Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story of Hansell Episode :68] Harus bersikap adil.


__ADS_3

Hansell memasuki ruang kepala sekolah dengan sikap berani, bahkan ia menatap jengkel kearah Tuan Kasino yang dikenal cukup baik, tadinya Hansell ingin meluruskan masalah tanpa melibatkan kepala sekolah dengan beliau, tapi nampaknya pihak mereka semakin memperpanjang perkara, tentu Hansell tidak akan segan untuk meladeni pelaku yang sudah mencoba melecehkan gadis kesayanganya.


“Hansell, silahkan duduk” sapa Kepala Sekolah yang terlihat gelisah disaat menyambut kedatangan Hansell.


Bagaimanapun Hansell Hamillton tetaplah seorang murid yang cukup dihargai di sekolah ini, dia termasuk kedalam list kalangan atas yang berpengaruh di kota, sehingga Kepala Sekolah sendiri cukup terjepit dalam memperlakukan kedua orang besar di ruanganya yang terasa semakin sempit.


“Apa kau sadar, sikapmu itu hampir saja membunuh putra tunggal keluarga Brain” celetuk Tuan Kasino dengan sikap kasar, bahkan belum sempat Hansell mendudukan diri suara tinggi penuh hinaan darinya menghentikan langkah kaki pria itu. “Astaga! Aku tidak mengerti apa yang terjadi dengan anak-anak zaman sekarang, sehingga berkelahi sampai titik darah penghabisan, aku masih menoleransi jika saja kalian sama-sama terluka, tapi melihat kau baik-baik saja sedangkan putraku terbaring di ICU membuatku tidak terima” terusnya dengan kalimat menusuk yang membuat Hansell menarik senyum dengan penuh ketenangan.


“Lalu, apa anda mengetahui alasan aku ingin membunuh pewaris tunggal keluarga Brain”


“Hansell Hamillton!” bentak beliau disaat menajamkan mata dan meninggikan suara meneriaki Hansell, bahkan kepala sekolah tersentak mendengar amarah Tuan besar Brain, tentu dengan jabatan dan statusnya beliau cukup sadar diri sendiri sehingga tidak berani angkat bicara di perdebatan ini.


Sedangkan Hansell yang menyadari bagaimana tidak sopannya Kasino Brain, memilih tenang untuk memikirkan semua ini dengan kepala dingin, pria tampan yang selalu ceria dan penuh akan senyuman itu, kali ini tidak menunjukan kesantunanya , ia menatap penuh nafsu membunuh untuk mendudukan diri di hadapan orang tua pelaku.


“Sebagai orang tua aku sangat memahami perasaanmu Tuan Kasino, hanya saja sebagai orang tua seharusnya hal pertama yang kau cari tahu, kenapa anakmu bisa terlibat perkelahian seperti itu” jelas Hansell yang saat ini hampir saja naik pitam, bahkan ia mendominasi pembicaraan sehingga Tuan Kasino semakin mengepalkan tangan penuh geram.


“Lalu apa masalahnya? Sehingga kau memukuli putraku” kejar pria itu dengan tidak terima.


“Kau adalah sumber masalah dari sikap anakmu” terus Gansell tanpa basa-basi lagi, bahkan membuat Kasino amat murka hingga membanting seluruh benda yang ada diatas meja temu, sadar pria itu membuat kekacauan tentu Hansell berdiri dengan sikap menantang.


“Kau harus sadar akan posisimu Hansell, kau memang memimpin selama beberapa tahun dan kinerjamu amatlan mengesankan, sehingga aku ingin melakukan investasi untuk menyokong perusahaanmu yang hampir tumbang oleh serangan APV Petrov, tapi jika kau tidak sadar diri akan dimana kau berada, aku tidak segan menarik semua dana yang aku berikan, setidaknya sebagai perusahaan yang menjadi mata rantai keuanganmu, apa kau yakin akan baik-baik saja dengan semua itu” ancam Kasino dengan penuh kepuasaan diri, membuat Hansell terdiam dengan tatapan paling mengerikan. “Sepertinya kau memang lupa akan statusmu saat ini, bahkan aku tidak percaya orang yang sudah aku bantu dengan hati nurani membalasku dengan begitu hina”


“Lalu apa mau mu?” tantang Hansell dengan segera. “Apa kau ingin kita membatalkan kontrak dan mengibarkan bendera perperangan, aku rasa kau sangat mengenal baik bagaimana silsilah keluarga Hamillton” ancam Hansell dengan penuh kepercayaan diri, bahkan kepala sekolah yang tak sengaja berada diantara mereka hanya mampu meneguk salivanya penuh ketakutan. “Tuan Kasino, tadinya aku tidak ingin melibatkan ranah internal kedalam masalah ini, tapi nampaknya kau bukan orang yang bijaksana dan tidak bisa menempatkan diri di tempat yang tepat, untuk itulah.......biar aku katakan beberapa hal padamu” hina Hansell dengan penuh keseriusan, bahkan ia mendudukan diri dengan sikap tenang sembari memalingkan kepala melirik kepala sekolah yang ada disisi mereka.


“Apa kau tahu hal apa yang membuatku memukul anakmu hingga aku ingin sekali membunuhnya, hal itu lantaran ia mencoba melucuti pakaian gadis yang aku sukai, bahkan gadis itu mengalami serangan panik atas tindakan putramu, jika hal ini di perkarakan kejalur hukum apa kau yakin dirimu dan anakmu bahkan perusahaanmu baik-baik saja? Tentu tidak kan!”


Sontak perkataan Hansell membuat Tuan Kasino terdiam, bahkan tatapan mereka saling bertaut satu sama lainya sebelum akirnya pria dewasa itu bertingkah tenang dalam memberikan serangan balik. “Bagaimana kau membuktikanya? kau tidak memiliki gambar atau vidio apapun untuk memperkarakanya, bahkan menuduh anak ku seperti itu sama saja mencemarkan nama baik keluarga Brain, jika begini bukankah sangat mudah memberikan tuntutan balik, di tambah anak ku memiliki luka yang amat parrag”


Membuat Hansell mengertakan gigi dengan aura kelam nan pekat, nampaknya pria itu sadar masalah anaknya namun tetap saja berpihak dan menutupinya, pantas saja anaknya bisa sejam itu, jika orang tuanya adalah sumber yang paling menjijikan.


Tentu Hansell lupa, jika dirinya tidak mengabadikan bukti dan tanpa sengaja mendapati Airyn di pertengahan hutan, bahkan saat itu tidak ada yang bisa menjadi saksi untuk melaporkan apa yang dilakukan putranya, sebab semuanya pasti saling membela diri masing-masing, sadar Hansell tengah kebingunagan, membuat  Kasino Brain melengkungkan senyum licik, nampaknya Hansell Hamillton terlalu naif mempermainkan dirinya, apakah Hansell tidak sadar jika saat ini Kasino sudah mengetahui semuanya dan ia sudah mendapatkan alasan terbaik untuk mengakiri kerjasama dengan Hansell, sebab kejadian yang dilakukan putranya tentu sangat berimbas baik bagi Kasino sendiri, sebab ia tidak perlu ropot-repot lagi membantu Hansell, karna menjadi investornya sangat minim kemungkinan mendapatkan keuntungaan, meskipun bertahan sampai sejauh ini atas serangan dari Apv 0etrov sudah menjadi pencapaian terbesar bagu Grup HS, tapi soal keuntungan Kasino seperti melakukan sumbangan amal yang begitu lambat perputaranya.


“Aku adalah buktinya” tukas Airyn ketika memasuki ruangan kepala sekolah dengan sikap pongah, bahkan ia membawa Tablet Android yang ada di tanganya untuk dihempaskan kehadapan Kasino.

__ADS_1


Bagaimana bisa Nona Petrov membiarkaan Hansell merasa tersudutkan, disaat Airyn bisa berdiri untuk menyokong dirinya, bahkan ia ingin sekali menghancurkan pria yang sudah berani menyulitkan Hansell, apakah ia fikir dirinya pantas bersikap angkuh dan sombong, seolah-olah derajatnya paling tinggi tanpa sadar diatas langit masih ada langit lagi.


“No-Nona Petrov” lirih kepala sekolah dengan kagetnya, bahkan membuat Kasino terpana atas apa yang ia dengar.


Apakah gadis yang berdiri entah dari mana itu adalah Nona Petrov sang pemilik APV petrov yang menguasai seluruh dunia, tapi kenapa ia bisa berada disisi Hansell dan membelanya, apakah gadis yang menjadi korban itu adalah Nona Petrov, sungguh membuat Kasino tidak bisa menutupi rasa kagetnya.


“Nona apa yang anda lakukan disini?” tanya Kepala Sekolah kehadapan Airyn, bahkan ia berdiri dengan penuh sopan ketika ruanganya terasa semakin minim.


“Aku bahkan ingin bertanya apa yang sedang kau lakukan disini Bapak Kepala Sekolah yang terhormat? Apakah kau tengah menyelesaikan masalah internal sekolah, atau kau sedang menyaksikan persaingan bisnis di dalam lingkungan pendidikan” ketus Airyn dengan penuh kekesalan, sebagai seorang murid mungkin ia bisa mengetahui bagaimana takutnya pria tua itu, tapi sebagai pemegang saham di Yayasan ini, membuat Airyn sedikit tidak terima atas sikapnya. “Kepala Sekolah......aku sangat menghargai niatan baikmu dalam melindungi diriku, tapi saat ini kau sudah keliru, aku disini adalah korban atas tindakan yang dilakukan oleh siswa bernama Rendra Brain, untuk itulah mengusirku dan membiarkan aku tidak terlibat sama saja seperti kalian sedang menutupi kejahatan, dan aku paling membenci jika sesuatu tidak adil terjadi di depan mataku sendiri”


Hingga semua orang terpana diam menatap gadis itu, tak terkecuali Hansell yang tidak bida bergeming atas sikap tegas dan berani Nona Petrov, sosoknya yang seperti ini sangat berbeda sekali dengan Airyn yang pemalu dan sangat naif, bahkan sosok Airyn yang terus terintimidasi oleh kearoganan Hansell sebagai pria, benar-benar lenyap dari pandangan matanya.


“Apakah kau bernama Kasino Brain selaku orang tua dari Rendra?” terus Airyn penuh ketegasan, tentu pria itu diam saja. “Jika kau meminta buktinya, silahkan tonton vidio yang akan menjadi bukti tentang pelecehan seksual yang dilakukan anakmu, dan juga kekerasan yang ia rencanakan bersama teman-temanya” ungkap Nona Petrov kehadapan benda yang sedari tadi ia letakan dimeja, membuat mata semua orang terpana atas apa yang di suguhkan gadis itu.


Namun Tuan Kasino memilih diam, tentu ia sudah mengetahui hal ini dari anaknya, tapi jika Nona Petrov memiliki bukti, bukankah ini situasi yang berbahaya untuknya.


“Apa yang kau lihat, segera buka dan saksikan sendiri betapa biadabnya putramu, tadinya aku berfikir jika pria brengsek itu terpengaruh oleh lingkungan dan rasa iri dan dengkinya pada orang lain, sehingga menjadikan dia sebagai sampah yang menyedihkan, tapi sekarang aku mengerti foktor utama yang membuatnya seperti itu, tak lain dari sosok orang tua yang lebih rendah dari seongok sampah, bukannya menjadi contoh yang baik bagi kehidupan putramu, ternyata kau membuatnya lebih mengerikan dari pribadimu, apa kau tahu guru olahraga yang kau suap untuk menaikan posisi anakmu dalam tim basket akan mengundurkan diri dan bersaksi atas kecurangan ini, selain itu korban yang ia siksa dan rundung bersama dua temanya, akan menjadi bukti bahwa dia melakukan kekerasan, serta vidio yang menyaksikan tindakan mereka yang ingin melucuti tubuhku…….” Hingga Airyn mengepalkan tangan diantara tangisan yang ia redam begitu dalam, membuat Hansell begitu tak berdaya untuk melihat ketangguhan hatinya. “Akan menjadi bukti finalnya, jika anakmu dan kau akan menjadi olok-olokan media dan bahkan menerima balasna setimpal atas semuanya”


“Apa kau fikir kau bisa melakukan itu, aku akan mengeluarkan berita tentangmu yang mengejutkan, kau fikir aku tidak tahu jika kau bermain dengan uang kotor dan perdagangan ilegal, dengan semua itu aku akan menghancurkanmu juga”


Hingga Airyn memalingkan pandangan kearah kepala sekolah. “Aku ingin kau bersikap adil terlepas dari apa yang saat ini membuatmu takut, aku akan menangani masalah diluar ranah sekolah, hanya saja aku ingin meminta keadilan untuk korban yang sudah dirugikan termasuk diriku sendiri. Aku ingin kau memberikan hukuman yang setimpal atas pelaku, korban, dan juga orang tua murid yang bersikap lancang dan menyalah gunakan otoritasnya, selain itu, aku bukan Nona Petrov, aku Airyn Petrov yang menjadi siswa biasa di sekolahmu, jadi aku mohon, perlakukan aku seperti kau memperlakukan semua muridmu” terus Airyn dengan penuh serius, membuat pria itu tertegun mendengar apa yang ia utarakan, entah bagaimanapun Hansell hanya bisa menatap diam, memandangi segala sikap tegar Airyn yang menyimpan kerapuhan di jiwanya.


*


Beberapa hari kemudian……


Atas semua masalah yang terjadi, bahkan guru olahraga yang sudah disuap oleh Tuan Kasino diberhentikan sebagai guru dan menjalahi hukuman pidana, selain itu Rendra yang masih dibawah umur mendapatkan perlindungan dari asosiasi perlindungan anak dan mendapatkan ganjaran dari sekolah untuk gagal di semester akir ini dan perlu mengulang tahun berikutnya, sedangkan Leon yang menjadi korban dan di rawat di rumah sakit mendapatkan kompensasi dari sekolah serta pihak pelaku, bahkan Tuan Kasino meminta maaf kepada keluarga Leon atas apa yang sudah dilakukan oleh putranya, bahkan beliau mengundurkaan diri dari jabatanya atas peristiwa yang memalukan ini, sedangkan Airyn yang menjadi korban pelecehan dari Rendra dan teman-temanya, mencoba memaafkan dan menerima semua kesalahanya, sebab apa yang mereka lakukan memiliki sebab akibat yang tidak di tangung oleh anak dibawah umur saja, ada pihak lain yang bertanggung jawab atas segalanya, yaitu orang tua, dan juga gurunya.


Airyn fikir orang tua yang mendisiplikan anaknya sendiri sudah menjadi hukuman tersendiri bagi mereka, sehingga Airyn tidak perlu repot-repot membalas tuntas semuanya, karna menjadi murid biasa Airyn juga perlu terbiasa dengan yang namanya kata maaf dan ikhlas.


“Airyn” sapa seorang wanita yang kala itu melihat Airyn duduk di ruang tunggu dikantor guru, bahkan membuat pandangan Airyn jengah atas wanita yang sempat melukai hatinya. “Kenapa kau menatapku seperti itu, apa kau fikir dirimu pantas berprilaku kepada guru dengan mata menajam” dengusnya dengan sikap bercanda, bahkan ia mendudukan diri disamping Airyn seraya bertingkah santai tanpa sikap sopan seperti biasanya.


“Kenapa anda bicara informal padaku,” saut Airyn dengan bingung, lantara ia sangat mengerti bagaimana wanita itu bersikap saat dikelas, dan disana Airyn juga sadar jika posisinya membuat semua orang cukup sulit bersikap, hal ini membuat Airyn mengerti tidak semua orang bisa memperlakukanya sama termasuk Bu Lamna.

__ADS_1


“Kenapa? Apakah salah, bukankah sangat wajar bagi guru bicara seperti ini pada muridnya, tapi untuk murid kau tidak berhak bicara santai padaku, apalagi menatapku dengan tatapan menusuk itu”


“Apa anda sedang membuat lelucon, bukankah anda sendiri yang mengatakan jika sangat sulit memperlakukan aku seperti sisiwa biasa, sekarang kenapa anda berubah fikiran”


“Ya kau benar, aku sepertinya berubah fikiran. Aku ingin memperlakukan mu sama seperti murid yang lainya, dan terkait sikapku minggu lalu, aku minta maaf, sebagai orang dewasa aku sadar aku sudah menyakiti hatimu, jadi ibu minta maaf”


Sontak perkataan bu Lamna membuat Airyn tertegun, bahkan ada rasa asing yang bergejolak didadanya hingga gadis itu amat tersentuh oleh sikap tulus dan penuh kasih dari matanya.


“Apa yang anda bicarakan, aku baik-baik saja” tolak Nona Petrov sembari menatap kearah bawah, bahkan ia begitu malas menunjukan jika beberapa saat ia tersentuh oleh prilaku wanita dewasa itu.


“Bagaimana bisa anak-anak baik-baik saja jika mendapatkan kata-kata menyakitkan dari orang dewasa, untuk itulah ibu minta maaf sudah salah menilai mu Airyn, terkadang orang dewasa juga bisa bersikap kekanak-kanakan, jadi atas sikap itu ibu mohon maaf, apa kau bisa memaafkan aku?”


“Apa maskdumu, aku-“


“Baiklah, anggap kau sudah meaafkan ibu, sekarang pergilah ke kelas dan bawa semua tumpukan buku yang ada dimeja itu” tukas bu Lamna dengan segera, tentu saja ia sadar jika Airyn amat malu dan ragu, untuk itulah ia bersikap santai bahkan membuat Airyn terpana atas perintahnya.


“Apa kau memintaku membawa buku itu?” tanya Nona Petrov sekali lagi sembari menunjuk dirinya, jujur saja ia tidak pernah berfikir akan melakukan hal ini, bahkan tidak pernah ada guru yang memerintahnya.


“Tentu saja, kau seorang murid, jadi sudah pantas untuk membantu gurumu, cepat lakukan” paksa Lamna sembari bersiap-siap untuk mengajar, bahkan ia tersenyum manis kearah Airyn agar gadis itu tidak membuang waktu dengan wajah kagetnya.


Sadar dirinya tidak memiliki pilihan, tentu Nona Petrov mengambil tumpukan buku yang hampir saja mencapai wajahnya, bahkan Airyn tidak menyangka ia akan melakukan ini, sekalipun Airyn meminta diperlakukan sebagai murid biasa, bukankah ini sangat keterlaluan, seolah memanfaatkan keinginan Airyn diatas kepentingan pribadinya.


“Sialan, jika tahu begini, aku tidak ingin diperlakukan sama” gerutu Nona Petrov seraya berjalan dengan tertatih menuju kearah kelas, bahkan bu Lamna tersenyum manis melihat tingkah gadis itu, ternyata Airyn tidaklah seburuk yang ia fikirkan, dan atas apa yang sudah terjadi, sungguh Lamna sangat menyesal.


Baru saja wanita itu memasuki kelas, semua murid terpana melihat Airyn yang menyusul setelahnya, bahkan gadis itu membawa tumpukan buku ulangan harian mereka dengan wajah kelelahan, hingga Dikra saja terpana diam kearah depan atas hal mustahil yang terjadi.


Airyn menghempaskan buku itu di permukaan meja guru, bahkan pandanganya terkesan jengkel namun bu Lamna memberikan senyum manis sebagai ucapakan terimakasih yang tersirat, mau tak mau Airyn terpaksa menerima itu, seraya membalikan badan menuju tempatnya.


“Airyn, apa yang kau lakukan. Bagikan buku ini pada teman-temanmu, setelah itu baru kembali ke tempatmu” cegat beliau dihadapan semua murid, tentu keadaan kelas hanya hening dan bingung, bahakan Airyn terpana diam atas perintahnya. “Ayo lakukan” paksanya lagi.


“Kenapa anda bersikap seperti ini padaku? Apakah anda-“


“Apakah guru tidak boleh meminta tolong pada muridnya, sebagai seorang murid cepat lakukan, sebelum aku menghukum mu keliling lapangan” tukas bu Lamna dengan segera, bahkan menghentikan penuturan Airyn, hingga membuat seisi kelas terkekeh pelan sembari menyembunyikan tawanya dalam-dalam.

__ADS_1


Sadar ia tidak memiliki pilihan lagi, membuat Airyn membagikan semua buku yang ia bawa sesuai nama masing-masing, bahkan ia tidak mengenali semua nama anak dikelas itu kecuali beberapa orang yang menonjol ketika belajar.


“Terimakasih” seru Dikra dengan ramahnya, bahkan tatapan pria itu seperti mengoda Airyn namun diabaikan dengan kasar sebelum akirnya Airyn menyelesaikan semua tugasnya.


__ADS_2