
Perdebatan sengit yang selalu saut-sautan antara dua pasang manusia itu terus memenuhi ruang kamar, membuat Hansell amat ricuh dari dirinya yang biasanya pendiam, sedangkan Airyn tanpa sadar memberikan toleransi penuh yang mungkin berlimpah pada pria itu.
Hingga keduanya tidak sadar bagaimana mereka melewatkan waktu cukup lama, padahal sudah hampir tengah malam namun Airyn masih membantu Hansell mengobati lukanya, tentu untuk bertangung jawab atas kesalah pamahan barusan.
"Kau bahkan memberatkan tubuhku tanpa perasaan" umpat gadis itu dengan penuh kesal tanpa ingin mengalah sedikitpun.
"Terserah kau saja, yang jelas anak buahmu yang memukul ku" balas Hansell dengan kesal.
"Lalu apakah ini harus tangung jawab ku?"
"Tentu saja, kau harus bertangung jawab. Karna mereka adalah anak buahmu"
"Tidakah kau ini sangat keterlaluan Hansell Hamillton" geram Airyn seraya memancarkan pandangan tajam kearah pria menyebalkan itu.
"Airyn! Sejak kapan kau tahu nama lengkap ku, Ha? Apakah kau memperhatikan ku diam-diam" balas pria itu dengan mata berbinar, membuat gadis yang sedang memoleskan kapas dengan obat merah ke wajah Hansell tergugu.
"Tentu sa-ja. Karna kau adalah pembisnis. Saat itu, saat.....kau bilang bahwa aku adalah pembunuh ayah mu......" sontak mata pria itu terpaku diam, jantungnya seperti tertancap sakit, atas apa yang sedang Airyn bentangkan. "Dan.....saat itu juga aku melacak tentang dirimu, awalnya aku fikir untuk membalas penghinaan yang kau berikan, hanya saja aku beruntung mengetahui, bahwa 2 tahun lalu kaulah yang sudah memberikan tumpangan itu. Aku sungguh tidak bisa membalas kata-kata menyakitkan tersebut, sebab jika aku sudah menghancurkan perusahaanmu dan setelah itu baru mengetahui bahwa kau yang menolongku, mungkin saat ini banyak sekali penyesalan yang mendera" jelas Airyn dengan nada pelan penuh sikap lega.
Membuat mata Hansell menancap nanar seolah ia tidak sadar, perihal sakit hati semata, ada hati yang sudah ia gores dengan kata.
Apakah Hansell memang keterlaluan mengatakan hal itu, tapi sebenarnya ia tidak sunguh-sunguh dalam ucapanya, Hansell hanya kecewa, kenapa Airyn adalah Nona Petrov yang tidak bisa ia terima dengan lapang hati, tapi saat ini, hatinya malah bertingkah sebaliknya, mempermalukan Hansell sendiri di depan Airyn yang jelas-jelas sudah di sirami kata-kata kasar, namun masih bisa memandangi kebaikan orang lain.
Sungguh, jika Nona Petrov bertindak menghancurkanya, Hansell akan hancur lebur tanpa sisa, mungkin ia akan menjadi gelandangan sembari menelusuri jalanan dengan adiknya, namun lihatlah hari ini, Airyn bahkan masih memberikan toleransi meskipun penghinaan tajam sudah di layangkan pada dirinya.
__ADS_1
"Airyn jangan terluka, itu bukan salah mu. Aku.....aku minta maaf sudah berkata sekasar itu" bantah Hansell hingga membuat tangan gadis yang sedang mengobatinya terhenti seketika. "Aku yang terlalu kasar dan tidak berperasaan saat itu, aku menyalahkan mu atas kesalahan ku sendiri. Jika ada yang perlu disalahkan, sebenarnya akulah yang paling salah. Tapi di dunia ini, ada takdir atas kehidupan masing-masing dan aku percaya jika meninggalnya papa adalah adalah takdir yang seharusnya"
"Tidak! Bukankah itu memang salah ku. Jika aku tidak menghubungi beliau, mungkin saja saat ini dia masih ada" tegas gadis itu hingga membuat Hansell tidak mampu menerima perkataanya.
"Tidak Airyn!" kejarnya dengan bantahan jelas, Hansell bahkan mengenggam tangan Airyn dengan penuh kekuatan sembari menatap kedua mata yang tengah bersalah itu. "Jangan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang terjadi, jangan menyalahkan dirimu sendiri atas kematian seseorang, selagi itu bukan campur tangan mu, itu bukanlah kesalahan mu. Sebab di dunia ini sudah memiliki takdirnya masing-masing, kapan papaku meninggal, itu sudah di tentukan. Jadi itu bukan tugasmu untuk merasa bersalah, ataupun terluka. Karna papa ku meninggal itu sudah kuasa Tuhan"
"Tapi--"
"Airyn........ jangan menyalahkan dirimu sendiri. Aku mohon, cobalah untuk menerima, jika semua hal yang terjadi pasti memiliki alasan tersendiri, kau bukan Tuhan yang harus bertangung jawab atas meninggalnya papa ku, tugasmu hanya menjadi manusia biasa, menjalani takdir yang seharusnya di tetapkan"
Seketika Airyn terpaku diam memandang mata yang memancar tajam penuh kehangatan, memaksa dirinya untuk sadar jika ini bukanlah kesalahanya, tapi kenapa Airyn ingin sekali menangis ketika bayangkan ayahnya yang malah terlintas di kepala.
Rasanya Airyn melihat kembali ayahnya ketika di sekap di gudang terbang kalai itu, melihat jenazahnya terbaring di rumah sakit tanpa ada jejak pembunuhan, padahal di kepala itu merekam jelas bagaimana mereka merengut nyawa ayahnya tanpa perasaan, hingga akirnya Airyn mengambil beban atas duka yang masih belum berakir, ia melanjutkan hidup tanpa perasaan, menjadi yang tertinggi tapi tidak memiliki siapapun di dunia ini, Airyn yang hanya meringkuk dalam kegelapan hati, kali ini malah tertuntun untuk menatap mata seseorang di depannya.
Apakah benar semua itu bukanlah kesalahanya? Apakah benar yang terjadi pada ayahnya adalah takdir yang di tetapkan, jika memang itu adalah kuasa, apakah benar untuk Airyn mulai menerima, bahwa kematian ayahnya bukanlah kesalahan Airyn.
Selama ini Airyn tidak bisa menangis dan melepaskan sakit atas luka duka, lantaran Airyn sadar bahwa ayahnya tiada adalah konspirasi yang dilakukan oleh seseorang, Airyn melihat sendiri jenazah itu di depan matanya, namun hasil tidak menunjukan ada sindikat pembunuhan di tubuh beliau, rasanya Airyn tidak bisa mengeluarkan air mata sebab tidak menemukan dalang atas hal itu.
Penyesalan, rasa bersalah dan luka di tingalkan, menjadikan Airyn hidup di jiwa hitam yang penuh kegelapan, segalanya seperti sirna setelah datangnya badai kehilangan, memporak-porandakan kebahagian tanpa memberikan belas kasih pada siapapun, mengasingkan diri dari semua orang, untuk menjauh dalam hubungan yang paling intim, sebab ia tidak sangup jika sewaktu-waktu kehilangan.
"A-Apakah Tuhan benar-benar memberikan takdir pada kehidupan seseorang?" lirih Airyn dengan suara bergetar yang mampu di dengar oleh telinga lawanya, membuat Hansell memandang penuh perhitungan ketika menyadari tidak ada kepercayaan hidup di dalam diri gadis itu.
Apa yang sedang di lakukanya selama ini?Apakah gadis itu hanya hidup untuk sekedar bernafas serta mengenyampingkan makna atas dirinya sendiri. Kenapa Airyn harus menyiksa diri sendiri atas apa yang bukan menjadi tangung jawabnya.
__ADS_1
"Tentu saja Tuhan sudah menakdirkan sesuatu atas hidup manusia, kita hanya sekedar menjalani dan menikmati, selagi masih bisa berusaha kau harus mengiringi setiap langkah itu dengan Do'a. Karna tidak ada penolong yang paling paripurna, selain Do'a dan dirimu sendiri"
Sontak air mata mengalir dari pipinya, Airyn mengeluarkan air mata tersakit untuk pertama kalinya, Hansell yang sudah menolongnya saat paling tersulit, hari ini juga mengeluarkan segala kehitaman yang menjadi racun di jiwanya.
Memberikan selaksa cahaya untuk mencercahkan hati, mengobati sembilu yang sudah berlalu, hingga akirnya Airyn kembali lagi pada hatinya sebagai manusia biasa.
"Airyn...." Hansell mengangkat kedua ibu jarinya untuk di usapkan ke permukaan pipi yang mengenang disana, memberikan kelembutan atas kesedihan mendalam yang Airyn terima, hinga sederas apapun air mata itu membelah pipi, sekuat itu juga permukaan kulit Hansell menyentuhnya.
"Airyn, kenapa kau menangis, apa aku sudah salah bicara?" tanya Hansell dengan nada lirih, ia berhati-hati bertanya jika saja kata-katanya sudah menyakiti.
Namun gadis itu mengelengkan kepala dengan segera, memberikan jawaban lewat gestur tubuh untuk berbicara, bahwasanya Hansell sudah menenangkan hatinya, masuk dengan perlahan untuk memeluk jiwa hitam yang sudah menyelimuti dengan dalam, namun tak ada yang bisa Airyn ungkapkan selain air mata yang sedang menjelaskan, jika ia berterimakasih penuh pada Hansell, untuk membuatnya menangis atas sakit itu.
"Airyn....." Hansell meraih kepala Airyn secara perlahan, ia tentu sangat sedih sekali ketika Airyn yang sudah disukai malah menangis sesakit itu, apa yang dirasakan hatinya hingga nampaknya Hansell ikut serta merasakan penderitaan itu.
Airyn menangis sejadi-jadinya diantara dada yang bergemuruh tak karuan ketika memeluk hangat tubuhnya, menyatukan mereka berdua pada perasaan yang hampir sama, atas kehilangan untuk segera menerima kenyataan.
Pada akirnya Hansell sadar, jika untuk melihat lukanya, ia perlu berkaca pada Airyn Petrov. Gadis mengerikan yang memiliki segalanya namun hampa tanpa memiliki siapa-siapa, hingga akhirnya Hansell juga sadar, matanya selalu tertuju memandangi gadis itu, karna luka yang mereka rasakan adalah perasaan kehilangan yang sama.
Hansell menguatkan pelukan itu secara perlahan, ia memberikan keeratan dalam kekuatan yang menghangatkan Airyn, mengusap kepalanya secara sayang untuk mencoba menenangkan, hingga wangi tubuh itu seperti ia miliki seutuhnya, mampu di rasakan dengan hangat sembari menciumnya dalam-dalam.
Airyn adalah gadis yang berhasil mencuri perhatiannya tanpa Hansell inginkan, memasuki hatinya tanpa disadari, hingga akirnya jiwa kehilangan yang Hansell rasakan terisi penuh saat memeluk tubuhnya.
Apakah Hansell sudah jatuh cinta dan merasa memiliki seseorang, tapi gadis itu tidak mungkin menyukainya kan? Karna siapa yang mau menerima lelaki yang sudah menilai buruk tentangnya sebelum mengenalnya.
__ADS_1
Tapi jika disuruh untuk memilih, Hansell akan memilih ada disisinya, jika tidak bisa memilikinya. Karna hanya disini ia merasakan kenyamanan, penderitaan yang sama, dan perasaan akrab yang paling menyempurnakan. Sungguh, Airyn adalah jiwa yang dulu tidak pernah Hansell inginkan, namun mengiri dirinya tanpa terfikirkan.