
Beberapa waktu sebelumnya.......
.
Para pelayan tengah mengambil piring keramik putih polos yang ada di sepanjang meja makan, Kim Sinaci yang akrab di pangil Tuan Kim itu begitu sungkan atas apa yang terjadi malam ini.
Airyn meneguk winski di gelas kaca yang di hidangkan untuknya, sedari tadi gadis itu banyak diam setelah beberapa saat berada disana, ia sangat elegan meneguk satu persatu winski hingga tandas, beruntung Airyn sudah berusia 20 tahun jadi bukan perkara salah jika gadis itu meneguknya.
"Nona, maaf atas kendala hari ini, saya sungguh minta maaf sekali" ucap Tuan Kim selaku orang kepercayaan Airyn yang mengelola KL Grup yang sudah diakusisi-nya dua tahun lalu.
Airyn menepiskan sedikit senyum yang terkesan engan untuk ia perlihatkan, sepintas lalu orang bisa mengira senyum itu pertanda kejengkelan, namum sebenarnya fikiran dan hatinya sedang bertolak belakang, antara ingin pergi begitu saja atau melampiaskan kekesalan hati yang mendera.
"Terimakasih sudah mau menghadiri undangan saya Nona Petrov, sekali lagi saya sungguh minta maaf, lain kali-"
"Tuan Kim...." seru Airyn ketika menukas pembicaraan pria yang sepantaran dengan ayahnya, Airyn menolehkan kepala kearah depan diantara meja makan yang berjejer panjang, gadis itu memutar gelas elegan di tanganya seraya menatap panjang kearah Tuan Kim dengan penuh pertimbangan. "Aku seorang anak berusia 20 tahun, jadi saat aku seusia anak mu, aku sangat mengerti bagaimana rasanya di posisi itu. Jadi kau tenang saja, aku tidak mempermasalahkan sikap anakmu barusan, hanya saja aku sangat menyayangkan dirimu sebagai orang tua" tegas Airyn hingga membuat Kim Sinaci terperagap tak percaya, bahkan gadis itu bicara pada konteks berbeda.
"Mak-Maksud anda Nona?"
"Seharusnya kau bisa memberikan putri mu sedikit rasa memiliki, membiarkanya pergi sama saja kau sedang menyakiti" ucap gadis itu, seraya memancarkan pandangan penuh kesal kearah pria yang menjadi ayah dari anak gadis yang sudah menghina Airyn barusan.
"Anak-anak sangat sering salah paham tentang orang tua mereka, tugas kita sebagai orang dewasa untuk memberikan pengertian. Tapi kau malah memarahi anak mu, ketika ia salah mengira tentang hubungan kita. Untuk itulah Tuan Kim, jika kau belum siap menjadi orang tua lebih baik jagan mengambil langkah sebesar itu untuk hidupmu" sunguh kata yang sedang Airyn bentangkan adalah perasaan kesal dan keluhnya terhadap beberapa orang yang mungkin hadir hanya untuk meningalkan.
__ADS_1
"Aku kehilangan ibuku, diusia yang sangat dini. Saat itu aku tidak mengerti kenapa ayahku terasa sangat berbeda dari dirinya yang hangat, ia seperti membenciku dan tidak ingin menerima diriku, pandanganya terasa sangat menyakitkan dari yang aku bayangkan. Hingga akirnya aku mengetahui jika kematian ibu ada sangkut pautnya denganku, tapi aku tidak mengigat apapun" kekeh Airyn dengan tawa paling mengerikan yang mampu membuat bulu kuduk Kim Sinaci merinding hebat. "Aku terluka melebihi ayahku, tapi sayangnya dia menganggap diriku baik-baik saja. Semenjak hari itu semuanya berubah, terkadang dia hangat dan terkadang juga sangat dingin, dia menjadi pengila kerja dan semakin mengurung diri, rumah yang harusnya menjadi tempat nyaman untuk pulang, pada akirnya menjadi neraka untuk sekedar singgah. Sampai akirnya aku membenci Merry!" kesal Airyn dengan pancaran mata tajamnya, membuat Tuan Kim menatap bingung seolah perkataan itu sulit ia mengerti.
"Kau tahu kenapa aku membenci Merry? Karna ayahku menjadi berbeda saat denganya, ia bisa hangat ketika bersama Merry dan waktu yang sama kembali lagi menjadi dingin. Aku mengira Merry akan menjadi ibuku. Tapi akirnya aku sadar, jika sebenarnya bukan Merry yang salah, tapi ayahku yang tidak menjelaskan apapun. Aku baru mengetahui jika Merry adalah orang kepercayaanya yang sudah mengembangkan Perusahaan Petrov, Merry adalah otak di balik kesuksesan gemilang yang di capai perusahaan kami" ucap Airyn dengan tawa mengiris yang mampu menakiti Tuan Kim.
"La-Lalu, kenapa anda menceritakan ini pada saya Nona?" tanya Kim Sinaci dengan penuh ketakutan, suaranya yang bergetar tedengar pekat saat tersekat di ronga dada, seolah kata berat yang sulit diucapkan namun mampu ia tanyakan.
"Karna aku ingin kau memberikan penjelasan pada putrimu, jangan mendinginkanya, jangan membentaknya, jangan membirkanya pergi. Setelah kepergian ibunya, bukankah hal yang wajar untuk anak-anak merasa marah jika ayah mereka membawa wanita asing ke rumah ini" terus Airyn dengan penuturan tegas yang membuat Tuan Sinaci gelagapan.
Pria itu meneguk kopi pahit dengan racikan alami dari kualitas tinggi yang dimilikinya, padahal kopi itu tidak di campurkan sugar namun tak terasa apa-apa, lantaran terkalahkan oleh kepahitan Nona Petrov ketika bicara.
"Saya mengerti Nona.....saya akan belajar dari pengalaman anda untuk lebih memahami putri saya"
"Jangan belajar dariku, karna aku masih belum pantas kau jadikan patokan untuk itu. Tapi coba kau tanyakan pada hatimu, siapkah kau menjadi ayah dan ibu tunggal untuknya? Jika kau tidak siap lebih baik kau berikan pada ahli yang berkualitas dari pada hanya mengores luka di batin anakmu"
"Nona Petrov, aku menghargaimu dengan sangat! Selain itu, kau cukup dewasa dari usiamu, tapi kali ini kau sudah melewati basatasn" ketus Kim Sinaci dengan protes tajam.
"Apa kau merasa di rendahkan? Atau kau merasa harga dirimu di runtuhkan?" kekeh Airyn dengan tawa penghibur, bahkan ia meneguk Winski untuk terakir kali, setelah di tuangkan ke gelas kacanya hingga tandas.
"Tuan Kim, lebih baik kau merasa seperti ini, agar kau sadar dengan tangung jawabmu!! Selagi kau merasa terhina, berarti hati nurani-mu masih berguna, untuk itulah hinaan ini akan bekerja agar merubah hidupmu menjadi lebih baik lagi" Airyn tersenyum indah seraya meraih sapu tangan di sampaing perangakat makan, gadis itu memolesi permukaan mulutnya untuk di bersihkan dari sisa makanan yang sekiranya ada.
Airyn berdiri dari meja makan, hingga pelayan yang ada diantara mereka seperti orang menuli untuk memberikan tas dan mantel hangat, untuk di kenakan ke tubuh indahnya.
__ADS_1
"Aku memiliki janji temu dengan orang penting, jadi aku tidak bisa melanjutkan makan malam sebab aku membutuhkan ruang untuk makan malam denganya" terus Airyn ketika Tuan Kim Sinaci itu berdiri menyambut dirinya.
Beliau di buat terhipnotis atas tingkah dan pembawaan Airyn yang tenang, hingga rasanya pria itu tidak bisa mengatakan apapun lagi selain menjalin kedua tangan untuk bersikap sopan pada Pemimpin Utama perusahaanya.
Airyn berlalu keluar dari rumah itu agar berlalu sesegera mungkin, meningalkan Tuan Sinaci yang beridri di ambang pintu masuk untuk memberikan sikap hormat atas kepergian Nona Petrov.
Gadis itu menghela nafas dengan cukup kesal ketika bertemu kejadian tak mengenakan, ia di hadang oleh anak kecil yang tidak suka akan kedatanganya, bahkan Airyn tidak menyangka dirinya akan di kira sebagai kekasih ayahnya yang setua itu, apakah wajah Airyn setua ini hingga anak kecil tersebut malah salah paham padanya.
Tapi beberapa waktu yang silam, Airyn juga berada di posisinya, pernah marah dan benci pada seorang wanita hanya perkara perlakuan ayahnya berbeda.
Semoga saja gadis kecil itu bisa dewasa secepatnya dan mampu menerima jika apapun yang dimiliki pada akirnya akan pergi, semua manusia di dunia akan selalu memiliki penganti tanpa terkecuali, sebab kebutuhan hidup mengharuskan setiap manusia itu berubah.
"Lanjut ke butik saja, aku ingin membeli sebuah pakaian untuk nanti malam" perintah Airyn dengan nada malas sembari memejamkan matanya untuk mengistirahatkan fikiran, membuat para orang yang ada di depan, menjalankan perintah sesuai protokol Nona Petrov.
Hingga dentingan di ponsel itu membuat Airyn terpaku, matanya terbuka dengan bulat seraya memandangi tas yang ada di sampingnya, Airyn merogoh tas mini yang muat untuk ponsel dan dompet saja. sembari memeriksa pesan yang masuk.
"Airyn, aku ada di Hotel mu. Lekaslah kemari, jika kau tidak ingin aku mengobrak-abrik Tiongkok untuk mencarimu" Adward Smit.
"Sialan!!" umpat Airyn hingga membuat semua anak buahnya terpergap, meraka tidak percaya Nona Petrov mengumpat sekeras itu hingga jantung beberapa orang melemah karnanya.
"No-Na apa terjadi sesuatu?" tanya sekretaris yang mengantikan Berto dengan penuh keberanian diri.
__ADS_1
"Tidak ada!! Kita batalkan ke butik, segeralah kembali ke Hotel!!" kesal Airyn hingga membuat semuanya menatap bingung, namun secepat mungkin memberikan setuju atas perintah itu.
Sungguh Airyn amat jengkel ketika banyak sekali rintangan untuk malam ini, padahal gadis itu ingin sekali berbelanja dan menghias diri sebelum menemui Hansell, namun kejadian tak terduga selalu terjadi, Ia terjebak diantara perselisihan orang tua dan anaknya, hingga menghabiskan waktunya disana, dan saat ini Adward Smith malah memberikan perintah untuk Airyn menemuinya, sialnya Airyn malah melupakan perkara Adward dan terlalu lupa diri jika saat ini pria itu sunguh merepotkan.