
"Ayolah, ikut aku" tarik Hansell ketika Airyn terpaku diam sambil mengerucutkan bibirnya.
Mereka berdua berjalan seiringan, diantara lalu lalang kendaraan yang silih berganti datang, Hansell melirikan mata kearah samping untuk memperhtikan Airyn sepuasnya, bahkan sedari tadi senyum samar mampu terakses dari sudut bibirnya, ketika menjawab satu demi satu pertanyaan yang tidak henti di tanyakan oleh gadis itu, bahkan mereka saling tertawa tatkala Hansell mencoba melucu untuk Nona Petrov tapi tidak lucu sama sekali.
Hingga rasanya Airyn tidak menyangka dunia malam akan seindah ini, sayangnya selama ia tumbuh besar di balik dinding istana berbalut kemewahan, Airyn tidak memiliki rekan yang bisa diajak untuk mengelilingi perkotaan, bahkan ketika jenuh bekerja di ruang hampa nan sepi, tetap saja, Airyn memilih pulang dengan suasana yang sama.
"Ryn, apa kau mau makan sesuatu?" tawar Hansell diantara keheningan yang terbentang, tentu saja mereka sedang berjalan di belakang pejalan kaki yang memadati emperan toko.
"Tidak"
"Apa kau mau berbelanja?"
"Tidak juga"
"Apa kau mau cemilan?"
"Tidak Hansell..."
"Lalu kau mau apa, jika semuanya tidak dan tidak!" dengus pria itu tatkala berdecak kesal kearah Airyn, pandanganya memancar penuh perhitungan jika lagi-lagi gadis itu ingin menolak tawarannya.
"Aku tidak ingin apapun. Kenapa kau terus memaksa, dasar menyebalkan" ejek Airyn dengan penuh kesal.
Ia menarik paksa tangan yang sedang terjalin erat, namun Hansell mampu menahan saat Airyn ingin melepas, nampaknya pria menyebalkan itu sunguh memiliki otoritas penuh ketika tidak ada anak buah Nona Petrov disini.
"Kenapa kau nakal sekali, Ha. Berapa kali harus aku katakan untuk tidak melepaskanya, dan kau selalu saja ingin jauh-jauh, apa susahnya ada di dekatku"
"Lalu kenapa kita harus bergandengan tangan jika orang-orang sepadat ini, bahkan tidak ada celah untuk ku kabur dan lari, saat semua orang berjalan lamban. Bukankan sangat aneh untuk terus bergandengan! Apa kau tidak malu sama orang-orang yang melihat, bahkan sedari tadi mereka terus mengamati kita" bantahnya.
"Baguslah jika mereka melihat" syukur Hansell dengan segera.
Membuat Airyn memandang aneh seraya berdecak kesal atas tingkah pria itu.
__ADS_1
"Jika orang melihat berarti mereka bisa mengira jika kau adalah pacarku....dasar bodoh! Bahkan belum menjadi pacarku saja, kau sudah mampu membuatku cemburu" batin Hansell dengan senyum penuh kelicikan, ia tidak mengerti kenapa pesona Airyn selalu menarik perhatian pria, bahkan sangat banyak yang meliriknya padahal sejelas ini Hansell mengandeng tangan Nona Petrov.
"Terserhalah....jika dia tidak mau melepaskannya" gumam gadis itu sambil melanjutkan perjalanan.
"Ngomong-ngomong, soal ajudan yang sudah kau kirim kembali itu, apa kau tidak merasa jika pilihan implusif itu terlaku berisiko" tanya Hansell untuk membelah kesunyian yang terus bergulir, membuat Airyn mendongkan kepala kearah samping sembari menatapnya.
"Menurutku tidak"
"Apa kau gila!!" kesal pria itu dengan mata membesar penuh ketidak sukaan, sebab gadis yang ia cemaskn malah terlihat baik-baik saja.
Airyn tertawa renyah sekali lagi, ia bahkan mengangkat tanganya untuk mengusap permukaan pipi yang cukup keram ulah wajah Hansell yang mengemaskan, bahkan senyum simpul di tarik dari sudut bibir Hansell dengan samar.
"Aku tidak takut sama sekali" balas Airyn dengan segera. "Karna separuh bagian atas saham di Tiongkok sudah menjadi milik ku, untuk itulah, siapa yang akan melukai Nona Petrov, jika mereka sadar bagaimana bergantung hidup pada Grup Petrov"
"Tetap saja itu berisiko bodoh!" sentil Hansell dengan geram.
"Hansell! Ini sudah yang kesekian kalinya kau melakukan itu, apa kau mau mati!" teriak Airyn saat menyentuh permukaan tanganya di area dahi.
"Terserahlah, yang penting kau yang sangat bodoh diantara kita" imbuhnya yang tak mau kalah.
"Oke..oke! Aku bodoh" kejar Hansell dengan segera.
Sebab wajah Airyn sudah berangsur kelat, hingga membuat jiwa mengalah Hansell sebagai pria muncul ke permukaan.
Hingga tawa indah diiringi lesung pipit samar di sudut pipi Nona Petrov, tergambar dengan sempurna, gadis itu tertawa renyah ketika tingkah pasrah Hansell mampu meluluhkan kekesalan di hatinya.
Sunguh, Airyn sangat elok atas seni Tuhan yang paling sempurna, raga Hansell yang tadinya kaku malah mencair hingga menyeluruh, atas tawa polos dari gadis mengerikan itu, versi berbeda darinya memang membuat Hansell mampu lupa diri, bahkan berulang kali tawa cantik yang ia ulas tanpa sadar mampu menenangkan.
Airyn....mengoncang ketidakberdayaan Hansell yang mampu melumpuhkan hati tanpa terduga, gadis itu ada diantara jiwa kejam atas penghakiman pada diri sendiri yang mulai utuh, hingga melimpah ruah kedalam renjana kodrati.
"Cantik.... " seru Hansell setulus hati, hingga tawa Airyn yang penuh kehangatan berubah menjadi dingin.
__ADS_1
Sungguh Airyn sangat cantik, bukan saja paras ragawi yang ia miliki, namun kehadiran dirinya malam ini, sudah mempercantik semuanya.
Untuk pertama kalinya Hansell bisa lumpuh menatap mata seorang wanita, pria itu ingin mengatakan ada cinta yang terus membara ketika dirinya mulai tak berdaya, jantungnya berdetak kencang tanpa suara, tapi jika ingin di suarakan, Hansell ber-embuh. "Airyn, bantu aku, untuk meneriaki hati ini. Hati yang tak beretika saat mendekatimu, hati yang bergetar saat menyentuh ragamu, hingga hati yang selalu hangat atas senyum naif yang tidak di sengaja itu"
"A-Apa maksudmu--" balas Airyn ketika seuntai kata cantik di lantunkan dengan lantang ke gendang telinganya, bahkan Airyn amat gugup atas tatapan Hansell yang bisa menyentuh.
Hingga mata Hansell membulat sempurna, menatap hal berbahaya tengah tertuju pada gadis pujaanya.
Pria itu menarik tubuh Airyn, gerakan yang tak terbaca dalam hitungan detik itu mampu membuat mata Airyn membulat besar, dirinya tanpa sadar jatuh dalam pelukan Hansell tanpa batas, tangn lebar pria itu sedang mengamankan kepala Airyn, di permukaan dada yang bergemuruh cemas.
Airyn mendongakan wajah dengan segera, mengamati gurat marah yang tertampil penuh kesal, bahkan jantung pria itu tengah berdebar tak karuan hingga mampu Airyn rasakan.
"Apa dia gila!!!" itulah kalimat pertama yang Hansell cetus setelah menyelamatkan Airyn dari pengendara motor yang ugal-ugalan, tanganya mencengkram penuh erat untuk menempelkan tubuh mereka, bahkan Hansell tidak sadar Airyn ia dekap dengan erat, di pelukan rapat yang tidak berjeda.
Sampai-sampai Airyn tidak percaya reaksi Hansell sebesar ini.
"Apa ini jalan nenek moyangnya sampai mengendarai motor seperti itu, astaga!!!Untung saja tidak terjadi hal fatal, jika tidak, jangan memohon ampun padaku!" dengusnya penuh marah, bahkan urat nadi di permukaan leher terlihat keras penuh tegas, membuat Airyn sadar jika saat ini Hansell tengah melidungi dirinya.
"Airyn apa kau baik-baik saja?" terus pria itu seraya menundukan pandangan kearah bawah, matanya langsung menyatu dengan tatapan Airyn yang sembilu, namun Hansell tidak peduli akan hal itu.
Ia melongarkan sedikit pelukan untuk menangkup pipi Airyn penuh sayang, mengamati apakah Airyn tidak ketakutan atau berada dalam detak jantung tak karuan, untunglah hanya Hansell yang melihat pria itu hampir menabraknya, jadi gadis itu tidak akan merasa trauma atau ngeri atas kejadian barusan. "Untunglah kau tidak apa-apa" terusnya dengan kalimat penuh lembut.
Membuat Airyn mengerjapkan mata dengan tidak percaya, jika saat ini jantungnya tengah berdebar luar biasa, mata Hansell, sikap Hansell, dirinya, kehadiranya, sunguh menuju batas normal Airyn.
Kenapa tubuhnya tidak melakukan penolakan apapun padahal Airyn sadar jika seorang pria sedang kurang ajar menyentuh dirinya, membelai raganya, bahkan memaksakan pelukan, tapi kenapa ia malah diam seribu bahasa dan luluh lantah tanpa terkira, apakah Airyn menerima? Bahwa Hansell hadir pada hidupnya?
"Hansell" Airyn berucap dengan berat ketika mengeluarkan diri dengan paksa.
Gadis itu melawan hati dengan logika, berulang kali menyakinkan diri jika sikap Hansell sudah kelewatan batas, tapi terus saja menerima kenyamanan ini.
Kecemasan yang sedari tadi terlihat mulai pupus seketika. Hansell terlanjur merasa bahwa Airyn selalu menolak dirinya, apakah Hansell memang keterlaluan menyentuh Nona Petrov? Tapi sialnya, pria itu terus saja melampaui batasan, seolah-olah menganggap bahwa Airyn sudah menjadi miliknya.
__ADS_1