
Hansell kembali ke kantor setelah negoisasi yang berujung dengan perdebatan, bahkan ada kekesalan yang memuncak saat mengingat jika Airyn adalah Nona Petrov. Hansell tidak mengerti kenapa semuanya malah kacau dan rasanya ia tidak memiliki ketenagan setelah fakta ini, bahkan beberapa bulan belakang Hansell di penuhi oleh tragedi dan penyangkalan, bahkan yang membuat Hansell tidak bisa terima, jika gadis yang ia kenali dengan nama Airyn ternyata Nona Petrov yaang paling ia benci, sungguh dunia yang lucu untuk Hansell tertawakan.
Malam harinya, Hansell kembali ke rumah, sekalipun ia memaksakan diri di kantor tetap saja hanya ada kekusutan dan rasa jengkel yang membuat otaknya sulit berfkir, Hansell memilih pulang untuk menemui adiknya, setidaknya dengan begini Hansell bisa beristirahat untuk bekerja besok hari.
Langkah pria itu terhenti saat mendapati Hellena sedang di sibuk di Pantry dapur, gadis itu mengunakan celemek berwarna putih yang ia lingkarkan di pingul dan lehernya, mata Hansell dan Hellena berpadu hingga keduanya saling sapa, bahkan Hansell yang berlalu kearah kamar terhenti atas teguran gadis itu.
“Kak Hansell, apa kakak tidak mau bergabung untuk makan malam besama kami” ujar Hellena dengan nada ramah, membuat Hansell begitu cangung untuk menyetujuinya.
“Kakak bergabunglah dengan kami” terus Angeline yang baru saja menuruni anak tangga, nampaknya Angel baru saja selesai mandi dan lebih segar dari biasanya, ia memeluk kakaknya dengan mata yang masih berkaaca-kaca, membuat Hansell menatap sendu atas sikap berduka Angeline yang sulit di sembunyikan.
“Baiklah, kakak akan bergabung, tapi kakak mau mandi dulu, jika kakak kelamaan kalian makan saja duluan, nanti kakak menyusul” balas pria itu, membat Hellena melengkungkan senyumnya dengan hangat saat Hansell akan makan satu meja denganya, nampaknya tak sia-sia pengorbanan Hellena ketika memberikan perhatiaan kepada ngeline atas meninggalnya paman Hamillton.
"Baiklah kak, Angel akan menunggu kakak"
"Iya sayang, kakak akan secepat mungkin siap-siap" pria itu berlalu setelah menandaskan ciuman hangat di kening adiknya, tentu Angeline menghampiri Hellena setelah kakaknya menaiki tangga.
Kedua gadis itu sedang menunggu di meja makan, mereka duduk dengan tenang menanti kedatangan Hansell yang akan bergabung bahkan sedari tadi Angeline tidak bersemangat sama sekali, sedangkan Hellena harus bersusah payah memecah keheningan diantara mereka.
Selang beberapa waktu pria tampan itu menuruni tangga dengan langkah besarnya, membuat jantung Hellena berdebar kencang saat Hansell Hamillton selalu membuat dirinya bergairah, sungguh pria itu harus menjadi lelaki masa depanya.
“Apa aku terlalu lama?” tanya Hansell pada Angeline dan Hellena, membuat Hellena mengelengkan kepala untuk membalas perkataan Hansell.
“Kami tidak terlalu lapar kak, jadi kakak tenang saja, kami tidak terlalu lama untuk menunggu” balas Hellena atas pertanyaan Hansell
“Yasudah, ayo makan” balasnya kearah gadis-gadis iti, membuat mereka membalikan piring putih yang bundar diatas meja untuk di isi dengan makanan yang sudah Hellena siapkan.
“Angel, apa mau kakak suapkan?” tanya Hansell pada adiknya.
“Tidak perlu, Angel bisa sendiri. Angel bukan anak kecil”
“Siapa yang mengatakan kau orang dewasa, kau memang bukan anak kecil, tapi juga bukan orang dewasa” bantah Hansell.
__ADS_1
“Lalu aku apa?”
“Kau masih gadis remaja sayang, masih sangat wajar untuk gadis remaja bertingkah seperti anak kecil, dan sangat tidak pantas untuk gadis remaja bertingkah dewasa, jadi tidak masalah untuk kakak menyuapi mu”
"Tapi Angel tidak mau disuapi"
"Tapi kakak mau menyuapimu" balas Hansell dengan terkekeh.
“Sudahlah kak, Angel tidak mau bercaanda. Makanlah yang baik”
“Baiklaah, baiklah....dasar gadis dingin” balas Hansell dengan memelas, membuat Hellena berkali-kali cemburu atas interaksi adik kakak itu, bahkan pada adiknya Hansell bisa sesayang ini, bagaimana jadinya jika nanti Hellena menjadi kekasihnya, mungkin Hellana akan bahagia sekali menjadi wanita di dunia ini.
“Kak Hansell, apa mau iga bakar?” tawar Hellena pada pria itu, membuat Hansell memandangnya seraya menganggukan kepala, lantaran sangat segan untuk menolak kebaikan orang lain.
Dengan segera Hellena memindahkan beberapa potong iga bakar itu ke piring kosong Hansell, ia memberikan makanan yang ia masak dengan sempurna untuk pria yang ia sukai, membuat Angeline menatap kearah wajah sahabatnya, nampaknya Jellena begitu perhatian pada kakaknya, Jellena sangat baik dan penuh kasih sayang, ia adalah teman yang luar biasa sabar dan menerima Angeline apa adanya, jika dua orang ini berpacaran atau menikah mungkin Angeline akan bahagia, tapi nampaknya Angel tidak bisa menunjukan sikap seperti itu sekarang, sebab Angeline sangat memahami kakaknya yang begitu keras kepala dan teguh pada prinsipnya.
Di hidup kakaknya tidak ada wanita dan ia membenci berkencan apalagi menghabiskan waktu sia-sia, Angeline hanya takut jika nanti kakaknya malah menyakiti Hellena dan membuat hubungan Angel dan sahabatnya menjadi rengang, lebih baik menunggu waktu yang tepat untuk menjodohkan mereka, setidaknya menunggu waktu dimana kakaknya sudah bisa menerima seseorang untuk mengisi hatinya, disanalah Angeline akan menjodohkan Hansell dan Hellena, semoga saja pria itu bisa membuka hati di waktu dekat ini.
“Tidak ada” balas Angel sembari megelengkan kepala dengan segera, membuat mata Hansell menuntut jawaban dari kedua tatapan menuntut itu. “Sungguh tidak ada kak, kenapa kau memandang ku seperti itu”
“Kakak tidak mengatakan apapun Angel, kenapa kau harus panik” balas Hansell dengan terkekeh.
“Jika tidak jangan menatapku, kau terlihat mengerikan” ucap Angeline dengan nada meninggi, membuat wajah Hansell berkerut dalam sebab mengigat tentang Airyn kembali, kenapa adiknya harus mengunakan kalimat mengerikan saat suasana hati Hansell sudah membaik, ini sangat menjengkelkan.
“Kakak kau kenapa? Apa Angel sudah bicara kasar?” panik Angeline ketika menatap takut pada kakaknya.
“Tidak sayang, kakak hanya terfikir sesuatu tentang pekerjaaan” ucap pria itu agar menenangkan adiknya.
Membuat ketiga orang yang sedang melaksanakan makan malam di kediaman Hamillton, melanjutkan makan mereka dengan damai, sesekali Angeline menceritakan tentang Hellena di hadapan kakaknya, bahkan membuat Hellena cukup malu sedangkan Hansell sedikit terkekeh ketika Angeline bercerita dengan menarik.
Sampai makan malam yang sudah berakir selama 1 jam lebih itu membuat Hellena berpamitan pulang, gadis itu sudah di jemput oleh ayahnya yang bernama Tuan Sillky, bahkan Hansell menjabat tangan beliau sebagai ucapan terimakasih sudah membiarkan Hellena disana, karna beberapa hari ini beliau sedang ada pekerjaan di luar kota, meskipun tidak ada Tuan Besar Hamillton, rasanya Sillky mempercayai anak gadisnya pada Hansell Hamillton yang hampir sepantaran dengan Hellena, setidaknya Sillky mengerti bagaimana karakter dan sikap baiknya, pria itu terlahir dari keluarga terpandang dan di besarkan dangan karakter luar biasa baik dan sopan, sehingg menumbuhkan kepercaayaan Silky padanya.
__ADS_1
"Hansell, maaf jika Hellena merepotkan mu beberapa hari ini" ucapnya dengan sungkan.
"Tidak paman, Hellena sudah seperti adiku sendiri" balas pria itu dengan nada ramah, membuat Hellena terpaku diam atas kata yang Hansell ucapkan, apakah ia tidak salah dengar saat pria itu mulai mengakui dirinya, sungguh jantugnya di penuhi dengan kebahagiaan, rasanya terlalu bahagia membuat Hellena tidak ingin percaya jika ini hanya sebatas mimpi saja.
"Aw" pekik Hellena dengan kaget, hingga membuat mata mereka menatapnya dengan bingung.
"Kenapa denganmu Ele" tanya Sillky pada putrinya, tentu Ele adalah pangilan sayang dari Sillky pada putri semata wayangnya.
"T-Tidak apa-apa Pa" balas Hellena dengan penuh malu, sungguh ia tidak percaya akan menjadi sebodoh ini. Membuat Angeline menahan tawanya dengan susah payah lantaran ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Hellena mencubit kulitnya.
"Hansell, paman pamit pulang ya, jika ada sesuatu atau penerbangan mendadak kabari paman saja" ucap Tuan Sillky pada pria itu, membuat Hansell menganggukan kepala setelah melihat anak dan ayah itu meninggalkan kediaman mereka.
*
Airyn membentang tubuhnya diatas ranjang tidur setelah sampai dini hari di rumah besar ini, mata gadis itu hanya terpaku memandangi langit-langit kamar seraya berfikir tentang perkataan Hansell Hamillton, kenapa pria itu harus bersikap seperti ini padanya, kenapa ia mepertontonkan kebencian yang luar biasa dan sikap jijik saat meliriknya, apakah salah jika Airyn menjalani kehidupan seperti ini? Apakah salah ia bergelut dengan kerajaan bawah tanah untuk bisnisnya, jika saja Airyn boleh memilih ia tidak ingin terlibat hal seperti ini sebelumnya.
Sayangnya, sebuah surat kontak yang di tanda tangani oleh ayahnya memaksa Airyn bergabung menadi VVIP di markas utama, ia terpaksa mejajahi jalan yang di rencanakan beliau dengan surat kontrak itu, membelengu kaki Airyn untuk terus tergerak tanpa ada kata mundur sekalipun ia lelah, jika saja boleh memilih, Airyn terlalu lelah utuk bernafas, ia ingin mentup mata tanpa terbangun agar bisa melupakan kebisingan dunia.
Sayangnya, mata itu kembali terbangun di pagi hari, Airyn mendapati raganya yang terus bernyawa, helaan nafasnya yang masih terdengar dan kedua mata itu yang terpaksa di buka, Airyn masih bisa mengerakan kedua tangan dan kakinya untuk meraih dan melangkah, mengerakan dirinya untuk berjalan agar bisa melanjutkan rutinitas sewajarnya.
Sialnya, kehidupan malang yang Airyn jalani hanya mampu ia rasakan seorang diri, apa gunanya tahta, uang, kekuasaan, nama terhormat, dan segala bentuk kemudahan hidup dalam segi materi, jika batin dan jiwanya sudah lama padam dan menghilang, Airyn seperti hidup tanpa raga dan hanya mengunakan otak tanpa mempertanyakan hatinya.
Jika saja orang yang membenci dirinya, menganggap kehidupan Airyn sangat muda, dan orang-orang yang iri pada nama besar Airyn Petrov menukar posisi pada pijakan ini, apakah mereka akan bertahan? Atau jangan-jangan menyerah.
“Selamat pagi Nona” sapa Merry ketika meletakan sarapan di pinggir nakas sambil menarik tirai pintu kamar untuk membiarkan cahaya memasuki ruagan. Membuat Airyn menatap wanita yang selalu ada di hidupnya namun sebagai orang lain baginya, kenapa harus orang lain yang Airyn miliki, kenapa tidak seperti manusia pada umumnya, ada orang tua serta orang terdekatnya, kenapa harus Merry yang tidak pernah meninggalkan dan pergi, kenapa?
“Aku akan menemani anda ke sekolah hari ini, segeralah habiskan sarapan dan aku akan menunggu di luar” terus Merry saat mendapati Airyn yang duduk di meja rias dengan serag sekolah yang sudah ia kenakan, melihat gadis itu menganggukan kepala, membuat Merry berlalu kearah luar dengan senyum cerah seperti bunga yang merekah di musim semi.
Dia menemani diriku? Fikir Airyn ketika logikanya tengah bertanya dan mulut wanita itu langsung menjawab, apakah artinya Merry tidak akan pergi dan terus di sisinya, tapi kenapa orang lain harus melakukan itu, apa yang ia dapatkan dari pengorbanan ini? Grup APV, saham, kekuasaan? Tentu saja hal itukan!
Setelah berfikir dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri, Airyn menghabiskan sarapan yang di siapkan, menjalani hari seperti biasanya dan berusaha untuk menjalani kehidupan yang membosankan, sampai Tuhan mengatakan, kamu sudah lelah, maka kembali lah, dan sampai detik itu Airyn akan senang tiasa pergi dan meninggalkan dunia ini, namun jika saat ini kelelahan hatinya masih di uji, pertaanda Airyn masih kuat untuk terus bertahan.
__ADS_1