
Brakk...........
Sontak membuat Hansell terpaku diam memandangi gadis kecil yang baru saja terjatuh dari sepeda mininya, Hansell menghentikan langkah kaki yang sedang bersantai itu, untuk sesegera mungkin membantu.
Gadis kecil yang ada di hadapanya menangis dengan cukup kencang, lantaran luka luar yang mengores lutut pasti amat perih, bahkan Hansell tidak menyangka anak sekecil ini di biarkan menaiki kendaraan tanpa pengawasan orang tua.
"Apa ini sakit?" tanya Hansell sembari membantunya keluar dari sepeda yang menimpa sebagian tubuh mungil yang tidak berdaya.
"Sakit sekali paman" ucapnya dengan meringis.
Membuat Hansell mengangkat tubuh itu untuk dibawa menepi kepingir jalan, Hansell mendudukannya diantara kursi kayu memanjang yang ada di taman.
"Apa aku setua itu, sampai dia memanggil ku paman" batin Hansell dengan tidak enak hati, namun ia berusaha memberikan pertolongan pertama seraya menanti orang tua yang mungkin akan mencari anaknya.
"Sayang, paman bantu untuk menghentikan pendarahannya, meskipun lukanya tidak terlalu parah, tapi jika di biarkan ini akan membuatmu terinfeksi nantinya"
"Apa paman dokter?" balas gadis kecil yang sedang menangis tersedu-sedu, namun tetap membalas perkataan Hansell dengan tertatih.
"Paman bukan dokter, tapi paman bisa membantu mu menghentikan luka ini" balas Hansell dengan nada pemgertian, berharap ia bisa membujuk gadis yang sedang terluka.
"Apakah itu akan sakit?"
"Mungkin akan terasa sedikit sakit" balasnya saat mengangkat jari tangan dengan ukuran kecil, agar bisa mengibaratkan sakitnya, membuat gurat cemas di wajah penerimanya mampu ia akses dengan sangat jelas.
"Astaga apa aku menakutinya" batin Hansell dengan gusar, sebelum akirnya menjelaskan dengan kalimat lebih ringan lagi.
"Paman mengerti ini sangat sakit, tapi mengobati luka luar sangat penting di lakukan supaya tidak menjadi parah, ngomong-ngomong dimana orang tuamu nak?"
"Mama......" seketika gadis itu menekuk wajah dengan cukup gundah, bahkan Hansell dapat melihat ia cukup engan untuk mengatakanya.
"Baiklah, paman tidak akan bertanya lagi. Tapi izinkan aku mengobati lukanya saja" kejar pria itu dengan penuh harap.
"Apa kau akan menyuntik ku dengan jarum?"
"Tentu saja tidak" balas Hansell dengan senyum ramah yang paling indah, bahkan ia tidak menyangka kepolosan gadis kecil itu sungguh meluluhkan jiwanya yang sangat kusut, saat memikirkan Airyn akan menyetujuinya atau tidak.
"Paman bukan dokter, tapi paman pria yang cukup pintar, setidaknya untuk mengobati luka seperti ini, paman masih bisa melakukanya dengan hebat"
"Benarkah....kalau begitu, bisakah kau mengobatiku"
"Tentu saja"
Hansell mengeluarkan sapu tangan kecil yang selalu ia bawa kemana-mana, pria itu membuka lipatan kain lembut tersebut untuk di tekan ke area luka agar bisa meminimalisir darah yang akan keluar, setidaknya menutup luka seperti ini bisa menghindari tubuh seorang untuk terkena infeksi virus.
"Paman menutup lukanya dengan sapu tangan, agar bakteri jahat tidak menyerang lukamu" jelas Hansell sembari menampilkan senyum tulusnya, bahkan jemari tangannya tampa sadar bergerak untuk menepiskan air mata yang terus berjatuhan.
__ADS_1
"Apa kau sering mengobati luka gadis lain?"
"Tidak, aku hanya sering mengobati luka adiku saja"
"Pasti adikmu sangat bahagia memiliki kakak sepertimu paman"
"Tentu saja, kau juga harus bahagia bertemu denganku" balas Hansell dengan tawa penghibur, agar anak kecil yang tidak ia kenali itu berhenti meringis atas keperihan luka tersebut.
"Aku bahagia karna kau cukup tampan" puji Sense ketika tertawa polos kehadapan Hansell, hingga kedua matanya membulat secara sempurna, seraya melengkungkan senyum yang nyaris tak terlihat jika tidak di perhatikan dengan seksama.
"Apakah aku benar-benar tampan?" tanya Hansell dengan penuh harap, rasanya ia ingin sekali mendegar hal itu sekali lagi, sebab perkataan yang anak kecil ungkapkan tidak mungkin ada unsur kebohongan.
"Percayalah padaku, kau sangat tampan sekali" hingga mereka saling berterimakasih atas pujian yang saling saut-sautan tersebut.
Hansell sudah selesai membantu gadis itu untuk menghentikan pendarahan di kakinya, bahkan mereka sudah melewatkan 10 menit untuk sekedar bicara, namun tidak ada satu orangpun yang menghampiri, bahkan Hansell tidak percaya seseorang akan membiarkan anaknya keluar begitu saja.
Orang tua mana yang akan membiarkan anaknya hilang selama ini, bahkan jika di perhatikan umur gadis yang berselonjor diatas kursi taman itu sangatlah muda, mungkin sekitar 7 sampai 8 tahun.
Hanya saja jika dilihat dari pakaian yang di kenakan, nampaknya gadis itu bukanlah orang sembarangan, sebab pakaian yang ia gunakan bukanlah pakaian murahan, itu sangat mahal dan pasti tergolong kalangan atas, jadi dapat di pastikan jika ia memiliki pelayan yang harusnya menjaga, tapi saat ini kemana mereka.
"Sayang, siapa nama mu?" tanya Hansell dengan nada pengertian, membuat Sense menjulurkam tangan kecil itu untuk menjabat tangan pria yang menolong dirinya.
"Sense"
"Hansell"
Sense mengunakan pakaian berwarna merah muda dengan rambut ikat dua yang membuat pipinya semakin mengemaskan, Hansell berdiri dari duduknya setelah berjongkok untuk mengobati luka di kaki gadis itu.
Sense mengatur tempat duduknya untuk memberikan Hansell wilayah di sampingnya, tentu sepintas lihat Hansell dapat mengerti apa isi kepala gadis itu, bahkan rasanya Hansell ingin kembali pada dirinya dimasa muda, ketika seusi dengan Sense.
"Sense, biar paman katakan satu pengalaman yang paman alami padamu. Saat aku seusia dengan mu, aku pernah kabur dari rumah, aku tidak mau makan dan tidak mau bermain dengan adik ku, aku hanya mengiginkan boneka taddy bear keluaran terbaru, untuk seorang gadis waktu itu......"
Sontak Hansell terpaku diam, ucapanya seolah terurungkan tatkala mengigat sesuatu yang mungkin sudah di lupakan, siapa gadis yang ia berikan boneka itu? Sebab itu bukanlah Angel adiknya, bahkan Hansell baru sadar jika ia pernah menaruh perhatian pada gadis lain, tapi siapa gadis itu?
"Paman apa kau baik-baik saja, kenapa kau malah diam, bukankah kau akan bercerita" tukas Sense seraya mendongakan kepala melirik Hansell yang lebih besar dari ukuran tubuhnya yang mungil.
Manik coklat yang bersinar itu terlihat bercaka-kaca atas buliran bening yang tanpa terduga ada di kedua matanya, bahkan Hansell tidak mengerti kenapa tanpa sadar ia meceritakan hal yang tidak di ketahui dengan jelas namun terasa begitu akrab.
"Aku baik-baik saja.....tadi paman melupakan sesuatu dan sekarang sudah mengigatnya" balas Hansell dengan sedikit berbohong untuk melanjutkan cerita yang akan di sampaikanya.
"Gadis itu......sangat bersedih, ia kehilangan sesuatu yang paling berharga untuk anak-anak seusia denganya, yaitu ibunya" ucap Hansell ketika mengekerutkan kening begitu dalam, ia seperti mengikis memori lama yang nampaknya sudah diupakan, tapi terasa begitu akrab jika di ulik kembali.
Sebebarnya apa yang sedang Hansell lakukan ini, siapa gadis itu sebenarnya?
Membuat Sense menatap sendu ketika Hansell menjelaskan cerita itu, wajah murung sudah mampu terlihat di permukaan wajahnya, bahkan apa yang di jelaskan pria tampan itu sangat sesuai dengan masalah yang Sense alami.
__ADS_1
"Gadis itu sangat bersedih, aku ingin memberi Taddy Bear untuknya, tapi papaku malah melarang, dia melarang untuk tidak berkomunikasi lagi dengan gadis itu, aku tidak mengerti siapa dia dan kenapa kami harus di pisahkan. Hanya saja atas keputusan papa, aku malah kabur dari rumah dan berdiri di luar gerbang sembari berharap papa berubah fikiran, tapi papa tidak berubah fikiran, ia malah membiarkanku di luar gerbang, hingga paman dan bibi yang tingal di rumahku, merekalah yang malah mencemaskan apakah aku baik-baik saja. Tapi pada akirnya, aku jatuh sakit dan malah pingsan, saat aku sadar, aku malah terbangun di rumah sakit, tapi aku tidak mengeti......."
Hingga segala memori datang berhamburan seperti potongan paling berantakan yang sulit Hansell satukan, ia memejamkan matanya dengan begitu keras ketika rasa perih dan berat mendera kepala.
"Paman apa kau baik-baik saja?" panik Sense tatkala sadar jika pria itu malah meringis kesakitan.
Kenapa tubuhku malah bereaksi sebesar ini saat berusaha keras untuk mengigat, sebenarnya siapa gadis itu dan memori apa yang coba aku ingat barusan, hingga kepingan gambar malah muncul sampai mendera kepala dengan rasa sakit.
"Aku baik-baik saja" paksa Hansell untuk bicara tenang pada gadis di sampingnya, ia menyentuh tangan kecil itu seraya di tenangkan dengan sikap lembut. "Percayalah padaku, jika kau kabur dari rumah dengan usia sekecil ini, pada akirnya kau akan kembali lagi. Lebih baik kau kembali kerumah dan cepatlah tumbuh besar, maka kau bisa menentukan pilihanmu sendiri" membuat Sensi memandang nanar atas nasehat yang Hansell berikan.
Gadis itu berdiri dengan tertatih seraya tegak di hadapan Hansell, ia dapat melihat pria di depanya cukup tulus dan sangat tampan ketika bicara. "Apa kau peramal paman?" celoteh gadis itu dengan lirikan mata nakalnya, membuat Hansell melengkungkan senyuman dengan hangat hingga membuat Sense berdecak kesal saat dirinya malah ketahuaan kabur oleh orang asing. "Aku tidak kabur, aku hanya marah saja pada papa" dengusnya ketika bersendekap di hadapan Hansell dengan wajah imut dan tubuh mungil yang terus saja mengoda, membuat Hansell ingin sekali untuk mencubit pipi bulat itu.
"Baiklah aku percaya, sekarang katakan, dimana rumah mu?"
"Aku lupa jalan pulang....."
"Lalu bagaimana kau bisa sampai sini?"
"Aku mengunakan sepeda, saat aku lihat ada taman bunga aku tertarik untuk kesini, aku tidak mengerti sudah seberapa jauh aku dari rumah, tapi paman tenang saja, aku memiliki GPS di tubuhku...." hingga gadis itu mengeluarkan jam tangan mewah yang nampaknya di produksi oleh perusahaan Airyn, bahkan model ini keluaran terbaru yang baru saja mengemparkan Tiongkok. "Aku perlu menghidupkanya saja, maka orangku akan datang" terus Sense seraya menekan tombol aktif di jam tangan yang ia kenakan, membuat Hansell tersenyum manis untuk mengacak-ngacak rambut anak itu.
Mereka menunggu dengan waktu yang cukup lama, bahkan terlampau panjang percakapan yang terjadi hingga Sense lupa jika luka dikakinya sudah mengering.
Gerombolan orang mendatangi arah mereka dengan wajah panik yang terlihat begitu jelas, Hansell berdiri dari kursi memanjang itu, seraya meladeni para orang yang akan menghampiri.
Sedangkan Sense malah bersembunyi di balik kaki Hansell membuat gadis itu nyaris tak terlihat, jika di perhatikan dengan seksama wajah orang-orang berseragam itu, nampaknya tengah khawatir, jadi berdasarkan pengalamanya, Hansell dapat memastikan jika orang-orang itu adalah anak buah yang bekerja pada Nona Muda ini.
"Sense kenapa kau bersembunyi, bukankah kau bilang orangmu akan datang, sekarang mereka sudah datang, jadi pulanglah, dan lekas obati luka di kakimu"
"Luka dikaki!!! Apa Nona Muda terluka!" panik seorang wanita yang ada di hadapan mereka.
"Apa yang mau lakukan pada Nona Muda" kesal pengawal yang ada di barisan paling depan, ia dengan cepat menarik baju Hansell untuk mencengkramnya dengan kasar, membuat Hansell memberikan pertahanan diri yang kokoh agar pria itu tidak bisa melukainya dengan leluasa.
"Lepaskan dia, dia menyelamatkan ku" tukas Sense dengan penuh marah, hingga cengkraman itu perlahan terlepas.
"Maaf Nona Muda" mereka menekuk kepala dengan hormat seraya mematuhi perkataan Sense.
"Apakah aku yang ingin kau pukul! Seharusnya kau meminta maaf bukan padaku, tapi pada paman Hansell" kesal gadis itu hingga menatap mereka dengan penuh suram, tentu saja ia tidak suka jika anak buah yang di kirim ayahnya, sudah menyentuh paman Hansell.
"Sudahlah, aku baik-baik saja. Sekarang pulanglah, lain kali kita harus bertemu lagi" Timpal Hansell dengan segera, ia menundukan diri untuk sejajar dengan Sense, memberikan senyum ramahnya atas pertemuan singkat mereka. "Ingatlah kata-kataku, jangan melakukan tindakan berbahaya lagi diusia sedini ini" terusnya hingga gadis itu menganggukan kepala penuh sikap mengerti.
Sense berjalan kearah pengawal yang sudah menjemput dirinya, melambaikan tangan kearah Hansell untuk berpamitan pergi, bahkan sebelum para pengawal itu beranjak, mereka semua membungkukan badan untuk mengucapkan maaf dan terimakasih dengan tulus, tentu Hansell yang tidak suka memperpanjang masalah, menerima maaf itu ketika mengulas senyum penuh ramah atas kesalah pahaman yang terjadi.
Mereka semua berlalu mengawal Sense yang berlalu meningalkan untuk kembali pulang, membuat Hansell tersenyum manis saat mengigat bagaimana ketus dan juga pintarnya gadis itu, jika mengigat soal anak kecil, bagaimana Airyn ketika masih kecil? Apakah ia akan sedewasa dan selucu Sense, tapi nampaknya Airyn lebih ganas dari anak seusianya.
Hingga pria itu melangkahkan kaki untuk berlalu pulang ke penginapan, setelah selesai berolahraga sore Harinya. Hansell di sambut hangat oleh pegawai hotel yang ada di bagian gerbang depan, hingga akirnya langkah Hansell terhenti tepat di tepi jalan sebelum memasuki Lobby, kepalanya di dongakan kearah atas sembari mengamati keributan yang mungkin diakses oleh telinga diatap sana, nampaknya apa yang terjadi diatas hotel itu ialah Airyn Petrov yang akan kembali ke Irlandia, membuat Hansell merasa sedikit sedih setelah ajakan kencan yang ia harapkan malah di tolak.
__ADS_1
Tapi jika harus di fikir lagi, orang sesibuk Airyn tentu saja tidak punya waktu bermain-main denganya, bahkan Hansell sangat bodoh berharap gadis itu mau menerima ajakan itu.
"Sayang sekali, dia harus kebali" ucap Hansell dengan senyum getir yang ia paksakan, pria itu berlalu kearah dalam untuk kembali ke kamar hotelnya dengan segera.