
Hansell kembali ke penginapan, bahkan ia tidak berbasa basi dengan Tuan Shimura, tentu Hansell sangat kecewa, tapi kali ini ia berterima kasih pada beliau, lantaran membuat Hansell menyadarkan dirinya yang begitu bodoh dan naif.
Jika bukan karna pria itu, Hansell tidak akan mengerti bagaimana bahaya dirinya untuk Airyn, untunglah, kejadian hari ini membuatnya sadar, jika di dunia ini manusia perlu kekuasaan untuk melindungi sesuatu yang dia punya.
Tapi Hansell dengan bodohnya berpaling dan mengabaikan fakta, ia terus percaya diri dengan nilai, kepercayaan, dan juga budaya yang terus di junjung tinggi, tentu 3 pilar kehidupan ini ini tidak akan salah jika di terapkan menjadi seorang manusia, namun jika di tempatkan pada jabatan dan kekuasaan yang inginkan, sepertinya Hansell terlalu naif dengan kehidupanya.
Untuk saat ini Hansell perlu melepaskan segala keraguan hati yang terus menyulitkan dirinya, sebab bermain kembali dengan markas utama seperti membuka luka lama tentang kematian ibunya, bahkan Hansell tidak mengerti misteri apa yang terjadi hingga ayahnya saja melarikan diri dalam kepemimpinan itu.
Baru saja Hansell melamun di kamar hotel yang berads di ketinggian, nada dering ponsel itu membuat telinganya jengah, bahkan Hansell menautkan kedua alisnya saat Airyn menghubungi nomornya, ada apa dengan Airyn? kenapa ia menghubungi Hansell, apakah Sabrina tidak bisa tutup mulut dan mengatakan semuanya pada Nona Petrov, jika benar begitu, sungguh Hansell malu sekali, sebagai sorang pria harga dirinya tentu menjadi rendah jika Airyn mengetahui kejadian barusan.
Sekali lagi ponsel itu bergetar dengan suara yang sangat nyaring memaksanya untuk peduli, mau tak mau Hansell mengangkat panggilan dari Nona Petrov meskipun ia merasa amat malu hingga ingin mengubur dirinya sendiri.
“Ada apa? Kenapa kau menelfon ku-“
“Kenapa kau lama sekali mengangkatnya!” bentak Airyn ketika menukas pembicaraan Hansell.
“Aku,…..aku sedang berada di kamar mandi, ada apa?” tanya Hansell dengan sedikit gelisah.
“Tidak ada. Aku hanya ingin mendengar suara mu” saut Airyn dengan segera, tentu ia sudah mengetahui jika Hansell tidak mau Airyn mengetahui hal ini, bahkan Airyn mengerti jika pria itu sangat malu, hanya saja ia tidak punya pilihan untuk mendengar secara langsung aakah Hansell telah baik-baik saja, dan sampai rumahnya atau tidak, untuk itulah Airyn memberanikan diri menghubungi pria bodoh tersebut.
__ADS_1
“Airyn apa kau masih disana? Kenapa kau diam saja?” tanya Hansell ketika menjauhkan ponselnya dari telinga, sebab pria itu ingin memastikan apakah panggilan tersebut masih tersambung dengan baik, lantaran ia hanya merasa hening tanpa ada yang di ucapkan oleh sang lawan.
“Aku masih disini. Apakah aneh jika aku menayakan kabarmu?” tanya Nona Petrov dengan kalimat lembut, bahkan membuat Hansell terdiam sembari bersandar kerah dinding dengan malu-malu.
“Tidak…..tidak masalah, aku senang mendengarnya” balas pria itu ketika menahan senyum bahagianya, bahkan ia ingin berteriak pada dunia jika saat ini Airyn tengah bicara dengan begitu mengemaskan, bahkan Hansell bisa membayangkan bagaimana wajah manis dan lucu itu.
“Baguslah, jika kau menyukainya. Aku sangat suka mengetahui kabarmu, oh iya…..maaf jika akir-akir ini aku tidak membalas pesan darimu, aku hanya sedikit kelelahan bekerja, dan terlalu banyak hal yang membuatku sibuk, hanya saja. Terimakasih atas semuanya Hansell”
“Terimakasih untuk apa?”
“Terimakasih sudah mengirimiku pesan sekalipun tidak aku balas, jujur saja apa yang kau kirimkan setiap harinya menjadi semangatku. Setidaknya bekerja dan bertemu orang asing memang cukup melelahkan, tapi setiap aku kembali dan membaca pesanmu, aku seperti memiliki seseorang yang sama denganku, sama lelahnya, sama sibuknya, sama bosanya, bahkan sama-sama merindukan”
“Aku……….” Sungguh Hansell tidak mengerti apa yang harus ia bicarakan, sebab jantungnya berdegup tak karuan saat telinga dan pipinya merona dengan merekah, bahkan sangat sulit mengendalikan ketenagan, hingga bicarapun tersara sangat berat sekali.
“Aku tahu, kau pasti merasa bosan karna aku tidak membalas pesanmu kan. Hanya saja ada alasan lain yang membuatku malu”
“Apakah karna hari itu?” saut Hansell dengan segera. “Airyn aku benar-benar minta maaf jika sudah melampauwi batasan, sebenarnya aku ingin membicarakan hal itu dengamu, tapi setiap kali aku menulisnya, aku terus menghapusnya, aku tidak memiliki keberanian membicarakan segala kebodohan itu, tapi aku tidak ingin menyesalinya, aku sungguh-sungguh mencintaimu, tapi aku menyesal sudah membuatmu kaget! Ya, pasti kau sangat kaget, aku dengan kurang ajar bersikap.......ahh, bahkan perlakuanku terkesan tidak bermoral, nampaknya aku benar-benar gila”
“Hansell…..” lirih Airyn dengan kalimat tenang, rasanya mendengar suara panik Hansell, membuat jiwanya terhibur dari rasa amarah yang tiada tara menguasi jiwa. “Aku menyukaimu.....sebenarnya aku menyadari tindakan yang aku lakukan. Aku tidak menyukai itu karna saat ini kita masih sekolah, hanya saja jika dilihat dari segi umur bukankah kita sudah pantas melakukanya” goda Nona Petrov dengan begitu bahagianya, bahkan membuat pipi Hansell memerah sempurna ketika tubuhnya tak kuasa menahan gairah gadis itu.
__ADS_1
“Pantas? Ten-tu saja”
“karna itulah, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku tidak marah, hanya saja aku sama malu denganmu, untuk itulah aku tidak memiliki keberanian diri mengabarimu” seru Airyn ketika menyentuh permukaan bibirnya, bahkan ia sudah membayangkan bagaimana gurat wajah Hansell yang menyebalkan itu ketika bicara seperti tadi.
“Lalu kenapa kau menghubungiku” seketika suasana yang sudah mencair itu kembali menjadi dingin, bahkan beberapa saat Airyn lupa pada tujuanya, begitupun dengan Hansell, ia lupa dengan rasa malunya setelah dibuat tersipu oleh gadis itu.
“Aku hanya ingin membalas pesanmu melalui telfon, jika nanti aku kembali ke Irlandia, dan kau memiliki waktu luang, apakah kau mau makan siang denganku?” tanya Nona Petrov dengan penuh tawaran, membuat Hansell melengkungkan senyuman dengan indah seolah menyetujuinya.
“Tentu saja, aku akan menunggumu,” saut pria itu dengan gurat bahagia. "Dan jaga dirimu baik-baik, jangan melewatkam jam makan mu, jagan bekerja sendirian sampai dini hari, dan jangan memikirkan aku"
Membuat tawa Airyn tedengar begitu nyari atas kata terakir yang Hansell selipkan. "Aku tidak merindukanmu, kenapa kau percaya diri sekali"
"Kau pasti merindukan aku, sebab setiap kali bulu mataku ronton dan itu pertanda seseorang tengan merindukan aku, siapa lagi yang akan melakukan itu jika bukan kamu"
"Astaga Hansell, bagamana kau bisa percaya dengan mitos"
"Tapi untukmu itu bukan mitor, itu kebenaran Airyn, kau pasri merindukan aku" paksa Hansell tanpa tahu malu, bahkan sikapnya membuat pipi Airyn merona lantaram digoda dari balik ponselnya.
Hingga perbincangan mereka berubah menjadi hangat dan cukup menyenangkan, Airyn menceritakan banyak hal begitupun dengan pria itu, bahkan dua manusia yang saling merindukan saling menatap pada bulan yang sama, seolah mereka ingin waktu segera berakir dan semuanya kembali seperti semula, kembali pada saat Airyn dan Hansell menghabiskan waktu seperti remaja tanpa adanya dunia orang dewasa yang harus mereka fikirkan.
__ADS_1