tatapan itu? Kenapa dirinya malah nyaman, bersama pria yang sangat jelas membenci dirinya, atas kematian Tuan Besar Hamillton.

__ADS_1


Tetapi Airyn memang seperti ini, ia sangat nyaman bersama orang yang jelas-jelas membenci dirinya, dari pada mereka yang memuji Airyn dengan penuh pekat, sebab kebencian yang paling kental adalah sumber tulus yang tidak memiliki kepalsuan, jadi atas hal itu, sangat wajar jantungnya berdebar-kan?


"Ini obat merahnya Nona" ucap pria berwajah dingin, dengan bentukan tubuh kekar, yang siap menjatuhkan lawan, ketika berpotensi menjadi objek ancaman bagi Nona Petrov.


"Baiklah......jangan pernah menyentuhnya lagi"


"Siap Nona....."


"Ini bukan sekedar peringatan, namun perintah. Apa kau paham!"


"Saya sangat paham....." hingga Airyn berlalu untuk menghilang di balik pintu kamar, setelah menerima obat merah dari orangnya, bahkan mereka yang baru saja menerima titah itu, seperti tidak menyangka jika Nona Petrov mampu setegas ini tentang Hansell, bukankah Hansell Hamillton adalah musuhnya, tapi kenapa saat ini Nona Petrov malah bertingkah sebaliknya.


Gadis itu menaruh kotak obat yang sudah ia terima disisi Hansell, ia memandangi luka yang hampir mengering dengan cara seksama, membuat pria itu tersipu malu ketika menekuk wajah dengan gugup, bahkan senyuman Airyn ulas degan indah ketika mampu mengintimidasi Hansell di balik sikapnya.


Rasanya mengoda pria itu seperti ini cukup menghibur, bahkan melihat Hansell Hamilton yang bisanya ganas pada wanita, namun kali ini tersipu malu, mungkin menjadi moment yang cukup langka, dan Airyn malah menikmatinya.


"Kenapa kau menekuk wajahmu?"


"Siapa yang menekuk wajah, aku tidak menekuk wajah, lihatlah, ini yang sakit"


"Baiklah, akan aku sentuh, jika sakit katakan"


"Apa perlu kau menyentuh wajahku"


"Tentu saja, bagaimana aku akan mengobatinya tanpa aku sentuh"


"Ahhhhh.....baiklah..."


"Iya......."

__ADS_1


Hingga percakapan yang saut-sautan antara mereka, membuat keduanya tidak terhalang hening, bahkan Airyn terus mencerca Hansell dalam bersikap manis, namun pria itu terlanjur malu tanpa menata kedua matanya.


__ADS_2