Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story of Hansell Episode : 40] Lelaki Berengsek mana.


__ADS_3

Baru saja sarapan itu selesai, pesan di ponsel Hansell mengalihkan perhatianya, Dikra sudah menghubungi dan mengatakan ia berada di lobby, mengetahui hal itu Hansell bangkit dari tempat duduk seraya berpamitan kepada Hellena.


"Apa kau tidak mau ikut ke rumah, ada Angel dan Dikra diluar?" tanya Hansell untuk sekedar basa basi.


Namun Hellena diam saja, bagaimana bisa ia melupakan kejadaian semalam dan bahkan lupa bahwa nasibnya tengah di pasrahkan pada Dikra, Hellena berharap Angeline bisa mengendalikan pria itu, jika tidak, semuanya bisa saja hancur.


"Maaf kak, Hellena harus menemui papa, lain kali saja" alasannya dengan sedikit gugup seolah enggan untuk berdiri.


Membuat Hansell menganggukan kepala dengan mengerti. "Baiklah Hellena, aku pulang dulu, terimakasih sudah menemani sarapan"


"Sama-sama kak Hansell"


Pria yang sangat Hellena sukai beranjak pergi, meningalkan dirinya sendirian dengan seribu ketakutan mendalam.


Hansell melihat mobil Dikra yang berdiri di lobby bandara, ia melangkah menghampiri seraya membuka pintu kabin penumbang, sebab adiknya sedang duduk di kursi samping. "Hei, apa kalian terlalu lama menungguku?" tanya Hansell dengan heboh, namun suasana diantara mereka terasa hening.


"Tidak terlalu lama" saut Angel dengan malas, sedangkan Dikra hanya diam saja.


Mendengar hal itu, Hansell sedikit curiga, apakah keduanya tengah bertengkar lagi, hingga mereka saling mengabaikan. "Apa kalian bertengkar?"


"Tidak" jawan Angeline.


"Iya" saut Dikra.


Membuat tatapan Hansell memancar kearah keduanya, meskipun mereka ada di mobil yang sama, namum Angeline terlihat marah pada Dikra, apa yang membuat mereka bertengkar, bahkan baru beberapa hari saja mereka di tingalkan, keduanya sudah saling tidak akur, astaga.


"Apa masalah kalian memangnya?" tanya Hansell dengan nada menuntut, seolah perjalanan pulang hanya terasa hambar.


Padahal Hansell berharap dapat ciuman dan pelukan hangat dari adiknya karna ia sudah merindukan Angeline beberapa hari ini, dan candaan Dikra yang sangat garing namun terasa cukup akrab. Tapi kali ini mereka berdua seprti orang asing yang mengesalkan, sungguh merusak mood baik Hansell yang di berikan pujin oleh gadis pujaanya.


Mendengar pertanyaan kakaknya, Angeline memilih diam sembari menatap kearah depan. Jika Dikra mengatakan masalah tadi malam, bisa-bisa Angeline akan ketahuan dan tidak di perbolehkan untuk bermain dengan Hellena.


"Tidak ada, Dikra hanya menyebalkan saja" imbuh gadis itu dengan kalimat dingin, membuat Hansell menyongsongkan tubuh kearah depan seraya melirik Angeline dari samping, menyelisik gurat di wajah adiknya untuk menemukan jawaban.


"Kau tidak akan marah besar jika hanya masalah sepele, cepat katakan ada apa? Ini tidak seperti dirimu Angel" paksa Hansell.

__ADS_1


Namun Angel masih memilih diam, ia enggan bicara hingga mata Hansell menuntut kearah Dikra. "Adikmu itu......" sontak tatapan Angel dialihkan penuh peringatan, hingga kedua orang yang terus bertengkar dan berdebat itu saling menatap tajam, bahkan tatapanya seperti berbicara namun Hansell tidak bisa menerjemahkan apapun.


"Kenapa dengan Angel?" ketus Hansel dengan wajah serius, sampai menarik perhatian Dikra.


"Ada lelaki yang mendekatinya, dan aku tidak suka" kesal Dikra dengan nada santai, seraya mengalihkan pandangan kearah jalan.


"Apa maksudmu?" Hansell tidak megerti dimana masalahnya, bahkan keningnya berkerut dalam jika ini soal lelaki, lagian kenapa jika ada yang mendekati Angel, secara adiknya sangat cantik, jadi sangat wajar jika ada yang menyukainya.


"Benar kak, dia melarangku berkenalan dengan pria" timpal Angeline atas tatapan tajam itu, sembari menatap kesal kearah Dikra.


Membuat Hansell semakin penasarab, apa yang terjadi sebenarnya, kenapa mereka bertele-tele. Sedangkan Angeline menatap penuh peringatan, untuk Dikra menepati janjinya, sebab ia berjanji akan menutupi kejadian semalam, karna Angeline tidak ingin Hellena disalahkan dan yang ia takutkan, jika nanti mereka tidak bisa bermain lagi, selain itu Angeline terlalu takut dengan murka kakaknya, di tambah pria itu tidak suka sikap pembangkang, pasti Hellena akan habis di salahkan jika Hansell mengetahuinya.


Untuk itulah Angel membuat kesepakatan dengan Dikra, jika ia akan menemaninya menjemput Hansell ke bandara, sebagai bukti jika Angeline memaafkan sikap kasar Dikra kemarin malam.


"Apa kalian mempermainkan aku!!" bentak Hansell penuh bingung atas dua orang yang bersikap aneh di hadapanya.


"Tidak Hansell. Hanya saja, ada lelaki brengsek yang mendekati Angel, jadi aku memukulnya, karna ia menarik Angel dengan paksa, dan adikmu malah marah padaku karna aku membelanya, bahkan...." Seketika pandangan Dikra di pancarkan kearah Angeline. "Dia marah dan membentak ku, aku minta maaf dengan tulus dan dia tidak menerima maafku"


Membuat wajah Hansell memerah penuh amarah, ketika emosinya tersulut atas penuturan Dikra barusan, lelaki gila mana yang berani menyentuh dan menganggu adiknya, bahkan sampai tahap memaksa, sungguh Hansell tidak bisa menerima dan menoleransi lagi, bahkan jika bisa dilihat, ada kobaran api yang keluar dari tubuh pria itu, saking kesalnya akan sikap pria brengsek tersebut.


Membuat Dikra menolehkan sedikit kepala ketika wajah temanya sudah memerah penuh amarah, astaga, kenapa Dikra bicara sembarangan dan keterlaluan, bahkan menarik kelesalan Hansell.


"Ha-Hansell-"


"Dimana lelaki Brengsek itu!!" teriaknya penuh kesal hingga menghempaskan tinju ke pembatas yang ada disisi rem tangan, bahkan jok penyimpanan pecah atas tinju Hansell yang amat keras, ia jatuhkan dengan kekuatan penuh.


"Kakak........" mata Angeline menatap nanar atas emosi membara yang Hansell keluarkan, sedangkan Dikra yang bodoh itu tidak percaya ia bisa mengali lobang untuk dirinya sendiri.


"Tamatlah riwayatku" batin Dikra penuh takut.


"Apa dia gila menyentuh adik ku! Sebesar apa keberanian si bodoh itu. Astaga, apa dia sudah bosan hidup!!" teriaknya lagi, hingga Angeline hanya bisa tersudut diam seolah ingin menepi dengan gugup.


Mata Angel menatap Dikra, berfikir jika kelakuan Dikra sangatlah bodoh, kenapa ia membuat alasan yang lebih parah dari kenyataan, memang pria menyebalkan yang selalu menyusahkan.


"O-Orang itu sudah aku selesaikan dengan baik! Kau tenang saja ia tidak akan berani muncul" jelas Dikra dengan segera.

__ADS_1


"Apa kau fikir itu cukup. Aku ingin menghabiskanya dengan tanganku sendiri, biar tidak ada lagi yang berlaku seenaknya"


"Kak, tahanlah emosi mu--"


"Bagaiman aku bisa menahan emosi, saat seseorang berani menyentuh wanita dengan lancang, dan kau Angel, kenapa kau mau membelanya" teriak Hansell dengan penuh kekesalan, membuat mata Angeline memancar marah saat dirinya jadi tumbal atas ucapan bodoh pria itu.


Dikra yang tidak berani melirik dua adik kakak itu, memasrahkan pandangan kearah depan, ia tidak bisa melakukan apapun lagi selain diam, sebab bicara hanya akan membuatnya terlihat salah.


"Maaf kak, Angel fikir Dikra sangat keterlaluan, sampai memukul orang"


"Keterlaluan bagaimana, dia menolongmu agar kau tidak di ganggu oleh orang lain dan kau malah marah padanya, bahkan kau yang keterlaluan, keterlaluan bodohnya" teriak Hansell penuh kesal atas sikap adiknya.


Membuat Angel tidak bisa berkutik, selain memasrahkan diri atas apa yang dilakukan kakaknya. "Sekarang berahati-hati keluar rumah, jika kau tidak bisa memikirkan bagaimana bahaya diluar sana, kakak akan membuatmu menjalani Home Scholling saja"


"Kakak"


"Hansell!"


Bantah keduanya secara bersamaan, hingga tatapan Hansell memancar dengan murka, melihat mereka ingin menentang dirinya.


"Kau tidak boleh egois seperti itu tentang Angel, bagaimanapun Angel membutuhkan waktu beradaptasi, jika kau mengurungnya di rumah, apa bedanya istana itu dengan penjara"


"Jangan mengajariku Dikra, aku lebih mengerti bagaimana menjaga Angel dengan baik"


"Tapi keputusan itu sangat keterlaluan!" bantah Dikra penuh kesal.


"Yang keterlaluan itu dunia luar, jika mereka ingin melakukan sesuatu tidak ada lagi pertimbangan, jadi selagi Angel masih belum bisa mengontrol diri, aku tidak akan membiarkanya keluar sembarangan" tegas Hansell ketika emosinya terus marah.


Bagaimana tidak, adiknya hampir di ganggu oleh lelaki brengseng, tentu sebagai kakak lelaki Hansell tidak bisa menerima hal ini, bahkan di dunia ini seluruh kakak laki-laki akan seperti Hansell.


"Hansell......pertimbangkan lagi keputusan itu, jangan memutuskan sesuatu sebarangan, apalagi terkait Angeline, aku-"


"Dikra, diamlah!" tukas Angeline penuh kesal, saat menatap panjang kearah Dikra. "Kakak benar, jadi jangan bicara lagi"


Hingga ke-3 orang yang sibuk berdebat barusan, kali ini terdiam di posisi masing-masing atas perdebatan yang mengheningkan. Sungguh Dikra menyesal sudah berkata sembarangan tentang Angeline, sedangkan gadis yang ada disamping Dikra, merenung bagaimana besarnya murka Hansell jika terjadi sesuatu padanya, untung saja Dikra membawanya pulang tadi malam, dan berjanji akan menutupi ini dari Hansell, jadi Angeline bisa menerima walaupun kehidupanya akan di kekang.

__ADS_1


__ADS_2