
Setelah perdebatan yang cukup sengit antara Airyn dan juga Adward, gadis itu berlalu kearah bawah mengunakan lift khusus bagi orang penting, bahkan Airyn mengepalkan tangan penuh kesal akibat sikap Adward yang berani mengancamnya, selain itu Airyn tidak suka dengan pengawal yang di berikan Adward setelah memukuli Hansell.
Rasanya terkait pria itu Airyn memiliki batasan kesabaran untuk siapapun yang berani menyentuh Hansell, apakah ini semua karna rasa hutang budi itu?
*
Sepatu hak tinggi yang beradu dengan keramik marmer di sepanjang lorong membuat Airyn berjalan laju menuju kamarnya, gadis itu melintasi tiap-tiap pajangan dinding yang di buat khas dengan nuansa Tiongkok yang cukup kental, namun seindah apapun Hotel yang ia kunjungi, tetap saja tak ada artinya jika suasana hati sudah terlanjur memburuk.
Ting........denting lift yang ada di arah berlawanan dari lift yang ia gunakan barusan membuat mata itu menatap panjang, siapa yang naik keatas sini padahal Airyn sudah mengkosongkan seluruh lantai hanya untuk dirinya.
Dan juga, pengawalnya tidak seberani itu untuk melampaui batasan mereka, sebelum meminta izin kehadapan Airyn.
Jantungnya berdegup kencang untuk membuka sandi kamar sesegera mungkin, Airyn mendorong paksa pintu besi yang terbuat dari alimanium untuk menghilang di baliknya.
Mata bulat yang tak kunjung redup barusan sungguh membuatnya melumpuh menatap kearah depan, pandanganya masih kosong untuk mencerna ulang atas ketakutan yang mendera tanpa terkira.
Tunggu....tunggu.....tidak mungkin ada yang berniat jahatkan? Sebab semua orang sangat sadar tentang siapa Nona Petrov dan sebesar apa kekuasaanya di wilayah ini. Selain itu Airyn tidak akan mungkin mengalami kesialan setelah memulangkan beberapa pengawal bodohnya pada Adward!! Tapi saat ini dirinya sendirian di Tiongkok, bahkan beberapa yang tingal hanya memfokuskan penjagaan diarea bawah, namun seseorang sudah mampu mencapai lantai yang sama denganya. Astaga...... tidak mungkin ada orang jahat yang akan mengincar dirinyakan!Tapi seseorang sudah berani melampaui batasan itu dan dapat di pastikan jika dirinya lebih berani dari pada anak buah Airyn.
Tidak bisa, Airyn harus memastikan hal ini. Ia tidak bis menerka-nerka selama keberadaanya tidak aman di hotel tersebut. Gadis itu memastikan sekali lagi jika pintu kamar telah terkunci rapat, sebelum akirnya berlari kearah telfon yang menghubungkan langsung dengan General Manager di hotel yang ia tempati.
"Selamat malam Nona, ada yang bisa saya bantu?" jawab seorang pria dari balik sana.
"Bukankah sudah aku katakan jika President Room di Hotel ini hanya khusus untuk diriku saja, selain itu aku tidak ingin ada orang lain yang satu lantai denganku, tapi kenapa ada yang naik ke lantai yang aku tempti?" protes Airyn dengan penuh jengkel seraya berdecak kesal pada General Manager yang ia hubungi, bahkan pria itu belum selesai dengan kalimat sapaanya, Airyn dengan segera mencerca.
"Nona maafkan saya...." lirih beliau dengan penuh sungkan.
Membuat mata Airyn terpaku diam sembari menjalani fikiran normal agar kembali pada kewarasan, setelah berkelana memikirkan yang tidak-tidak.
"Apa maksudmu dengan minta maaf itu?" terus Nona Petrov dengan penuh keinginan, gadia itu ingin sekali mendegar jika memang ada seseorang di lantai yang sama denganya, jika benar ini kesalahan Hotel maka Airyn bisa tenang, bahwasanya itu bukanlah sebuah ancaman.
"Saya melupakan sesuatu. Kemarin saat anda datang ke penginapan, pemimpi hotel kami juga datang berkunjung di hari yang sama. Jadi beliau mengatakan jika kamarnya harus tepat di sebelah kamar anda Nona, saya fikir anda dan beliau sudah memiliki janji soal ini, untuk itulah saya tidak mengkonfirmasi ulang. Saya tidak menyangka anda tidak mengetahui hal ini, untuk itulah saya sungguh minta maaf atas ketidaknyamanan yang anda rasakan" ucapnya dengan penuh sungkan.
Membuat kening Airyn berkerut dalam, sebab ia terlampau kesal ketika mendapatkan jawaban yang paling sama, siapa pemimpinnya dan kenapa ia harus berada di samping kamar Airyn, lagian Airyn tidak memiliki janji temu dengan siapapun selain orang-orangnya yang ada di Tiongkok, apalagi Hotel ini, tentu bukanlah bagian dari kepemiliki orang-orang Airyn.
Nona Petrov memilih Hotel ini sebab terbilang cukup aman dan menjadi nomor satu diantara segala penginapan di Tiongkok, selain itu Hotel yang ia tempati juga dekat dari perkotaan dan berada di tengah-tengah keramaian.
"Tunggu, siapa yang kau maksud dengan pemimpim mu?" tanya Airyn menjelang semuanya jelas atas tegak duduknya perkara.
__ADS_1
"Tuan Hansell Hamillton, Nona!" sontak mata Airyn membulat dengan sempurna, menampakan keterkejutan yang nyata, ia bahkan tidak mampu berkata apa-apa selain membisu diam di posisi lempang, tubuhnya terasa membeku setelah nama Hansell terbilang.
Yang ada di fikiranya, kenapa pria itu melakukan kebohongan soal mereka yang memiliki kerjasama untuk berada di samping kamarnya? Selain itu Hansell juga mengajaknya keluar berduaan saja tanpa siapapun, apakah ini sudah di rencanakan jauh-jauh hari? Atau, ia kemari bukan sekedar perjalanan bisnis yang kebetulan bertemu Airyn, namun kesengajaan untuk mendekatinya? tapi kenapa?
"Nona Apakah anda baik-baik saja?" terus pria yang ada di seberang pangilan yang terhubung itu.
Bahkan setelah nama Hansell Hamillton di perkarakan kearah Nona Petrov, gadis itu malah hening tanpa kalimat bantahan yang terdengar dari mulutnya.
"Aku baik-baik saja, terimakasih atas informasinya" tutur gadis itu dengan pandangan bingung, bahkan baru saja Airyn ingin meletakan telfon itu, dengan segera di tempelkan kembali kedaun telinga. "Dan juga.....jangan mengatakan apapun pada Hansell"
"Maksud anda.....?"
"Maksudku, kau tidak perlu mengkonfirmasi jika aku menelfonmu tentang ini, kau tidak perlu melaporkan apapun pada Hansell dan birkan saja seperti ini. Apa kau mengerti?" bentak Airyn penuh tegas.
"Iya Nona saya mengerti"
Hingga gadis mengerikan itu membanting ponsel genggam dengan keras, seolah merasa kesal atas apa yang terjadi, sebenarnya apa yang Hansell inginkan, jika benar ia ingin mendekati Airyn untuk sebuah kerjasama atau hal lain sebatas memanfaatkan saja, haruskah ia membuat hubungan sebaik ini dengannya.
Bahkan pria itu berhasil menarik perhatian Nona Petrov dalam hal berbisnis. Sedangkan sebagai Airyn, Hansell cukup pintar meluluhkan air mata yang sudah membantu sekian lama.
Dari kedua sisi yang berbeda itu saja Hansell sudah mampu memasukinya dengan sempurna, namun semuanya malah terkesan sebagai pemaksaan atas niatan yang juga ia sertakan.
"Sialan!!!" teriak Airyn dengan penuh kekesalan.
Airyn mengambil bantal tebal untuk di hempaskan kearah lantai, membanting apapun yang bisa ia hancurkan agar kesempitan yang mendesak di raganya mampu sirna dengan kekuatan yang tengah di keluarkan. "Apa yang kau inginkan sebenarnya!!!!" geram Airyn dengan penuh gundah.
*
Hansell terus memandangi layar ponsel setelah menghubungi Angel untuk sekedar bertukar kabar dengan adik kandungnya, beberapa saat terasa sedikit hangat dan cukup menyenangkan, namun setelah suara Angeline sirna, kesepian dan rasa di tingalkan juga muncul, fikiranya kembali pada gadis mengerikan yang terus memuncari hati dan fikiranya, menjadi pengacau untuk Hansell selalu memikirkany, jiwa-jiwa penuh kesepian yang dulunya tidak pernah ia berikan pada gadis manapun terisi penuh oleh Airyn.
Tapi ia malah di tolak!!! Gadis itu pergi dan meningalkan Hansell, ia tidak mengerti kemana harus mengkonfirmasi keberadaan Airyn. Sebab Hansell tidak memiliki nomor ponselnya kecuali nomor ponsel para ornag terdekatnya.
"Apakah aku harus pulang saja?" tanya Hansell ketika memandang kearah jendela hotel yang transparan, dari arah ranjang saja ia dapat melihat bagaimana indahkan perkotaan malam ini, Hansell sudha beraharap akan berkunjung kemanapun jika Airyn mau, bahkan sampai pagi menjelangpun ia siap menemani gadis itu agar tidak sendirian.
Tapi sekarang apa yang bisa di katakan lagi, selain menerima kenyataan jika Airyn sudah kembali, meningalkan Tiongkok untuk mengejar kehidupan normalnya di Irlandia, sayangnya.....wanita yang Hansell sukai adalah wanita yang tidak menyukainya, gadis yang ingin ia miliki adalah dia yang tidak semudah itu di dapati, tapi hati tidak bisa berdusta jika Airyn selalu menjadi raga paling paripurna untuk ada di bagian jangungnya.
"Aku kembali saja" Hansell menghubungi Darrel untuk memintanya mengurus kepulangan secepat mungkin, sebab menunggu besok pagi hanya akan menambah luga lagi, untuk itulah pergi secepatnya adalah hal yang paling baik untuk ia lakukan.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, akirnya semua keperluan Hansell terselesaikan sudah, Darrel sudah mengkonfirmasi jika keberangkatan pria itu akan di laksanakan malam ini. Hansell mengambil jaket hangat untuk membalut tubuhnya seraya menyeret koper hitam berukuran sedang atas barangnya.
Pria itu mencabut kartu akses kamar untuk sesegera mungkin chack out , Ia berjalan dengan malas namun langkah kaki itu terhenti tepat di depan kamar Airyn.
"Sayang sekali kau kembali secepat itu, padahal aku sungguh berharap untuk malam ini. Tapi Airyn, aku tidak akan menyerah" ucapnya dengan penuh yakin, ketika memandang tepat di hadapan kamar Airyn.
Bahkan Airyn yang berada tepat di dalam kamarnya, memandang nanar wajah Hansell dari monitor yang ada di hadapan gadis itu. ucapan Hansell terdengar jelas di telinga hingga mengema berulang-ulang, apa arti ucapanya barusan? Apakah Hansell tidak berniat mempermainkanya? Tapi semua bukti sudah mengarah kesana.
"Kau benar, sejak awal hubungan kita memang sangat di sayangkan. Kau pria yang sudah menolongku dua tahun lalu, tapi juga pria yang rasanya ingin aku hancurkan. Sedangkan aku, adalah gadis yang menjadi alasan untukmu membenci, atas meningalnya Tuan Hamillton, tapi berulang kali harus kau dekati. Sedari awal, kita berdua selalu berdiri di wilayah berbeda, tapi kenapa aku selalu ingin mengenali mu, Hansell" lirih Airyn dengan pandangan nanarnya.
Hansell menghela nafas dengan berat, ia tersenyum hangat kearah kamar Airyn yang dia fikir sudah kosong tanpa siapapun, pria itu menarik koper hitam yang ada di genggamanya seraya melambaikan tangan untuk salam pamit, bahkan membuat Airyn tertawa getir atas sikap itu.
Hansell berlalu pergi untuk pulang, sedangkan Airyn berlalu pergi untuk mundur.
Tapi kenapa hati gadis itu terus berkata? Seolah ingin namun tak ingin, berharap pergi namun sangat sulit, Airyn ingin menghentikan kepergian Hansell tapi apa yang di cerna oleh otaknya menghentikan itu semua.
"Airyn!!! Sadarlah" ucapnya pada diri sendiri, berharap ia mampu sadar diri untuk tidak berharap lebih.
Dering ponsel Hansell bergetar, membuatnya menjawab pangilan dari Darrel, Hansell berlalu kearah lift sembari bercengkrama lewat ponsel genggam miliknya.
"Apa kau akan meningalkan ku atas janji yang kau berikan?" sontak suara itu menghentikan langkah kaki Hansell, membuatnya membalikan badan sembari melepaskan kaca mata hitam yang di kenakan
“Airyn....”
Sungguh Hansell tidak percaya dengan gadis yang berada di hadapannya saat ini adalah gadis yang paling ia harapkan malam ini. “Kau........ kenapa masih disini?” tanya Hansell dengan begitu bodohnya.
“Apa kau bodoh, bukankah kau sendiri yang bilang ingin mengajakku untuk bermain sekarang, bahkan mengajakku untuk menjadi orang biasa terlepas dari status kita” dengus Airyn dengan penuh kesal, diantara senyum samar yang berhasil ia sembunyikan.
“Darrel batalkan penerbangan ku, aku tidak jadi pulang malam ini” tetur Hansell, kearah Darrel yang terpaku diam di balik pangilan itu, pria itu masih mencerna apa yang Hansell katakan, namun pangilan mereka sudah terputus sebelah pihak, tanpa Darrel memiliki kesempatan untuk bertanya.
Sungguh Hansell tidak percaya ada Airyn di depan matanya, bahkan ia sudah menghapus segala harapan tapi Airyn seperti malaikay yang datang memberikan kesempatan, membuat Hansell melangkah ke hadapan Airyn dengan senyum sumbringah yang cukup pongah, lantaran bersusah payah menahan kesenagan atas kehadiran Airyn atas ajakan kencannya.
“Kenapa kau tidak pulang? Bukankah tadi siang kau sudah pulang, aku melihatnya diatap Hotel?”
“Bukankah kau berjanji ingin mengajakku bermain di Tiongkok, sebagai pembisnis kau harus menepati janjimu, begitupun dengan aku yang akan menagih janji itu. Lagian itu bukan aku yang pulang tapi orang-orangku”
“Baiklah......” Hansell memberikan kunci kamar dan koper yang dibawanya kepada pelayan Hotel yang baru saja hadir diantara mereka.
__ADS_1
Atas kebahagian yang dirasakanya, Hansell tak lupa memberi tip untuk pelayan tersebut, ia mengandengan tangan Airyn agar mengikuti langkahnya, meskipun wanita itu merasa kesal dengan kelancangan Hansell, namun tetap saja Airyn tidak mampu menolak perlakuan pria yang sedang mamaksa dirinya.