Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story Of Hansell Episode : 47] Perlu bersikap dingin.


__ADS_3

"Apa yang kau lakuakan" bentak Airyn ketika menapakan tangannya untuk mendorong Hansell menjauh, bahkan pria itu tersentak kaget tanpa mampu mengangkat wajah menghadapi Airyn. "Apa kau gila!" terus gadis itu dengan wajah memerah, diatas kemarahan yang tidak bisa dikendalikan, hingga membuat Hansell mengertakan gigi atas kebodohan yang sudah dilakukan, bagaimana bisa Hansell malah memperlihatkan perasaanya dengan naif, bahkan langsung menerima sebuah penolakan tanpa ada pertimbangan.


"Airyn...... maaf-"


"Lupakan tentang malam ini, dan jangan pernah ungkit-ungkit tentang hal ini. Anggap saja kita berada di bawah pengaruh alkohol, bukankah insiden ini sangat wajar terjadi bagi sepasang gender yang terkontaminasi kandungan alkohol. Ja-jadi jangan difikirkan lagi, oke!" tegasnya ketika meracau dihadapan Hansell, membuat pria itu menatap polos kearah wajah yang amat panik untuk beralasan.


"Tapi aku tidak mengkonsumsi alkohol" sautnya dengan tenang, membuat Nona Petrov terpana diam diantara jari telunjuk yang sedang diacungkan, sungguh wanita itu kebingungan saat alibi yang ia gunakan tidak mampu menutupi perkara.


"Anggap saja...... aku yang terlalu banyak minum"


"Tapi kau tengah sadarkan diri, bahkan kau mengetahui bahwa aku....."


"Stop!" bentak Airyn sembari mencegat Hansell memperjelas keadaan. "Aku tidak mau kau bicara lagi, sudah cukup hentikan. Aku.... aku akan melupkanya dan memaafkanmu" terusnya dengan wajah yang semakin panik, bahkan gurat kekesalan itu tidak mampu Airyn sembunyikan, membuat Hansell menarik senyum di sudut bibirnya ketika gadis yang ia sukai sangatlah mengemasakan.


"Tapi aku tidak bisa melupalanya" imbuhnya.


Membuat akal sehat Airyn terengut dari kewarasany, bahkan gadis itu tidak menyangka Hansell akan seterus terang ini, memembuat dirinya dilanda malu yang tak menentu, namun pria itu malah sebaliknya, ia merasa sangat bahagia ketika mempermainkan gadis yang sangat menyebalkan, bagaimana bisa Hansell melewatkan kesempatan untuk mengolok-ngolok Nona Petrov.


"Aku tidak mengerti kenapa aku bodoh sekali, aku tidak berfikir kedepanya, bagaimana jika hal ini merusak pertemanan kita, dan membuat kau menjadi marah ataupun membencinku, aku minta maaf Airyn, sungguh aku menyesal sekali" sambung pria itu ketika menampar pipinya sendiri, hingga tangan Airyn menghentikan tindakan itu.


"Hansell..... sudahlah, aku.... akan meluapkan semuanya, jangan menyalahkan dirimu sendiri"


"Bagaimana aku bisa memaafkan diriku, jika sikap keterlaluan yang aku lakukan membuat kesalahan besar di hubungan pertemanan kita, maafkan aku Airyn, sungguh" terus Hansell dengan wajah memelas, bahkan mengugah hati nurani Airyn untuk mempertimbangkan kemarahanya.


"Bukankah aku juga membirkanya beberapa detik, jadi bisa dikatakan aku juga sama halnya denganmu, mungkin suasana romantis dibawah kembang api yang meluncur indah, membuat adiksi tersendiri untuk kita berprilaku implusif, hal ini sangat wajar, karna sebelumnya kita sudah pernah saling mengutkan dan merasa menerima satu sama lainya, anggap saja hal yang terjadi barusan sebagai bentuk pertemanan"


"Pertemanan? Apakah berciuman adalah sikap seorang teman, kalau begitu, apakah aku boleh melakukanya lagi?"


"Apa!" bentak Airyn ketika membulatkan matanya menatap pria itu, lagian apa yang sedang Airyn lakukan, apakah ia tengah membenarkan sebuah ciuman diantara mereka dan tidak membuat batasan seperti biasanya. "Apa kau mempermainkan ku?" bentaknya saat berkacak pinggang dihadapan Hansell.


Bahkan tatapan Nona Petrov menajam, beserta sorot mata mengerikan darinya, membuat Hansell bergindik ngeri sebelum akirnya tertawa canggung, pria itu lupa jika sebenarnya gadis itu adalah wanita berbahaya, jika salah sasaran maka Hansell akan mendapatkan balasan yang setimpal.


"Apa kau mempermainkan aku, Ha!" bentak Airyn penuh murka, ketika memukul tubuh pria itu, bahkan Hansell menahan tangan kecil Airyn yang sangat tidak berasa sakit ketika memukul dirinya, hingga mereka berdua saling tertawa diatas balkon kapal pesiar sembari mengejek diri masing-masing, hingga suasana yang tadinya canggung, kali ini mulai mencair, mereka seperti larut pada dunia masing-masing seolah tak ada siapapun yang dapat menganggunya.


"Apa kau suka kembang api barusan?" tanya Hansell dengan serius.


"Tentu saja aku suka, biasanya aku selalu melihatnya di penghujung tahun, itupun dari balik dinding kantor, tapi sekarang aku melihatnya di alam terbuka, itu sangat indah"


"Benarkah, jika begitu, apa kau mau berkencan denganku di penghujung tahun?"


"Berkencan? Apa kau menggodaku lagi?" ejek Airyn dengan tertawa renyah, membuat Hansell tersenyum tipis untuk menangapinya.

__ADS_1


"Anggap saja begitu"


"Lihat saja nanti, jika aku tidak memiliki pekerjaan yang mendesak, akan aku usahakan"


Hingga percakapan sederhana yang begitu hangat itu, membuat tatapan Adward merendah, nampaknya ia perlu mengalah sebelum berjuang, untuk pertamakalinya Airyn yang selalu menjadi sosok asing, malam ini menjadi gadis berbeda saat bersama seorang pria, bahkan Adward tidak menyangka jika ikatan bisnis yang ia buat diantara mereka tidak menjadi terobosan untuk mendapatkanya, ternyata novel kontrak untuk mengikat hubungan yang saling menguntungkan, tidak selamanya sesuai kenyataan, jika pada akirnya cinta itu sudah memiliki porsinya masing-masing.


"Semoga kau selalu bahagia dan tersenyum sehangat ini" harap Adward ketika meninggalkan tempatnya berpijak untuk pergi dari pemandangan yang menyesakan dada.


*


Perkemahan musim panas yang diadakan oleh sekolah bagi siswa semester akhir sudah keluar 2 hari yang lalu, bahkan Dikra, Hansell, Airyn serta Hellena adalah rekan satu kelompok, mereka berempat akan menjadi tim untuk 4 hari kedepanya, membuat Airyn tidak menyangka jika paksaan Hansell memberikan jebakan untuk ia menghadiri acara ini.


Namun kehadiran Hellena selalu saja membuat Airyn risih, ia terlalu malas melihat ketidaksukaan di wajah gadis itu, bahkan Airyn terlalu malas untuk menangapinya, hingga ia selalu saja menghindar setiap kali Hellena berada diantara dirinya dan Hansell, selain itu, Airyn tidak bisa bersikap kasar seperti Nona Petrov yang arogan, karna Hellena nampaknya sangat di hargai oleh Hansell, untuk itulah mengalah adalah jalan keluar menyelamatkan segala hubungan.


"Baiklah anak-anak, untuk hari pertama pada hari ini, mari kita bersenang-senang mendirikan tenda masing-masing, kalian di tuntut melakukan kerjasama tim yang solid, dan bapak harap kalian akan menjaga kekompakan kelompok untuk saling toleransi dan menghagai, apa kalian mengerti?"


"Mengerti pak!"


"Baiklah, silahkan bubar, dan kita akan berkumpul di sore harinya untuk menyiapkn acara nanti malam" terus beliau, hingga semua sorakan bahagia membuat senyum anak-anak mengambang indah.


Bahkan Hansell menatap Airyn secara diam-diam ketika gadis itu bersikap dingin dan penuh tenang, kenapa setiap kali melihat dirinya yang seperti itu, Hansell selalu ingin melukiskan tawa diwajah Airyn, nampaknya sudah seperti spesialisasi Hansell membuatnya tertawa dan merasakan kebahagiaan.


"Hei, kenapa kau diam saja" tegur Hansell ketika menyapa gadis yang ia sukai, bahkan seluruh siswa sudah berhamburan ketitik tenda mereka, namun gadis itu masih diam untuk memandang-mandang.


"Apa maksudmu dengan selit bersosialiasi. Lalu aku diriku kau anggap apa, kemarilah ikut aku. Akan aku ajarkan cara membangun tenda" ajak Hansell saat menarik tangan Nona Petrov, bahkan jalinan erat keduanya membuat Dikra dan Hellena saling pandang, Hansell benar-benar menaruh perhatian besar pada Airyn, bahkan satu kalipun ia tak melewatkan waktunya untuk bersama gadis itu.


Beberapa saat Hansell dan Airyn terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka, sedangkan Hellena dan Dikra hanya mengamati keduanya, bahkan sikap Hansell pada Airyn saja berkali-kali membuat Hellen marah, hingga rasa cemburu sudah mengelora dan menyesakan dadanya.


Kenapa Hansell sebegitu perhatian dan hangat pada gadis itu, sedangakn sikap Hansell pada Hellena malah dingin dan cuek, seolah menyapa Hellena seperti formalitas semata yang tidak masuk dalam list kebahagiaanya, memangnya apa istimewa gadis itu, dibalik sikapnya yang dingin, ia adalah karakter yang paling Hellena benci.


"Nampaknya dunia hanya milik kalian saja" tegur Dikra hingga memutus perhatian Airyn dan Hansell. " Apakah kau tidak mau membantuku membangun tenda kita?" tanya Dikra pada sahabat yang selama ini besar bersamanya, namun saat menyukai wanita ia malah berubah dari kebiasaan semula.


"Kau bisa melakukanya bersama Hellena, kenapa harus mengangguki" saut Hansell di tengah kesibukanya.


"Tapi dia tidak mengerti apapun, selain itu Helleba tidak sedang fokus mendirikan tenda, karna tatapanya hanya tertuju kearah lain" ungkap Dikra dengan kalimat hinaanya, bahkan ia sedang mendeskripsikan kecemburuan Hellena terkait Airyn.


"Untuk itulah, aku membantu Airyn mendirikan tenda, bagaimana jadinya jika kedunya tidak bisa membangun tenda mereka, bisa saja mereka tidak bisa tidur nanti malam. Lagian jika Hellena tidak bisa melakukanya, apa susahny untuk kau kerjakan sendiri, dasar merepotkan"


"Apa kau gila, memerintahku mengerjakanya sendiri, aku tidak akan mau melakukanya, biarkan saja kau tidur dipasir, aku akan bergabung dengan Airyn"


"Jangan bermimpi bisa melakukan itu" geram Hansell ketika mengobarkan api kemurkaan dihadapan Dikra, membuat Pria itu bergindik Ngeri tanpa mampu berkata lagi.

__ADS_1


"Aku....hanya bercanda"


"Hansell apakah ini harus di tancapkan ke tanah?" tanya Airyn yang sedang sibuk mengerjakan bagianya, bahkan ia tidak menghiraukan percakapan Dikra dan Hansell yang terlalu serius.


"Oh....iya, lakukankan dengan pelan, jangan sampai tanganmu terluka" saut pria itu dengan perhatian penuh, bahkan Dikra tidak menyngka, di tengah kemurkaanya barusan, pria itu bisa berubah dalam hitungan detik, hanya karna Airyn.


"Astaga, aku tidak percaya dengan penglihatanku" hina Dikra dengan tidak terima, ketika Hansell Hamillton yang begitu dingin dan angkuh, kali ini menjadi berbeda pada seorang wanita. "Lanjutkan pekerjaanmu, aku akan berkeliling melihat para gadisku" pamit Dikra dengan wajah kesal, hingga meningalkan mereka untuk melanjutkan kesibukan.


"Ah" pekik gadis itu saat tanganya tidak sengaja terkena palu yang sedang ia pukul agar menancapkan kayu untuk penyangga tenda.


"Airyn, bukankah sudah aku bilang untuk hati-hati, kenapa kau ceroboh sekali" kesal Hansell ketika beraih tangan gadis yang ia sukai dengan panik, bahkan Hellena yang baru saja menghampiri mereka, dibuat semakin kesal atas pemandangan yang menyebalkan itu.


"Aku tidak apa-apa-"


"Apanya yang tidak apa-apa saat tanganmu memerah"


"Tapi aku tidak-"


"Airyn" kesal Hansell diantara kerutan dahinya yang menampilkan kejengkelan.


"Tapi aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir begitu, bagaimanapun semua orang melihat kita" lirih Nona Petrov saat menakukan wajahnya, hingga pria itu baru sadar sikap yang ia tampilkan menarik perhatian mereka, bahkan semua pandangan tertuju kearah Airyn.


"Ikut aku" anjaknya dengan kalimat lembut, bahkan ia menuntun Airyn berdiri dari sana untuk bernjak pergi meninggalkan tatapan mereka.


Pria itu mengandeng tangan Airyn menuju posko kesehatan yang disediakan oleh pihak sekolah, bahkan Hansell dibuat begitu kesal ketika tangan gadis yang ia sukai terluka karna pekerjaan begini, jika ia mengetahui Airyn tidak bisa melakukanya, lebih baik Hansell saja yang mengerjakan semuanya dan gadis itu duduk diam untuk mengamati.


Sayangnya nasi sudah menjadi bubur, untuk mengulang apapun tidak akan bisa terjadi jika faktanya tangan Airyn sudah terluka.


"Permisi, apakah kau memiliki obat untuk lebam?" tanya Hansell pada petugas medis, membuat wanita itu menghampiri Airyn dan melihat permukaan tanganya yang sedikit membiru.


"Tentu saja kami memilikiny, tapi ini tidak terlalu bermasalah Hansell"


"Apanya yang tidak bermasalah, tanganya sampai biru dan memerah begini, lebih baik kau berikn obat untuk menghilngkan rasa sakitnya, dari pada banyak bicra" ketus Hansell pada wanita itu, membuat Airyn membulatkan mata saat ucapan pria yang ia kenali sebagai sosok yang tenang kali ini malah terlihat berbeda.


"Hansell, kau kenapa?" tegur Airyn dengan tidak enk hati.


"Baiklah, aku akan memberikanya" sambut pegawai medis itu, untuk berlalu meninggalkan mereka, bahkan ia sedikit terkekeh, saat Hansell mencemaskan seorang wanita.


"Diamlah, kau sedang terluka" ketusnya ketika memalingkan wajah kehadapan Airyn.


"Tapi yang terluk tanganku bukan mulutku, kenapa kau berlebihan sekali, dasar menyebalkan. Apa kau tidak sadar sikapmu yang membesar-besarkan masalah ini membuatku sangat malu, bukankah pernah aku katakan, aku tidak suka menarik perhatian semu orang, jadi berhentilah bersikap berlebihan" balas Airyn penuh pertentangan, membuat pria itu terpaku diam ketika tatapan mengancam itu mulai menyadarkan dirinya. "Aku akan pergi, aku tidak butuh obat, lepaskan tanganku" ketusnya untuk meninggalkan Hansell disana, bagaimabapun Airyn benar-benar tidak menyukai sikap menyebalkan pri itu.

__ADS_1


"Tapi....... " namun gadis itu sudah memunggungi dirinya untuk beranjak sejauh mungkin. "Astaga, apakah ini salahku?"


"Tentu saja tidak, namun perhatian yang berlebihan, terkadang membuat wanita sedikit muak, cobalah bersikap cuek namun perhatian, mungkin dia akan tertarik" timpal wanita yang sedang memberikan obat oles pada pria itu. "Nah, aku berikan obatnya. Sekarang pergilah mengejar gadis itu" terus petugas medis itu, bahkan ia sedikit menertawakan Hansell namun ia pendam.


__ADS_2