Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story of Hansell Chapter : 25] Memperingati!


__ADS_3

Sudah hampir tengah hari bahkan mentari sedang memanjat ke peraduanya, namun Hansell masih bergelung di balik selimut hangat seraya membelakangi sang surya.


Nuansa segar dari wangi lavender sangat semerbak dan memenuhi ruang kamar, membuat pria itu cukup engan untuk bangun dari kelelapan, tentu saja kedatanganya kali ini hanya untuk pekerjaan receh, bahkan bisa di katakan sekedar malas-malasan saja ketika berada di Tiongkok.


Mata coklat dengan manik indah nan tegas itu perlahan terbuka, nampaknya Hansell melewatkan jam olahraga dan sarapanya hari ini, sebab semalaman ia sulit tidur ketika memikirkan apakah Airyn mau menerima ajakanya atau tidak.


Pria itu memandangi kamar hotel yang kosong, seolah-olah mengigat hal paling menyenangkan yang mungkin pernah terjadi, tentu jika berfikir mengenai hotel, hanya satu yang paling menyenangkan untuknya, saat Airyn memeluk tubuhnya dan tertidur di sampingnya, ketika mereka terjebak dalam kejadian tak terduga yang mengharuskan Hansell membantu kesadaran gadis mengerikan itu, namun apakah benar Airyn tidak mengigat apapun tentang malam yang paling menyensarakan untuk Hansell, padahal bagi Hansell itu amatlah berkesan.


Tapi kenapa bayangan Airyn selalu memenuhi memori di kepalanya, bahkan setiap kali memikirkan gadis menyeramkan itu, setiap kali juga Hansell tersipu malu dan tertawa tanpa ia duga.


"Airyn....." lirih Hansell ketika mengusapkan jemarinya kearah kaca yang ada di Bathroom Hotel.


Ia tertawa culas pada dirinya sendiri sembari meraih gagang sikat gigi untuk mengoles pasta diatasnya, pria itu memandangi diri sendiri dihadapan cermin seraya menimbang apakah wajah ini cukup pantas mendekati Airyn.


Tapi nampaknya ia tidak perlu berkecil hati jika terkait paras ragawi, sebab banyak wanita di luar sana yang mengejarnya, jadi untuk hal ini, Hansell rasa ia masuk dalam kategori.


"Semoga Airyn mau menerima tawaran kencanku" harapnya seraya berlalu dari arah kamar mandi.


*


Airyn tengah rapat dengan beberapa komisaris utama perusahaan cabangnya di Tiongkok, gadis itu amat serius mendegarkan tiap-tiap perkembangan dan juga permasalahan yang di bentangkan, tentu saja Airyn tidak bertele-tele sebab ia memiliki banyak waktu untuk urusan lainya, selain itu Airyn harus kembali sesegera mungkin ke Irlandia, sebab ia mengambil cuti hanya untuk 3 hari saja.


Semua orang memberikan jalan untuk Nona Petrov berlalu dari sana, wajah angkuh dan pembawaan tenang mampu mengetarkan jiwa-jiwa mereka yang membuat kesalahan, rasanya Airyn memang tidak seperti remaja pada umumnya padahal usia Airyn bisa setara dengan anak-anak mereka.


Sebab ketika menyebut nama Nona Petrov semua orang seperti lupa siapa dirinya dan berapa umurnya, lantaran gelar dan kekuasaan yang disandang mampu menghapuskan sekecil apa angka usia itu, bahkan umur menjadi tidak berarti sebab Nona Petrov terlanjur mengerikan.


"Nona Apakah anda ingin mengahadiri acara makan siang hari ini?" tanya seorang pria yang mengantikan posisi Berto selama 3 hari di Tiongkok, sebab Merry juga pergi ke Amerika untuk janji temu dengan seorang Investor setia di perusaan mereka, untuk itulah Berto perlu stand by di Irlandia agar mampu mengelola perusahaan utama.

__ADS_1


"Tentu saja. Aku ingin menyelesaikan semuanya sesegera mungkin" balas Airyn dengan nada malas seraya bersandar kepintu penumpang yang ada di sebelah selatan.


"Apakah karna anda akan kembali nanti malam Nona?"


"Tidak. Aku memiliki janji dengan seseorang yang paling penting. Dan sebelum malam aku harus menyelesaikan semuanya" jelas Airyn dengan nada tegas ketika memikirkan tentang Hansell, bahkan wajahnya sedikit malu jika untuk pertama kalinya akan mengelilingi kota dengan seorang pria.


"Apakah saya harus men-siagakan lebih banyak orang untuk nanti malam?"


"Tidak!" bentak Airyn hingga membuat pria itu tersentak kaget, ia bahkan cukup gugup jika apa yang diucapkanya adalah kesalahan. "Maksud ku, aku tidak memiliki janji temu dengn rekan bisnis atau siapapun. Aku......bertemu dengan seorang kenalan saja" jelas gadis itu setelah membuat suasana menjadi mengerikan.


Sungguh Airyn tidak percaya dirinya akan sefrontal itu ketika membantah, apakah karna ia tidak mau di ganggu ketika bersama dengan Hansell, tapi kenapa ia malah melongarkan tingkat waspada dan malah percaya sepenuhnya pada pria itu.


"Baiklah Nona, saya mengerti" sambung pria itu dengan sedikit bingung menyaksikan sikap Airyn yang cukup berbeda dari biasanya.


"Tunggu....." seketika keheningan terbentang lagi, membuat pria dewasa yang mengunakan jas formal menolehkan sedikit kepala, menunggu Airyn menyelesaikan perkataanya. "Terkait anak buah ku, segera pulangkan saja ke markas utama, aku tidak membutuhkan mereka" ucap Airyn sembari memandangi jalanan yang berlalu sesuai protokol jalan.


"Aku bisa menjaga diriku sendiri, lagian diantara semuanya, hanya di Tiongkok tempat paling aman bukan. Jadi kau tenang saja, katakan pada Merry aku bersama temanku disini"


"Teman?" ujar pria itu ketika membeokan kalimat terakir Nona Petrov.


"Apakah aneh aku memiliki teman?" ketus gadis seraya memancarkan tatapan tajam.


"Tidak Nona, maafkan aku" balas pria itu ketima memilih tenang, ia diam di posisi seraya memikirkan teman mana yang di maksud Nona Petrov.


*


Airyn kembali ke penginapan sore harinya, bahkan ia berlalu sesegera mungkin ketika ingin menemui seseorang di atas atap Hotel, pria itu ialah Adward Smith yang menjadi penangung jawab atas segala hal terkait bisnis bawah tanahnya, selain itu Adwar juga kekasih pura-pura Airyn untuk sebuah perjanjian bisnis antara jaringan markas utama dan perkembangan dalam sektor ekonomi disetiap perusahaan mereka.

__ADS_1


Meskipun begitu pria itu sering kali mengucapkan kata menyebalkan, sekalipun ia sadar jika Airyn tidak akan mau berkencan dengan siapapun. "Kenalan mana yang Nona Petrov maksud hingga kau melogarkan penjagaan atas dirimu sendiri" sindir Adwar sembari berlalu mendekati Airyn yang sedari tadi menanti dirinya.


Membuat gadis itu memasuki tanganya kesaku celana formal yang membalut kaki jenjang nan indah itu. "Apakah kau harus tahu masalah pribadiku, lebih baik urusi anak buahmu, dan ajari mereka baik-baik karna dia sudah memukuli seseorang yang cukup penting untuk ku"


"Siapa yang dia pukul memangnya?" tanya Adwar tatkala menatap penuh selisik kearah Airyn, membuat gadis itu terlihat enggan untuk bicara sembari mendorong jauh tubuh Adward yang semakin mendesak dirinya.


"Aku rasa itu bukan ranah mu untuk ikut campur, terkait permasalahan pribadiku, aku harap kau memiliki batasan untuk mencari tahu. Karna kau tahu sendiri Adwar, aku paling membenci orang yang tidak tahu diri" sindir gadis itu hingga membuat Adward terpaku diam, saat menyaksikan Airyn yang memandang penuh sikap mengerikan.


Sedari awal gadis itu memang menutup segala pintu atas hubungan yang terjalin padanya, bahkan Adward jauh-hauh datang ke Tiongkok hanya untuk mendengar peringatan langsung dari Airyn, terkait anak buahnya yang sudah memukuli seseorang.


Namun siapa yang dipukul hingga Airyn bereaksi sebesar ini, bahkan nampak sekali gadis itu sangat tidak suka dan harus repot-repot memberikan ultimatum tegas untuk tidak macam-macam lagi.


Apakah ia seorang pria? jika benar, pria seperti apa yang membuat Airyn mampu menaruh perhatian sebesar ini, bahkan sepanjang mengenal gadis berbahaya yang paling mengerikan itu, Adwar baru sadar jika ada seseorang yang cukup ia lindungi, sayangnya itu bukan Adward.


"Baiklah, aku sadar diri. Tapi aku tidak akan main-main Airyn, jika kau terluka setitikpun atas keputusan implusif ini, jagan salahkan aku untuk memberi pria itu pelajaran, kau tahu sendiri terkait dirimu aku bisa menjadi kejam" balas Adward saat menyentuh pipi Airyn dengan penuh kelembutan, membuat gadis itu memalingkan wajah dengan tatapan sinis seolah tidak suka atas tingkah keterlaluan barusan.


"Jaga sikapmu!!" sungguh peringatan yang paling mengancam itu di layangkan tanpa ampun, memberikan Adward suasana berbeda dari Airyn yang ia kenali.


"Baiklah...baiklahh Nona Petrov. Kau tenang saja, bagaimanapun kau adalah kekasihku, selama kontrak kita belum berakir, maka jangan salahkan aku jika terlalu cerewet padamu, karna hubungan ini tidak sekedar mitra bisnis saja, namun suatu jaringan terbesar di dunia bersatu akibat hubungan kita, jika kau menyerah dan meruntuhkan reputasi dirimu, mau tak mau, kau tahu sendiri apa akibatnya"


"Adward! Apakah aku terlalu berbaik hati padamu akir-akir ini? Aku tidak mengerti kenapa orang yang aku berikan kesempatan pada akirnya malah melunjak melampaui batasan, tapi saat ini aku bisa merasakan, jika satu atau dua saja masih kurang untuk seseorang. Untuk itulah aku akan menjawab pertanyaan mu, kenapa aku tidak mau memiliki seseorang? Karna tidak ada orang yang benar-benat tulus selagi mereka meminta sesuatu dari diriku, dan kau salah satunya! Alasan aku tidak ingin menangapi bercandaan mu, karna aku yakin, kau hadir hanya untuk memanfaatkan saja. Untuk itulah, manfaatkan aku sesuka mu, tapi jangan pernah mengancam diriku jika kau tidak siap kehilangan apa yang sudah kau miliki saat ini"


Gadis itu benar-benar berlalu dari sana, meningalkan Adwar dengan sejuta pertanyaan yang tidak ia mengerti, apakah hatinya memang tidak tulus untuk Airyn, hingga gadis itu mampu menyelisik sebelum menyelami, tapi jika di fikir lagi, apa yang di katakanya memanglah benar.


Membuat tawa sunging keluar dari gurat wajahnya, dengan pancaran geram, Adward tidak percaya jika dirinya telah di rendahkan tanpa mampu di angkat lagi, gadis itu memang sesuatu yang paling bisa mematahkan kepercayaan diri seseorang, tanpa memberi kesempatan orang itu untuk berjuang dan berusaha.


"Dasar gadis kejam" kesal Adward untuk kembali ke pesawat pribadi yang ia tumpangi, bahkan Adward berharap saat Landing disini, mampu mengencani Airyn meskipun dengan alasan bisnis, tapi ia malah diusir sebelum mimijakan kaki untuk merasakan bumi Tiongkok.

__ADS_1


__ADS_2