
Selama Hansell meliburkan diri untuk mengejar sang pujaan hati ke negara seberang, semuanya seperti mimpi disiang bolong, bagaimana tidak, ia sudah melintasi luasnya lautan yang di terjang dan rintangan yang menghadang, semua itu tidaklah sia-sia, bahkan pagi ini Hansell datang lebih cepat dari biasanya, meskipun jam sekolah mereka dimulai pada pukul 09.00 pagi, tetap saja belajar mengajar akan di lakukan pada pukul 09.45 pagi.
"Apa dia belum datang?" fikir Hansell ketika berdiri di gerbang sekolah, rasanya ia sudah berdiri hampir setengah jam namun Airyn masih belum juga datang.
Beberapa siswa yang menyukainya tak henti memandangi Hansell dengan tatapan mengiginkan, namun sekuat tenaga ia abaikan, setidaknya mereka berjarak cukup jauh dari tempat Hansell berdiri, jadi bukan lagi masalah untuk Hansell sendirian tanpa Dikra.
Airyn turun dari mobil yang ia kendarai, biasanya Airyn selalu menghentikan mobil tepat di depan lobby sekolah, namun beberapa bulan terakir ini, ia mulai berhenti digerbang depan, jadi Hansell tidak salah atas tebakanya.
"Selamat pagi Nona" sapa Hansell dengan ramah tatkala melihat Airyn yang baru saja menatap dirinya.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Airyn dengan bingung, bahkan Merry yang ada di dalam sana merasa penasaran saat putrinya bicara dengan seseorang, padahal selama ini Airyn tidak pernah bersikap seperti itu, hingga mata Merry terkesiap ketika pria itu adalah Hansell Hamillton, ternyata hubungan mereka berkembang cukup pesat, Astaga.
"Tentu saja aku menunggu mu"
"Kenapa kau menungguku" kesal Airyn ketika memejamkan matanya menatap Hansell, sebab di mobil itu masih ada Merry.
Melihat pria bodoh itu tersenyum polos, sungguh Airyn tidak sanggup mengabaikanya. Ia menarik paksa Hansell dari sana seraya berjalan memasuki perkarangan sekolah.
Beberapa orang memperhatikan mereka, hingga tatapan Airyn memancar dengan tajam dan membuat mereka mengalihkan pandangan, gadis itu bersendekap sambil lalu, dengan wajah angkuh seperti Nona Petrov, melihat sikap pongah itu entah kenapa selalu membuat Hansell cukup geram.
Hingga ia menarik pipi Airyn dengan gemas atas kelakuan yang mungkin mengesalkan. "Hansell" teriaknya dengan mata membulat, ketika Hansell mencubit pipinya.
"Kenapa kau menarik pipiku?" tanya gadis itu saat telapak tangan Hansell menapak kepermukaan pipi.
"Aku hanya geram saja dengan wajah agkuhmu, apa kau tidak bisa santai seperti Airyn yang memakan 3 ice cream, merengek meminta naik bianglala, dan gadis yang menangis di pelukanku" sontak langkah Airyn terhenti, bahkan harga dirinya seperti terlucuti oleh Hansell.
Mata gadis itu menatap penuh kesal saat Hansell mengulang kejadian di Tiongkok, bahkan wajahnya seperti tidak bersalah hingga Airyn amat kesal.
"Apa kau bisa diam, jangan bercanda seperti itu, ucapanmu itu tidak lucu. Aku peringatkaan Hansell, jangan mengulang hal itu lagi"
"Tidak, aku akan mengulanginya" tolaknya dengan bercanda, membuat Airyn mengertakan gigi atas sikap kesal yang di perlihatkanya.
"Hansell! Jangan ungkit masalah itu lagi, jika tidak aku akan menghabisimu" ancamnya dengan penekanan rendah, seolah Airyn tidak ingin ada orang yang tahu jika ia menghabiskan waktu dengan Hansell di Tiongkok.
"Kenapa memangnya? Apa salahnya jika aku ungkit"
__ADS_1
"Intinya jangan pernah mengungkit itu" bentak Airyn dengan pancaran tajam yang ia perlihatkan dengan gamblang, namun Hansell mengulas senyum tanpa ada jawaban, melihat reaksi pria menyebalkan itu, Airyn menarik tas ransel yang di gunakan untuk berlalu kearah taman, yang ada di belakang sekolah, tepat dimana Airyn sering mengunjunginya karna sepi dan juga jarang di jangkau oleh siswa.
Gadis itu menghempas tubuh Hansell ke dinding, bahkan ia bersikap ganas layaknya Nona Petrov yang mengerikan, sedangkan Hansell hanya mampu memasrahkan diri seraya tersudut kearah dinding, hingga telapak tangan sebelah kirinya menapak kepermuaan tembok, dengan pancaran mengerikan untuk memberiakan peringatan.
"Jangan pernah mengatakan tentang hal di Tiongkok yang pernah kita lakukan. Aku tidak ingi orang lain berspekulasi yang tidak-tidak tentang kita, jika mereka beropini sendiri dan itu terdengar oleh beberapa pihak aku hanya takut....."
"Keberadaan ku terancam" terus Hansell dengan tatapan datar, hingga menghentikan perkataan Airyn. "Aku mengerti, tapi kau tenang saja, mereka tidak akan bisa menyentuhku"
"Kenapa kau positif sekali" hina Airyn dengan tatapan merendahkan.
"Karna aku adalah ahli waris pemimpin di markas utama, tidak ada yang berani menyentuh ku Airyn, apalagi dirimu" batinya dengan tatapan nanar yang bersatu dengan pandangan Airyn.
"Karna, apa yang bisa mereka dapatkan" balas pria itu dengan tawa penuh ejekan. "Selain itu, kau tidak perlu mencemaskan diriku, aku tidak mau kau lindungi dan kasihani, urus saja masalahmu, jangan urus masalahku" jelas Hansell penuh maksud hingga Airyn terdiam melihat dirinya.
Pertahanan diri yang tadi mengerikan, dengan sikap intimidasi penuh, kali ini menjadi lemah di hadapan pria itu, Airyn mengambil kembali tangan yang ia tumpukan ke dinding seperti preman pemalak, seraya menyelipkan rambut kesebagian telinga untuk merapikan.
Hingga setiap kali Hansell melihat tingkah malu ini, setiap kali juga ia terpesona akan Airyn, kenapa wajah dan karakternya mampu membius pandangan Hansell, seolah ia ingin memandangi Airyn dalam-dalam untuk waktu yang panjang.
Hingga, tubuh yang baru saja memundurkan langkah, di tarik paksa oleh Hansell, Airyn tersudut ke dinding, tanpa langkah yang bisa ia perkirakan, kali ini mereka bertukar posisi, dimana Hansell yang mengintimidasinya.
"Berikan aku nomor ponselmu" pinta pria itu dengan lagak pemalak bak senior pada junior, bahkan Airyn gagal mencerna karakter siapa yang Hansell lakoni saat ini.
"Apa yang kau lakukan Hansell?" tanya gadis itu dengan polos.
"Aku meminta nomor ponselmu, Airyn" jelasnya dengan tatapan mengoda.
"Apa?" tanya Airyn sekali lagi.
"Nomor telfon Merry!" jawab pria itu dengan geram atas sikap bodoh Airyn.
"Nomor Merry? Untuk apa kau meminta nomor Merry?"
"Apa kau bodoh! Aku meminta nomor ponselmu, untuk apa aku meminta nomor ponsel Merry jika Darrel sudah memilikinya. Berikan nomor ponselmu, jika kau tidak memberikanya, aku tidak akan melepaskanmu dari taman ini"
"Apa kau gila, jangan bercanda Hansell, pelajaran pertama akan dimulai, ayo kembali"
__ADS_1
"Berikan Nomor ponselmu" paksa pria itu, hingga Airyn menatap ragu kearah Hansell, sebenarnya ia jarang sekali bermain ponsel, untuk itulah ia tidak ingat nomornya, tapi jika Airyn mengatakan ia melupakan nomor ponselnya, tentu ini sangat memalukan, jadi apa yang harus Airyn lakukan. "Kenapa kau diam saja, berikan aku nomor ponselmu" imbuhnya lagi, membuat Airyn merasa sangat terpojok.
"Aku tidak memberikan nomor ponselku pada orang sembarangan" balas gadis itu dengan sikap tenang, atas alasan yang ia bawa untuk menutupi kebodohanya.
"Dan aku bukan lagi orang lainkan, bukankah kita sudah menjadi teman. Jadi mari bertukar kabar, beri aku nomor ponselmu" paksa Hansell.
"Kau benar" imbuh Airyn dengan tawa penghibur atas sangkalan kata yang tidak bisa Airyn debatkan.
Melihat Nona Petrov mengalah, Hansell mengambil tas ransel di pungungnya untuk mencari sebuah pulpen atas nomor ponsel Airyn. Sebuah pena berwarna hitam polos yang sangat elegan ia keluarkan sembari menarik tangan Airyn untuk dilekatakan secara paksa, Hansell menjulurkan telapak tanganya dengan berharap akan mendapatkan nomor ponsel Nona Petrov.
Mata Airyn terdiam melihat hal itu, ia masih enggan menjangkau pulpen yang diberikan, hingga tatapan Hansell menjadi semakin menuntut, seolah tak ada jalan lain selain menuliskanya.
Airyn meragu ketika dirinya tidak mengigat nomor ponselnya sendiri, sebab Airyn amat jarang mengunakan benda komunikasi itu, bahkan ia tidak ingat dimana benda itu terletak lagi.
"Cepatlah tulis" paksa Hansell dengan rengekanya, membuat Airyn mengambil alih pulpel yang Hansell sodorkan, untuk menoreh tinta di permukaan kulit Hansell.
Airyn menuliskan beberapa angka disana, namun hanya tertera 3 angka yang merupakan awalan umum di nomor ponsel semua orang.
"Apa ini?" tanya Hansell dengan bingung, bahkan alisnya bertaut atas kelakuan yang sangat menyebalkan dari Nona Petrov.
"Itu 3 digit nomor ponselku, jika kau mau, maka kau harus bertahap mendapatkanya, bukankah sudah aku bilang, nomor ponselku tidak sembarangan orang memilikinya, jadi kau harus bersabar sampai aku mengisi penuh"
Sontak mata Hansell terpaku atas kelakuan Airyn yang maha lucu, tidakah ia sadar sikapnya sulit sekali Hansell tertawakan, bahkan ia hampir ingin menangis jika berurusan dengan Nona Petrov karna sesulit itu.
"Bukankah ini penyiksaan" ungkap Hansell penuh geram.
"Apa maksudmu penyiksaan, ini adalah cara membuktikan, apa kau serius beteman denganku atau tidak" alasan Airyn.
"Tapi berapa kali aku harus memintanya sampai kau bisa mengisi penuh nomor ini?"
"Mungkin 3 atau 4 kali" balas Airyn dengan tertawa puas.
"Airyn, itu lama sekali"
"Lupakanlah jika kau tidak mengiginkanya, dan pulpen ini biarkan untuk ku, hari ini aku tidak membaw pulpen" Airyn mendorong tubuh Hansell untuk menjauh darinya, sembari berlalu meningalkan pria yang masih melihat tiga angka di telapak tangannya.
__ADS_1