
Sinar matahari hampir saja menyakiti pelipis matanya, peredaran sinar terang sudah memenuhi ruangan, hingga mata Hellena terbuka perlahan, seraya melirik jam yang ada di dinding depan.
"Sayang....." suara pria dewasa itu, tengah menarik perhatian Hellena.
Papanya memasuki kamar atas senyum manis yang ia bawa, membuat Hellena bangkit dari ranjang untuk membalas kebahagian yang tertamlilkan di kedua wajah mereka.
"Papa.....kapan papa pulang?" tanya Hellena atas pelukan Sillky pagi ini.
"Baru saja tadi pagi, saat kau masih tidur. Papa sudah menyiapkan sarapan, ayo bangun dan habiskan makanan mu. Sekarang sudah hampir tengah hari, bagaimana mungkin anak gadis bisa selama ini untuk bangun"
"Hellena ada pesta di rumah Kimberlly, maaf baru tidur jam 4 pagi Pa"
"Tidak apa-apa sayang, papa juga pernah muda, ayo bangun"
Sillky menarik tangan putrinya, memanjai Hellena untuk bangun dan mandi, sebagai orang tua tunggal, membuatnya amat sayang pada putri semata wayang itu, setelah adik Hellena meninggal bersama dengan mamanya saat melahirkan, membuat kedua orang itu hidup rukun untuk saling menjaga.
Hellena sudah cantik pagi ini, mengunakan pakaian santai rumahan sambil mendudukan diri menyantap makanan, Sillky melihat jam yang melingkar di tanganya, seraya menimbang apakah ia akan datang sekarang ke bandara.
"Apa papa memiliki pekerjaan di hari minggu?"
"Tentu saja, sekarang ada tamu penting yang datang. Orang berpengaruh di dunia bisnis"
"Siapa?"
"Hansell dan...."
Dering ponsel yang Sillky letak di sampingnya mericuhkan suasana, menghentikan penuturan yang belum ia selesiakan.
Pria itu sangat sibuk bicara dengan seseorang, sedangkan mata Hellena terpaku diam ketika nama Hansell disebut, apakah Hansell akan pulang hari ini dan mendarat di bandara. Astaga, jika benar, Hellena perlu menanti kedatanganya.
"Baiklah, aku akan berangkat sekarang" tutup Sillky dengan singkat, seraya mencium pucuk kepala putrinya. "Sayang, habiskan makananmu, papa akan ke kantor sekarang" terusnya sambil lalu.
__ADS_1
"Kenapa papa terburu-buru sekali, apakah Kak Hansell akan datang"
"Benar sayang, selain itu rekan bisnis papa juga bersamanya, papa harus pergi juga"
Hellena beranjak mengikuti langkah papanya, pria itu memasuki mobil dengan tergesa-gesa, seraya memberikan klakson untuk berpamitan, di sambut dengan lambaian tangan Hellena yang tak kunjung turun, sebelum papanya berhasil meninggalkan gerbang rumah.
Hellena bahagia sekali, hal itu dapat terlihat dari senyum manis tatkala mengetahui bahwa Hansell akan pulang, apa yang harus ia lakukan? Apakah ia akan ke bandara atau berdandan secantiknya.
"Astaga, aku berdebar" batin Hellena dengan senyum manis ketika berlari memasuki kamar, ia mengeluarkan seluruh pakaian terbaik yang belum pernah di gunakan, gadis itu menyetel dandan tercantiknya untuk menyambut kedatangan Hansell.
*
Airyn terlihat malu-malu, bahkan ia tidak mau menampakan wajahnya setelah bangun disamping Hansell pagi ini, gadis itu sungguh mengemaskan, membuat Hansell sulit menolak tawa yang terus terulas karna dirinya.
"Kalau kau tidak marah padaku, lepaskan kaca mata itu" ledeknya sambil lalu, beserta orang-orang yang ada di belakang mereka.
"Tidak mau! Jauhkan tanganmu, jangan pernah mengambil kaca mataku" kesal Airyn dengan tatapan mengancam, agar pria itu tidak nenyebalkan.
"Apa kau malu?"
"Kau malukan, ayolah mengaku, kau malu karna wajahmu sembab, padahal kau cantik sekali pagi ini. Aku sangat kagum melihat wajah wanita ketika bangun tidur, karna hal iti terlihat sangat natural, dengan warna pucat nan polos"
Hingga langkah kaki Airyn terhenti, seraya memalingkan kepala menatap Hansell, pancaranya menajam saat pria itu terus memuji. "Apa kau tidak bisa diam" ketusnya penuh geram.
Sungguh Hansell bungkam, langkah Airyn yang menantang untuk maju, memundurkan satu langkahnya kebelakang, niatnya yang ingin mengejek malah kalah dengan pertentangan yang Airyn buat, untuk kesekian kalinya, gadis itu terus saja mengintimidasi, bersikap seolah-olah mengerikan padahal Hansell sadar itu sebagai tameng mempertahankan harga dirinya, tapi kenapa Hansell ketakutan setengah mati.
"Jangan mengodaku lagi! Apa kau mengerti" tekannya. Hingga mata bulat yang indah itu memancar ketika mendongak menantang Hansell.
Dan dibalas dengan angukan kepala atas nada perintah yang Nona Petrov tekan, melihat hal itu, Airyn tersenyum culas, seolah tawa kebahagiaan nyaris tak tergambar setelah berhasil mengintimidasi Hansell.
Airyn melepaskan kaca matanya, seraya mendahului langkah Hansell, rambutnya yang terkibas angin sepoi membuat jantung Hansell berdebar, apakah aura gadis mengerikan itu terlalu besar, sampai-sampai Hansell bisa meninggal karna kerusakan akal sehat atas karisma Nona Petrov.
__ADS_1
"Astaga....." umpat pria itu penuh kagum, seraya tertawa manis atas sikap Airyn barusan.
*
Langkah Hellena menapak di bandara, ia berlari meninggalkan sopirnya tanpa ada perintah apapun yang di tinggalkan, gadis itu melihat kesana kemari, setelah kerumunan orang baru saja keluar dari pintu keluar di bandara.
"Dimana kak Hansell" fikir Hellena yang kala itu mengenggam tas selempang tali di tubuhnya, bahkan ia sudah berdandan dengan cantik, seolah tak ada yang kurang dari pesona ragawinya. "Dimana dia, tidak mungkin kak Hansell sudah pulang kan! Semoga aku menemukanya"
Hingga mata itu menyipit menyaksikan sepasang manusia yang berjalan beriringan, menarik perhatianya untuk terus menatap, dari arah belakang, Hellena yakin bahwa itu adalah Hansell Hamillton, tapi siapa gadis di sampingnya?
Apakah dia wanita yang Angeline maksud? Tidak mungkin kan! "Kak Hansell" teriak Hellena dengan segera, hingga menghentikan langkah kaki pria yang sedang di curigainya, ternyata benar, pria itu adalah Hansell Hamillton.
"Hellena" Sambung Hansell dengan bingung, ketika gadis itu ada di bandara, bahkan saat mata Hansell terpaku melirik Hellena, Airyn merasa sedikit kesal karnanya, namun sekuat tenaga ia tahan seraya memalingkan wajah kearah lain.
Hansell memperhatikan Airyn, sebelum ia mengalihkan pandangan kearah Hellena, pria itu tersenyum canggung atas situasi ini, tentu saja mata Hansell memperhatikan Hellena yang sedang melangkah kearah mereka.
Membuat Nona Petrov itu mengunakan kaca mata yang tadi ia lepas, dengan sikap dingin seperti dirinya biasa, Airyn memperlihatkan keangkuhan, sedangkan Hansell yang sadar Airyn merasa kurang nyaman, sungguh amat canggung.
"Hellena, kenapa kau ada di bandara pagi ini?" sapa Hansell seraya menanyakan kepentingan Hellena.
"Karna sekarang Hari libur, Hellena ingin mengunjungi papa kak" ungkapnya dengan sikap manis, ketika bicara kehadapan Hansell.
Membuat Airyn tersenyum sunging atas kehadiran seseorang yang nampaknya menyukai Hansell, ternyata pria itu masih bisa menarik perhatian gadis lain, bahkan Airyn sadar gadis bernama Hellena ini termasuk ke dalam tipe gadis cantik, yang bisa di gilai lelaki, namun ia memilih Hansell, betapa beruntungnya pria menyebalkan itu.
"Oh iya, Hellena kenalkan ini Airyn, temanku" terus Hansell saat memperkenalkan Airyn pada Hellena.
Membuat Hellena menatap tajam kearah Airyn, sambil mengulas senyum manis untuk menutupi ketidak sukaanya.
"Dan Airyn, ini Hellena" terus Hansell, ketika Nona Petrov bersikap dingin tanpa membalas senyuman yang Hellena tampilkan.
"Sombong sekali" geram gadis itu, meskipun ia ingin menjambak rambutnya, namun Hellena sadar, jika ia terpaksa menjaga sikap di depan Hansell.
__ADS_1
"Kenapa suasana malah jadi canggung begini" fikir pria itu ketika Hellena tersenyum ramah, namun Airyn mengabaikan, bahkan Hansell tidak mengerti kenapa rasanya ada sesuatu yang ganjal di hatinya, seolah perasaan takut jika ia sudah menyakiti Airyn.
"Apa dia fikir aku bodoh" batin Nona Petrov, tatkala dirinya sadar sikap Hellena seperti pisau bermata dua, ia tersenyum manis di hadapan Hansell, namun memberikan tatapan peringatan pada Airyn, atas hal itu untuk apa Airyn bersikap baik.