
Nona Petrov baru saja menenagkan dirinya diruang kerja, bahkan gadis itu selalu menyelesaikan segala kegundahan hati dengan kesibukan yang membuatnya lupa atas semua masalah selain pekerjaan dan pekerjaan, bahkan gadis itu tak lelahnya menatap lembaran demi lembaran dan juga layar komputer yang meresahkan matanya, bahkan berulang kali Airyn mengusap matanya yang begitu perih atas radiasi dari layar komputer, hingga Merry membawa dokumen yang Airyn minta sembari meletakanya dipermukaan meja kerja.
Merry menatap jam yang melingkar di tanganya, bahkan ia merasa ini sudah sangat kelewatan sebab sudah memasuki dini hari, sehingga Airyn terus menyibukan dirinya. “Nona Petrov, apakah anda tidak lelah?” tanya Merry dengan penuh ketulusan, bahkan membuat Airyn tak bergeming melihatnya sebelum akirnya menjawab pertanyaan itu.
“Aku baik-baik saja, sekalipun memaksakan diri untuk tidur aku tidak akan bisa terlelap, lebih baik aku melakukan sesuatu yang bermanfaat dari pada bingung sepanjang malamnya, terimakasih sudah membawakan dokumenya, aku akan membacanya” seru Nona Petrov seraya menyandarkan tubuh kearah kursi untuk menatap Merry.
“Baiklah, sebelum itu, jangan lupa meminum vitamin, saya meletakanya di meja kamar”
“Terimakasih Merry” saut Airyn dengan segera, bahkan membuatnya menghela nafas dengan berat seraya melanjutkan penuturantanya. “Maaf soal tadi, aku sedikit terganggu oleh omongan mereka” entah bagaimana Airyn sungguh-sungguh mengutarakanya, bahkan setelah bekerja dan menangis di pelukan Merry semuanya bisa normal dan baik-baik saja membuat Airyn sedikit menyesal atas tingkahnya.
“Tidak apa-apa. Aku sangat mengerti, dan bersikaplah sejujur tadi, anda akan merasa baik-baik saja” terusnya lagi dengan sikap dingin, meskipun begitu Merry memiliki hati yang hangat atas apa yang dilakukanya pada Airyn.
Wanita itu benar-benar pergi keluar ruangan untuk meninggalkan Airyn sendirian, sadar Merry sudah menghilang, Airyn menutup segalanya, ia sudah selesai dengan emosi dan mulai menyesal atas sikapnya, hanya satu yang membuatnya tergangggu, yaitu Hansell.
Gadis itu meraih ponselnya untuk menghubungi Frada, setidaknya Frada adalah orang yang bisa melakukan semua pelacakan ini tanpa Airyn bersusah payah mencari tahu dimana Hansell berada, dan apa yang ia lakukan setelah pulang.
...Massager...
...*Frada, cari tahu apakah Hansell sudah kembali ke rumahnya dengan selamat, dan apa yang dia lakukan malam ini- N**ona Petrov**...
...Baik, aku akan melakukanya- frada***...
Hingga gadis itu menunggu sedikit lebih lama seraya menatap sang rembulan yang tampak cantik dari jendela kamar, tentu Airyn berlalu kearah meja yang ada di depan ranjang tidurnya untuk mengkonsumsi vitamin yang Merry berikan, setidaknya Airyn harus menjaga sistim kekebalan tubuh diatas aktifitas yang begitu padat namun jam istirahat yang singkat.
Hingga notifikasi diponsel itu mengalihkan pandanganya, bahkan Nona Petrov tersenyum manis untuk mengusap layar ponsel, hingga beberapa saat kemudian senyumnya memudar tatkala Frada mengirimkan posisi Hansell dengan fakta mengejutkan.
Apa yang Hansell lakukan sekarang, apakah ia benar-benar sadar akan perbuatanya, bahkan jantung Airyn bergemuruh dahsyat ketika matanya menyaksikan Hansell Hamillton tidak seperti biasanya, apa yang terjadi pada pria itu sehingga ia bertindak sekacaui ini, apakah karna sikap Airyn yang keterlaluan dan membuatnya marah, lalu bertindak bodoh untuk bersenang-senang, tapi kenapa dari segala hal yang positif yang biasanya dilakukan, dan kali ini ia melewati batasanya.
"Hansell ada apa denganmu" batin Airyn dengan penuh luka.
__ADS_1
Kemana kata cinta dan suka yang ia banggakan, kemana Hansell Hamillton yang terus melihat dan berpihak padanya, kenapa Hansell berpaling seolah ingin mencari kesenangan yang lain diatas perasaan Airyn yang mulai terlanjur besar.
“Hansell, apakah kau yakin dengan tindakanmu kali ini?"
Sungguh Airyn tidak mengerti, hatinya sesakit ini melihat Hansell bersama wanita lain, untungnya Frada bisa menemukan keberadaan Hansell dengan kemampuanya yang membuat Airyn menyesal mencari tahu kabar pria itu, bahkan mata Airyn terpana lebar disaat Hansell bermesraan penuh intim dengan gadis yang ia kenali disebuah Bar.
Hingga ponsel itu tergeletak dilantai, bahkan Nona Petrov tidak sanggup melanjutkan penglihatanya lagi, sebab semakin ia coba untuk mengerti semakin Airyn merasa tersesat dan tersakiti, entah bagaimanapun rasa yang ia berikan dengan setulus hati kenapa rasanya dikecewakan, bahkan cinta yang mulai ia jaga untuk pria itu sudah disia-siakan, apakah pertengkaran seperti tadi sudah membuat Hansell berpaling, jika begitu, bagaimana jika mereka dihadapkaan oleh hubungan kekasih yang sebenarnya yang menemukan perbedaan dalam segala hal, apakah mungkin Hansell sanggup bertahan?
*
Pria gagah yang penuh karismatik dengan fitur wajah nan tegas di lengkapi keelokan rupa membuat wanita itu tidak bisa menahan birahinya, daya tarik tubuhnya pada Hansell seperti bergejolak tanpa bisa di sembunyikan, rasanya menjadi gadis penghibur untuk kebutuhan Hansell akan sangat menyenangkan sekalipun ia tidak mendapatkan keuntungan, bahkan jika pria seperti ini menjadi kekasihnya mungkin ia akan berpuas diri dan bangga setiap harinya.
Siapa yang tidak ingin mendekati Hansell Hamillton, siapa yang tidak mau mendapatkanya, bahkan semua orang menyadari betapa berkualitasnya seorang Tuan Muda Hamillton, namun ia yang selalu dingin dan tak pernah membiarkan gadis manapun menyentuhnya, untuk malam ini melepaskan pertahanan diri, ada apa dengan pria ini, bahkan baru pertama kalinya melihat Hansell hilang kendali, dan untuk pertama kalinya Hansell Hamillton mampu merayu wanita dengan penuh karismatik dan sikap elegan.
“Bukankah menghabiskan waktu disini sangat membosankan?” tanya gadis itu degan sikap manja, bahkan membuat Hansell menyungingkan senyum seraya menarik paksa dagunya menjelang melepaskan sikap liar dari manik tajam nan indah itu.
“A-Apa kau sedang meragukan aku”
“Tentu saja tidak, aku tidak pernah menyepelekan wanita, sebab kalian adalah kaum terkuat yang tidak bisa dikalahkan, bahkan seperti apapun aku berusaha, pada akirnya kalian selalu menang sekalipun aku yang memimpin”
“alApa kau sudah mabuk Tuan Muda, sepertinya kau terlalu banyak mengkonsumsi alkohol, berhentilah, dan bersenang-senang denganki” tegurnya ketika melepaskan gelas yang di gunakan Hansell sedari tadi, sebab jika Hansell benar-benar berada di bawah tekanan alkohol tentu melakukan hal luar biasa sangat sulit, untuk itulah menjaga sedikit kewarasanya langkah baik dalam memancing Hansell memasuki jebakan.
“Lepaskan tanganmu” bentak Hansell disaat menepiskan tanganya, bahkan ia mengusap kepala dengan cukup kasar akibat sakit yang mendera, bahkan pria itu merasa amat pusing ketika menyaksikan kelap kelip ruangan yang ada di hadapanya, sungguh Hansell tidak sadar jika ia bisa larut sampai sekacau ini, bahkan pandanganya mulai pudar lantaran alkohol yang di konsumsi mulai bereaksi.
“Tuan Muda” seru gadis itu, bahkan membuat Hansell tertegun diam memandangi gadis yang bicara padanya, tentu Hansell berulang kali mengerjapkan matanya, untuk memperjelaskan objek yang ingin dilihatnya, betapa kagetnya Jansell saat gadis yang ada dihadapanya adalah Airyn, tentu dengan segera Hansell meraih paksa tubuhnya, memeluk dirinya bahkan mengusap lembut kepalanya, bahkan Hansell memberikan kehangatan diatas helaan nafasnya yang tersengal.
"Airyn" lirihnya dengan penuh kepasrahan, membuat telingan Rebeca jengah.
"Dia menyerukan nama seorang wanita, apakah sikapnya kali ini karna gadis itu" gumam Rebeca dengan tatapan jengkel.
__ADS_1
Hingga pria itu mencubu Rebeca tanpa sadar, bahkan membuat gadis itu terpana dengan kagetnya, sadar akan kekuatan tubuh Hansell yang mulai menyakitinya, membuat Rebeca menjauhkan Hansell untuk mencerna oksigen, bahkan baru saja mereka terlepas, pria itu meraih dagunya dan merampas paksa pelukan, hingga bibir hangat dan lembut itu, lagi... lagi mendarat dengan sempurna, mempermainkan dirinya dalam kelembutan, bahkan tanpa mempedulikan bagaimana mata semua orang melihat mereka, sungguh gadis itu tidak pernah merasa sepuas ini, bahkan seorang Hansell yang di inginkan banyak orang mencumbu mesra dirinya penuh akan sentuhan maut yang melelehkan jiwa, benar-benar merasuki akal sehatnya, bahkan Rebeca melakukan serangan balik yang luar bisa.
Hingga kedua tubuh manusia itu sering berpanjat pada gairah tanpa batas, bahkan ia membantu Hansell untuk istirahat sejenak agar mereka mencari tempat lebih nyaman melepaskan kebebasan diri, dan malam ini Rebeca akan mendapatkan mangsa yang berkualitas tinggi, tentu dia tidak akan melepaskanya dengan mudah.
“Malam ini, kau akan menjadi miliku, Tuan Muda Hamillton” bisik Rebeca dengan kalimat sensual.
Sontak Dikra tertawa penuh keresahan hati, bahkan ia yang sedang bertaruh dengan dirinya sendiri dan mempercayai cinta Hansell yang begitu tulus, malam ini di patahkan oleh kenyataan, apakah semudah itu bagi Hansell Hamillton berpaling, entah kenapa membuat Dikra tidak bisa menerimaanya, ia tadinya membiarkan gadis itu memiliki Hansell lantaran melihat pertunjukan jika Hansell akan mendorongnya, mencampakan tubunya, dan menepiskanya, tapi siapa yang menduga, jika harapan yang Dikra tempatkan terlalu tinggi hingga dipatahkan dengan kenyataan yang terjadi, Hansell bertindak seperti pria brengsek dibawah kesadaran dirinya, benar-benar membuat Dikra naik pitam.
Bahkan pria itu mengabaikan gadis-gadisnya untuk mengejar Hansell, setidaknya Dikra tidak boleh membiarkan Hansell benar-benar terjatuh terlalu dalam dan menyesali malam ini, untuk itulah menghentikan insiden buruk membuat Dikra juga tidak sabar memukuli wajah tampanya Hansell Hamillton.
Di gedung yang penuh dengan hiruk pikuknya kelap kelip malam, bahkan alunan musik yang nge-bass ke gendang telinganya, membuat Jansell dan gadis itu sudah keluar dari ruangan bising, bahkan mereka memasuki kawasan VVIP yang terletak dibagian timur tempat yang paling privasi bagi semua pengunjung, tentu saja hansell tengah di topang diantara kesadaranya yang hampir menghilang, namun ia tetap berlajan dengan sadar untuk tidak memberatkan gadis itu, hingga akhirnya Hansell memasuki bilik lift menuju kamar yang sudah disiapkan dengan sempurna, bahkan mereka menghilang dengan sekejap membuat Dikra berdecak kesal penuh geram.
Hingga langkah kakinya yang terhenti tepat dihadapan bilik lift, membuat Dikra terpana melihat keributan yang ada dibelakang, bagaimana tidak ia menyaksikan seorang gadis berlari dengan penuh kekuatan, sembari melihat lift yang terus berjalan, bahkan gadis itu memilih jalur evakuasi yang ada disisi samping untuk menanjak kearah atas, bahkan membuat mata Dikra terpana jika gadis itu adalah Airyn.
“Airyn, apa yang dia lakukan? Apakah dia sudah mengetahui jika Hansell bersama wanita malam ini” gumam Dikra dengan begitu paniknya, bahkan mau tak mau Dikra mengekori Airyn dari arah belakang namun gadis itu sudah berada di lantai ke-3, demi apapun, Dikra tidak pernah melihat Nona Petrov segusar itu, bahkan kekuatanya menaiki tangga, benar-benar membuat Dikra terpana, bagaimana bisa Nona Petrov secara implusif menanjaki tangga yang begitu tinggi bahkan Dikra melihat mereka sedang menuju lantai 13, hal ini pertanda jika Airyn perlu berjuang keras untuk mengejarnya.
Airyn tidak mengetahui apakah ia bodoh atau memang gila, yang jelas ia tidak rela Hansell melakukan kesalahan untuk malam ini, entah bagaimanapun Airyn mengenal Hansell, ia sangat mengerti pria itu tidak akan melakukan hal sebodoh itu jika tengaah sadarkan diri, untuk itulah Airyn akan menjauhkan gadis itu darinya, setidaknya Airyn tidak akan menyesali tindakan aroganya meskipun Hansell membenci dirinya.
“Hentikan!” teriak Nona Petrov dengan penuh lancang, bahkan ia terpana melihat gadis itu menindih sebagian tubuh Hansell yang terlihat tidak sadarkan diri, hingga suara Airyn yang megema di ruang kamar, membuat gadis tersebut bangkit untuk menghampirinya.
“Siapa kau, berani sekali kau-“
Plakkkkk…..
Sebuah tamparan keras melayang kearah pipinya, bahkan Airyn tidak segan mengeluarkan segenap kekuatanya untuk menyadarkan gadis itu, hingga tatapan mengerikan dari Nona Petrov membuat tubuhnya terhayung kebelakang, seraya terpana diam penuh kegelisahan, tentu Rebeca melihat dengan jelas betapa emosi dan marahnya gadis itu, dan hal yang memungkinkan untuk disimpulkan yaitu, gadis itu pasti seseorang yang dikenali Hansell Hamillton, apakah dia gadis yang bernama Airyn? Jika benar, tentu Rebeca sedang dalam masalah.
“Berani sekali kau memanfaatkan Hansell di keadaan seperti ini, apa kau sudah muak hidup” ancam Airyn dengan tatapan merendahkan, bahkan badannya yang penuh rasa gelisah bercampur dengan geram, mengeluarkan lembaran cek yang sudah di siapkan untuk dilemparkan kearah Rebeca, bahkan Airyn melemparkan kertas itu dengan penuh kekesalan hingga membuat suasana disana menegang.
“Apa yang kau butuhkan, uang, mobil, emas, berlian, ambil semuanya, dan tulis angka yang kau mau sebagai gantinya” teriak Nona Petrov dengan gilanya, bahkan membuat gadis itu terpana menyaksikan seorang wanita asing menerobos masuk menghentikan mereka dan menyodorkan uang sebagai gantinta. “Kenapa kau diam saja, bukankah ini yang kau butuhkan, kau ingin uang, kau ingin harta, barang, kenapa kau diam saja. Ambil semua itu dan pergilah!!” teriak Nona Petrov dengan tangan bergetar, bahkan ia tidak bisa mengendalikan ketenangan, hingga Dikra terpana diam mendengar apa yang terjadi di dalam sana.
__ADS_1