Story Of Hansell

Story Of Hansell
[Story of Hansell Episode : 64] Ingin di perlakukan sama.


__ADS_3

Setelah liburan musim panas selesai, akirnya Hansell berada pada masa terakirnya menjadi sorang siswa, meskipun waktu setahun ini sangatlah singkat, tetap saja banyak kenangan yang mungkin sulit ia lupakan apalagi terkait Airyn, sekarang ia tengah berada pada semester terakir bahkan kurang dari setengah tahun lagi Hansell dan Airyn akan meluluskan diri dan meningalkan sekolah ini, sungguh Hansell berharap jika ia dan Airyn akan terus bersama sekalipun tidak pernah bertemu lagi setiap harinya.


“Airyn......” teriak Hansell ketika melambaikan tangan pada gadis yang baru saja menuruni mobilnya, bahkan Hellena berdecak kesal melihat pria itu amat antusias menyapa gadis menyebalkan tersebut.


Kenapa senyum dan kebahagiaan itu tidak Hansell berikan pada Hellena, bahkan sejauh ini perjuangan yang Hellena berikan tetap saja tidak membuahkan hasil, selain fakta dirinya harus mundur lantaran Hansell dan gadis menyebalkan itu. saling mencintai.


“Kenapa kau masih berdiri disini, apa kau sengaja untuk di hukum” bentak Nona Petrov dengan jengkelnya, gadis itu membulatkan mata penuh peringatan untuk melangkah mendekati Hansell.


Airyn tidak percaya dengan apa yang ia saksikan pagi ini, bagaimana bisa Hansell begitu santai tersenyum manis kearahnya padahal semua siswa dan siswi berhamburan untuk masuk ke sekolah dengan langkah besar dan cepat mereka.


“Aku menunggumu” ungkap pria itu ketika tersenyum malu untuk menyesuaikan langkah mereka, bahkan wajah bodoh yang Hansell tampilkan membuat Nona Petrov menatap kagum.


“Apa kau bodoh, kita akan dihukum jika kau terus tersenyum seperti itu, cepatlah bergerak” teriak Airyn seraya memaksa pria itu bergegas memasuki sekolah, melihat kegelisahan di gurat wajahnya, membuat Hansell menyamaratakan dirinya dengan langkah mungil gadis itu, bahkan ia tengah memandangi Airyn yang kesulitan berlari kearah kelas.


“Kemarikan tas mu, biar aku bawa” paksa Hansell saat mengambil alih tas punggung yang Airyn kenakan di punggungnyq.


Bahkan pria yang tidak pernah peduli akan apapun, kali ini begitu peduli disaat gadis yang ia sukai kelelahan, sehingga Hansell merampas beban yang memberatkan gadis yang ia sukai, melihat sikap Hansell yang begitu posesif membuat Airyn tidak memiliki pilihan untuk menolak, mereka saling melangkah dengan tergesa untuk mengejar keteralambatan.


Hansell terhenti ketika Airyn menarik nafas dengan sesak, bahkan tangga yang mereka lintasi begitu tinggi hingga Airyn perlu mengontrol oksigen yang ia konsumsi secara berlebihan, gadis itu menepiskan keringat yang sudah membasahi pelipis, bahkan Hansell menyelisik tajam kearah wajah Airyn disaat kecantikanya membutakan mata Hansell tentang gadis lainya, kenapa Hansell tidak pernah bosan memandangi Nona Petrov, bahkan melihat gadis itu setiap pagi siang dan sore hari bisa meningkatkan suasana hatinya yang buruk, sehingga apapun yang dilakukan olehnya terus menampilkan sisi uang mengemaskan, bahkan Hansell tidak menyangka dia akan menyukai Airyn sejujur ini.


"Cepatlah, kau akan telat" paksa Hansell diantara peristirahatan mereka.


"Apakah aku harus membangun banyak lift disekolah ini" saut Nona Petrov dengan sikap pasrah.


Membuat Hansell tersenyum manis, ketika Airyn menyeret diri sekalipun ia sudah kehabisan tenaga, bahkan Nona Petrov berusaha berpegangan pada pembantas besi yang ada di tepian tangga, sehingga sikapnya itu membuat Hansell menahan tawa dengan begitu sulit.


"Apa kau tidak pernah olahraga"


"Kau fikir diriku punya waktu melakukanya" ketus Airyn saat berdecak kesal.


"Ah, pantas saja kau tidak sepeti orang yang memiliki kekuatan, dasar lemah" ejek Hansell untuk menggodanya, membuat Airyn menajamkan mata namun menghentikan umpatanya.


“Kemarikan tas ku, pergilah ke kelasmu, jika kau tak lekas menghilang, aku benar-benar akan memukul wajahmu yang menyebalkan itu” paksa Airyn seraya merampas benda yang Hansell bawakan


Bahkan Airyn mendorong paksa tubuh Hansell untuk segera memasuki kelasnya, sebab jika ia berlama-lama Hansell benar-benar akan kena hukuman.


“Cepatlah pergi, kenapa wajahmu terlihat menyedihkan” dengkus Airyn ketika mencebikan bibinya kehadapan Hansell.


“Apa kau ingat janjimu?” tanya pria itu dengan antusiasnya, ketika ia masih belum rela memisahkan diri dengan Airyn.


“Janji?" beo gadis itu dengan sikap bingung. "Janji apa lagi” decak Airyn dengan nada kesal.

__ADS_1


“Janji yang saat itu kau ucapkan di telfon, bukankah kau mengajak ku makan siang di luar setelah kembali ke Irlandia, apa kau lupa”


“Ah janji itu…..aku ingat. Nanti saja kita diskusikan, masuklah” paksa Nona Petrov dengan cemasnya, bagaimana bisa pria itu menunda-nunda waktu padahal keterlambatanya memasuki kelas bisa saja membuat Hansell di hukum oleh guru.


“Baiklah, aku akan menangihnya. Sampai jumpa nanti siang, belajarlah yang rajin, aku merindukanmu” teriak pria itu di tengah lorong kelas, bahkan mata Airyn membulat secara sempurna atas kata mengejutkan yang ia gemakan, untunglah lorong sekolah di lengkapi kedap suara, sehingga apapaun yang terjadi diluar tidak akan menganggu sistem belajar mengajar yang tengah berlangsung, sadar akan sikap pria yang kekanak-kanakan itu membuat Airyn memasuki kelasnya, dengan senyum kecut yang nyaris tak terlihat.


Bahkan gadis itu terpana diam saat dua orang siswa tengah berdiri di podium kelas, tentu Airyn merasa asing saat semua murid melihat dirinya, tatapan diam dari mereka membuat Nona Petrov begitu canggung, begitupun dengan sang guru yang tengah mengajar.


“Airyn Petrov, silahkah duduk” putus wanita itu kehadapan Airyn, membuat gadis yang berdiri di ambang pintu mengedarkan pandangan kearah sekitar, sebelum akirnya menganggukan kepala untuk menyetujuinya, tentu beberapa siswa berbicara dengan pelan, bahkan tedengar sedikit samar.


Hingga........


“Berdiri!!!" teriak beliau pada seorang gadis yang baru saja memasuki ruang kelas, membuat Airyn memalingkan wajah menatap kearah depan ketika ia menaruh tasnya di sisi meja. "Bagaimana bisa kalian telat padahal toleransi keterlambatan sudah saya berikan selama 5 menit, astaga...... ” kesal beliau pada sang murid yang baru saja memasukinya.


"Bu, hanya beberapa menita saja" keluhnya dengab nafas terengah.


"Meskipun hanya satu detik, aku tidak akan menoleransi sikap ini" kesal Bu Lamna dengan jengkelnya, bahkan membuat ke-3 orang itu berdiri patuh untuk mendapatkan hukuman.


Tentu Airyn menatap bingung kearah depan, bahkan dirinya dipenuhi pertanyaan atas apa yang sedang terjadi, apa yang sedang mereka lakukan dan mengabaikan Airyn, apakah orang-orang yang tengah di hukum itu murid-murid yang terlambat, tapi kenapa Airyn di perbolehkan duduk, padahal Airyn juga sama dengan mereka bahkan ia lebih terlambat dari dua orang yang sedari tadi berdiri di podium kelas, namun wanita yang di panggil akrab Bu Lamna selaku guru mata pelajaran sejarah itu meminta Airyn mendudukan diri dan mengabaikan kedisiplinan untuknya.


Apakah sikap yang sedang ia tampilkan karna status yang Airyn miliki, atau karna pengaruh yang ia punya, sehingga beliau melewatkan Nona Petrov? Meskipun begitu, bukankah Airyn masih termasuk ke dalam siswa biasa terlepas dari pangkat dan jabatan yang dia miliki, bahkan Airyn melepaskan segala atribut kekuasaan bahkan namanya sendiri, tapi kenapa orang-orang masih saja bersikap seperti ini, seolah-olah Airyn adalah sesuatu yang tinggi untuk di segani, dihargai, dan dihormati.


Kenapa mereka tidak pernah memperlakukan Airyn setara, seperti Hansell memperlakukan dirinya. “Apakah anda sedang menghukum mereka” lirih Nona Petrov dengan kalimat dingin, bahkan membuat seisi kelas diam seraya menatap kearah dirinya.


“Benar nona, mereka-“


“Nona?” beo Airyn dengan pandangan merendahkan. “Apakau kau bekerja sebagai guru yang mendidik para siswa, atau pelayan Nona Petrov” kesal Airyn dengan begitu geramnya, bahkan membuat semua orang saling berbisik atas tindakan yang di lakukanya.


Melihat sikap gadis itu, Lamna melepaskan spidol air yang berada di tanganya, seolah ia ingin mendengarkan perkataan kasar yang akan di lontarkan Nona Petrov.


“Kenapa kau tidak memperlakukan aku seperti mereka? kenapa kau membedakan muridmu, seolah kau menempatkan aku di tempat yang berbeda dari mereka, apa kau tidak melihat aku mengunakan seragam sekolah dan duduk di kursi yang sama dengan mereka, bahkan aku bersikap seperti siswa, tapi kenapa seorang guru malah mengelompokan muridnya dan membeda-bedakan, apakah kau bangga disebut guru saat kau sendiri tidak memiliki contoh yang baik untuk menyandang status itu” teriak Airyn dengan tidak terima, bahkan ia begitu kesal hingga membuat semua orang terpana diam mendengar penghinaan darinya.


Wanita yang terus mendengarkan hinaan dan omongan Nona Petrov menatap dingin kearah depan, bahkan ia menghela nafas dengan berat seraya menghempaskan buku yang tadinya sudah di bentang.


Tentu Airyn ingin mendengar penjelasanya, setidaknya Airyn ingin mendengar apa yang akan di katakan wanita itu. “jika kau tidak ingin di perlakukan berbeda maka berubahlah” ketusnya dengan tatapan jengkel.


Bahkan membuat semua murid terpana oleh sikap Bu Lamna yang cukip berani bicara lantang pada Airyn, apakah wanita itu sudah lelah hidup hingga memerlakukan Nona Petrov yang mengerikan dengan kasarnya, Dikra yang sedari tadi menengelamkan kepalanya untuk tidur, mengangkat kesadaran diri untuk. menyaksikan perdebatan pagi ini.


“Kau ingin disamaratakan dengan semua murid, tapi status, pangkat, pengaruh, kekuasaan, tahta, harta, bahkan segala nama baik yang kau punya tidak bisa dilepaskan darimu, apa kau tahu seperti apa dirimu, kau gambaran dari barang mewah yang original dan satu-satunya di dunia tapi ingin diperlakukan seperti barang obral yang dijual di pasaran, apakah kau fikir itu mungkin” terus wanita itu dengan ungkapan kata yang begitu kesal, sebelum akirnya meneruskan penuturanya yang belum di selesaikan.   “Semua orang mengetahui, jika nona petrov adalah orang yang mewarisi yayasan internasional terbesar di negara ini, Nona Petrov adalag gadis terkenal yang dinobatkan sebagai ratu perekonomian Inggris, selain itu kau menguasai Eropa dan melebarkan sayap ke Asia, bahkan menempatkan posisi ke 2 sebagai orang berpengaruh di dunia, hingga menjadi pemecah rekor dunia sebagai pembisnis muda ada abad ini. Menurutmu bagaimana cara aku bersikap biasa pada orang setinggi dirimu, bahkan dengan pendidikan yang aku miliki dan dari latar belakang keluarga yang berbeda, hingga kasta, apakah itu mungkin? Sedangkan aku hanyalah orang biasa mengabdikan diri sebagai guru dan juga menunaikan pekerjaan, kau fikir aku bisa berlaku santai padamu, disaat para pentinggi menuntutku menghargaimu, menghormatimu, bahkan menjunjung harga dirimu dan tidak menyulitkan mu, menurutmu apakah orang sepertimu masih pantas aku hukum seperti mereka! Nona Muda Petrov, aku mengerti perasaanmu, tapi kau harus mengerti posisiku, tempatku dan tempatmu berbeda, jika kau ingin aku perlakukan seperti mereka, maka berubahlah, lepaskan semuanya agar tidak ada yang aku takutkan untuk memperlakukanmu semena-mena, setidaknya sebagai guru biasa” bentak beliau dengan jengkelnya,  bahkan membuat Airyn mengerjapkan mata dengan kalimat yang tidak bisa ia bantah itu.


Tentu semua orang memilih bungkam tanpa ada yang mampu bicara, rasanya guru yang menantang dan menghina Airyn memiliki nyawa cadangan untuk hidup ini, membuat mereka dilanda takut yang berkepanjangan hingga memalingkan wajah seolah tak mendengar apa-apun.

__ADS_1


Sadar keadaan hening dan semuanya menjadi sangat canggung, Airyn mengamati sekitar, ia mulai sadar, di sekolah ini tak ada yang memperlakukanya sebagai teman, tak ada yang memperlakukanya sebagai murid, bahkan tak ada orang yang bersikap santai dan berbicara senormal mungkin, semuanya penuh hormat dan tak ada yang berani menyinggung dirinya, bahkan saat Airyn berdiri di tengah-tengah tempat yang ia inginkan, keadaan seperti menyadarkan gadis itu, , jika Airyn memang tidak pantas berada diantara mereka.


“Kalian bertiga, ikut aku keluar” putus Bu Lamna dengan kesalnya pada murid yang tengah ia hukum di podium, bahkan ia berlalu meninggalkan kelas disaat Airyn mendudukan diri dengan segera.


*


Jam istirahat kedua, bahkan Hansell sudah mencari Airyn kemana-mana namun tidak menemukanya, di karenakan Dikra dan Hellena memaksa Hansell untuk makan siang, membuat pria itu terpaksa melakukanya, setidaknya Hansell mengerti, pasti Airyn memiliki pekerjaan mendadak lagi, untuk itulah ia mendudukan diri di kantin sekolah sembari menanguhkan tubuh untuk menempatinya.


Di tengah makanan yang Dikra nikmati, ia baru ingin sesuatu, jika Dikra perlu membicarakan tentang Airyn pada Hansell, setidaknya Hansell perlu mengetahui kejadian hari ini, namun disini ada Hellena, apakah inu waktu yang tepat melakukanya.


“Apa kau tidak tahu bagaimana mengerikanya kelasku, bahkan aku tidak percaya guru itu menghina Nona Petrov hingga membuatnya terdiam. Astaga…..jika aku menceritakan hal ini pada papi ku, mungkin ia begitu antusias mendengarnya, dan terasa melintasi lembah yang begitu curam”


"Bukanlah Bu Lamna luar biasa, ia bicara dengan begitu jujurnya sampai aku saja merinding mendengar orang memperagakan kejadin itu. Ternyata hidup menjadi Nona Petrov tidak selamanya indah”


“Tentu saja tidak indah, sebagai pemilik segalanya yang tidak memiliki kekurangan tanpa sadar menjadikan Nona Petrov sebagai orang yang serakah, jadi semua yang ia miliki, dan kejadian hari ini, pantas saja dialami, sebab kau memberikan harga mahal atas kenikmatan hidup yang kau habiskan. Jadi jangan mengkasihani dirinya, Nona Petrov sudah pantas mendapatkan penghinaan itu dari bu Lamna”


Gosip dua gadis yang duduk di belakang Hansell, bahkan suara dan pembicaraan mereka membuat telinga Hansell begitu jengah, sampai Dikra memejamkan mata atas kesialan ini, padahal ia sudah berniat menjelaskanya, tapi dua gadis bodoh itu semakin memperkeruh suasana.


“Pengihaan apa!!” bentak Hansell ketika mengempaskan tinjunya ke permukaan meja, bahkan membuat dua gadis yang bergosip itu berteriak tak menyangka, tentu mereka tidak percaya jika pria itu akan sekasar ini hingga membuatnya kaget.


“Kenapa kau kasar sekali” teriak seseroang yang kala itu menatap tajam kearah Hansell.


“Katakan padaku, apa yang terjadi pada Airyn!” bentak Hansell disaat mencengkram kasar lengannya, bahkan Dikra dan Hellena berdiri dari tempatnya sebab Hansell membuat keributan di kantin sekolah.


“Lepaskan aku, kau menyakiti tanganku” bentak gadis itu dengan penuh ancaman, bahkan suaranya yang menjerit kesakitan membuat Dikra menahan tubuh pria itu.


“Hansell, lepaskan dia. Kau melukainya!” paksa Dikra ketika meminta Hansell menahan emosinya, tentu tatapan membunuh yang Hansell tampilkan tidak meredakan amarahnya, namun mau tak mau Hansell harus melepaskan gadis itu.


“Katakan padaku, apa yang terjadi pada Airyn!” ancam Hansell dengan tatapan mengerikan, bahkan membuat dua gadis yang dirundung takut saling menatap ragu untuk mengatakan kejadian yang terjadi di kelas.


Hening membentang saat Hansell menyimak semuanya, bahkan ia mendengarkan apa yang mereka tuturkan, membuat tangan pria itu mengepal, wajahnya mengelap secara sempurna, seraya berlari sekecang mungkin untuk mencari Airyn, bahkan Hansell mengabaikan darah yang ada di permukaan tanganya, hingga membuat Dikra tidak menyangka tetesan darah itu sudah seperti jejak yang Hansell tingalkan.


“Astaga, kenapa dia sebegitu cintanya” gerutu Dikra dengan tidak habis pikir, bagaimanapun semenjak Hansell menyukai Airyn, sahabatnya seperti tidak memperdulikan hal apapun lagi, tentu dalam hal ini Dikra mengerti, hanya saja jika Hansell mengabaikan dirinya sendiri sebab mencemaskan gadis itu, ini semua sangatlah kelewatan.


“Aku ingin sekali membunuh Airyn” geram Hellena atas apa yang tengah ia saksikan, bagaimana bisa Hansell menjadi pribadi yang berbeda, hanya karna gadis sialan itu, bahkan Hansell terlihat menyedihkan dan kacau, tentu Hellena tidak bisa terima, lantaran rasa sukanya hampir mendarah daging.


“Haga ucapanmu Hellena” ancam Dikra pada gadis itu, bahkan ia menarik paksa tubuh Hellena dengan kasar untuk menyadarkan dirinya yang di landa amarah dan dendam. “Jangan berani-beraninya kau melakukan sesuatu pada Airyn, kau boleh menyentuh yang lain tapi tidak dengan gadis itu, apa kau mengerti!”


“Kenapa?” kejar Hellena dengan menantang.


“Karna Nona Petrov bukanlah tandinganmu” batin Dikra dengan mata mengancam, rasanya terlalu dini mengungkapkan jati diri Airyn, tapi jika Dikra mengatakanya maka Hellena tidak akan mendapatkan hukuman, setidaknya dari Nona Petrov pria itu berharap Hellena diberi balasan setimpal atas apa yang ia lakukan pada Ageline, meskipun semenjak akrab denganya, membuat Dikra sedikit sadar, jika Hellena cukup menyedihkan dan ia juga tidak seburuk itu menjadi teman Angeline, tapi kenapa Dikra masih belum siap mengatakan kebenaran dan terus menunda waktu untuk mencari moment yang tepat agar mengungkapkan segalanya.

__ADS_1


 


__ADS_2