
Hansell keluar dari ruangan Airyn setelah berhasil menenangkan ketakutan di permukaan wajahnya, Airyn sudah baik-baik saja setelah memasukan sedikit makanan untuk tenaga yang sudah terkuras akibat lelah, gadis itu masih meluangkan sedikit waktunya untuk memeriksa laporan, bahkan Hansell keluar setelah berdebat cukup sengit terkait pola hidup Airyn yang melewati batas.
Diantara pemikiran yang memenuhi ruang kepalanya, Hansell mengusap kasar rambut bervolume yang hampir memenuhi bagian jidatnya, seolah terkenasan sangat manly namun lembut.
Baru saja tubuh itu ia ajak bangkit dari kursi tunggu, suara langkah kaki beberapa orang membuat Hansell menolehkan kepala kearahnya.
"Permisi Tuan" sapa pria berpakaian formal dengan sikap sopan menghampiri Hansell.
"Iya, ada apa?"
"Apakah anda Tuan Hansell Hamillton"
"Benar"
"Begini, kami adalah pengacara Nona Petrov, apa anda bisa mengantarkan saya keruangan beliau" ucapnya, hingga seluruh mata Hansell beredar kehadapan orang-orang asing berpakaian rapi itu.
"Oh, tentu saja.....silahkan ikut saya" ucapnya dengan nada formal hingga membuat mereka semua mengikuti langkah Hansell yang tengah menuntun.
Hansell menyingkap pintu kamar Airyn, menarik perhatian gadis yang saat ini sedang duduk diatas ranjang tidur dengan infus yang mengalir ketubuhnya, namun masih tetap bekerja.
Mata Airyn menyelisik tatkala Hansell membawa beberapa orang yang membuat keningnya berkerut, gadis itu terlihat sedikit kesal namun Hansell sadar ia tidak bisa memberikan penolakan pada mereka.
"Airyn, maaf aku menganggumu, orang-orang ini ingin bertemu denganmu, apa benar mereka pengacara mu?"
"Benar" sahutnya dengan nada dingin, seraya memancarkan tatapan kearah orang-orang itu.
Mereka memberikan salam penuh hormat ketika Nona Petrov sudah di temuinya, belum sempat mereka mengangkat tubuh, Airyn langsung bertanya apa masalah mereka hingga menemuinya, dengan segera orang yang paling berwibawa disana mengatakan jika mereka ingin memindahkan Nona Petrov ke kamar dan rumah sakit terbaik, selain itu mereka meminta maaf jika baru mengetahui kabar Airyn pagi ini, tentu sebagai orang yang membuat Airyn berada dikamar ini serta rumah sakit ini, ada rasa tak enak sebab menempatkan Nona Petrov diruangan yang belum kondusif dan memadai, hingga Hansell berfikir Airyn pasti akan pergi dan meningalkan ruangan tersebut.
Tapi gadis itu malah mengatakan. "Aku tidak mau” bantahnya dengan segera tanpa mempertimbangkan apapun, membuat Hansell mengangkat pandangan seraya menatap nanar kearah Airyn.
“Tapi Nona....”
“Apa kalian sudah bosan hidup, sampai-sampai menganggu diriku! Keluar!” teriaknya dengan penuh kesal hingga mereka menundukan badan memberi hormat untuk meningalkan ruangan sesegera mungkin.
Wanita itu masih berada di tingkat kesal tertinggi, akibat perlakuan anak buahnya yang menyebalkan.
“Airyn kenapa kau memarahi mereka? Bukankah lebih baik jika kau mendapatkan perawatan yang layak” tanya Hansell dengan segera.
“Aku tidak mau” ketusnya, tentu saja Airyn mengerti apa yang dirasakan Hansell saat mendengar ucapan beberapa orang tadi, bahkan Airyn sangat kesal jika mereka menyinggung Hansell tanpa sengaja.
“Kenapa?” kejar pria itu dengan memaksa.
“Kenapa kau cerewet sekali, memangnya apa salahnya jika aku ada disini! Lagian, apa masalahmu jika aku tidak mau pindah, apapun yang terjadi itu urusanku, urus masalahmu sendiri! Dasar Menyebalkan” celetuknya penuh geram, tatkala mengambil kembali ponsel yang tadi ia singkirkan.
Mendengar hal itu, tentu Hansell tidak berhak lagi mengatakan apapun, selain. "Aku akan keluar, jika ada apa-apa kabari saja"
Ia meningalkan Airyn dengan penuh kesal ketika sikap ketus Airyn selalu saja menyakiti. Kenapa gadis itu sangat kasar dan penuh otoritas tinggi, seolah tidak ada hak orang lain dibumi untuk mengatur hidupnya.
Pria yang hampir tersulut emosi itu, menutup pintu kamar dengan segera, tanganya masih mencengkram handle pintu seraya menatap nanar memikirkan tentang Airyn, rasanya Hansell tidak mengerti kenapa sikap Airyn seburuk ini.
Entahlahh.....yang jelas ia juga mengerti apapun yang di pertimbangkan Airyn pasti sesuai dengan pilihanya yang baik, tapi dari pada memikirkan sikap buruknya, Hansell sangat menyayangkan kenapa Airyn begitu sibuk dengan pekerjaan.
Bahkan Hansell tidak mengerti diusianya yang masih sangat muda, Airyn terlalu matang untuk berbisnis, bahkan ia sosok pekerja keras yang memuat Hansell sadar, jika usaha yang Hansell kerahkan, masih belum seberapa, jika di bandingkan dengan Nona Petrov.
Gadis itu tidak hanya totalitas dalam prinsipnya, namun tenaga dan waktu memang terkuras kesana, tentu dengan semua itu Airyn bisa mencapai posisinya saat ini, jadi tidak salah kenapa Airyn sulit terkalahkan, sebab dirinya memiliki kekuatan yang kuat dari dalam diri.
*
__ADS_1
Langkah itu tergerak kebelakang, membuat Hansell memundurkan diri hingga mentok ke dinding lift, matanya melirik sepasang suami istri yang baru saja memasuki lift yang sama denganya, membuat Hansell menarik senyum tipis yang ia ulas dengan diam-diam.
Nampaknya, sang suami tengah sakit, ia menempati kursi dorong sedangkan istrinya dengan sabar memberikan sikap perhatian nan penuh hati-hati, rasanya Hansell sedikit berharap jika nanti terjadi sesuatu hal dimasa depan, ada sang wanita yang menemaninya dalam keadaaan apapun.
Tapi wanita seperti apa yang nanti menemani Hansell, apakah Airyn bisa menerima dirinya untuk menata masa depan bersama, alahkan indahnya masa depan yang ingin Hansell rancang jika sang permaisuri adalah Airyn Petrov yang mengisi singasananya.
Hingga dering ponsel di saku celana Jeans panjang yang Hansell kenakan, menarik perhatian mereka ketika ada dibilik lift itu, bahkan wanita yang saat ini berada dibelakang suaminya, memutarkan kepala melirik ponsel Hansell yang berdering kencang.
Membuat Hansell merogoh saku celananya, dengan senyum segan untuk melihat nama yang tertera disana. "Hellena" ucapnya dengan bingung seraya merendahkan volume nada yang mericurhkan.
Hingga beberapa saat, pintu lift terbuka lebar, membuat Hansell keluar sesegera mungkin, ia mengangkat pangilan dari dari Hellena.
"Hall-"
"Kakak......" teriak seornag gadis dengan hebohnya, himgga membuat pria itu menjauhkan ponsel sesegera mungkin, tatkala suara Angel menyapanya dengan nyaring, hingga memekakan indra pendengar Hansell.
"Angel, dimana sopan santunmu, saat orang yang kau telfon belum menyapa kau sudah mencela" ketus pria itu pada adiknya dengan nada bercanda.
"Aku terlalu bersemangat menelfon kakak. Tapi kenapa kau belum pulang juga, Darrel bilang semalam kau memintanya untuk mengurus kepulangan, tapi hal apa yang membuatmu membatalkanya?" tanya Angel dengan ingin tahu besar, bahkan ia mengerucutkan bibir ketika pria itu terlalu lama disana.
"Kakak ada sedikit urusan disini, kau jaga diri baik-baik"
"Aku pasti menjaga diriku, tapi anak buahmu yang mengikuti, terlalu membuatku risih kak. Bisakah kau kurangi sedikit" pinta Angel kepada kakaknya, berharap pria itu melongarkan penjagan yang super ketat.
"Bisa saja, asalkan Dikra yang menemanimu jika mau pergi keluar atau kemanapun tanpa bantahan" balas Hansell dengan senyum licik seolah ia mengerti Angel tidak akan mau.
"Tidak....tidak....begini saja! Aku tidak mau pergi denganya, tidak mau" kear gadis itu dengan segera. "Dan kakak cepatlah pulang, apa yang kakak lakukan disana, sampai selama itu" terusnya lagi sambil melipat kedua tagan dengan sikap marah.
"Kakak bekerja disini"
"Apa maksudmu gadis lain, aku hanya bekerja" kesal pria itu saat membalas perkataam adiknya dengan gelagapan, bahkan matanya membesar ketika mendegar celotehan kritis dari Angeline. "Lagian, kenapa aku tidak boleh memiliki wanita, bagaimanapun aku tetap pria normal" tanya Hansell.
Membuat Angel berlalu sedikit jauh dari Hellena untuk bicara secara pribadi dengan kakaknya. "Aku tidak melarangmu, tapi aku tidak suka jika wanitamu adalah orang sembarangan yang tidak cocok denganku, bagaimanapun di dunia ini aku hanya punya kakak! Jika wanita itu tidak sesuai dengan karakterku, aku tidak suka" lirih Angel pada Hansell, membuat pria itu terdiam saat adik kandungnya bicara dengan sunguh-sunguh, bahkan Hansell tengah berfikir bagaimana sikap introvert adiknya yang tidak mudah di dekati.
"Tentu saja, aku tidak ingin kau berkencan karna aku akan menjodohkan Hellena denganmu, karna gadis itu adalah pilihan terbaik yang bisa kau dapatkan" batin Angel seraya menatap Hellena yang ada dibelakangnya. "Sampai waktunya datang, aku akan berjuang menyakutan kalian" ucapnya penuh harap.
Sungguh, mata Hansell menatap nanar ketika memikirkan perkataan adiknya, bahkan ia sedang berfikir, apakah Angeline yang manja dan penuh sikap kekanak-kanakan, akan cocok dengan Nona Petrov yang dewasa penuh dengan arogansinya? Hansell rasa tidak!
Untuk itulah, apa yang harus Hansell lakukan, jika adiknya sekritis ini, jangankan untuk mengenali mereka berdua, bahkan Hansell belum memenangkan hati Airyn, bagaimana caranya untuk mengenalkan Angeline dan Airyn.
"Kakak....apa kau masih disana?" putus Angeline seraya menjauhkan ponsel itu untuk memastikan apakah alat komunikasi antara masih menyala atau tidak.
"Kakak disini, ada apa?"
"Kenapa kakak diam saja?"
"Tidak ada, tadi hanya ada sedikit pesan" alasan pria itu. "Oh iya, kenapa kau menelfon kakak dari ponsel Hellena, dimana ponselmu?"
"Nah itu dia, sebenarnya ponsel Angel hilang"
"Bagaimana bisa hilang! Astaga Angeline, bagaimana bisa kau ceroboh dengan barang privasimu" decak Hansell penuh kagum pada adiknya.
"Angel meningalkanya saat ke toilet umum, entahlah, aku juga bingung kenapa bisa hilang" kesal gadis itu, bahkan ia baru selesai menangis setelah kehilangan ponsel.
"Jadi bagaimana?" tanya Hansell lagi.
"Kakak belikan yang baru" pintanya penuh harap.
__ADS_1
"Kakak tidak mau, kau carilah ponselmu, setelah kau tidak menemukanya baru kakak belikan"
"Tapi dimana aku harus mencarinya, apakah aku perlu lapor polisi atas kehilangan ini"
"Itu masalahmu, karna kau sendiri yang menghilangkan benda itu"
"Kakak!" teriak Angeline dengan kesal. "Kenapa kau pelit sekali"
"Ini bukan masalah harga atau pelit Angel, apakah kau tidak bisa melihat nilai pada benda itu, kau bayangkan saja seberapa berharganya privasi yang ada di ponselmu, foto kenang-kenagan dengan papa, documen, bahkan data-datamu disana, dan kau semudah itu meminta ganti tanpa berusaha mencarinya, itu sikap yang tidak baik" tegar Hansell sambil lalu, seraya menuju ruang Airyn, bahkan ia sudah mencapai diambang pintu namun mengurungkan niat untuk masuk sebab ponsel Angel masih menyala.
"Aku sudah mencarinya kemana-mana tapi tetap tak ditemukan, Angel juga bingung dan sedih atas ponsel itu" lirih Angeline dengan nada rendah, saat mengigat bagimana banyaknya privasi dan juga kenang-kenagan diponsel mililnua, membuat Hansell menarik tanganya yang barusan sudah mencapai Handle pintu, seraya memghela nafas dengan berat untuk bicata pada adiknya.
"Baiklah...baiklah...kabari Darrel untuk membelikan ponsel barumu, nanti akan kakak coba untuk melacaknya" hingga telfon itu terputus ketika Angel belum sempat mengakhirinya.
*
"Astaga! Apa kesibukanya disana hingga memutus pangilanku" gerutu gadis itu ketika Hansell mematikan ponsel tanpa salam perpisahan, bahkan Angeline terlihat sangat kesal ketila mengigat foto-foto keluarga diponsel itu, tapi benda miliknya sudah hilang.
Benar kata kakaknya, kehilangan ponsel mungkin tidak seberapa, namun Velue dari benda itulah yang sangat berharga, sebab setelah semuanya hilang mungkin Angel harus belajar untuk mengikhlaskan kenang-kenangan.
"Angel bagaimana?" tanya Hellena ketika menghampiri gadis itu duduk disampingnya.
"Entahlah, aku tidak mengerti lagi" pasrah Angel dengan kesal.
"Yasudah kita gabung lagi di table temanku, biar kau tidak kesal lagi" ajak Hellena sambil menarik Angel untuk keluar dari Toilet Bar.
Sungguh, ini pengalaman pertamanya ketempat hiburan malam, bertemu dengan teman-teman Hellena, melihat mereka mengonsumsi Alkohol dan gaya pacaran yang kebablasan, sampai-sampai pakaian yang digunakan semuanya membuat Angel merasa berbeda dari mereka.
Tapi apa boleh buat, Angel terlanjur mengibuli anak buah kakaknya dan berhasil mencapai Club malam ini, ia berhasil meningalkan seorang teman Hellena dikamar untuk mengantikan dirinya, sedangkan Angel dan Hellena main ke Club malam tanpa izin Hansell.
"Bagaimana perasaanmu, apa sudah membaik?" tanya Hellena diantara kebisingan musik yang memekakan telingan, membuat Angel mendekatkan telinganya kearah Hellena sembari menganggukan kepala.
"Aku baik-baik saja, Verry happy" balasnya dengan penuh terimakasih sudah mengajari Angel cara bersosialisasi.
*
"Dimana Hansell?" celetuk pria tampan itu kearah Dikra, membuat Dikra tersenyum manis sambil meneguk alkohol di gelasnya.
"Hansell ada di Tiongkok, ia mungkin akan kembali 2 hari lagi" balas Dikra dengan yakin, padahal ia tidak menghubungi kapan Hansell kembali atau tidak, tapi menurut feeling pria itu akan pulang dengan waktu dekat.
Membuat lawan bicara dihadapan Dikra menganggukan kepala dengan mengerti sebelum menatap bingung kesembarang arah, sadar akan hal itu kening Dikra berkerut, ia menghentikan kegiatanya seraya menepuk bahu temanya.
"Kenapa memangnya? Kenapa kau terlihat bingung" tanya Dikra dengan ingin tahu.
Membuat pria itu mengangkat kepala untuk mempertimbangkan apa yang ia lihat barusan. "Aku ingin bertanya, tapi kau harus jawab degan jujur"
"Memangnya apa? Jangan membuatku kesal" dengus Dikra dengan tidak suka.
"Begini, aku melihat mantan ku dimeja bawah, jadi tak sengaja aku menyapanya, hanya saja ada Hellena disana bersama seorang gadis asing yang terasa familiar m"
Sontak mata Dikra membulat dengan sempurna ketika nama Hellena disebut-sebut, ia yang tadi hanya ingin sekedar tahu untuk memperpanjang perbincangan mereka, kali ini menaruh ingin tahu besar.
"Sebelumnya aku tidak pernah melihat gadis itu disini, tapi aku sangat familiar dengannya, untuk itulah aku mengira apakah mungkin jika gadis itu adalah adik Hansell, sebab ia dekat dengan Hellena bukan"
"Dimana kau melihatnya" geram Dikra penuh kesal ketika mencengkram kerah baju temanya, bahkan tatapanya memancar tajam saat nama Angel disebut, bahkan pria yang tadi sedang bicara itu dibuat terpaku ketika reaksi Dikra sangat berbeda dari biasa, bahkan baru kali ini ia lihat jika Dikra bisa marah dan kesal.
"Dia ada dibawah" teriak pria itu, untuk Dikra menghempas cenkraman Dikra dengan penuh emosi, pria itu beranjak dari sana untuk turun kelantai bawah, bahkan Dikra membawa emosi penuh kesal untuk menemui Angel dan Hellen.
__ADS_1