
Dua minggu sebelumnya, ketika Nona Petrov ingin melakukan perjalanan bisnis selama libur sekolah.
"Hansell apa kau ada waktu besok siang?" tanya Airyn saat melangkah bersama pria itu, bahkan Airyn tidak berani melihat Hansell lantaran ia sudah mengungkapkan perasaanya kemarin malam.
"Tentu, aku memiliki banyak waktu" sautnya dengan segera.
"Apa kau bisa menemaniku ke suatu tempat?" tanya gadis itu dengan kalimat canggung, membuat Hansell terkesiap tak percaya jika Nona Petrov mengajaknya pergi bersama.
Apakah Airyn serius? Entah kenapa Hansell tidak kuasa menahan hatinya, ia benar-benar bahagia tanpa ada yang bisa di sembunyikan.
"Baiklah, aku tunggu di sekolah"
"Apa! Sekolah, kenapa kita kesekolah?" tanya Hansell dengan binggug.
Sebab setelah pulang dari perkemahan ini, semua aktifitas sekolah di liburkan, anak-anak di berikan waktu bersenang-senang, sehingga menghindari mereka dari kejenuhan belajar, tapi Airyn malah memintanya ke sekolah, memangnya ada apa disana?
*
Ke esokan harinya, mereka baru saja pulang dari perkemahan, namun Airyn dan Hansell sudah membuat janji temu di sekolah, untuk itulah Hansell berdiri di gerbang belakang untuk menunggu Nona Petrov sesuai janji mereka.
Semenjak Hansell mengetahui perasaan Airyn, kenaoa berada di dekatnya selalu mendebarkan, apalagi jika mereka bertemu diluar jam sekolah, membuat Hansell tidak bisa percaya hubungan mereka sudah sejauh ini.
"Apa kau sudah lama menungguku?" putus Nona Petrov dengan nafas tersengal, lantaran ia berjalan cukup jauh untuk mencapai gerbang belakang.
"Tidak, apa kau baik-baik saja?" tanya Hansell dengan cemasnya, ketika meraih pundak gadis itu.
"Aku baik" saut Airyn dengan senyum tenang. "Ayo masuk, aku ingin memperlihatkan sesuatu" ungkapnya dengan antusias, bahkan membuat Hansell cukup penasaran tentang hal apa yang gadis itu tunjukan.
Baru saja Airyn ingin masuk kearah dalam, Hansell dengan segera meraih tanganya, mengenggam jemari Airyn seraya mengeratkan pertautan tangan mereka, tentu Airyn tidak bisa percaya Hansell melakukanya tanpa ada kecanggungan, membuat pipi gadis itu memerah secara sempurna, namun bersikap baik dan patuh atas perlakuan yang Hansell berikan.
Mata Hansell tidak bisa percaya jika sebuah gedung yang tak terpakai ternyata memiliki kegunaan luar biasa, ternyata Airyn memiliki ruang rahasia di sekolah ini, dimana ia menghabiskan waktu di ruangan ini untuk melakukan pekerjaan, bahkan bangunan kecil yang sangat padat ini bergaya esthetick bercampur paduan clasik, membuat siapapun pasti akan nyaman untuk menyendiri.
"Bagaimana bisa kau membuatnya?" tanya Hansell dengan tidak percaya.
"Hanya untuk bersenang-senang saja" balas Airyn ketika menaikan kedua bahunya sembari menatap teduh kearah Hansell. "Selain itu aku selalu menghabiskan waktu sampai sore hari untuk bekerja meskipun sedang sekolah, jadi aku berfikir, bagaimana jika membuat ruang rahasia untukku sendiri, dan tempat ini adalah bangunan yang tidak terpakai jadi apa salahnya untuk di gunakan" jelas Nona Petrov dengan nada bercanda, sembari membentang diri diatas kasur yang tersedia disana.
"Astaga..... kenapa aku baru tahu tempat seperti ini"
"Itu salahmu" ejek Airyn, hingga Hansell menempatkan tubuh disisi gadis itu, tentu ia mengamati bagaimana indahnya Nona Petrov saat menutup kedua matanya.
"Airyn, aku lapar, bagaimana jika kita pergi makan siang dalam beberapa waktu, nanti kita kembali lagi, menurut informasi ada kafe yang baru saja dibuka diujung jalan, Cafenya dikhususkan untuk dua meja saja, ayo kita kesana" bukuk Hansell ketika mengigat dirinya melewatkan sarapan, lantaran terlalu sibuk berganti pakaian, setidaknya ia bisa membawa Airyn kesebuah tempatnyang Khusus untuk pasangan.
"Aku tidak mau, kau saja, lagian bagaimana bisa kau lapar dijam sekarang? Apa kau melewatkan sarapan?" tanya gadis itu seraya bangkit dari tempatnya.
"Aku memang melewatkanya"
"Astaga!" kesal Nona Petrov dengan tatapan jengkelnya. "Pesan makanan siap saji saja, aku malas sekali keluar, aku ingin bermaim game seharian denganmu"
"Apa! Kau memintaku kesini hanya untuk bermain Game"
"Tentu saja, memangnya untuk apa lagi. Bukankah anak laki-laki menyukai permainan seperti itu, jadi mainlah denganku, biasanya aku selalu sendirian memainkan game, jadi kali ini aku memintamu kesini untuk menemaniku bermain game" jelas Nona Petrov dengan antusias, bahkan ia berdiri kearah komputer untuk melihat segala perangkat yang tersedia.
"Astaga, aku fikir dia memintaku pergi bersama untuk berkencan, tapi siapa yang menduga dia hanya ingin bermain game" gumam Hansell dengan kesal.
"Baiklah, aku pesan makanan dulu" lirih pria itu dengan malas, bahkan ia sibuk mengotak atik ponselnya untuk memilih makanan yang mungkin mereka butuhkan, bahkan Airyn sibuk mensetting komputer yang akan di sambungkan dengan stik untuk dimainkan.
Baru saja mereka menunggu, sebuah notifikasi tentang makanan yang sudah sampai tujuan membuat Hansell jengah, ia berlari kearah luar untuk menjemput makananya seraya meninggalkan Airyn sendirian, sebab mereka tidak boleh ketahuan oleh staf sekolah jika berada di tempat ini, untuk itulah Hansell keluar melalui gerbang belakang menuju kearah yang di tuju.
"Makanan sudah datang...." heboh pria itu ketika menenteng makanan siap saji yang sudah ia pesan, bahkan mata Airyn terpana melihat jenis makanan yang tidak sehat dan berminyak, bahkan mengandung kalori dan yang tinggi.
"Apa kau yakin mengkonsumsi ini?" tanya Airyn dengan tidak percaya, membuat Hansell menganggukan kepala dengan sempurna seraya melahapnya dengan segera.
Melihat nafsu makan Hansell yang meningkat tentu Airyn tersenyum manis, ia hanya meminum sebuah americano ukuran jumbo sambil memandangi pria itu, bahkan Hansell seperti lupa diri dalam mencicipinya.
__ADS_1
“Hansell, habiskan makananmu” paksa Airyn saat melihat Hansell menyisakan makananya.
“Aku sudah kenyang, aku tidak sanggup lagi” jawab Hansell sembari menyeruput minuman dingin miliknya.
"Yasudah, terserah kau saja. Jika tau porsi makan tidak sebanyak itu, kenapa memesan makanan secara berlebihan" dengus Nona Petrov dengan jengkel, membuat Hansell mengacak-ngacak rambut Airyn sembari memberikan senyum penuh kehangatan.
"Dasar pemarah"
"Siapa yang marah, aku tidak marah" kesal Airyn sembari mencebikan bibirnya. “Oh iya, apa kau tau aku menceritakan tentang mu pada Merry dan Berto, nampaknya mereka sangat antusias mendengarkan cerita tentang kita. Jujur saja selama ini aku tidak pernah memiliki teman, bahkan sudah berumur 20 tahun tetap saja tidak memiliki seorang teman dekat. Untuk itulah, aku sangat bahagia kau mau berteman denganku. Terimakasih Hansell, sudah menjadi orang terdekatku, dan kau sedikit merubah persepsiku tentang seorang teman” celoteh Airyn saat menatap kehadapan Hansell, meskipun dia berbicara saat mulutnya menyeruput minuman, namun bibir tipis itu tak hentinya bicara hingga Hansell tidak menyangka Airyn secerewet ini.
“Hanya teman ternyata" kesal Hansell kehadapan gadis itu, membuat pipi Airyn memerah, seolah ia baru sadar jika kemarin ia telah mengakui perasaanya. "Aku yang berterima kasih, kau melihatkan sisi cerewet ini Airyn. Aku kira Nona Petrov adalah gadis dingin yang jahat, tapi siapa yang menduga seorang Nona Petrov bisa bicara tanpa ada jeda, biasnya saat aku tanya kau selalu membalasnya dengan singkat jika tidak dengan sikap ketus, tapi lihat kali ini, kau hangat dan berbeda sekali. Terimakasih sudah menyukaiku”
"Suka! Siapa yang suka!" saut Airyn dengan gugupnya. membuat Hansell mengusap permukaan bibir manis itu sebab ada sisa minuman yang menempel.
"Baiklah, aku yang suka padamu" sambung Hansell dengan tatapan sayang, saat mengusap kepala gadis mungil tersebut, hingga mengacak rambut Airyn yang sudah ia tata dengan begitu rapi.
Secara fisik Airyn memiliki paras yang indah, dia mungkin terlihat dingin tapi sebenarnya sangat hangat, bakan sikap polos dan naif itu benar-benar mengambarkan Airyn yang apa adanya, membuat dirinya memiliki daya tarik tersendiri yang tidak bisa dimiliki oleh gadis lainya.
“Hansell, hentikan tanganmu, aku bukan anak kecil yang terus kau perlakukan seperti ini” dengusnya dengan tatapan bak pembunuh, namun tidak sampai menakuti Hansell.
“Bagiku kau tetap menjadi gadis kecil yang begitu licik tapi naif” ejek Hansell sembari mencebikan bibirnya kearah Airyn.
"Aish, menjengkelkan sekali" kejar Nona Petrov dengan tatapan tegas.
"Membuat Hansell tersenyum simpul sembari melanjutkan minuman yang belum ia habisi.
Mereka sedang sibuk berbincang-bincang, bahkan Hansell tengah melihat bagaimana antusiasnya Nona Petrov menceritakan banyak hal, bahkan ekspresi wajahnya membuat perbincangan mereka menjadi tidak membosankan, hingga tanpa sadar Hasell hanya tertawa saat gadis itu tertawa.
“Apa aku boleh bertanya?" putus Hansell dengan segera.
"Tanya saja! Apa yang ingin kau tanyakan?" balas Airyn penuh semangat.
"Kenapa kau tidak mau menunjukan kedekatan kita pada semua orang? ” tanya Hansell dengan tatapan dalam.
“Karna kau berharga bagiku” celetuk Nona Petrov tanpa sadar.
“Bagaimana aku tidak kaget saat kau membicarakan hal yang mengejutkan"
"Tapi itu memanglah faktanya, kau teman pertama yang selalu ada dan mengerti aku, selain itu aku menyukaimu"
“Airyn, aku ini laki-laki normal bagaimana bisa kau bicara dengan wajah sedatar itu, apa kau tidak sadar sikapmu ini begitu ambigu” kesal Hansell kehadapan gadis bodoh yang ada didepan matanya, bagaimana tidak, baru kemarin sore ia terlihat malu-malu dan sekarang malah mendapatkan kepercayaan diri tinggi, hingga Hansell sulit beradaptasi dengan sikap spontanitas Airyn.
“Aku tahu kau seorang pria, tapu aku tetap bersikap santai karna aku merasa aman ada di dekatmu”
Membuat Hansell menyipitkan kedua matanya, diantara kekesalan yang melanda, apa maksud Airyn sebenarnya, meskipun ia mengakui menyukai Hansell tapi jika ia bersikap biasa saja dan merasa aman, bisa saja Airyn menganggapnya bukanlah seorang pria. Astaga, bagaimana bisa Airyn meremehkan dirinya, apakah Airyn tidak sadar jika sikapnya ini sedang membangunkan harimau yang sedang tidur.
Hansell berdiri dengan segera, meraih tangan Airyn dengan sikap kasar penuh intimidasi yang begitu tegas, bahkan membuat Airyn terpana diam hingga minuman yang berada diatas meja berserakan dengan sempurna, mata Hansell menatap tajam penuh selisik, mencari sumber tekakutan di wajah gadis itu agar ia memasang tingkat waspada dengan segera, hingga Hansell menemukanya, Airyn mulai gugup dan cemas, bahkan tanganya mulai dingin dan kepercayaan dirinya hancur.
“Han-Hansell..... maafkan aku, aku tidak bermaksud..” namun Hansell menarik tubuh Airyn sembari mendekat kedua tubuh mereka.
Pria itu menyentuh permukaan bibir ranum Nona Petrov sembari menatap kedua matanya secara lekat, bakan Airyn terpana diam atas sikap Hansell tanpa mampu menolak.
"Hans-"
Hingga kecupan lembut penuh nafsu mendarat sempurna dibibir Nona Petrov, Hansell benar-benar membungkam mulut Airyn agar tidak berani melontarkan penjelasan apa-apa, tentu Airyn mendorong tubuh Hansell dengan penuh kekuatan, namun ia tidak mampu melawan kekuatan laki-laki yang lebih besar dari tubuhnya.
Sedangkan Hansell memaksa pertautan kedua bibir mereka, hingga menerobos masuk kedalam mulut Nona Petrov tanpa ada rasa segan ataupun takut, tentu ia berhasil membuka pertahanan diri gadis naif ersebut, hingga Hansell memberikan sentuhan maut yang membuat Airyn membeku.
Dengan cepat bibir mungil milik Nona Petrov terbuka dengan sempurna, memasrahkan diri untuk menikmatinya dan membiarkan Hansell melahapnya dengan penuh gairah tanpa jeda.
Airyn yang tidak percaya dengan kelakuan Hansel berusaha memukul dada bidangnya sekali lagi, namun tidak membuahkan hasil apapun, bahkan penolakan dari Airyn membuat Hansell semakin liar mencumbu bibir tipis dan lembut itu, hingga Airyn tidak bisa melakukan perlawanan apapun.
Bukankah Nona Petrov harusnya marah atas sikap. kurang ajar ini, tapi kenapa tubuhnya seakan berkata lain dengan keadaan, Hansell yang menyadari kepasrahan gadis kecil di dalam desakan dirinya, meraih jemari Airyn untuk ia genggam dengan erat, pria itu mendesak Airyn untuk mundur selangkah demi selangkah, hingga Tubuh Nona Petrov mentok dinding gedung yang sangat sempit.
__ADS_1
Hansell melepaskan ciuman maut yang paling dahsyat, bahkan nafas tersengal dari keduanya membuat Airyn tidak bisa mempercayainya, ia tidak kuasa melihat mata Hansell, namun pria itu memaksa Nona Petrov mendongakan kepala kearahnya.
"Airyn..... aku ini laki-laki normal" lirih pria itu saat suara rendahnya terasa tersekat dengan penuh serak, bahkan membuat tubuh Airyn merinding mendengarnya.
Melihat tubuh gadis itu sensitif tentu Hansell tersenyum licik, entah kenapa sisi Airyn yang seperti ini lebih mematikan dari pada dirinya yang berada dialam bawah sadar, ternyata bercinta disaat keduanya mengingginkan memiliki efek yang maha dahsyat.
Hansell mendaratkan bibirnya diatas kening Airyn, bahkan ia menurunkan posisi itu hingga mencapai bibir manis yang membuatnya sangat candu, kali ini kelembutan mendominan ciuman panas mereka membuat Airyn tak mampu menolak bahkan menikmati tiap sensasi yang diberikan, tentu Hansell sadar jika dirinya sangat sulit menahan diri, tapi Hansell tidak bisa memanfaatkan sisi kepolosan Nona Petrov untuk hasrat sesaat yang ia miliki.
Baru saja ciuman itu lepas, Hansell memeluk tubuh Airyn dalam dekapanya, bahkan Airyn hampir saya terhayung dari tegaknya sebab tidak mampu berdiri tegak, gadis itu tidak menyangka akan melewati hal semenegangkan ini, bahkan detak jantungnya tak beraturan diantara takut dan juga kenikmatan.
“Airyn kau harus ingat ini, cukup kali ini kau memperlakukan pria seperti ini! Jangan bertingkah seolah-olah pria yang menyukaimu tidak akan membahayakan, sebab saat kau meremehkanya, maka aku semakin tertantang untuk memilikimu. Bahkan sedekat apapun kau dengan pria, kau tidak boleh menganggapkan sama dengan dirimu. Sebab dia tetaplah pria bisa” jelas Hansell dengan begitu takutnya, sebab ia tidak ingin Airyn bersikap seperti ini pada pria lain, cukup pada dirinya saja, dan semoga ini menjadi pelajaran untuk gadis itu.
"K-Kenapa kau seperti ini padaku?" tanya Airyn dengan bibir bergetar.
"Karna aku menyukaimu"
"Ta-Tapi..... "
"Airyn.... aku sangat mencintaimu, untuk utulah jangan meremehkan aku. Aku tidak ingin kau lihat sebagai teman, aku tidak ingin menjadi temanmu, aku ingin menjadi seorang pria untukmu"
"Hansell..... " sungguh, Airyn tidak percaya atas apa yang terjadi, bagaimana bisa dalam sekejap mata hubungan mereka seperti ini.
Hingga pria itu melepaskan pelukan mereka, namun Airyn menahan tubuhnya, bahkan ia tidak ingin bertatapan dengan Hansell. “A-Aku malu, jagan lihat wajahku, tetaplah seperti ini sampai aku benar-benar tenang” pinta Nona Petrov dengan sikap gugup sembari memeluk tubuh Hansell.
“Astaga, kenapa kau mengemaskan sekali” ledek Hansell dengan bercanda.
“Diam! Ini semua karna mu!" bentak Airyn dengan kesalnya. "Apa kau tidak tahu, kau mencuri ciuman pertamaku" terus Nona Petrov dengan jengkelnya.
"Pertama!" bentak Hansell dengan antusias, jika begini apakah ia belum menginggat kejadian di hotel itu.
"Tentu saja, aku akan mencuri ciuman pertamamu juga" kesal Airyn dengan tatapan berapai-api, bahkan ia melepaskan diri dari Hansell sembari menatap kedua mata pria itu.
“Dasar bodoh! Bagaimana cara kau mengambilnya" ejek Hansell ketika menatap mata Airyn secara lekat.
Tentu sikapnya cukup mendominasi hingga Nona Petrov merasa terhina, tapi bagaimana caranya Airyn mengambil ciuman pertama Hansell, apakah ia perlu memberikan serangan balik, bahkan untuk memulai saja Airyn tidak bisa memberanikan diri.
"Sudahlah Airyn.... jangan memaksakan dirimu" terus Hansell dengan senyum merendahkan, bahkan membuat pipi Airyn memerah diantara tanganya yang mengepal erat, berani sekali pria itu menghina Airyn.
Dengan penuh keberanian diri, tentu saja Nona Petrov meraih pipi Hansell engan kedua tangan mungilnya, bahkan Handell terpana diam melihat sikap itu, Airyn menjijitkan kedua kakinya unruk mencapai posisi Hansell sembari mendaratkan ciuman manis disana, bakan ia terasa malu untuk menjulurkan lidahnya sampai Hansell terpana degan sempurna.
"Apakah benar seperti ini" bati Airyn dengan takutnya, bahakn ia menutup matanya lantaran malu yang tak bertuan.
"Gadis bodoh ini berani sekali" geram Hansell yang begitu kewalahan menahan dirinya.
Tanpa fikir panjang, Hansell ******* habis bibir Nona Petrov, sebab jika dibiarkan maka Airyn tidak akan berhasil melakukanya, ia memainkan kecepatan yang cukup medebarkan hingga nafas yang mengejar membuat keduanya terengah.
Bahkan gairah yang tadinya dingin memulai memanas, perlahan bibir Hansell mulai merambat kebagian telinga hingga membuat tubuh Airyn begitu sensitif, bahkan Hansell tidak percaya Airyn mengeluarkan desahanya yang mulai meresahkan, hal itupun semakin membangkitkan lebih banyak nafsu yang dimiliki oleh Hansell.
"Apa kau tidak tahu, jika kau sangat bodoh Airyn" bisik Hansell diantara daun telinga Airyn sembari meninggalkan gigitan kecil disana.
"Hans-"
"Cukup memanggilku sesingkat itu" terus Hansell saat beralih kebagian lidah Airyn, bahkan ia memainkan bibirnya dengan begitu hebat.
Meskipun tanpa perlawanan dari Airyn, tangannya membelai lembut bagian pinggul Nona Petrov, hingga merambat kebagian dada sembari membuat Nona Petrov mengarang hebat sambil menahan tangan Hansell.
“Ah..... apa yang kau lakukan Hansell” jemari tangan itu sangat menyiksa Airyn, bahkan ia tidak mengerti apa yang sedang ia nikmati hingga lupa diri.
"Aku-" sungguh Hansell mulai ragu atas tatapan mata Airyn, hingga gadis itu mendorong paksa tubub Hansell yang hampir menindih dirinya.
"Lepaskan aku, menjauhlah" kesal Airyn ketika bajunya berantakan ulah Hansell, kenapa Airyn bisa terlena seperti ini, bahkan permainan yang Hansell lakukan begitu hebat dan luar biasa, seolah ia sangat berpengalaman dalam hal intimidasi.
Demi apapun, Hansell tidak menyangka jika mereka akan melewati batasan, bahkan selama ini Hansell tidak pernah memaksakan kehendaknya pada siapapun tapi kenapa ia bisa seperti ini pada Airyn.
__ADS_1
Sedangkan Nona Petrov yang begitu larut pada peristiwa yang hampir naas itu memejamkan mata dengan jengkel, jika tahu begini ingin rasanya Airyn tidak mengajak Hansell ke ruang rahasia itu.
“Astaga!! Sialan!!” teriak Airyn hingga membuat semua orang tersentak, bahkan rasanya mereka tidak percaya jika Nona Petrov yang berwibawa bisa mengumpat sekasar itu.