
"Hellena kamu di keluarkan dari sekolah" ucap kepala sekolah pada gadis itu, membuat seringai puas disudut bibirnya ia ulas dengan bangga.
"Akhirnya aku bisa pindah sekolah!" Batin Hellena penuh kemenangan, sampai-sampai ia sulit sekali mengontrol kesenagan hari ini.
Hellena keluar dari ruang kepala sekolah sembari mengikuti langkah ayahnya, Sillky terhenti tepat di depan pintu, untuk melirik kearah belakang memandangi putrinya yang sedang menekuk wajah dengan takut, helaan nafas berat ia ulas dengan kasar, mengigat jika tahun ini adalah tahun terakir Hellena bersekolah tapi malah di keluarkan.
"Hellena" panik Angeline dengan wajah gugup ketika menatap mata Hellena. "Bagaimana hasilnya? Kau baik-baik sajakan?" tanya Angel penuh takut, tentu hal ini karna, gadis itu terlibat masalah ulah dirinya. "Hellena kenapa kau diam saja!" bentak Angeline seraya beralih kearah Sillky.
"Paman, apa hasilnya? Apa Hellana Diskors ?" tanya Angeline dengan cepat, seraya menatap penuh harap pada pria parubaya itu.
"Tidak Angel, dia di keluarkan"
"Apa!!" teriak Angeline dengan tidak percaya, bahkan rasanya ia sulit menerima keputusan ini. "Bagaimana bisa Hellena di keluarkan, ini tidak adil, aku akan bicara dengan kepala sekolah"
"Tidak Angel, jangan!" cegat Hellena dengan wajah panik, bahkan jika Angel yang bicara bisa-bisa ia tidak jadi di kelurkan, untuk itulah Hellena harus mengendalikan gadis itu.
"Angel, sepertinya ini adalah keputusan yang baik, aku tidak mau memperpanjang masalah lagi, lebih baik aku keluar dari sekolah agar semuanya jadi lebih baik"
"Tidak Hellena, ini tidak adil. Bagaimana bisa kau keluar karna aku, aku tidak akan membiarkannya, aku akan meminta kakak untuk mengurus semua masalah ini"
"Tidak Angel, lebih baik tidak perlu, aku juga tidak mau lagi bersekolah disini"
"Hellena..." lirih Angeline sambil berderai air mata, sungguh ia sangat menyesal sekali atas kejadian hari ini.
"Angel, benar apa yang di katakan Hellena, lebih baik dia pindah saja" timpal Sillky kehadapan sahabat putrinya.
"Tapi paman, jika bukan karna Angel, mungkin Hellena tidak akan di keluarkan"
"Tidak nak, ini bukan karna dirimu. Tapi ini semua karna Hellena sendiri, paman tidak menyalahkanmu, paman malah sangat bangga Hellena bisa membela temanya, jika Hellena keluar dari sekolah karna kebenaran, maka paman sebagai orang tua sangat bangga padanya, jangan menyalahkan dirimu sendiri Angel, ini bukan tanggung jawab mu" ucap Sillky penuh tenang sambil mengusap kepala Angeline dengan tatapan rendah seorang ayah pada putrinya.
__ADS_1
"Iya Angel, jangan menyalahkan dirimu" seketika Angel memeluk tubuh Hellena, sembari merasakan kesal dan rasa bersalah, membut Sillky menghela nafas dengan berat ketika memandangi putrinya yang bijaksana.
Hari ini Hellen di keluarkan dari sekolah, karna bertengkar dengan beberapa wanita yang sering merundung Angel lewat lisan, bahkan Hellena sampai membuat seseorang masuk rumah sakit akibat pertengkaran, sialnya gadis itu adalah anak pemilik yayasan yang mengharuskan Hellena di keluarkan.
Sungguh, Angel merasa bersalah dan tak henti menangis, sepulang sekolah Angel menceritakan semuanya pada kakaknya, membuat Hansell berterimakasih dengan sangat pada Hellena, pria itu sudah berdiskusi dengan paman Sillky terkait sekolah yang akan Hellena masuki, membuat Hansell merekomendasikan sekolahnya sendiri, sebab ia akan membalas kebaikan Hellena karna sudah membela Angeline, pria itu berjanji akan menjaga Hellena nanti, membuat Tuan Sillky tidak perlu mengkhawatirkan banyak hal lagi.
Malam harinya, Hellena berpamitan untuk menginap di rumah temanya, ia mengunakan pakaian sopan yang membalut tubuhnya dengan jaket hangat, namun di tengah jalan, gadia itu menagalkan jaket berbulu untuk mempertontonkan kulit mulus itu, Hellena mengerai rambut yang ia ikat acak, sembari mengeluarkan tas mungil dari tas selempang besar tersebut, gadis itu menganti sepatu dengan Hellls tinggi yang membuat tampilannya cukup mengoda.
Hingga Dewina Alfarence yang bermasalah dengan Hellena itu, memalingkan wajah kearah belakang sembari mengulas senyum menyeringai. "Bagaimana Hellena?"
"Sempurna" sautnya.
Begitulah kenyataanya, jika Hellena bersekongkol dengan Dewina Alfarence untuk mengeluarkanya dari sekolah, ia meminta Gadis itu merundung Angeline agar Hellena datang seperti penyelamat, bahkan rencanya sukses total dan menarik simpati Hansell Hamillton, hingga semuanya berjalan sempurna, membuat Hellena merayakan malam ini, malam kemenagan untuk kebahagiaannya, dengan begini Hellena yakin akan bisa mendapatkan Hansell dengan mudah.
"Mari kita nikmati malam ini sampai fajar datang" teriak Hellena ketika gelas elegan itu ia acungkan kearah atas disaat tubuhnya mengebu untuk bergoyang, tentu teman-temanya melakukan hal yang sama.
Dengan tidak berada di dekat Angel, maka Hellena akan memfokuskan dirinya mengejar Hansell, mungkin baginya malam ini sebagai kemenagan, tapi Hellena salah, malam ini adalah permulaan, sebab Dirka sendiri yang akan membuatnya hancur jika bermain-main dengan Angel.
Atas pertemanan yang tidak tulus dan juga rasa pengkhianatan yang kental, Hellena ada di dalam cengkraman Dikra, ia akan memantau gadis itu dan memastikan tidak ada tempat untuknya, sebab Nona Petrov bukanlah gadis sembarangan untuk di tandingi.
Dikra keluar dari Club dengan senyum sumbringah yang sulit ia pudarkan, nampaknya permainan semakim menarik saja dan ia ingin melihat bagaimana Hansell mengejar Nona Petrov untuk mengabaikan Hellena yang terus berpura-pura sebagai malaikat, hingga finalnya, Angeline harus sadar tampak depan wajah Hellena yang sesunguhnya.
*
Ke esokan paginya, Hellena menginjakan kaki di sekolah barunya, dimana ia akan satu sekolah dengan Hansell Hamillton, bahkan pagi ini Hansell dan Dikra menjemputnya untuk pergi kesekolah, membuat Hellena semakin berseri saja tanpa memudarkan kebahagiaan hati.
"Apa kita sekelas?" tanya dengan tidak prcaya, ia bicara kehadapan Hansell yang berjalan tenang di sampingnya.
"Tentu saja, kau akan menduduki kelas yang sama denganku, karna standar nilaimu yang memenuhi syarat yang memenuhi syarat untuk kelas unggulan"
__ADS_1
"Begitukah, bagus sekali" balas Hellena penuh bangga, ia bahkan tidak percaya jika dirinya akan sebahagia ini bisa melihat Hansell setiap harinya.
"Dikra, kau mau kemana?" tukas Hansell saat temanya berlalu tanpa pamit.
"Aku ingin ke kelas, aku lupa mengerjakan pekerjaan rumahku, bye...sampai ketemu nanti siang" balas Dikra sambil lalu, sebab ia malas sekali bicara dengan Hellena.
Melihat temanya pergi begitu saja, membuat Hansell sedikit jengkel, meskipun ia merasa berhutang budi pada Hellena tetap saja, Hansell sangat cangung bicara denganya, bagaimanapun Hellena adalah teman adiknya.
Meskipun Begitu Hansell tidak punya pilihan lain, selain menjawab tiap pertanyaan dan juga menemaninya kearah kelas.
"Hansell" putus seorang gadis yang tiba-tiba ada diantara mereka, bahkan senyum Airyn memudar melihat gadis yang ia temuai di bandara, mengunakan seragam yang sama denganya.
"Airyn" kejar Hansell sambil menatap gadis yang ia suka, Hellena melirikan mata melihat pria itu, bahkan tatapan Hansell berubah ketika Airyn hadir diantara mereka.
"Kenapa ada dia di sekolah ini" gumam Airyn dengan kesal, sembari membalikan badan dengan sikap malas.
"Airyn!" teriak Hansell dengan tidak percaya, saat gadis yang disukinya berbalik arah setelah melihat Hellena, apakah Airyn salah paham, membuat Hansell tidak bisa berdiam diri, ia perlu mengejarnya.
"Airyn tunggu!"
"Kak Hansell jangan pergi"
"Hellena, maaf, aku memiliki urusan penting, kau sendiri saja yang ke kelas" pria itu benar-benar mendorong tangan Hellena, ia mengejar Airyn hingga berlalu dari hadapan teman adiknya.
Melihat penolakan barusan, Hellena tidak percaya jika dimata Hansell ia tidak menarik, padahal Hellena sudah sejauh ini, bersikap baik pada Angeline, melindungi Angeline, bahkan ia membuat Hansell berhutang budi, tapi apa yang ia dapatkan, selalu kegagalan, kapan pria itu akan melirik dirinya, sialan!!
Jika terus begini Airyn harus ia singkirkan, sebab gadis itu seperti penghalang terbesar.
Sungguh, Dikra terkekeh dengan bahagia, melihat kegagalan yang Hellena dapatkan. "Ini baru permulaan Hellena" gumam Dikra dengan penuh maksud saat jiwanya bertekad akan menertawakan kegagalan Hellena dalam setiap harinya.
__ADS_1