
Langkah kaki yang biasanya terus Hansell ikuti dengan diam-diam, kali ini mengikutinya dengan tunduk tanpa harus mengeluarkan satu protes yang biasnya di lantunkan, gadis itu menatap genggaman tangan mereka yang tak terlepas satu detikpun ketika bertemu untuk pertama kalinya di hari ini.
"Airyn kau mau kemana?" tanya Hansell ketika menghentikan langkahnya untuk menatap gemerlap lampu jalanan nan juga di pantulkan oleh cahaya mobil, bahkan ia melupakan jika Airyn ada di belakang pungung lebar itu tanpa mereka sejajar, sebab Hansell sangat larut dalam genggaman tangan yang terus mengencang, seolah Airyn sudah berpadu dengan raganya.
Namun hening menjadi balasan atas pertanyaan itu, membuatnya menolehkan kepala kearah belakang seraya memandangi Airyn yang terpaku diam melihat genggaman tangan mereka, tentu mata Hansell juga tertuju kearah sana.
"Airyn...." lirih pria itu untuk menyadarkan gadis yang terlarut dalam pandangan lumpuhnya.
"Eh....iya, ada apa?" sautnya dengan segera, bahkan tatapan Airyn lebih sendu dari biasanya.
Gadis yang ia ikat dengan jalinan tangan, nampak malu-malu hingga akirnya Hansell sadar, jika saat ini detak jantung mereka sedang saut-sautan, atas gemuruh dalam dalam ragawi yang bersampul tenang.
"Kau mau kemana?" tanya Hansell dengan tatapan dalam hingga mampu menyelisik ke relung hati gadis itu.
"Kemana saja" balas Airyn dengan polos.
Membuat Hansell terkekeh renyah saat menyaksikan gadis mengerikan itu bisa linglung jika terus di tatap.
"Kenapa kau tertawa" kasal Airyn seraya mendengus jengkel atas sikap Hansell.
Namun sebelum Hansell membalas pertanyaan itu, ia terlebih dahulu menarik tangan Airyn untuk berdiri di sampingnya. "Aku tidak menertawakan mu, tapi kau sangat lucu sekali jika patuh seperti ini" puji pria itu, bahkan aura memerah langsung melebur di permukaan pipinya, ketika seorang pria melayangkan kalimat mengoda, kenapa Hansell bersikap seperti ini pada Airyn, apakah ia tidak mengerti jika wanita sangat luluh di perlakukan dengan lembut.
"Apaan sih....." gadis itu melepaskan genggaman tanganya dengan segera, hingga wajah pria itu berubah menjadi datar ketika memandangi jalinan tangan yang sudah di pisahkan. "Cepat katakan, kau mau membawaku kemana?" tanya Airyn dengan memaksa, seraya memasukan kedua tanganya ke kantong baju hangat yang begitu tebal, bahkan gadis itu bicara tanpa memandangi Hansell.
"Apa kau mau ke taman kota?" tanya Hansell dengan malas ketika gengaman tangan mereka sudah terlepas.
"Apa kau gila ke taman kota malam-malam. Tidakah kau fikir jika itu tidak cocok untuk kita" ejek gadis mengerikan itu ketika mengelengkan kepala dengan tidak percaya.
__ADS_1
"Kenapa tidak cocok?" saut Hasell dengan segera, membuat tawa Airyn terurungkan sembari menolehkan kepala kearah samping.
"Apa kau tidak tahu itu tempat apa?"
"Memangnya tempat apa?" kejar Hansell dengan paksa, membuat Airyn mencebikan bibir dengan kesal lantaran Hansell tidak mengerti kemana ingin mengajaknya, namun malah sembarangan memberi pilihan.
"Taman kota itu hanya di penuhi oleh orang pacaran tiap sudutnya, bahkan baru saja kau memasuki akan di nanti dengan tontonan ciuman mengairahkan mereka, jadi jangan bermimpi kesana, jika kau tidak ingin terlihat bodoh" jelas Airyn dengan tawa ejekan hingga membuat Hansell terkekeh menyaksikan celotehan Airyn barusan, jika bisa di bilang, baru kali ini Hansell melihat Airyn dengan versinya yang berbeda, yaitu dirinya yang apa adanya.
"Jadi apa kau masih mau kesana?" tanya gadis itu sekali lagi.
"Jika kau mau, aku mau-mau saja" tantang Hansell untuk sekedar bercanda.
Membuat Airyn mengubah tawa yang terlukis di wajahnya, berubah menjadi muram yang nampak menantang.
Hingga senyum kecut Hansell terulas dengan engan, ketika menghidupkan harimau yang sedang tertidur, jika terus di biarkan, bisa saja kencan malam ini akan berakir buruk, untuk itulah, mengalihkan pembicaraan adalah langkah untuk menyelamatkam suasana agar tetap kondusif.
"Aku bercanda, hanya bercanda saja kok....." sambung pria itu ketika mengusap kepala Airyn dengan gemas, ia bahkan menarik tubuh itu untuk mendekat seraya merangkul Airyn dengan hangat. "Jangan terlalu ganas, bukankah malam ini kita adalah teman" terusnya ketika mengedipkan mata untuk mengoda. "Teman kencan maksudnya" batin Hansell saat tak mampu mengucapkan kata.
"Terserah kau saja" dengus Airyn sembari menarik nafas dengan berat. Rasanya beberapa waktu saja mereka bersama, pria itu sudah mencairkan suasana, bahkan Airyn tidak menyangka dirinya senyaman ini ketika bersama Hansell.
"Airyn, lampunya sudah merah. Ayo jalan......." tarik pria itu dengan paksa, membuat Airyn membulatkan mata ketika tubuhnya terdorong oleh kekuatan Hansell yang cukup menerjang, nampaknya Hansell terlampau bersemangat dan melupakan jika Airyn adalah wanita.
"Apa kau tidak bisa berjalan pelan-pelan, kau hampir saja membuatku jatuh" kesal gadis itu saat meronta untuk di lepaskan, bahkan ia mendorong tubuh Hansell untuk menyingkir darinya, membuat Hansell tidak percaya jika Airyn tidak bisa romantis sebentar saja.
Bahkan genggaman tanganya di lepaskan dengan paksa, rangkulan Hansell juga di pisahkan dengan sepihak, jika terus begini maka Hansell akan lama mendapatkanya, apa yang harus Hansell lakukan agar gadis itu bisa menempel padanya seperti gadis lain.
Sayangnya mendapatkan berlian memang paling sulit dari pada mendapatkan biji kacang kenari.
__ADS_1
Mereka telah sampai di seberang jalan yang ada di pusat kota, semua orang berjalan kaki menelusuri malam berbintang dengan keramaian yang tidak menyepi, Airyn berlalu diantara manusia yang dulunya tidak pernah ia temui, namun lihatlah malam ini, Airyn bahkan berpapasan dengan ribuan wajah yang selama ini jarang ia temui secara langsung.
Sedangkan Hansell, terlalu sibuk mecuri-curi pandang untuk memperhatikan wajah Airyn, bibirnya yang mungil tanpa polesan itu sunguh kelihatan imut dan cantik, rambut dikucir dengan berantakan, hingga menyisakan helaian yang keluar dari jalurnya, sunguh memperindah pandangan, dari sudut manapun memandang, Airyn selalu mendebarkan hatinya, menghangatkan raganya, dan selalu meramaikan dirinya sekalipun dalam kesepian.
"Kemarilah...." ajak Hansell ketika berbelok kearah jalan di sebelah utara, bahkan Hansell meraih tangan yang sedari tadi ia incar tanpa mau di lepaskan lagi.
"Apakah kau harus mengenggam tanganku, jangan mencari kesempatan dalam kesempitan"
"Apa maksudmu Airyn, aku hanya takut kau hilang, cara seperti ini....." ucapnya ketika mengangkat jalinan tangan mereka kehadapan Airyn. "Adalah cara terbaik untuk menjaga mu" terus Hansell dengan tersenyum manis.
"Tapi ini Tiongkok, tidak ada yang akan-"
"Mengancam mu!!" terus pria itu dengan pandangan merendahkan, bukankah Airyn cukup naif jika berfikir seperti itu saat dirinya sendiri mengerti seperti apa kejam dunianya.
"Airyn, meskipun ini wilayah kekuasan mu, yang jelas kau sudah mengirim orangmu pergi, jadi saat ini tidak ada yang menjamin keselamatan Nona Petrov selain aku, untuk itulah kau adalah tangung jawabku, jadi......gadis pembangkang sepertimu, harus tetap di dekatku dan mengenggam tanganku, apa kau mengerti" ucap Hansell ketika bicara sambil lalu, membuat Airyn memancarkan pandangan jengkel tatkala pria itu memiliki alasan kuat untuk argumentasinya.
"Tapi aku malu....." lirihnya dengan pelan, namun berhasil di dengar oleh telinga Hansell.
"Kau malu kenapa?" tanya pria itu saat menatap Airyn ketika tangan mereka masih terus bergenggaman.
"Tidak, aku tidak malu....aku tidak mengatakan apapun" paniknya ketika mengelengkan kepala dengan sikap gelagapan, bahkan Airyn membulatkan mata agar Hansell percaya, namun pria itu hanya tersenyum ketika tubuh Airyn lebih jujur dari pada mulutnya.
"Jangan berbohong...." serunya dengan senyum manis sembari meletakan kedua jari dijidat Airyn, bahkan ia mendorong kecil kepala itu hingga Airyn mencebik jengkel.
"Aih, kenapa kau mendorong kepalaku" teriaknya dengan mata memancar tajam seolah mempertontonkan jika ia sedang marah.
"Aku tahu kau malu bergandengan tangan denganku, apakah kau malu karna aku jelek atau karna aku laki-laki pertama yang bisa mengenggam tanganmu" tanya pria itu hingga membuat tatapan Airyn meredup.
__ADS_1
Bahkan orang normal manapun bisa menilai seberapa tampan Hansell, jadi tidak mungkin Airyn malu berjalan dengannya, sedangkan untuk alasan kedua, itu adalah salah satunya, selain itu jantungnya terus saja berdebar tak karuan ketika hati terus memperjelas jika ia nyaman, namun logikanya menolak untuk tidak berprasaan.
Hansell, apakah aku sudah menaruh hatiku padamu? -Airyn.