Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story Of Hansell Episode : 42] Aku menyukainya!


__ADS_3

"Hansell....." teriak Dikra dengan sedikit keras saat mengikuti langkah pria yang menyongsong kearah depan.


Namun Hansell tidak mendengarkan panggila itu, ia berlalu dengan cepat untuk mencapai pintu kelas.


"Kenapa dia tidak mendengar suaraku" kesal pria tampan yang saat ini mengubah warna rambutnya menjadi dark undertone yang cool, setelah di ejek Angel mengunakan pastel peach sebelumnya.


Hansell masih bingung kenapa Airyn tidak mau memberikan nomornya, bahkan gadis itu terlihat enggan sekali, tapi apapun alasannya Hansell tidak boleh memaksa, untuk memperjuangkan cinta, Hansell perlu bersikap sabar dan juga mengunakan logika diatas hati yang selalu menerka.


"Hansell" putus Dirka hingga membuayarkan pandangan pria itu, tatapannya menatap Dikra yang saat ini sudah berada diambang kelas.


"Dikra, kenapa kau ke kelasku?" tanyanya dengan akrab.


Membuat Dikra berlalu kearah dalam, seraya berdiri cool di hadapan Hansell, ia melakukan itu karna beberapa gadis sedang tersenyum memperhatikanya, untuk itulah Dikra menebar pesonanya, untuk menarik mereka.


"Aku memanggilmu sejak tadi, tapi kau tidak dengar, apa yang kau fikirkan sampai kau tidak mengubris panggilanku?"


"Tidak ada, aku hanya tidak dengar saja"


"Kenapa aku merasa, aku tidak percaya denganmu?" tatap Dikra yang penuh selisik, membuat Hansell sedikit risih sebelum akirnya menepiskan pandangan Dikra yang mencengkram.


"Lupakan, kenapa kau ke kelasku?" tanya pria itu, sebab detik ini sudah hampir masuk jam pelajaran pertama.


"Astaga, hampir saja aku lupa" heboh pria itu ketika memukul kepalanya, seraya bertutur kearah Hansell. "Ini soal bisnis plan kelompok untuk tamasya pertengahan semester. Apa kau sudah punya kelompok?" tanya pria itu, bahkan ia bicara dengan cepat hingga Hansell mengelengkan kepala. "Kita satu kelompok saja, kata pak Anthony kita boleh sekelompok dengan kelas lain, jadi aku akan sekelompok denganmu"


"Bukankah selama ini kau selalu saja begitu, kenapa harus berdiskusi denganku" ejek Hansell pada temanya.


"Tapi kali ini beda Hansell, aku ingin menarik Nona Petrov ke kelompok kita" terus Dikra hingga membuat Hansell mendogakan kepala meliriknya.


"Airyn?" ucap Hansell dengan bingung.


"Iya Airyn, bagaimanapun aku cukup kasihan pada Nona Petrov, saat itu aku ingin mendiskusikan hal ini, tapi kau terlanjur pergi ke Tingkok, untuk itulah, aku tidak jadi mengatakanya" seru pria itu sambil berpangku tangan memandangi Hansell.


"Ada apa dengannya?" tanya Hansell dengan segera, membuat Dikra mengkerutkan kening atas respon pria itu, bukankah kemarin ia membenci Airyn tapi hari ini kenapa ia malah bersikap tertarik padanya.

__ADS_1


"Kenapa kau bersemangat sekali, apakah kau sudah tertarik dengannya, atau kau membencinya"


"Apakah itu penting!" semprot Hansell dengan jengkel, membuat Dikra semakin tidak percaya ketika Hansell meneriakinya diantara para wanita yang meliht mereka. "Bicara di luar, cepatlah!" putus Hansell sambil menarik paksa tubuh Dikra untuk keluar, bahkan mereka berdua berada di balkon kelas menghadap lapangan.


"Kenapa kau kasihan pada Airyn? Apakah gadis itu di tindas? Atau, yidak mendapatkan keadilan, atau dia di olok-olok?" tanya Hansell dengan wajah marah, membuat Dikra semakin bingung atas reaksi temanya.


"Apa kau gila. Orang sinting mana yang akan menindas Nona Petrov, wanita mengerikan seperti itu bahkan bisa menindas orang lain hanya dengan namanya, jadi tidak mungkin sekelas Airyn ada yang menindas" ejek Dikra sambil mengelengkan kepala menatap Hansell.


"Lalu kenapa kau mengkasihaninya?"


"Tentu saja karna dia tidak memiliki teman untuk diajak sekelompok, aku hanya ingin kita menariknya ke kelompok kita agar gadis itu memiliki teman. Bagaimanapun aku mengerti, tidak akan mudah bagi orang untuk mendekati gadis mengerikan itu apalagi dengan sikapnya yang ketus dan sombong, di tambah statusnya yang luar biasa"


"Jaga bicaramu Dikra, dia tidak seperti itu" bantah Hansell dengan segeta, hingga menghentikan penuturan Dikra yang belum ia selesaikan.


"Hansell..... kenapa sedari tadi terkait Airyn kau selalu berlebihan. Bahkan aku masih ingat beberapa hari lalu kau sangat membencinya, dan sekarang ada apa denganmu, kenapa kau terkesan sangat peduli dan perhatian padanya?"


"Aku menyukainya" sontak mata Dikra membulat, ia menatap pongah antara ketidak percayaan vs ketidak mungkinan, apakah ini Hansell Hamillton?


"Ia aku menyukai Airyn, gadis yang aku benci setengah mati, tapi aku sukai hari ini" terusnya dengan penuh yakin, bahkan sekali lagi Dikra kembali tidak menyangka.


"Hansell apakah kau sadar dengan ucapanmu?"


"Menurutmu, apakah aku berada di bawah pengaruh alkohol sampai melantur?"


"Ti-Tidak....."


"Aku menyukainya, saat aku ke Tiingkok kemarin, itu bukanlah untuk pekerjaan tapi untuk mengejar Airyn"


Hingga Dikra tersedak dengan sangat kaget, bahkan ia tidak bisa percaya dirinya akan secanggung itu mendegar perkataan Hansell, apakah temanya memiliki kepribadian ganda, bahkan Dikra tidak melihat Hansell yang penuh harga diri dan wibawa, kali ini bersikap pasrah dan lemah soal wanita, kemana dirinya yang anti kaum wanita itu?


"Apa kau gila! Sejak kapan kau menyukainya?" tanya Dikra dengan penuturan pelan, bahkan ia mencengkram pundak Hansell atas tatapan maut yang menuntut.


Jika bisa dikatakan, Hansell juga tidak sadar kenapa ia bisa jatuh cinta pada gadis mengerikan itu, tapi Hansell tidak bisa mengatakan cintanya bersemi semenjak di hotel, sebab sebelumnya Hansell pernah memperhatikan Airyn setengah mati hingga tidak seperti dirinya, bahkan ketika mengetahui bahwa Airyn adalah Nona Petrov, ia hanya tidak menyangka saja bahwa takdir bisa sekejam ini, gadis yang ia sukai adalah gadis yang ia benci, saat itu Hansell hanya ingin membenci dan melupakanya, namun hati memang sulit di bohongi, bahkan diam-diam ia masih peduli, saat bibirnya berucap bahwa Hansell membenci Nona Petrov, hatinya malah berkata lain, hingga Hansell memasrahkan semuanya pada malam itu, malam dimana ia bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu dengan hembusan nafas tak beraturan, merasakan bahagia, memiliki dan bahkan jatuh cinta tanpa ia bayangkan, atas semua itu Hansell tidak mengerti sejak kapan hatinya memulai, mungkin saja sejak Airyn menjadi anak baru di sekolah ini, atau sejak dua tahun lalu.

__ADS_1


"Hansell, jawab aku, sejak kapan?" putus Dikra hingga membuyarkan keheningan mereka.


"Aku tidak mengerti Dikra, aku bahkan sangat bingung sejak kapan aku menyukainya, yang jelas dia sangat berbeda bagiku"


Diam kembali membentang, tatapan Dikra tertuju lantang, bahkan selama ini Hansell tidak pernah bersikap seyakin ini soal wanita, namun lihat temanya itu, bisa mematahkan keraguan soal wanita.


"Yasudahlah, aku akan ke kelas dulu" lirih Dikra sembari memutar badan, dari pada melihat wajah bingung dan penuturan yang mencengangkan, lebih baik Dikra menghilang dulu untuk mencerna pelan-pelan.


membuat Hansell menarik kerah baju yang ingin beranjak meninggalkan tanpa kepastian.


"Kau mau kemana?" tanya Hansell dengan geram.


"Aku mau ke kelas" tunjuk Hansell kearah depan.


"Yasudah, pergilah.....tapi jangan pernah mengatakan dia mengerikan lagi" ancam Hansell dengan sungguh-sungguh, bahkan Dikra bergindik ngeri atas tatapan itu. "Apa kau mengerti?"


"I-Iya....."


"Sekarang ajaklah Airyn satu kelompok dengan kita, aku tidak mau dia sekelompok dengan laki-laki lain, dan pantau gerak gerik gadis yang aku sukai, jika ada yang berani mendekatkatinya.........maka dia akan-"


"Ba-Baiklah...." pasrah pria itu atas tuntutan Hansell yang menekan.


Rasanya Dikea tidak mau mendengar kalimat selanjutnya, apakah pria itu ingin mengatakan. "jika ada yang berani mendekatinya, maka dia akan mati" Astaga, ini terlalu gila, meskipun Hansell Hamillton memiliki etika dan bahkan ia terkesan baik, tapi fakta tentang dirinya penerus tahta pemimpin markas utama yang menaungi kelas mafia diseluruh dunia tidak bisa dielakan, bahkan pria tidak bisa mengunakan akal sehatnya jika terkait wanita, untuk itulah Dikra tidak sangup menerima penuturan Hansell.


Sedangkan pria yang memberikan ketakutan pada Dikra, menarik senyum sunging yang nyaris tak terlihat, nampaknya fikiran Dikra sudah merajalela kemana-mana, hingga pria itu bergindik ngeri tanpa mampu menatap kedua matanya.


"Masuklah ke kelasmu, aku akan menjemput Angel siang nanti, apa kau mau ikut?" tanya Hansell sambil lalu, membuat mata Dikra membulat atas ajakan itu.


"Tentu saja, aku ikut, jangan tingalkan aku, kau harus tunggu aku. Apa kau mengerti!"


"Iya aku mengerti, pergilah" usirnya.


Membuat Hansell berlalu untuk pergi, hingga ahkirnya berdiri di ambang pintu kelas, sedangkan Dikra berlalu dengan semangat untuk menuju kelasnya yang berada di ruangan sebelah.

__ADS_1


__ADS_2